
Inilah yang sejak awal aku khawatirkan, sebuah penolakan. Walaupun dari awal aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi tetapi ketika aku menghadapinya secara langsung, itu terasa berkali kali lipat lebih menyakitkan. Memang benar adanya, apa yang bisa di harapkan dari orang rendahan seperti diriku ini, bisa menjalin kasih dengan anak tunggal kaya raya saja sudah membuatku bersyukur setengah mati. Apalagi sampai bisa menikah dengannya, bukankah itu seperti sesuatu yang sangat tidak pantas?
"Memangnya kenapa jika dia hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai seorang kasir? Aku mencintainya sepenuh hati, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku menganggapnya rendahan," ujar Mas Adnan sedikit meninggi.
"Kamu sudah tahu dengan jelas jika kita itu salah satu keluarga terpandang, dan kamu adalah anak satu-satunya, harapan terbesar kami. Kami hanya ingin kamu memiliki pendamping yang tepat dan cocok bersanding denganmu," jawab Ibu.
"Jika aku sudah memilihnya sebagai pendamping hidupku, artinya hanya dialah satu-satunya yang ada di hatiku. Walaupun Ayah dan Ibu ingin menjodohkan ku, tetapi aku tidak menginginkannya, yang aku mau hanya dia," tegas Mas Adnan sambil menunjukku.
Aku semakin menunduk mendengar jawabannya, mataku sudah siap menumpahkan air mata, segitu inginkah dia menjadikanku pendampingnya? Seorang wanita biasa tanpa gelar dan sudah tidak memiliki orang tua. Benar, orang tuaku sudah meninggal ketika aku duduk di bangku SMA tahun pertama, mereka meninggal karena tabrak lari yang dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab, itu adalah tahun terberat ku, ditinggal kedua orang tua secara bersamaan tanpa ada sanak saudara. Entahlah dari awal aku tidak begitu mengenal saudara dari pihak ayah maupun ibuku, dan ya, aku juga anak tunggal.
Aku menarik lengan jasnya sambil mendongak dan berkata, "Gak masalah jika orang tua kamu tidak ingin aku menjadi menantunya, aku sudah sadar diri, dan aku sudah menyiapkan diri sebelum kesini untuk penolakan ini."
"Gak bisa gitu yang, apapun pilihanku mereka harus menerimanya, mereka harus selalu mendukung anaknya," nada Mas Adnan kembali meninggi. "Jika Ayah dan Ibu tidak merestui kami, bukan masalah besar untukku, aku akan tetap menikahinya dengan atau tanpa restu kalian."
"Apakah kamu sudah benar-benar memikirkannya matang-matang?" tanya Ayahnya. "Kamu tau kan resiko seperti apa yang akan kamu dan dia dapatkan ketika kalian benar-benar memutuskan untuk bersama?"
"Ayah, kamu gak berniat buat merestui mereka kan," tuntut Ibu. "Terus gimana nasib anaknya Pak Yuda , kita juga udah deket banget sama mereka, akan sangat memalukan jika kita tiba-tiba membatalkan perjodohan ini."
"Masalah itu biar jadi urusan Ayah."
"Adnan, kamu beneran mau mengecewakan Ibu sama Ayah? Coba dipikirin sekali lagi, jika kalian menikah bukan hanya kamu yang akan mendapatkan masalah, tetapi dia juga, keluarga kita gak ada yang dari golongan bawah, semua anggota keluarga dari kakek sama nenekmu orang berpendidikan semua," kata Ibu.
"Bu, semua ini kan aku yang ngejalanin, kalian gak perlu khawatir, gak ada golongan atas atau bawah, semua orang sama aja. Apa yang udah aku pilih gak akan aku lepasin," jawab Mas Adnan mantap.
"Baiklah jika itu keputusan kamu, semua resiko kamu tanggung sendiri, Ayah ga akan bantu kamu jika nanti timbul masalah." tegas Ayah dan berlalu menaiki tangga. Ibu yang masih terlihat enggan untuk menerima keputusan Ayah ikut berdiri dan mengikuti langkah Ayah.
Aku menghela napas melihat kepergian kedua orang tersebut. Jika memang tidak direstui pun aku tidak memaksa, dari awal sudah aku tekankan, aku sadar diri dengan keadaanku, aku juga tidak ingin memaksa, memangnya siapa yang mau menjadikan orang seperti diriku ini menantu? Tetapi melihat kesungguhan Mas Adnan hatiku tersentuh. Memangnya apa yang dia lihat dariku sampai dia berani menentang keputusan kedua orang tuanya, orang tua yang sudah merawatnya dari kecil dan memberinya kemewahan hanya demi seorang wanita sepertiku?
__ADS_1
"Jangan dimasukin hati ya perkataan mereka, mereka gak bakal bisa menentang keputusanku," ucap Mas Adnan menenangkan ku. "Rencananya tadi aku mau ajak kamu makan bareng sama keluarga aku, tapi karena suasananya gak enak gini kita makan diluar aja, sekalian aku antar kamu pulang."
"Tapi aku masih ngerasa gak enak sama mereka, aku ga masalah kok kalau kita ga sampai nikah, bisa kenal kamu selama dua tahun ini aja aku udah seneng banget."
"Ngomong apa sih kamu, aku bakal tetep lanjutin rencana pernikahan ini, kamu cukup ada di sampingku, dampingi aku, nanti mereka perlahan juga bakal nerima kamu," jawabnya.
Lalu disinilah kami, di salah satu penjual bakso pinggir jalan, tempat langgananku dari sebelum mengenalnya, dia tau aku akan ke sini ketika ingin melepas rasa sedih. "Kayak biasa kan yang?" tanyanya.
"Iya, sambelnya tambahin," jawabku.
"Udah malem gak baik makan pedes-pedes kasian perut kamu, pasti kamu seharian belum makan nasi kan?"
"Ga usah bawel, lagi sedih gini enaknya makan yang pedes-pedes," jawabku sengit. "Aku udah makan nasi dikit kok tadi siang."
"Ya udah iya," ucapnya mengalah.
"Aku langsung pulang ya, kamu langsung bersih-bersih terus istirahat, jangan lupa pintu sama jendela di kunci," katanya.
"Iya, hati-hati di jalan."
Setelah kepergiannya, aku menyalakan lampu teras, membuka pintu kemudian melepas sepatu dan menaruhnya di rak dekat pintu, berganti dengan sandal rumahan, pintu langsung aku kunci karena tidak mungkin akan ada orang yang berkunjung melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit.
Aku segera masuk ke dalam kamar, menaruh tas pada rak penyimpanan, dan membuka sweater yang aku kenakan. Mengambil handuk dan baju ganti untuk segera mandi lalu melangkah keluar kamar karena kamar mandi berada di dekat dapur. Segarnya air dingin pada malam hari mengguyur dari kepala hingga ujung kaki, menyegarkan kembali pikiranku yang sedikit kusut karena masalah tadi.
Selesai mandi dan bersih-bersih aku langsung tiduran di atas kasur menatap langit-langit kamar dan mulai mengingat kembali pertemuanku dengan orang tua Mas Adnan, pertemuan yang sama sekali tidak mengesankan, makin kesini aku makin merasa rendah diri, tidak pantas untuk siapapun.
Keesokan paginya aku melanjutkan rutinitas seperti biasanya, mencoba mengenyahkan masalah kemarin. Walaupun dia sudah mengajakku menikah tetapi masih belum pasti itu kapan terjadi, jadi aku akan menepikan masalah itu terlebih dahulu. Biasanya aku pergi bekerja dengan menaiki sepeda, tetapi karena kemarin aku di jemput di minimarket dan di antar pulang olehnya, jadilah sepedaku masih tertinggal di sana. Aku memutuskan untuk berjalan kaki, jika menaiki sepeda biasanya hanya memerlukan waktu 10 menit, tapi jika berjalan kaki bisa sampai 15 sampai 20 menit, tapi tak apalah itung-itung olahraga.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat, jam sudah menunjukkan waktu istirahat, karena hanya ada aku di sini saat ini, aku hanya memakan roti yang sudah disediakan pemilik minimarket ini. Biasanya saat jam istirahat seperti ini istri dari pemilik minimarket akan ke sini untuk menggantikan ku agar bisa makan siang di luar, tetapi karena sedang ada kesibukan dia meneleponku dan mengatakan tidak bisa datang siang ini.
Saat sedang asik menyuap roti aku mendengar suara pintu terbuka, ketika mendongak aku melihat Mas Adnan masuk membawa plastik di tangan kanannya dengan pakaian yang sudah tidak rapi. Lengan kemeja digulung sampai siku, dua kancing atas kemeja terbuka, dan entah kemana perginya dasi yang biasanya bertengger apik di kerah kemejanya.
"Tumben banget kusut gini, lagi ada masalah di kantor ya?" tanyaku.
"Iya, tadi ada sedikit kendala, tapi udah teratasi kok. Oh ya, ini aku bawa nasi ayam kesukaan kamu,'' ucapnya sambil menyerahkan kantong plastik itu kepadaku..
"Makasih ya, tau aja aku ga bisa keluar buat beli makan, ini aja aku makan roti buat ganjel perut," jawabku mengadu.
"Ya udah dimakan itu, habisin. Aku langsung balik kantor lagi, masih ada yang perlu di urus."
"Kok buru-buru banget, ga mau makan bareng? Ini kamu belinya juga kebanyakan buat aku."
"Gak papa emang sengaja beli lebih, aku udah makan sebelum kesini tadi. Kamu kan kebiasaan jarang
makan nasi, aku keinget kamu semalem habis makan pedes. Jadi hari ini kamu harus full makan nasi."
"Makasih sekali lagi, pikirin diri kamu juga, kalau udah ngerasa capek langsung istirahat, ga usah dipaksain," kataku.
"Iya sayang. Nanti pulang kerja ada yang mau aku omongin sama kamu, nanti aku jemput lagi, kita ngobrol sambil makan malem."
Setelah berpamitan dia melangkah keluar kembali. Aku merenung menebak-menebak sekiranya apa yang akan dia bicarakan. Karena selama kita pacaran gak pernah sekalipun dia ngajak ngomong di luar, mau ngomong ya langsung ngomong. Apakah dia akan kembali membahas masalah pernikahan?
Bersambung
see you on the next chap
__ADS_1
ini masih yang ringan-ringan dulu ya...(. ❛ ᴗ ❛.)