My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 13 - Drama Pagi


__ADS_3

Suasana pagi di rumah ini yang awalnya tenang dan tentram tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang, "Pagi semua, Celine datang."


Aku yang sedang membantu para pelayan di dapur terkejut mendengar suaranya, langkah kaki yang memakai heels menggema di ruang tengah, melangkah menuju dapur.


"Eh orang miskin lagi ngebabu ya?" Ejeknya saat melihatku sedang menata makanan di atas meja.


"Gak sopan," jawabku singkat, tanpa menoleh ke arahnya.


"Kamu tuh yang ga sopan, udah rebut calon suami orang," jawabnya meninggi.


"Siapa yang ngerebut, aku udah kenal Mas Adnan duluan kok, kamu kan cuma orang yang dijodohin, sedangkan aku adalah orang yang dia CINTAI," jawabku tak kalah sarkas, kali ini aku berani berhadapan dengannya, enak aja dikatain ngerebut, dia aja kegatelan lihat suami orang.


"Harusnya kalo kamu ga hadir di kehidupan dia, dia juga bakal milih aku dan cinta sama aku."


Huh, percaya diri sekali.


"Terserah, mba mau ngomong gimana pun ga peduli aku, yang penting sekarang aku udah jadi istri sahnya Mas Adnan."


"Berani ya kamu sekarang," ucapnya melangkah mendekatiku dan mengangkat tangannya.


"Ada apa ini?" suara Ayah terdengar.


"Eh, om Arya, pagi om," Celine menoleh dan mendekati ayah mertuaku seketika ekspresi dan nada


suaranya berubah. Benar-benar seperti rubah.


"Iya pagi," jawab Ayah singkat dan berjalan melewatinya dan duduk di kursi makan.


"Eh Celine, pagi-pagi kok udah kesini?" kali ini suara Ibu mertuaku terdengar sangat manis saat berbicara dengannya. Celine mendekati Ibu dan mencium pipi kanan dan kirinya.


"Iya tan, mau ikut sarapan bareng, bolehkan?" jawabnya manja.


"Boleh dong, masa CALON mantu sendiri ga boleh ikut makan bareng," jawab ibu menekankan kata MANTU dan menatapku dengan senyuman miring. Dikira aku bakal sakit hati apa, udah mulai kebal aku. Selagi Mas Adnan ga ngelirik perempuan itu sih aku santai-santai saja.


Aku melanjutkan menata makanan dan kembali ke dapur, selagi menunggu Mas Adnan turun, daripada aku harus melihat adegan cipika cipiki mereka.


"Tante tau gak?" sayup-sayup suara Celine terdengar sedih.


"Apa Celine, kok kayak sedih gitu," tanya Ibu mertuaku dan memegang kedua tangan Celine.


"Babu tante yang baru itu lo udah ngehina aku tadi."


"Dihina gimana? Diapain kamu sama dia? Kamu ga kenapa-kenapa kan?"


"Dia sekarang udah berani sama aku, mentang-mentang udah jadi istrinya Adnan, tadi dia juga hampir nampar aku," lapornya pada ibu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Berani banget dia! Raline sini kamu!" panggil ibu berteriak.


Aku yang menguping sedari tadi dari dapur mendekat ke arah mereka berdua. Seperti yang diharapkan drama pagi akan di mulai.


"Berani-beraninya kamu mau nampar calon menantu kesayangan saya, udah berapa kali saya bilang jangan sok berkuasa disini," marahnya. "Walaupun status kamu itu istri Adnan tetapi di rumah ini ga ada yang mengharapkan kamu jadi menantu disini, dasar parasit."

__ADS_1


Setelah di panggil orang miskin, babu, perebut calon suami orang, sekarang ada sebutan baru, parasit.


"Mba Celine bohong bu, aku ga ngapa-ngapain dia tadi," jawabku santai. "Tadi ayah juga lihat kok kalau Mba Celine yang justru mau nampar aku, Bener kan yah," aku menoleh kepada Ayah yang sedang duduk dan membaca koran.


Tapi apa yang mau diharapkan, Ayah tidak menjawab sama sekali, apalagi menjawab, menoleh ke arah kami yang sedang adu mulut saja tidak.


"Dia yang bohong tan, tadi pas aku ajak bicara baik-baik dia malah marah-marah," adu Celine.


"Tadi mba loh yang teriak-teriak pas baru dateng, aku kan cuma negur, itu juga pelan," belaku. Enak aja dia mau nyalahin orang, aku sebagai manusia juga punya batas kesabaran.


"Tapi saya lebih percaya sama yang dikatakan Celine, mana ada dia bohong, yang ada kamu yang bohong karena takut dimarahi Adnan kan?" kata ibu. Hah, kenapa perempuan ini harus datang pagi buta begini, membuat moodku seketika anjlok.


"Tadi malem dia juga ngusir aku tan, pas nonton film di bioskop aku duduk di samping Adnan, katanya aku ga pantes duduk disebelah Adnan." Kebohongan apalagi ini, jelas-jelas dia yang ketakutan dan memutuskan keluar studio sebelum film selesai.


"Seharusnya kamu yang ga pantes duduk disebelah Adnan, kamu kira saya ga malu dikatain orang-orang mau-maunya aja nerima kamu jadi mantu di sini, kalau bukan karena Adnan yang akan berbuat nekat juga saya ga sudi punya menantu kayak kamu," sarkas Ibu.


"Ibu ngomong apa sih," suara Mas Adnan terdengar, dari arah tangga. "Ngapain perempuan ini di sini pagi-pagi gini, ga sopan," tegurnya.


"Adnan," panggil Celine dengan suara manja yang dibuat-buatnya, matanya berbinar seperti sedang melihat harta karun.


"Masih pagi udah bikin ribut di rumah orang," ucap Mas Adnan setelah meliriknya sekilas, berjalan ke arahku dan mengajakku duduk di meja makan.


"Tanta, Adnan tuh," Celine menatap Ibu dan melengkungkan bibirnya kebawah.


Ibu dan Celine menyusul ke ruang makan, "Jangan gitu dong nan sama Celine, dia kan calon istri kamu."


"Ibu ngomong apa sih, aku udah punya istri, buat apa aku jadiin dia calon istri, perjodohan itu juga udah batal kan," jawab Mas Adnan sedikit keras.


"Mau sampai kapan sih ibu bersikap gini sama Raline, apa yang udah aku pilih ga bisa diganggu gugat," jawab Mas Adnan benar-benar sudah marah. Aku mengelus punggung tangannya, menyuruhnya untuk tenang, dia menghela nafas panjang dan mencoba menahan amarahnya.


"Berhenti ributin hal ga penting," kata Ayah. "Di meja makan dilarang berbicara kasar apalagi marah di depan makanan.


Celine yang duduk di sebelah ibu cemberut karena Ayah tidak ikut membelanya, tetapi dia kembali tersenyum. "Maaf ya Om Tante udah bikin keributan pagi-pagi, kalau gitu aku pulang dulu ya," pamitnya udah siap untuk berdiri. Tetapi lengannya di cekal oleh Ibu.


"Jangan pulang dong Lin, katanya mau sarapan bareng ," rayu ibu.


"Tapi kayaknya Mas Adnan ga suka kalau aku ikut sarapan, ga papa kok Tan, aku bisa sarapan dijalan," katanya memelas. Aku tau itu hanya akting belaka agar mendapatkan simpati dari Ayah dan Ibu.


"Gak gak, pulang nanti habis sarapan ya, Adnan ga gitu kok, ya kan nan," tanya ibu kepada Mas Adnan. Selama beberapa detik tidak ada suara yang keluar dari mulut Mas Adnan, tetapi aku yang MASIH memiliki Harti nurani mencubit pelan paha Mas Adnan, dan dia pun berdehem.


"Hm."


"Tuh kan Adnan ga permasalahin kalau kamu ikut sarapan," tatapan manis ibu masih tertuju kepada Celine, memohon agar perempuan itu tidak pergi.


"Ya udah kalau gitu, maaf sekali lagi ya, kalau aku ganggu kalian semua," katanya pelan. Entah mau sampai kapan drama ini berlangsung.


Sarapan berjalan tanpa pembicaraan, sesekali aku memergoki Celine sedang menatap Mas Adnan dengan tatapan memuja.


"Terimakasih buat sarapannya ya Tan, enak-enak semua masakannya," ucap Celine dengan senyuman khasnya. Terlihat sekali kalau itu adalah senyum palsu.


"Iya, sering-sering makan di sini ya," jawab Ibu terlihat gembira.

__ADS_1


"Kalau ga ngerepotin dan aku ada waktu aku bakal mampir kok Tan."


"Kita ngobrol-ngobrol dulu yuk di ruang tamu," ajak ibu. Dan merekapun meninggalkan area ruang makan menuju ruang tamu, ayah juga mulai beranjak untuk bersiap ke kantor, hanya tinggal aku dan Mas Adnan yang masih betah duduk di sini.


"Sayang, aku nanti pulang agak malem ya, ada pertemuan penting soalnya," katanya sambil menggenggam tanganku. Ada sedikit tatapan sedih di matanya, mungkin karena dia tidak bisa pulang cepat.


"Iya gapapa Mas, jangan sedih gitu dong," bibirku.


"Gimana gak sedih, udah seharian di kantor, masih ada aja pertemuan lagi," dia cemberut.


"Dasar bayi gede," ucapku dan mencubit kedua pipinya. Kami tertawa bersama, moodku sepertinya sudah kembali membaik.


"Bayi gede ini juga bisa bikin bayi loh," ucapnya menggoda.


"Dasar mesummmmm," jawabku dan memukul pelan dadanya.


Setelah asik bercerita dan tertawa, aku mengantarnya ke teras rumah seperti yang biasa aku lakukan setiap pagi sebelum dia berangkat kerja.


"Aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah," pamitnya dan mencium kening dan bibirku singkat.


"Iya Mas."


Dari dalam terdengar suara ibu memanggil Mas Adnan. "Nan, ini Celine kamu anterin pulang sekalian ya, kan kalian searah, kasian sopirnya udah pulang duluan," pinta ibu.


"Enggak, pasti dia sendiri yang nyuruh sopirnya pulang," jawab Mas Adnan tidak peduli dan berjalan ke arah mobilnya.


Ibu mengejar pelan, "jangan gitu dong nan, walaupun dulu kamu nolak Celine tapi kamu ga boleh gitu sama dia, kalian kan masih bisa berteman," pinta ibu pantang menyerah.


"Temen aku udah banyak, ga perlu temenan sama dia," sarkas Mas Adnan.


Aku hanya menonton drama ini dengan helaan nafas, segitunya ibu membela perempuan itu, memangnya apa sih yang sudah dilakukan perempuan itu sampai bisa membuat ibu luluh.


"Aku bisa naik taksi kok Tan, mungkin Adnan risih sama aku," ujar Celine mendramatisir keadaan.


"Jangan. Nan, sekali ini aja ibu mohon sama kamu, ya?" Pinta ibu kembali.


"Masuk," kata Mas Adnan, tanpa memandang kedua orang tersebut, lalu membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri.


Ibu dan Celine terlihat sangat bahagia, mereka kembali cipika cipiki dan berpelukan, "aku pulang dulu ya Tan, kapan-kapan aku mampir lagi, bye Tan," pamit Celine.


"Iya hati-hati di jalan ya, pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar buat kamu," jawab ibu dengan senyuman yang tidak pernah luntur.


Setelah mobil melewati gerbang dan tidak terlihat, ibu melangkah masuk kedalam rumah, saat melihatku yang masih berdiri di depannya dia merubah ekspresinya menjadi tidak bersahabat.


"Ngapain kamu masih disini, sana bersih-bersih," usir ibu padaku. "Dan tunggu aja sampai kamu keluarkan dari rumah ini dan digantikan Celine yang jadi menantu disini," lanjutnya.


Aku tidak memikirkan perkataan Ibu, aku masuk kedalam dan memulai aktivitasku seperti biasanya.


Bersambung


See you on the next chap 🥰

__ADS_1


__ADS_2