
Selama perjalanan pulang, Mas Adnan mengendarai mobil dengan sedikit ngebut, terkadang keluar umpatan dari belah bibirnya jika ada kemacetan di depannya.
Ada rasa kasihan di hatiku, tetapi tidak ada yang bisa aku lakukan, secara sekarang kami masih di dalam mobil, beda cerita kalau kami sedang di rumah.
Jaraknya sebenarnya dekat dari rumah, tetapi karena dari restoran tadi jalannya satu arah, harus lewat jalan yang berlawanan terlebih dahulu.
Setelah memakan waktu 20 menit akhirnya kami sampai di rumah. Mas Adnan segera keluar dari mobil dan membukakam pintu untukku.
Dia menarik tanganku menuju ke dalam rumah, "bantuin dulu yang, udah ga tahan aku," pintanya dengan tatapan sayu nya.
Aku ingin tertawa rasanya melihat ekspresinya, "Iya iya, aku mau naruh ini dulu di dapur," ucapku sambil memperlihatkan bungkusan makanan ke arahnya.
"Aku ke kamar dulu, kamu cepetan nyusul," jawabnya dan segera menaiki tangga menuju kamar.
Aku terkekeh melihat tingkahnya, dan segera ke dapur untuk menaruh makanan yang tadi aku beli, tak butuh waktu lama aku segera menyusulnya ke kamar.
Sampai kamar aku tidak melihat batang hidungnya, tetapi ada suara erangan dari kamar mandi, aku menyimpan tasku di sofa dan menyusulnya ke kamar mandi, sebelumnya aku melepaskan pakaianku terlebih dahulu, sekarang hanya tinggal 2 potong kain yang menutupi bagian atas dan bawahku.
Di kamar mandi Mas Adnan menumpu tubuhnya menggunakan tangan kirinya ke dinding sedangkan tangan kanannya sedang bekerja keras, aku sudah hapal di luar kepala apa yang sedang dia lakukan.
Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang, dia tidak menghentikan kegiatannya, tetapi justru semakin mempercepat pergerakan tangannya, dia melenguh keras saat aku meniup titik sensitifnya.
Dia membalikkan badannya, sekarang kami berhadapan, matanya sudah memerah karena gairah, gairahku pun ikut tersulut melihat keadaannya sekarang.
"Langsung aja ya yang, bener-bener udah ga tahan aku," ucapnya dengan nada frustasi. Dia mendekap ku agar semakin dekat dengannya, dengan tergesa-gesa dia manarik kain yang menutupi bagian bawahku lalu dia sobek begitu saja, dan dalam hitungan detik miliknya sudah berada di dalamku.
Aku sedikit kesakitan karena pergerakannya yang bringas, gairahnya benar-benar sudah di ujung tanduk, seketika dia lampiaskan semua kepadaku.
Memakan waktu cukup lama untuk menuntaskan hasratnya, karena sudah dia tahan dari sore, setelah dia sudah cukup puas, kami memutuskan untuk mandi bersama dan segera keluar kamar mandi, karena di dalam sini rasanya sudah dingin sekali.
Aku kira dia sudah puas bermain di kamar mandi ternyata saat di walk in closet dia meminta untuk melakukannya lagi, karena miliknya tegang kembali karena 'katanya' melihatku telanjang saat akan berganti baju, dan aku juga tidak bisa menolak ajakannya.
Satu jam di butuhkan untuk bermain di walk in closet, aku sudah kelelahan dan cacing di perutku sudah meronta meminta makan. Tadi kami sampai rumah jam 6 kurang 10 menit dan sekarang sudah jam 10 malam, hitung saja sudah berapa lama kami bermain.
Sekarang kami berdua sudah berada di dapur, Mas Adnan sudah duduk dengan khidmat di kursi bar menyaksikan ku yang sedang memanaskan makanan yang aku beli tadi.
"Lihat kamu pake daster dari belakang, rasanya pengen main lagi aku yang," ucapnya pelan.
"Ga usah aneh-aneh ya Mas, aku udah laper banget, badanku juga udah capek semua," jawabku sembari menodongkan spatula ke arahnya.
"Ha ha ha, gak sekarang deh, besok pagi ya," ujarnya dengan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Enggak enggak, besok aku mau bangun siang mumpung ga ada kelas, mau isi energi," tukas ku.
"Aku juga mau ambil cuti lagi ah besok, nemenin kamu isi energi," katanya.
"Emang kamu gak sibuk di kantor, kamu akhir-akhir ini udah sering ambil cuti Lo."
"Kan perusahannya punya aku, ya terserah aku lah."
"Kamu kan harus kasih contoh yang baik buat karyawan kamu, kalau bosnya sering bolos gimana karyawannya ga pengen ikutan bolos juga," jawabku.
"Mereka berani bolos ya siap-siap surat pemecatan ada di meja mereka."
"Terserah kamu deh mas," pasrah ku, memang susah berdebat dengannya, pasti aku yang akan kalah telak.
Makanan sudah siap dan aku juga sudah membawanya ke meja makan, tadi aku beli 2 porsi dan sekarang kita memakan makanan di piring masing-masing. Aku makan dengan lahap karena kelaparan, Mas Adnan tetap makan dengan santai, heran aku dapat stamina dari mana dia saat bermain tadi.
"Ga ada jatah seminggu ya Mas," candaku.
"Oh tidak bisa," jawabnya dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Kamu juga pasti kalau aku ajak ga bakal nolak," lanjutnya.
"Gimana mau nolak, kalau kamu suka maksa," aku memutar bola mataku.
"Alah, kamu juga suka kan, kan kan," godanya.
"Mas," panggilku pada Mas Adnan yang baru menyelesaikan makanannya.
"Dalem dek," jawabnya menatapku dengan senyuman..
"Apaan sih dak dek, biasanya juga yang," ucapku mendekati tempat duduknya dan memukul pelan pundaknya.
"Ya kan kamu manggil Mas, ya udah aku jawab dalem dek, bener kan?" Tanyanya balik.
Aku tersipu malu, dan menutup mukaku yang memerah menggunakan kedua tanganku, tetapi aku harus menahan rasa maluku karena aku teringat kembali niatku memanggilnya.
"Aku masih laper,"kataku sedikit berbisik.
"Apa yang, ga kedengeran," jawabnya.
"Aku masih laper," jawabku sedikit lebih keras.
"Apa apa," ucapnya mendekatkan telinganya ke arahku. Aku sudah tidak tahan dengan respon nya yang sok tidak dengar, aku tau dia sudah dengar sejak pertama kali aku berbicara.
__ADS_1
"AKU MASIH LAPER," teriakku di depan wajahnya, dan aku menghentakkan kakiku dan berjalan ke arah sofa, biarlah rasa lapar ini menggerogoti ku.
HAHAHAHA
Suara tawanya menggelegar di dapur, aku tidak menghiraukannya dan tetap berjalan ke arah sofa, menyalakan televisi untuk menonton acara komedi agar rasa kesalku hilang.
Tetapi saat menyalakan televisi siaran pertama yang muncul adalah iklan makanan, dan itu ayam goreng aku jadi menginginkannya, ingin memesan lewat online tetapi handphoneku sedang aku charger di kamar, mau ke atas tapi rasanya malas sekali, meminta tolong Mas Adnan aku sudah terlanjur kesal.
Aku bersandar di sofa dan bersidekap dada, iklan ayam goreng tadi sudah lewat, diganti dengan berita, aku mengerucutkan bibirku, ini kan juga gara-gara dia yang membuatku sampai kelaparan seperti ini.
"Jangan cemberut gitu dong, nanti ayamnya ga jadi dateng loh," suara Mas Adnan terdengar di sampingku, mendudukkan dirinya di sampingku dan merangkul pundakku. Aku meliriknya sinis.
"Iya iya Mas minta maaf ya karena udah goda kamu tadi, udah Mas pesenin ayam kesukaan kamu tadi, paling bentar lagi nyampe," ucapnya dengan rasa bersalah.
Kali ini aku tidak boleh luluh dengan cepat, aku harus membuatnya menyesal terlebih dahulu, aku mengeluarkan smirk ku, dan aku melepaskan tangannya yang ada di pundakku.
"Aku udah ga laper, aku mau tidur aja," ucapku sedikit sewot kepadanya dan segera beranjak menuju tangga untuk naik ke kamar. Aku tersenyum kecil selama menaiki tangga, biarlah aku yang gantian menggodanya kali ini, suruh siapa menggoda orang yang sedang kelaparan.
"Yang," panggilnya keras. Aku mengabaikannya dan terus menaiki tangga, tak lama terdengar suara langkah kaki tergesa menyusul ku, aku segera mempercepat langkahku agar segera sampai ke dalam kamar. Karena kakinya yang panjang dan langkahnya yang lebar dia berhasil menyusul ku, "jangan gini dong yang, kan aku cuma bercanda," ucapnya.
Aku memasuki kamar tanpa menjawab perkataannya, "Yang," renggeknya padaku yang sudah berbaring di atas ranjang.
Suara handphone berbunyi memecah suasana, itu suara handphonenya Mas Adnan, aku sedari tadi tidak menatap ke arahnya, aku sedang menahan agar tidak tertawa kencang.
"Ini drivernya udah di depan katanya yang, aku ke bawah dulu buat ngambil pesanannya, terus nanti makan ya," ucapnya memelas.
Kali ini aku menutup seluruh tubuhku menggunakan selimut, suara pintu tertutup, sepertinya Mas Adnan sudah keluar, aku sudah tidak bisa menahan tawaku dan akhirnya,
HA HA HA HA
Aku tertawa dengan kencang, suaraku pasti terdengar sampai luar, dan tak lama kemudian suara teriakan terdengar dari luar.
"AWAS KAMU YANG."
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan terkikik kecil, kemudian kembali menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
Up tiap hari ya
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen