My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 24 - Mobil


__ADS_3

Aku melihat jam tanganku, "5 menit lagi kelasku mulai," seruku panik sembari membuka pintu mobil dan menutupnya kencang.


Reaksi Mas Adnan? Hanya terkekeh melihat tingkahku, dia juga ikut keluar dari mobil, menyusul ku yang berjalan dengan tergesa-gesa. "Santai aja yang, paling nyampe kelas telat beberapa menit doang,"


"Masalahnya kelasku sore ini ada di lantai 3 Mas, aku harus naik tangga dulu, makan waktu," jawabku. Sebenarnya ada lift juga, tetapi beberapa hari ini sedang dalam perbaikan, jadi untuk sementara


"Aku temenin sampe depan kelas deh, kalau perlu sekalian aku ngomong sama dosennya kenapa kamu bisa telat," ucap Mas Adnan santai.


"Ga usah aneh-aneh ya Mas, udah sana kamu nunggu di kantin aja," gerutuku dan mempercepat langkahku.


Dia tertawa kecil, "aku tunggu di taman depan fakultas aja ya yang," ucap Mas Adnan sedikit berteriak.


Aku hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Sampai depan kelas aku menetralkan nafasku yang terengah-engah karena berlari, melihat kembali jam tangan di pergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 15.04, benar aku telat 4 menit aku segera mengetuk pintu kelas dan membukanya.


Dosen menatapku dari atas sampai bawah, aku membungkukkan badanku, "duduk," ucapnya padaku.


Fyuhhh, aku segera duduk dan mengambil buku serta pena untuk mencatat yang penting, dan menaruh tasku di bawah dekat kursi, aku duduk dengan benar dan memperhatikan yang di terangkan dosen di depan. Untunglah ini bukan matkul yang dosennya galak, kalau galak bisa-bisa aku tidak boleh masuk kelas. Karena pernah ada teman sekelas ku yang telat 2 menit tetapi tidak diperbolehkan untuk mengikuti pembelajaran.


Tak terasa dosen sudah keluar ruangan, aku meregangkan kedua tanganku ke atas, setelah merasa lebih nyaman, aku memasukkan kembali buku ku dan segera berdiri untuk menghampiri Mas Adnan.


Tadi dia mengatakan bahwa dia akan menunggu di taman depan fakultas, tetapi saat aku melihat sekeliling aku tidak lihat batang hidungnya sema sekali. Aku mengambil handphone ku dan meneleponnya.


Tak butuh waktu lama, dia mengangkat telpon ku, aku segera bertanya, "kamu di mana Mas?"


" Kamu udah selesai?" Tanyanya balik dari seberang telepon.


"Iya, barusan selesai, kamu di mana," Tanyaku lagi karena dia belum menjawab pertanyaanku.


"Ini udah mau balik lagi ke taman, ke toilet bentar tadi," sesaat setelah dia mengatakan itu, aku melihatnya melambaikan tangannya dari arah toilet di samping tangga.


Setelah melihatnya aku mengembangkan senyum, dan mematikan sambungan telepon. Sampai di hadapanku Mas Adnan mengajakku untuk duduk terlebih dahulu, "duduk bentar ya yang, aku mau nikmatin suasana kampus bentar."


Kami duduk bersebelahan, "kamu tadi ngapain aja Mas pas aku tinggal?" Tanyaku penasaran.


"Ga ngapa-ngapain sih, cuma ngecek kerjaan terus beli minum di kantin," jawabnya.


Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti, aku juga ikut menikmati suasana angin sepoi-sepoi di sore hari, tak terlalu banyak mahasiswa dan mahasiswi, mungkin hanya beberapa anak BEM dan yang memiliki kelas sore sepertiku.


Mas Adnan memejamkan matanya, aku menatap parasnya yang sangat tampan, tak heran perempuan seperti Celine masih berusaha mengejarnya.


Saat aku sedang asyik memandang wajahnya, tiba-tiba ada yang memanggil namaku, "Raline."

__ADS_1


Aku menoleh, dan ternyata itu adalah Aryo, masih ingat saat dia mau daftar jadi pacarku, seminggu setelahnya ketika aku berpapasan dengannya aku mengutarakan isi hatiku bahwa aku tidak bisa menjadikannya lebih dari seorang teman.


Mas Adnan yang juga mendengar ada yang memanggilku membuka matanya, menatapku dan bertanya lewat tatapan mata, "kenalin Mas ini kating aku, namanya Aryo," ucapku menjawab rasa penasarannya.


"Salam kenal," Aryo mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Mas Adnan menjabat tangganya singkat. "Adnan."


"Ini kakak kamu ya lin," tanya Aryo sembari menatapku dengan senyuman. Apakah sekarang sudah waktunya dia tau kalau aku sudah bersuami?


"Bukan," jawabku singkat.


"Kalau bukan kakak, pasti sepupu kamu," tanyanya lagi masih dengan posisi berdiri.


"Suami," celetuk Mas Adnan.


"Suami?" Beo Aryo pelan.


"Iya, saya SUAMI sahnya Raline," Mas Adnan menekankan kata suami.


Aryo tampak sangat terkejut, dia sampai sedikit terhuyung, "jadi ini alasan kamu?" Tanyanya kembali memusatkan perhatiannya padaku.


"Iya," jawabku pelan.


Ekspresi terkejutnya masih belum hilang, tetapi segera menggantinya dengan senyuman tipis, "kalau gitu selamat ya," ucapnya mengulurkan tangannya kepadaku. Tetapi sebelum aku membalas uluran tangannya, Mas Adnan sudah berdehem keras.


Aku reflek menarik tanganku kembali, dan tersenyum kikuk ke arah Aryo, "iya makasih ya Ar," ucapku.


"Udah kan?" Sela Mas Adnan, "kalau udah ayo balik sekarang," lanjutnya.


Aku mengangguk ke arahnya, dan aku kembali menatap Aryo yang masih menatapku, "Aku balik dulu ya Ar," pamit ku.


"Iya hati-hati," jawabnya.


Aku dan Mas Adnan berjalan melewatinya, Mas Adnan menggenggam tanganku erat sampai parkiran, saat sudah di dalam mobil di bercelatuk, "laki-laki tadi kayaknya suka sama kamu, kalau bisa jangan deket-deket sama dia."


Aku tidak menjawab, Mas Adnan memang paling jago menebak tentang hal seperti ini, kemarin saat melihat David dia juga berkata seperti itu, sekarang gantian Aryo.


"Iya Mas," jawabku pelan.


"Kalau dia berani macem-macem sama kamu, langsung ngomong sama Mas," pintanya padaku dan aku berikan anggukan.


"Kamu ga perlu khawatir Mas, aku inget kok kalau aku udah punya suami," jawabku dan mengelus tangannya.

__ADS_1


Mobil akhirnya melaju keluar area kampus, "makan malem di luar sekalian ya yang," ucapnya masih dengan menatap jalanan.


"Ayah sama Ibu udah pulang belum ya Mas?" Tanyaku sedikit penasaran. "Kalau masih di rumah gimana kalau kita bungkus aja buat Ayah sama Ibu juga, nanti makan malem di rumah bareng-bareng," tambahku.


"Mana Mas tau, coba telpon," perintahnya kepadaku.


"Mas aja ah yang telpon," tolak ku. Jika aku yang menelepon dan bertanya bukan jawaban yang akan diberikan Ibu melainkan cibiran, jadi aku malas, biar Mas Adnan aja.


"Kan lagi nyetir yang," jawabnya terkekeh.


"Mana handphonenya aku yang pegang, Mas yang ngomong," ucapku mencari handphonenya yang ternyata di letakkan di pintu.


Aku melepaskan seat belt dan memiringkan tubuhku ke arahnya, hampir tengkurap di atas pahanya agar bisa mencapai pintu di sebelahnya. Dan hap, handphonenya sudah berhasil aku ambil.


Posisi yang sedikit ambigu, karena tangan kiri ku menekan pahanya sedangkan tangan kananku memegang handphonenya, "Yang," dia menggeram.


Aku menoleh ke arahnya, tetapi tetap pada posisiku, hawa ini sepertinya aku mengenalnya.


"Tangan kamu jangan gerak," ucapnya pelan.


Aku melihat tanganku yang berada cukup dekat dengan selangkangannya, aku tersentak dan tidak berani bergerak, tetapi Mas Adnan tiba-tiba membelokkan mobilnya. Kepalaku terantuk dadanya dan tanganku tergeser menyentuh pusat selangkangannya.


Dia melenguh keras, dan aku segera mengangkat tanganku, mendongak melihat matanya yang tampak merah. Aku mencoba menegakkan diriku, tetapi aku kembali oleng dan wajahku tepat berada di tengah-tengah selangkangannya. Untungnya mobil ini sudah berhenti, entah sampai mana dan di mana ini aku tidak tau, waktu terasa benar-benar melambat.


Aku langsung mengangkat kepalaku dan menegakkan diri dan kembali ke tempat dudukku, aku mengipasi wajahku padahal AC mobil sudah menyala tetapi rasanya masih panas. Saat aku menatap jendela di sebelahku ternyata kita sudah sampai di depan sebuah restoran, pantas saja.


Aku menoleh pelan ke arah Mas Adnan yang terlihat menatapku, "tanggung jawab kamu yang," ucapnya pelan.


Aku mengerti arah pembicaraannya, karena aku melihat gundukan di antara selangkangannya, "tahan dulu ya Mas, kita telpon Ibu dulu," jawabku masih menahan rasa malu.


Aku segera mencari nomor Ibu di handphonenya Mas Adnan dan menelponnya, sambungan ke 2 telepon terangkat.


"Ada apa nan," suara Ibu terdengar.


"Ibu masih di rumah apa udah pulang," suara Mas Adnan terdengar berat.


"Udah pulang, kenapa?" Tanya Ibu balik.


"Enggak, kalau belum pulang mau aku bungkusin makan malem sekalian," ucap Mas Adnan sedikit terengah. "Ya udah aku tutup telponnya, salam buat Ayah,"


Sebelum Ibu menjawab Mas Adnan sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telepon, matanya terlihat sayu, "kamu aja yang pesen ya yang, aku tunggu sini, ga mungkin aku keluar dalam keadaan kayak gini," melasnya padaku. "Ini dompet aku, beli aja apa yang kamu pengen," tambahnya dan memberikan dompetnya yang dia taruh di saku jaket.

__ADS_1


Aku mengiyakan permintaannya dan segera keluar untuk menuju restoran tersebut, dan juga aku butuh angin segar, berlama-lama di mobil dengan suasana seperti ibu benar-benar membuatku kepanasan.


__ADS_2