
Hari ini adalah hari minggu, hari di mana kami berdua akan pergi untuk mengunjungi orang tua Mas Adnan seperti yang sudah dia janjikan.
Aku sebenarnya takut untuk bertemu Ibu, kejadian itu memang sudah terjadi 3 hari lalu, tetapi aku masih saja terbayang-bayang dengan makian dan cacian yang dia lontarkan apalagi di tempat umum.
Sekarang aku sedikit takut untuk bertemu orang, takut jika mereka melihat dan mengenaliku. Jika bisa memilih aku lebih memilih untuk di rumah saja dari pada ikut Mas Adnan pergi ke sana. Tetapi kembali lagi, aku adalah istrinya, sangat tidak sopan jika aku tidak pergi ke sana juga.
Mau seburuk apapun perilaku Ibu, beliau adalah Ibu mertuaku dan aku wajib menghormatinya. Nanti saat sampai di sana aku hanya perlu menghindari kontak mata dengannya, dan tidak perlu mengajaknya berbicara.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sebentar lagi kita akan berangkat ke sana, tadi ketika aku bertanya berapa lama kita di sana, dia mengatakan cukup 2 jam saja, jadi aku bisa sedikit bernapas lega, karena tidak perlu berlama-lama di sana.
Tak terasa kami sudah sampai di rumah orang tua Mas Adnan, aku turun dari mobil dan mengambil bingkisan yang aku beli ketika dalam perjalanan ke sini. Bukan barang mewah, hanya brownies dan cookies setidaknya kami tidak datang dengan tangan kosong.
Mas Adnan mengetuk pintu rumah, tak butuh waktu lama pintu terbuka, kali ini yang membuka Ibu sendiri, "Adnan! Akhirnya kamu dateng juga, Ibu udah nunggu dari tadi loh," ucap Ibu heboh dan segera memeluk Mas Adnan, aku yang berdiri di samping Mas Adnan tidak terlihat sama sekali di matanya, tak apa memang itu yang aku inginkan.
Selagi Mas Adnan di ajak Ibu ke ruang tamu, aku pergi ke dapur untuk menyimpan buah tangan yang aku bawa.
"Bibi apa kabar?" Sapaku ketika melihat salah satu pelayan yang sedang di dapur.
"Kabar baik Non," jawab Bibi tersebut.
"Bik, udah berapa kali aku bilang sih buat ga usah manggil pake embel-embel Non," jawabku cemberut.
"Maafin Bibi ya, Bibi suka lupa," ucap Bibi dengan senyum tulus. "Raline lagi main sama Den Adnan ya," tanya Bibi kembali.
"Iya Bik, mumpung lagi libur."
"Terus kenapa malah di dapur? Bukannya duduk sama Den Adnan dan Ibu?"
"Aku mau bantuin Bibi masak aja, kangen masak di dapur ini," cengir ku. Itu hanyalah alibi ku saja, dari pada berhadapan dengan Ibu lebih baik aku di sini saja. Biarkan Ibu melepaskan rasa rindunya kepada anak tunggalnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Bibi, aku segera ikut membantu menyiapkan makan siang, kata Bibi hari ini Ibu menyuruh masak banyak makanan, mungkin karena ada Mas Adnan yang akan datang.
Ada suara ramai terdengar dari pintu rumah, mungkin itu tamu Ayah dan Ibu, tamu itu tidak ada urusannya denganku, jadi aku tidak perlu keluar untuk menyapa mereka.
Suara gelak tawa kembali terdengar, ada suara laki-laki dan juga perempuan, masakan sudah matang semua, karena sebelum aku datang pelayan sudah mulai memasak, dan juga sudah ada masakan yang matang.
Aku masih enggan untuk menyapa Ibu jadi aku menyuruh salah satu pelayan untuk memberitahukan kepada Ibu bahwa masakan sudah matang.
Setelah kepergian pelayan tersebut, aku berjalan ke arah pintu belakang, berjalan ke arah belakang rumah dan duduk di gazebo kecil di sudut taman.
Di dapur sudah terdengar ramai, aku tidak akan ikut makan siang bersama, aku akan kembali mencari alasan jika nanti Mas Adnan mengajakku untuk makan siang bersama mereka.
"Kok kamu di sini yang, ayo ikut makan siang bareng," suara Mas Adnan terdengar dari ambang pintu.
__ADS_1
"Kamu makan dulu aja sama mereka Mas, lagi ada tamu kan?" Jawabku menolak.
"Iya, yang dateng itu beberapa orang dari keluarga besar aku, ayo aku kenalin kamu sama mereka," ajak Mas Adnan.
Keluarga besar? Seketika aku menggeleng-gelengkan kepalaku, "kamu makan dulu aja Mas, aku nanti aja."
Saat pernikahan kami saja mereka tidak ada yang datang, lalu untuk apa aku ikut makan bersama mereka, yang ada aku hanya mencari cacian dari mereka.
"Kenapa?" Tanya Mas Adnan dan berjalan mendekatiku, berjongkok di depanku yang sedang duduk.
"Ga enak sama mereka, mereka kan ga suka sama aku," jawabku pelan dan menunduk.
Mas Adnan menarik daguku ke atas agar menghadapnya, "kan ada aku, ga usah takut ya," pintanya.
Aku menggeleng kembali, "kamu kesana aja, aku mau di sini."
"Aku mau kamu kenal sama mereka, aku ga akan ke sana kalau kamu ga ikut," ucapnya.
"Mas," panggilku. "Kali ini aja, tolong ngertiin posisi aku," lanjut ku memohon.
Mas Adnan menatapku dengan lekat, "ya udah, tapi lain kali kamu harus ketemu sama mereka ya."
Setelah mengatakan itu dia berdiri dan berjalan masuk, aku menatap punggungnya dengan tatapan sedih, aku juga ingin mengenal keluarganya, tetapi kondisiku tidak memungkinkan, Ibu saja masih tidak menyukai ku sampai sekarang apalagi mereka yang tidak pernah aku temui.
Entah kapan mereka pergi aku juga tidak tahu, untuk menghilangkan rasa bosanku aku mengeluarkan handphone, mungkin membuka aplikasi novel online bisa menghilangkan sedikit rasa jenuhku.
Aku adalah salah satu orang yang suka membaca, jadi setiap ada waktu luang aku akan menghabiskan waktu untuk membaca. Membaca novel online adalah pilihan terbaikku, karena sedari dulu jika ingin membeli novel fisik aku tidak mempu karena harganya yang mahal.
Tak terasa sudah satu jam aku di sini, dan tidak ada seorangpun yang datang ke belakang, hanya beberapa pelayan yang hilir mudik, menyapaku dengan senyuman. Mas Adnan juga tidak terlihat batang hidungnya, dia pasti sibuk berbincang dengan anggota keluarganya, karena sudah lama tidak bertemu.
Selama ini Mas Adnan tidak pernah membahas tentang keluarga dari pihak Ayah atau Ibu, aku juga tidak pernah bertanya kepadanya, menurutku itu bukan ranahku untuk bertanya.
Perutku sudah terasa lapar, jadi aku memutuskan untuk berdiri dan pergi ke dapur, tapi sebelum aku benar-benar ke dapur aku mengintip terlebih dahulu dari ambang pintu apakah masih ada anggota keluarga yang tersisa di dapur atau tidak, dan ternyata sudah tidak ada.
Aku segera melangkah ke dapur, pertama-tama aku akan mencari di lemari pendingin jika masih ada makanan atau tidak, ketika aku membukanya ternyata sudah tidak ada, hanya ada roti tawar dan beberapa buah-buahan, jadi aku memilih mengambil selembar roti dan satu buah apel. Di ruang tamu masih terdengar orang berbicara dan saling melempat canda tawa.
Setelah mengambil yang aku inginkan, aku akan pergi ke gazebo belakang lagi untuk memakannya, jika aku makan di sini aku takut akan ada orang yang pergi ke dapur dan melihatku, rasanya aku sudah seperti buronan saja.
Saat sudah sampai ambang pintu tiba-tiba ada yang memegang pundakku, aku menegang, dan aku memiringkan sedikit kepalaku untuk melihat tangan yang berada di pundakku, itu adalah tangan seorang laki-laki.
Aku memberanikan diri untuk menoleh dan saat aku menoleh tangan laki-laki itu terlepas begitu saja, dia adalah laki-laki yang tampan, hampir terlihat seperti Mas Adnan tetapi bentuk alis dan rahangnya berbeda, tetapi jika berdiri bersebelahan pasti banyak yang akan mengira bahwa mereka kakak beradik.
"Istrinya Adnan?" Tanya laki-laki itu. Aku mengangguk pelan.
__ADS_1
"Lumayan juga ya," ucapnya sambil melihatku dari atas sampai bawah. Aku mulai takut dengan tatapannya, takut jika dia akan melontarkan kata-kata yang tak mengenakkan.
Aku memundurkan tubuhku, tetapi dia menahan lenganku, "mau kemana? Kita kan belum kenalan," ujarnya diiringi senyuman manis.
Dia mengulurkan tangannya tanda mengajakku bersalaman, "Ardi, kakak sepupunya Adnan," ucapnya.
Aku menerima uluran tangannya, sepertinya dia orang baik, "Raline," jawabku. Beberapa detik kemudian tangan kami terlepas. Aku sedikit membungkuk dan pergi dari hadapannya. Tetapi lagi-lagi ada yang menghentikan ku.
"Sayang," kali ini suara Mas Adnan terdengar.
Aku membalikkan badanku dan melangkah ke arahnya, "kok udah ke sini lagi Mas," tanyaku padanya.
"Iya, udah bosen di sana," jawabnya. Kemudian dia melihat ke arah Mas Ardi, "ngapain kamu di sini," sinis Mas Adnan.
"Niatnya sih mau ngambil minum, tapi malah ketemu bidadari yang lagi di sembunyiin," jawab Mas Ardi santai.
"Ya udah sana ambil minum, ngapain masih di sini," ujar Mas Adnan.
"Boleh juga istri kamu," ucap Mas Ardi dengan tatapannya mengarah ke arahku. "Pantesan kamu sembunyiin sampai setahun lebih," lanjutnya.
"Pergi!" Ucap Mas Adnan keras.
"Jangan pelit sama sepupu sendiri," jawaban Mas Ardi seperti sedang menantang Mas Adnan. Mas Adnan mulai kehilangan kesabaran dan menarik kerahnya dan menatapnya dengan tajam.
"Mas!"pekikku. Kali ini aku tidak perduli jika ada yang mendengar suaraku, yang aku takutkan hanya jika emosi Mas Adnan tidak terkendali.
Aku mencoba melepaskan tangan Mas Adnan di kerah Mas Ardi, "Mas, lepas Mas," lirihku. Tetapi bukannya melepaskan justru remasan di kerahnya semakin kuat.
"Denger baik-baik, hari ini adalah pertama dan terakhir kalinya kamu bisa lihat istriku," setelah mengucapkan itu Mas Adnan melepaskan cekalan pada kerahnya.
"Dari kecil kita udah biasa berbagi kan?" Ucapan Mas Ardi kembali menyulut emosi Mas Adnan yang sudah sedikit mereda.
BUG!
Tinjuan tangan Mas Adnan layangkan ke wajah sepupunya.
"MAS! Teriakku kencang. Mas Ardi memegangi wajahnya yang baru saja di pukul oleh Mas Adnan. Dia masih sempat terkekeh. Aku mencoba untuk melihat luka di wajah Mas Ardi tetapi Mas Adnan lebih dulu menarik tanganku.
Dan tak lama kemudian suara derap langkah kaki mendekat.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen 🤩