My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 35 - Malam Peluncuran


__ADS_3

Satu minggu berlalu dengan cepat. Setelah Celine menginap malam itu, dia jadi semakin berani untuk menampakkan wajahnya di rumah ini. Mau ada atau tidaknya Mas Adnan dia tetap datang. Untuk apa kedatangannya jika Mas Adnan tidak di rumah? Tentu saja untuk memanas-manasi ku karena perlakuan Mas Adnan yang sudah berubah terhadapnya.


Terkadang aku pura-pura tidak di rumah. Pernah sekali dia mengetuk dan memencet bel berulangkali tetapi tidak aku gubris sama sekali. Memangnya apa sih untungnya dia melakukan hal itu. Apakah dia berharap aku akan sakit hati dan berakhir meninggalkan Mas Adnan?


Tadi pagi sebelum berangkat bekerja Mas Adnan mengatakan bahwa nanti malam adalah malam peluncuran produk baru perusahaannya, jadi dia mengajakku untuk ikut. Ini adalah pertama kalinya aku hadir di hadapan banyak orang dengan status sebagai istrinya.


Tadi dia juga memberikanku kartu kreditnya, katanya untuk membeli baju baru. Dia tidak bisa mengantarkan ku, jadi aku harus pergi membelinya sendiri. Selain mendapatkan uang bulanan untuk kebutuhan rumah, setiap bulan dia juga rutin mengirimkan uang khusus untuk diriku sendiri. Tetapi uang itu belum pernah aku pakai, karena aku memang tidak begitu membutuhkannya.


Hari ini aku kuliah pagi, jadi aku akan berbelanja setelah pulang dari kampus saja. Hari ini aku juga harus pergi ke tempat David karena ini hari selasa. Sangat merepotkan.


Kelas sudah selesai jadi aku segera pergi ke halte untuk menaiki bus menuju salah satu mall di kota ini. Sampai mall aku segera menuju salah outlet pakaian yang terkenal. Tidak mungkin aku membeli pakaian tanpa merek. Secara nanti malam pasti akan banyak orang dari kalangan atas. Tentu saja aku tidak boleh membuat suamiku malu karena pakaian yang aku kenakan.


Lama memilih tidak ada satupun yang aku suka, jadi aku memutuskan untuk pergi ke outlet yang lain. Baru saja akan memasuki outlet tersebut, aku langsung jatuh cinta dengan salah satu dress yang di pajang di atas manekin. Dress sederhana tetapi terlihat mewah. Berwarna merah maroon dengan panjang di bawah lutut, panjang lengannya hanya 7/8. Terdapat pita di pinggangnya, bagian atasnya akan memperlihatkan tulang selangka jika aku kenakan. Tetapi masih terlihat formal.


Aku segera masuk dan meminta salah satu penjaga toko untuk mengambilkan dress yang sesuai ukuranku. Setelah mendapatkannya aku segera mencobanya di fitting room. Benar sekali, bukannya sombong tetapi dress ini sangat pas di tubuhku. Aku langsung melepasnya dan membawanya ke kasir. Harganya 3 kali lipat dari gajiku di minimarket dulu. Tak apa, aku juga jarang membeli barang mahal seperti ini. Kali ini aku tidak membayar menggunakan kartu yang diberikan oleh Mas Adnan, tetapi aku membayarnya menggunakan uang bulanan yang selalu dia kirim setiap bulannya.


Melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 12 siang. Handphone ku sedari tadi sudah berdering, itu pasti si brengsek David. Aku mengabaikannya, aku belum membeli sepatu yang akan aku kenakan, di rumah aku tidak memiliki sepatu yang cocok untuk digunakan bersama dress ini jadi aku akan membelinya terlebih dahulu.


Setelah mendapatkan semua yang aku butuhkan, aku segera memesan ojek online untuk menuju rumah David. Ini sudah telat dari jam makan siang, biarlah sesekali dia kelaparan. Tak butuh waktu lama karena lokasi mall dan rumahnya lumayan dekat.


Kali ini aku lupa membawa kunci karena tadi pagi buru-buru saat berangkat ke kampus. Jadi aku mengetuk pintu dengan tidak sabaran, takut jika ada seseorang yang melihat. Pintu terbuka menampilkan David yang terlihat acak-acakan. Aku segera masuk dan menaruh barang belanjaanku di ruang tamu.


"Padahal tadi aku udah siap-siap mau ngirim foto itu ke suami kamu," decaknya.


Aku menatapnya sinis, "telat satu jam aja udah sewot."


"Emang kamu ngapain dulu sih sampai telat?" tanyanya sembari menarik tanganku agar duduk di


sampingnya. Aku bergeser ke kursi satunya, sangat tidak nyaman berdekatan dengannya.


"Beli baju."


"Tau gitu tadi aku temenin nge mall, kamu kok ga ngomong sih," protesnya.


"Ngapain juga ngomong sama kamu," sinis ku. Aku melihatnya dengan seksama, walaupun terkadang kelakuan dia seperti iblis, tetapi kalau dia sedang waras maka dia akan memperlakukanku dengan lembut.

__ADS_1


Dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia tersenyum lebar, "udah naksir aku ya?" tanyanya dengan menaik turunkan alisnya.


Aku membuat gestur muntah, "NAJIS," teriakku di depan mukanya.


...****************...


Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang aku sudah di dalam mobil bersama Mas Adnan untuk menuju tempat acara. Aku berulangkali menarik napas lalu menghembuskannya. Di sana aku harus menyiapkan hati juga telinga. Sudah di pastikan akan ada cemoohan atau sindiran yang datang.


Sampai tempat tujuan kami turun dari mobil. Aku mengapit lengan Mas Adnan dan kami pun berjalan menuju aula. Dari luar sudah ada karpet merah yang terbentang untuk dilewati para tamu undangan.


Sudah banyak tamu yang berdatangan. Banyak pasang mata menatap ke arah kami berdua. Aku menatap lurus ke depan menegakkan daguku, aku tidak akan takut atau malu lagi seperti dulu-dulu.


Mas Adnan mengajakku berjalan ke arah meja Ayah dan Ibu. "Kamu duduk sini dulu ya, aku mau ke belakang ngurus sesuatu," ucapnya menyuruhku duduk di kursi samping Ibu. Meja ini berbentuk bundar dan terdiri dari 6 kursi.


Ibu melirikku sinis seperti biasa. "Pasti yang kamu pake itu hasil kamu morotin Adnan."


"Bukan moroti Bu, tapi ini bentuk nafkah dari Mas Adnan," jawabku santai.


Ibu menggeram rendah. "Gimana kuliah kamu?" tanya Ayah.


Ayah mengangguk anggukkan kepalanya. "Nanti magang di perusahaan Adnan aja," ujarnya.


"Maaf Yah, untuk kali ini aku mau magang di perusahaan lain aja, gak enak dengan status ku yang sekarang magang di sana. Nanti di kira pakai orang dalem," tolak ku.


"Halah, sok sokan nolak kamu, emang ada perusahaan yang nerima kamu?" cibir Ibu.


Aku tersenyum lembut mendengar ucapan Ibu. "Bukannya Ibu malah seneng ya kalau aku gak magang di sana," balasku.


Ibu memalingkan wajahnya. Sudah tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Ayah. Aku memandang sekitar, banyak sekali tamu yang datang.


"CHECK CHECK" terdengar seseorang sedang mencoba mikrofon di atas panggung. Mungkin sebentar lagi acara akan segera di mulai. Aku mengalihkan perhatianku ke arah panggung. Tak lama kemudian ada sepasang laki-laki dan perempuan naik ke atas panggung. Sepertinya itu adalah pembawa acaranya.


Benar, acara sudah di mulai, serangkaian kata dan selamat di ucapkan oleh pembawa acara tersebut. "Mari kita sambut CEO perusahaan, beserta model untuk produk baru ini. Kepadanya dipersilahkan menaiki panggung."


Tepuk tangan menggema di seluruh aula. Aku pun ikut bertepuk tangan. Terlihat Mas Adnan menaiki panggung tetapi yang menjadi fokus perhatianku sekarang adalah perempuan yang ada di belakang Mas Adnan. Jadi modelnya adalah Celine? Tak heran dia ikut rapat pada saat itu.

__ADS_1


Banyak suara berbisik terdengar. "Harusnya dulu Adnan nikahnya sama Celine aja. Yang satu CEO satunya lagi model, cocok banget pasti."


"Iya ya, pasti nanti anaknya cakep plus pinter."


"Bodoh banget emang si Adnan, wanita se sempurna Celine ditolak gitu aja."


Dan masih banyak lagi kata-kata yang keluar. Untung aku sudah menyiapkan hati dan telinga, jadi aku menganggap itu hanya angin lewat. Saat sedang menatap Mas Adnan yang sedang berbicara di atas panggung, kursi di sampingku di tarik seseorang.


Aku menoleh, kemudian memutar bola mataku dengan malas, "cantik banget," ucap orang itu pelan.


"Sepupu kamu kan emang cantik," jawabku malas, dan kembali menaruh atensi ku ke atas panggung. Terlihat Celine tersenyum dengan lebar, sangat bertolak belakang dengan sifat aslinya.


"Kamu," ujar orang yang duduk di sampingku.


Aku menoleh kembali ke arahnya, "aku kenapa?


Dia tersenyum dengan manis, kemudian berbisik, "kamu yang cantik."


Aku mengernyitkan dahi kemudian menoleh ke arah Ayah dan Ibu, takut mereka mendengar perkataan David barusan. Ternyata mereka masih menatap ke arah panggung. Ibu terlihat sangat bangga dengan Mas Adnan sedangkan Ayah tak bereaksi apapun.


Acara berlangsung cukup lama, aku sudah menguap berkali-kali. Mas Adnan sudah turun dari panggung dan mendapatkan banyak ucapan selamat dari para tamu yang datang. Dia langsung berjalan ke arah meja yang aku tempati, dan ada Celine juga yang mengekori di belakang.


"Kamu udah ngantuk ya, maaf ya kayaknya aku ga bisa nganter kamu pulang. Setelah ini bakal ada perayaan kecil-kecilan sama staff." kata Mas Adnan dengan raut penyesalan.


"Biar aku antar," sambar David. Aku tidak menanggapi ucapan Mas Adnan, aku ingin melihat dulu reaksinya bagaimana saat David berbicara seperti itu.


Mas Adnan terlihat berpikir, "ya udah, tolong anterin istri aku balik," jawabnya.


Aku tertawa di dalam hati. Memang sudah benar-benar berubah kepribadian Mas Adnan. Padahal dia sendiri yang melarang ku untuk berdekatan dengan David, tapi sekarang dia menyerahkan ku begitu saja?


Aku langsung berdiri dan berpamitan kepada Ayah dan Ibu. Aku menatap Mas Adnan, "gak usah pulang sekalian," sarkasku dan melangkah pergi.


"Ayo Vid antar aku pulang," pintaku kepada David dan dia pun mengikuti langkahku.


Bersambung

__ADS_1


See you on the next chap


__ADS_2