My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 54 - Sedikit demi Sedikit


__ADS_3

"Apa sih yang bikin kamu pertahanin wanita gak tau diri itu!!"


Baru saja aku membuka sedikit pintu utama sudah harus mendengarkan suara teriakan Celine. David yang berdiri di belakangku dan menggendong Ai yang sedang tertidur ikut berhenti. Aku menoleh kearahnya dan memberikan tanda untuk diam.


Dia bertanya tentang alasan Mas Adnan kan? Jadi aku akan tetap bersembunyi di sini dan mendengarkan alasan apa yang akan diberikan oleh Mas Adnan. Jika selama ini dia tidak pernah menjawab jika aku yang bertanya, siapa tau kali ini dia mau menjawab pertanyaan Celine.


Sampai beberapa menit masih belum ada jawaban. Aku masih diam di sini.


"ADNAN!!"


Celine kembali berteriak, bahkan lebih keras. "Aku udah muak lihat kehadiran wanita itu di sini, di tambah Ibu kamu yang selalu minta cucu. Kamu pikir aku gak stres apa!"


Aku tidak melihat perdebatan mereka, aku hanya mendengarkan dari celah pintu yang terbuka sedikit.


"Kamu kira selama ini aku gak sakit hati lihat kamu harus nikah sama orang lain. Padahal harusnya dari awal kamu itu nikahnya sama aku," suara celine mulai melemah di iringi isak tangis.


Jika dipikir kembali, pihak yang egois adalah Mas Adnan. Jika dia hanya cukup dengan Celine dan tidak menikahi ku, sudah pasti hal rumit ini tidak akan terjadi. Di sini aku hanyalah pihak yang tidak tau apapun. Jika aku tau dari awal sudah pasti aku akan menolaknya mentah-mentah.


Celine juga merupakan korban keegoisan Mas Adnan. Di balik sikap judas dan liciknya, itu hanyalah topeng untuk menutupi kesedihan serta rasa tidak terima karena miliknya menjalin hubungan dengan orang lain.


Jika aku menjadi Celine, sudah pasti aku akan bersikap seperti dirinya. Memangnya siapa yang rela miliknya menikahi orang lain begitu saja. Padahal saat itu harusnya dialah yang menjadi mempelai wanitanya. Tidak heran jika saat pernikahanku dia berbicara bahwa dia akan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Aku gak bisa." Kini suara Mas Adnan akhirnya terdengar.


"Apa? Apa yang buat kamu gak bisa. Apa!!" Celine kembali menjerit.


"Dia tanggung jawab aku sekarang," jawab Mas Adnan gusar.


"Kamu tinggal limpahkan tanggung jawab itu buat David. Kenapa kamu harus repot."


"Gak. Aku gak bisa. Ini tanggung jawab aku," tolak Mas Adnan.


"Jangan bilang kamu beneran cinta sama dia?" selidik Celine.


"Aku udah pernah bilang sama kamu kan. Rasa sayang aku sama dia itu sebatas kakak sama adik perempuannya. Kamu juga tau aku anak satu-satunya," ucap Mas Adnan.

__ADS_1


Brengsek!


"Kenapa kamu harus sampai nikahin dia? Kamu bisa aja langsung angkat dia jadi adik kamu," cecar Celine.


"Dia pasti gak akan mau kalau tiba-tiba aku angkat jadi adik. Dari awal aku mengamati dan menilai kepribadiannya, dia gak akan mau."


Aku terkejut dan menutup mulutku tidak percaya. "Jadi. Jadi Mas Adnan sudah menyelidiki dan mengamati ku sedari awal? Berarti pertemuan pertama kami itu hanyalah bagian dari rencananya?" gumam ku pelan. Aku benar-benar seperti orang dungu yang tak tau apapun dan sedari awal sudah di permainkan.


"Harusnya. Harusnya kamu kasih tau aku. Harusnya aku yang kamu perkenalkan kepada semua orang. Harusnya aku yang jadi istri pertama. Di sini, akulah orang yang paling di rugikan," sentak Celine.


"Dia juga gak akan mau jadi istri kedua," lirih Mas Adnan.


"Kamu pikir aku mau? Kamu kira posisiku yang sekarang jadi istri kedua ini aku terima dengan senang hati!" marah Celine. "Aku harus selalu berlagak tidak memiliki suami di depan umum dan harus menyembunyikan pernikahan yang hanya aku mau sekali seumur hidup. Kamu kira gampang!"


"Ada hal yang gak bisa aku ceritain sama kamu," jawab Mas Adnan.


"Apa! Kenapa kamu gak bisa cerita? Apa yang kamu sembunyiin dari aku," cecar Celine.


Aku sedari tadi terus menguping pembicaraan mereka. Tak apa jika aku dicap tidak sopan, tetapi aku sangat memerlukan kejelasan dari semua ini. Aku sudah menyuruh David untuk duduk di kursi teras, agar tidak lelah karena menggendong Ai yang masih tertidur nyenyak.


Celine tertawa sumbang, "Aku bakal nyari tau sendiri. Dan jika apa yang kamu sembunyiin ini merugikan aku. Kamu siap-siap aja, aku sendiri yang bakal usir wanita itu dari sini."


Sepertinya itu adalah akhir dari perdebatan mereka. Karena setelahnya sudah tidak terdengar suara apapun. Untuk sekarang setidaknya aku sudah tau sedikit demi sedikit apa yang disembunyikan Mas Adnan selama ini. Adik katanya? Cuih.


Aku masih pada posisiku untuk beberapa saat. Jikalau tiba-tiba mereka memulai pertengkaran mereka, tetapi sepertinya tidak. Aku mengkode David yang duduk dengan santai sambil memainkan ponsel dangan Ai yang masih tertidur di pangkuannya untuk mengikuti ku masuk.


Aku membuka pintu sedikit keras, kedua tanganku membawa paper bag berisi kue ulang tahun dan mainan baru untuk Ai.


Saat aku menoleh ke arah ruang tamu, hanya ada Mas Adnan yang terduduk di sofa dengan kepala menunduk. Sepertinya dia menyadari keberadaan ku, karena dia langsung menoleh ke arahku. Seolah-olah aku tidak mendengar apapun, aku memutuskan kontak mataku dan melanjutkan langkahku menuju kamar.


David sudah pulang setengah jam yang lalu. Aku memeluk Ai yang sudah tertidur nyenyak di atas ranjang. "Maaf. Maafin Bunda," bisikku.


Sekarang aku hanya perlu mencari apa yang di sembunyikan oleh Mas Adnan. Sekarang tekadku sudah bulat, aku tidak akan keluar dari rumah ini sebelum aku menemukan apa yang dia sembunyikan.


Menunggu lebih lama lagi tak masalah bukan? Setidaknya saat aku keluar dari rumah ini, hatiku lega akan semua pertanyaan yang belum terjawab selama ini. Hanya tinggal satu lagi. Sabar.

__ADS_1


Aku akan menyimpan dengan rapat apa yang aku dengar tadi. Aku tidak akan menceritakan kepada siapapun, termasuk David. Tapi aku juga tidak begitu yakin jika tadi dia tidak mendengar perkataan mereka. Walaupun suara Mas Adnan pelan, tetapi suara teriakan Celine sangat keras.


...****************...


Ai sudah bangun sedari tadi, jadi aku mengajaknya ke dapur untuk memasak. Dia aku dudukan di kursi ruang makan dan menyuruhnya untuk bermain dengan mainan barunya.


Akhirnya aku bisa membelikannya mainan dengan uangku sendiri. Ini bukan uang dari Mas Adnan, itu murni aku beli dengan uangku sendiri dengan uang tabungan saat masih bekerja dulu.


"Bunda," panggilnya.


Aku menghentikan aktivitasku dan menoleh ke arahnya,"Iya," jawabku lembut.


"Kapan Ai naik sepeda?" tanyanya antusias


Aku melupakan hal ini. Aku sudah berjanji untuk mengijikannya belajar menaiki sepeda ketika dia sudah berumur 3 tahun. Tidak salah jika dia menagihku karena sekarang dia sudah genap 3 tahun.


"Kalau minggu depan aja gimana? Nanti kita jalan-jalan lagi sama Papa, terus beli sepeda buat Ai," jawabku dengan rayuan. Minggu ini aku sudah keluar, jadi aku baru bisa keluar rumah lagi minggu depan.


Aku memperhatikan raut wajahnya. Yang tadinya terlihat antusias, sekarang berganti menjadi murung.


"Kenapa gak sekalang aja," tanyanya lesu.


Aku tersenyum tipis dan mendekat kearahnya, "Kemarin Ai kan udah main seharian. Jadi Ai harus istirahat dulu, biar capeknya hilang. Lagipula Papa juga harus keluar kota lagi, jadi kita belum bisa jalan-jalan deh," ucapku memberinya pengertian.


Dia mengangguk pelan. "Gimana kalau Ai ambilin mainan yang ada di atas kue ulang tahun Ai?" tawarku. Di atas kue ulang tahunnya memang ada beberapa action figure kecil. Semalam dia sudah meminta untuk mengambilnya tetapi aku menyuruhnya saat sudah sampai di rumah saja.


Dia kembali terlihat antusias, "Mau Bunda, mau," jawabnya.


"Tunggu bentar ya, Bunda ambilin dulu kuenya." Semalam sebelum masuk kamar aku sudah memasukkan kue ulang tahun tersebut ke dalam kulkas terlebih dahulu.


Setelah mengambilnya, aku membawanya menuju meja makan. Saat akan meletakkannya, aku melihat Celine yang sudah berdiri tak jauh dariku dan sudah berpenampilan rapi. Saat dia melihatku, dia melengos dan pergi begitu saja. Mungkin dia ada panggilan pekerjaan yang mendesak, karena ini baru saja pukul setengah 6 pagi.


Bersambung


Mohon dukungan dengan memberikan like dan komen 🤩

__ADS_1


__ADS_2