
"ADA APA INI!"
Tanpa melihat pun aku sudah tau suara teriakan siapa itu. Entah kenapa orang ini selalu muncul di saat yang tidak tepat. Jika begini sudah pasti Celine akan mencari dukungan dari orang ini. Kalian pasti sudah tau kan siapa yang aku maksud?
Tak lain tak bukan yaitu Ibu mertuaku yang tidak tau sejak kapan dia sampai di sini. Tapi kali ini dia tidak sendiri, dia datang bersama Ayah.
"Ibu," ucap Celine dengan nada sedih bercampur manja. Drama di mulai.
"Kamu kenapa? Kenapa ada piring pecah di sini," ujar Ibu dan mendekati Celine. Melihat Celine dengan seksama dari wajah sampai kakinya.
"Raline Bu, dia udah kurang ajar sama aku. Mentang-mentang dia istri pertama dan aku istri kedua, dia seenaknya sama aku," adunya kepada Ibu dengan mendramatisir. Aku menatapnya datar. Ini bukanlah pertama kalinya dia berbuat seperti ini.
"Wahh. Ternyata beneran udah gak waras," celetuk David.
Ibu menatapku dan David dengan tatapan tajamnya. Aku menaikkan daguku, "Apa! Ibu mau marah? Mau nampar aku juga? Atau mau jambak sekalian? Ayo, aku gak takut," ujar ku menantang.
Ai yang masih berada di gendonganku memeluk erat leherku. Seketika aku teringat jika ada anak di bawah umur di sini. "Maaf sayang," ucapku pelan di telinganya.
"Aku tidak akan menyalahkan atau membenarkan perkataan Celine. Untuk Mas Adnan, pasti kamu tau sendiri kan, mana yang sebenarnya salah dan benar. Aku juga tidak perlu menjelaskan kepada Ibu, karena dia pasti akan membela menantu kesayangannya. Silahkan kalian lanjutkan drama ini. Saya permisi."
Setelah mengatakan itu, aku membuka pintu kamar yang tepat berada di sampingku. Aku segera masuk, tetapi David masih tetap diam di tempatnya.
"Sekali-sekali gunain otak pintar kamu itu. Siap-siap aja aku bakal ambil Raline dari suami gak tau diri kayak kamu," ucap David dingin ke arah Mas Adnan yang masih mengepalkan kedua tangannya. David kemudian masuk kamar menyusul ku dan menutup pintu cukup keras.
"Pengen aku tonjok tuh orang," ucapnya setelah duduk di sofa kamar dengan napas yang belum beraturan.
"Vid," lagi-lagi dia berkata kasar di depan Ai.
Ai masih saja memeluk leherku dengan erat, aku dengan pelan melepas tautan tangannya. "Makan dulu yuk," ucapku setelah berhasil melepas tangannya di leherku.
"Mau di suapin Papa," jawabnya pelan.
"Sini Papa pangku," ucap David setelah mengubah ekspresi marahnya menjadi gembira.
Ai berpindah tempat ke pangkuan David, tetapi dia masih terlihat lemas. Mungkin karena tadi dia seharusnya masih nyenyak tidur, tetapi tiba-tiba terbangun karena mendengar suara keras, jadinya ya begini.
"Ai mau makan pakai apa?" tanyaku lembut. Dia menunjuk Ayam goreng bagian paha. Dia memang suka bagian itu karena biasanya dia menonton kartun 2 bocah kembar yang suka makan ayam goreng. Jadi dia ikutan suka.
__ADS_1
Aku segera mengambilkan apa yang dia inginkan. Karena di sini tidak ada piring, jadi aku menggunakan penutup nasi untuk digunakan sebagai piring. "Di suapin Bunda ya, Ai di pangku Papa aja. Nanti Papa kesusahan kalau sama nyuapin Ai," ucapku dan di beri anggukan singkat oleh Ai.
Untung saja ada sendok plastik yang masih baru, yang aku simpan di meja kecil dekat sofa. Aku menyendok sedikit nasi dan ayam dan memasukkannya ke dalam mulut Ai. "Enyak," ucap Ai setelah berhasil menelannya.
"Siapa dulu dong yang beli, Papa," ujar David membanggakan diri.
Ai terkekeh dan memeluk David, "Besok beli lagi ya Pa," pinta David dengan memamerkan gigi susunya.
"Siap Tuan," jawab David dan menduselkan kepalanya di perut Ai. Ai seketika tertawa cekikikan.
Aku yang melihat pemandangan ini tertawa kecil. Terima kasih kepada David yang telah memberikan kebahagian kepada Ai, semoga nanti dia mendapatkan istri yang lebih baik dari aku.
"Bunda," panggil Ai dengan menunjuk mulutnya yang terbuka lebar.
Aku tertawa melihat tingkahnya. Aku terus menyuapi Ai sampai nasi dan ayam yang aku ambilkan habis. "Pintarnya anak Bunda," puji ku. Ai bukanlah anak yang suka pilih-pilih makanan, jadi aku sangat beruntung akan hal itu.
"Bunda," kali ini bukan suara Ai. Itu adalah suara David yang dibuat dengan nada seperti Ai ketika memanggilku.
Aku menatapnya garang, "Apa!"
"Mau di suapin juga dong, kayak Ai," ucapnya manja. Aku tersedak ludah saat mendengar perkataannya.
Dia menyengir, "Kan biar kayak keluarga bahagia. Habis nyuapin anak lanjut nyuapin suami."
Aku berdecak kesal, tetapi aku masih mengambilkan dia nasi dan lauk, "Gak papa kan tempatnya bekas makan Ai," tanyaku.
"Gak papa. Bekas kamu aja aku gak nolak kok," jawabnya dengan nada menggoda.
Tanpa menanggapi jawabannya, aku kembali melanjutkan mengambilkannya lauk dan mengambilkan sendok baru. "Ai duduk di sofa dulu ya, Papa mau makan dulu," ucapku kepada Ai.
"Lihat kartun ya Bun," pintanya. Aku menyuruh David untuk menurunkan Ai, setelah aku menyerahkan nasi beserta lauk pauknya kepada David, aku menuntun Ai menuju ranjang. Karena memang televisinya menghadap ranjang.
"Ai di sini dulu ya, Bunda mau makan," ucapku dan di beri tanda jempol olehnya. Aku mengelus rambutnya pelan dan kembali ke arah sofa.
Aku duduk di tempatku semula, mengambil ayam bakar dengan garpu plastik dan mulai memakannya. Aku sedang tidak ingin makan nasi, jadi aku hanya akan memakan ayam dan sayurnya saja.
"Makan yang banyak, biar kuat," ucap David dengan masih menyuapkan nasi ke dam mulutnya.
__ADS_1
Aku menoleh ke arahnya, "Terima kasih buat semuanya," ucapku tulus. "Tanpa kamu, Ai pasti gak akan ngeraisain rasanya punya Ayah."
"Tenang aja. Aku bakal selalu di sisi kamu," jawabnya dan menatapku dalam.
Aku tersenyum tipis mendengar kalimat itu. Kalimat itu juga yang dikatakan oleh Mas Adnan dulu, tetapi pada kenyataanya? Dia mengingkarinya, jadi sekarang aku tidak akan percaya kepada siapapun lagi.
"Tunggu bentar lagi, nanti aku keluarin kamu dari sini," ucapnya mantap.
Aku hanya mengangguk-angguk. Aku juga tidak selamanya akan bergantung kepadanya, aku harus bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku harus mulai mencari uang sendiri. Kedepannya aku pasti akan membutuhkan banyak uang, apalagi jika Ai sudah mulai bersekolah.
"Aku kayaknya mau buka usaha deh," celetukku.
"Boleh. Nanti aku bantuin."
"Tapi aku harus keluar dulu dari sini," lirihku.
"Apasih yang buat Adnan masih mertahanin kamu, gara-gara dia aku jadi susah mau milikin kamu."
"Aku juga penasaran. Tapi tiap aku tanya dia gak pernah mau jawab, dan malah aku yang akhirnya naik darah," sungut ku.
"Jangan-jangan dia pernah buat salah lagi sama kamu," ujarnya tiba-tiba.
Aku mengernyitkan dahiku. Berbuat salah? Apa jangan-jangan karena dia sudah memiliki hubungan dengan Celine tetapi masih menikahi ku?
"Apa mungkin karena dia udah bohongin aku dari awal?" ucapku pelan.
"Gak. Gak mungkin kalau cuma karena itu, pasti ada hal lain."
Hal lain? Apa? Aku gak pernah merasa dia berbuat aneh selain dia bersama Celine. "Kamu jangan bikin aku mikir keras deh."
Dia mengedikkan kedua bahunya, "Mana aku tau. Ya siapa tau kan, kayak balas budi gitu," ucapnya.
"Kamu itu kalau ngomong suka setengah-setengah."
"Aku kan juga belum tau pasti. Nanti aku bantuin nyari tau," putusnya.
Aku termenung mendengar perkataannya. Gara-gara dia aku ikut berpikir keras. Dasar.
__ADS_1
Bersambung