
Hari ini tepat hari di mana Ai berusia 3 tahun. Aku sudah merencanakan untuk membuat acara kecil-kecilan di sebuah restoran yang telah dipesan oleh David dari jauh hari. Aku memang sudah meminta tolong kepadanya karena aku yang memang tidak bisa keluar rumah dengan leluasa.
Ini juga pertama kalinya Ai merayakan ulang tahun di luar. Karena dia masih kecil jadi dia tidak tau dan tidak menyadari jika hari ini dia sedang berulang tahun. Pagi pagi sekali aku sudah memasakkan kedua manusia penghuni rumah ini sarapan, karena pukul 7 nanti David akan menjemput ku, kami akan berkeliling dan mencari sarapan di luar terlebih dahulu dilanjut pergi ke taman bermain. Baru nanti malam kami pergi ke restoran untuk memberikan kejutan kepada Ai.
Sebenarnya sampai sekarang Ai belum bangun, dan ini sudah pukul 7 kurang 10 menit. Jadi aku akan membangunkannya, agar perginya tidak kesiangan. Karena jarak rumah dan tempat bermain cukup jauh.
"Sayang, bangun yuk," bisikku tepat di telinga nya.
Dia tak bergeming, aku menoel-noel pelan pipi chubby nya. "Ai, Aithan. Bangun yuk," panggilku kembali. Dia mulai terusik, dan mengucek matanya.
"Bunda," panggilnya dengan suara bayinya.
"Bangun sayang. Papa bentar lagi sampai," ujarku. Dia sebenarnya juga tidak tau jika akan aku ajak pergi jalan-jalan.
"Papa mau ke sini?" Tanyanya dengan mata berbinar. Jika mendengar kata Papa dia memang akan bereaksi seperti ini. Sesayang itu dia dengan David, entah bagaimana nanti jika dia sudah beranjak besar dan mengetahui kebenarannya.
"Iya, kan kita mau jalan-jalan hari ini," jawabku dan membantunya untuk duduk.
"Sama Bunda juga?"
"Iya dong," jawabku bangga.
"Yeayy," dia berdiri dan melompat-lompat dengan tangan di angkat ke atas. "Ayo Bun. Ayo mandiin Ai, nanti Papa kebulu sampai sini," hebohnya dan melompat ke pangkuanku.
Aku mencium gemas seluruh wajahnya. Dia tertawa keras, aku sangat suka ketika melihatnya tertawa lepas seperti ini. Seperti rasa sedih dan gundah di hatiku perlahan terkikis.
Baru saja keluar dari kamar mandi, aku melihat David yang sudah duduk di atas sofa dengan menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. "Udah lama?" tanyaku basa-basi.
"Baru aja duduk," jawabnya.
"Papa. Mau sama Papa," Ai meronta di atas gendonganku.
"Iya, iya. Ganti baju dulu ya."
"Mana aku aja yang gantiin. Kamu ganti baju, biar gak kelamaan," ucap David dan melepas jaket yang dia kenakan, lalu berjalan kearahku dan mengambil Ai yang masih berada di gendonganku.
Dia memang terlihat bersungguh-sungguh, tetapi aku meragukan kesungguhannya itu. Bukan apa, sedari awal dia memang tidak pernah menggantikan baju untuk Ai, memang terlihat mudah jika hanya melihat, tetapi akan terasa sulit jika melakukannya sendiri.
__ADS_1
"Beneran? Kamu kan gak pernah gantiin baju Ai."
"Urusan gampang ini mah. Cuma gantiin baju doang," ujarnya percaya diri.
Aku menyerahkan Ai kepadanya dan mengambilkan baju serta bedak yang biasa Ai gunakan. Ai memang masih memakai bedak, khususnya di area sensitifnya. "Sebelum pake celana kamu kasih bedak dulu pantatnya, kulit Ai masih sensitif," pintaku dengan menata semua yang dibutuhkan di atas ranjang.
David mengangguk mengerti. Aku meninggalkan kedua orang itu dan berganti di kamar mandi. Tidak mungkin aku berganti di sini. Bisa-bisa David kegirangan.
Tak butuh waktu lama, aku keluar dari kamar mandi. Sedari tadi perasaanku sudah tidak enak, dan ternyata benar ketika aku melihat dengan kedua mataku sendiri. Aku bingung antara ingin menangis atau tertawa.
"David! Kamu apain anak aku!" teriakku dan segera mendekati kedua manusia berbeda umur itu.
Dia menggaruk belakang kepalanya, dan tersenyum tanpa dosa.
Kalian pasti penasaran apa yang dia perbuat kan? Dia memberi bedak di sekujur tubuh Ai. Dari wajah sampai ujung kaki, dan dia sama sekali belum memakaikan pakaian untuk Ai.
"Kan aku udah bilang, kasih bedak pantatnya aja. Kenapa jadi sekujur tubuhnya!" semprot ku marah.
"Bisa-bisa dia masuk angin gara-gara kelamaan make baju."
"Kata kamu kulitnya masih sensitif. Ya udah aku bedakin aja semuanya," jawabnya polos. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Ai juga, kenapa dia hanya diam saja ketika Papa nya berbuat seperti itu.
"Kilain Ai, cala Bunda sama Papa emang beda. Ya udah aku nulut aja," jawabnya lebih polos lagi. Aku menepuk pelan keningku. Cukup kali ini aja. Gak akan aku kasih David gantiin baju Ai.
Akhirnya masalah perbajuan ini selesai. Kami pun keluar dari kamar, dan waktu berangkat kita menjadi molor hampir jam 8.
"Mau kemana kalian?" tanya Celine kepo. Dia terlihat baru bangun tidur, terlihat dari rambutnya yang masih acak-acakan. Di belakangnya ada Mas Adnan yang baru saja akan memijakkan kakinya di atas tangga.
"Jalan-jalan lah sama anak dan calon istri," jawab David keras.
"Oh, sekarang udah terang-terangan ya," ucap Celine dengan seringai.
"Makanya punya anak, biar bisa jalan-jalan sama keluarga kecil kayak gini," sinis David. Ekspresi Celine berubah datar. Aku juga melihat ke arah Mas Adnan yang tatapannya juga tak kalah dingin.
Aku dengan cepat mencubit keras pinggang David. Bisa-bisanya dia membahas hal sensitif seperti ini di depan orangnya langsung. Tapi dia memang tidak tau, jika masalah anak ini sangat sensitif bagi mereka berdua.
Aku segera menarik jaket David agar segera pergi. Tetapi baru saja sampai di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. "Jangan iri ya. Sana puas-puasin bikin anak. Ha ha ha." Aku mendadak lupa jika orang ini dulunya juga tidak waras seperti Celine.
__ADS_1
...****************...
Saat ini kami bertiga sedang bersantai di sebuah taman, sembari menunggu taman bermain buka. Ini baru jam setengah sepuluh pagi, dan taman bermain baru akan di buka pukul 10.
Aku memperhatikan Ai yang sedang berlarian bersama David di taman, sungguh pemandangan yang sangat indah. Gelak tawa keduanya membuat hatiku berdesir hebat. Oh iya, sejak Mas Adnan mengijinkanku keluar semingu sekali, baru hari ini kesempatan itu aku lakukan. Sebelum-sebelumnya aku belum keluar sama sekali.
"Berhenti Vid. Ai kecapekan nanti," ucapku sedikit keras. Mereka berdua menghentikan kegiatan kejar mengejarnya, dan berbalik berlari ke arahku yang sedang duduk di kursi yang ada di bawah pohon.
"Bunda, haus," ucap Ai dengan napas tak beraturan.
"Tunggu sini, Papa beliin," ujar David dan berlari kecil untuk mencari penjual minuman. Sebenarnya tidak sulit mencari penjual minuman, karena di sepanjang jalan depan taman banyak sekali penjual makanan dan minuman.
"Atur napas dulu," ucapku kepada Ai dan mengelap keringat di wajahnya dengan tisu yang aku bawa dari rumah. Dia mengatur napasnya sesuai instruksi dariku, tarik napas lewat hidung dan di buang lewat mulut. Dia berkali-kali melakukan hal itu sampai benar-benar teratur.
David juga sudah kembali dengan membawa 3 botol air mineral dingin. Dia meletakkan ketiga botol di kursi dan membuka tutupnya satu persatu, lalu disodorkan kepadaku dan Ai.
"Berangkat sekarang aja yuk," ajaknya setelah berhasil meneguk setengah botol air. Aku mengangguk dan membereskan barang bawaanku.
Di taman bermain kami mencoba banyak permainan yang bisa di naiki juga oleh Ai. Sekarang sudah sore, sekarang aku sudah berada di dalam mobil menuju restoran yang sudah di pesan. Ai justru malah tidur di pangkuanku, dia memang terbiasa tidur siang, tetapi karena sedari tadi dia terus bermain dan bersenang-senang, jadilah sekarang dia baru tidur. Tak apa perjalanannya juga masih jauh, nanti akan aku bangunkan saat sudah sampai
45 menit berlalu, akhirnya kami sampai. "Ai, bangun yuk. Kita makan dulu," panggilku dengan mengelus pipinya. Kali ini tak butuh waktu lama, dia langsung terbangun.
Aku segera turun dan menyusul David yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam restoran. David memilih lantai 2, dan sudah ada pegawai yang mengarahkanku ke sana. Ai masih belum melihat tulisan dan juga balon-balon yang ada di sini, karena dia bersandar di bahuku dan menghadap ke belakang.
Setelah mendapatkan aba-aba dari David yang berdiri dengan membawa kue ulang tahun di depan sana, aku menepuk punggung Ai agar menegakkan tubuhnya. "Sayang, lihat depan."
Ai segera menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah yang aku tunjuk. "Kejutan!!"
Itu adalah suara teriakan David dan beberapa pegawai restoran ini. David berjalan ke arah ku, dan aku juga berjalan ke arah David. Lagu selamat ulang tahun bergema di lantai 2. Ai terlihat sangat gembira dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga."
"Ayo tiup," perintahku.
Fyuhhh
Kue ulang tahun dengan tema Avengers serta lilin menyala berbentuk angka 3 yang menancap di atasnya, akhirnya padam juga. Sorak sorai tepuk tangan terdengar begitu meriah. Dan perayaan kecil ini kami akhiri dengan makan bersama bertiga layaknya keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
Bersambung