My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 26 - Hari Pertama di Rumah Baru


__ADS_3

Setelah kejadian aku menggodanya semalam, hari ini dia benar-benar tidak pergi bekerja lagi, sepanjang malam dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya padaku saat tidur.


Semalam setelah aku tertawa kencang dan menutup tubuhku dengan selimut, aku tidak sadar aku jatuh tertidur begitu saja, aku benar-benar melupakan rasa lapar ku karena rasa lelahku lebih besar.


Tetapi saat aku terbangun di tengah malam dia memelukku dengan erat, sebenarnya aku merasa kasian dengannya karena membohonginya, tetapi aku juga tidak suka jika dia seperti itu.


Sekarang sudah jam sepuluh pagi, saat aku membuka mata, Mas Adnan ternyata sudah bangun terlebih dahulu, dan dia sedang menatapku, aku menatap matanya balik, dan setelahnya dia mencium lembut keningku, "maaf," gumamnya.


Aku mengelus pipinya lembut dan tersenyum, "jangan di ulangi lagi ya," ucapku dan mengecup hidungnya singkat.


Dia mengangguk dan memelukku kembali, kali ini lebih erat, "sesak Mas," tegur ku. Kemudian dia mengendurkan pelukannya, tetapi tangannya masih melingkar apik di atas perutku.


"Hari ini tidur seharian aja ya," katanya padaku.


"Aku laper," cengir ku di hadapannya. Dia menyentil hidungku, aku terkikik karena perlakuannya, tetapi bukannya turun dari ranjang aku malah memeluknya kembali, melingkarkan kakiku ke atas pahanya.


"Katanya laper, ayo makan dulu, ayam kamu yang semalem aku taruh dapur,"ucapnya. Mendengar kata ayam aku kembali tertawa karena kejadian semalam, tidak begitu keras tetapi mampu membuat Mas Adnan keheranan.


"Apa sih yang, tiba-tiba ketawa sendiri," tegurnya.


"Aku keinget kejadian semalem," jawabku.


"Jangan ingat-ingat lagi, mending sekarang kita makan dulu," dia melepaskan kakiku yang berada di atas kakinya dan beranjak turun dari ranjang.


Dia langsung melangkah menuju kamar mandi, aku bertanya-tanya di dalam hati, mungkinkah dia sedang merajuk karena aku mengungkit kejadian semalam?


Aku menghela napas panjang, kemudian meregangkan tubuhku, berguling ke kanan dan ke kiri, lalu turun dan membereskan ranjang.


Mas Adnan masih belum keluar dari dalam kamar mandi, mungkin sedang dalam panggilan alam, setelah selesai membereskan ranjang aku turun ke bawah untuk memanaskan makanan yang semalam Mas Adnan beli.


Sampai di dapur, aku melihat bungkusan besar di meja bar, saat aku mendekatinya ternyata bungkusan itu berisi 2 box paket ayam dan juga roti isi, ada juga kentang goreng.


Dia membeli segini banyaknya untuk apa? Aku bilang lapar bukan berarti akan menghabiskan ini semua kan?


Aku mengambil beberapa dan memanaskannya memakai Air Fryer, sebagian lagi aku taruh kulkas mungkin akan aku panaskan lagi untuk makan malam. Suara derap langkah mendekat ke arahku, Mas Adnan berjalan begitu saja saat melewati ku, dia membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu meminumnya.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak menoleh atau menegurku, aku berinisiatif mendekatinya dan menepuk pundaknya sekali. Dia menoleh ke arahku, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya dan dia melanjutkan meminum airnya.


Aku memeluknya dari belakang, menempelkan pipiku di punggungnya, "kamu kenapa mas?" Ucapku pelan. Tidak ada jawaban yang terdengar, aku menciumi punggungnya, dia melangkah dengan aku yang masih memeluk pinggangnya, aku menyamakan langkah kakiku dengannya.


Dia membawaku ke meja makan, melepaskan tanganku dari pinggangnya dan menarik ku untuk duduk di pangkuannya. Dia menyingkirkan anak rambutku ke bekalang telinga, tatapannya mengarah ke bibirku, aku yang paham langsung saja mengecup dan ******* bibirnya.


Sekarang dia yang mengambil alih permainan bibir, tetapi saat sedang asyik bercumbu suara Air Fryer berdenting, tanda bahwa makanan di dalamnya sudah siap untuk di keluarkan.


Aku langsung melepaskan tautan bibir kami, dan melompat turun dari pangkuannya, "ayamnya udah mateng, ayo makan dulu Mas," ajak ku lalu melangkah menuju dapur untuk mengeluarkan ayamnya, aku baru teringat jika aku tidak memiliki nasi, jadi aku kembali mengambil 2 roti isi dan memanaskannya juga.


"Tunggu bentar ya Mas, aku lupa kalau ga punya nasi, ini aku panasin dulu roti isinya," ucapku padanya yang sudah duduk di meja makan.


"Habis ini kita belanja buat isi keperluan rumah," jawab Mas Adnan.


Aku tersenyum tipis ke arahnya, dan membawa satu piring berisi 4 potong ayam dan menaruhnya di depan Mas Adnan.


5 menit kemudian suara Air Fryer kembali berbunyi, aku segera mengeluarkan roti isi dan menaruhnya di satu piring juga agar menghemat tempat.


Kami menikmati makan dalam diam, sudah kebiasaan saat di rumah Mas Adnan ketika makan tidak boleh sambil berbicara. Setelah semua yang berada di atas piring kosong, aku membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya.


"Kamu duluan aja, aku ngurus kerjaan bentar," matanya masih fokus terarah menuju handphone di genggamannya. Aku mengedikkan kedua bahuku dan berjalan menuju kamar.


Selesai mandi dan berganti, ternyata Mas Adnan masih di bawah, jadi aku langsung saja pergi ke bawah untuk menyuruhnya segera mandi, saat menuruni tangga, terdengar suara gaduh dari luar dan pintu utama dalam keadaan terbuka, aku yang penasaran pun langsung mendekati sumber suara.


Sebelum benar-benar sampai di ambang pintu, aku mendengar Mas Adnan berbicara dengan nada kesal


"Ngapain kamu ke sini," ujar Mas Adnan. Belum ada jawaban terdengar dari lawan bicaranya, aku yang sudah benar-benar penasaran mengintip dari pintu, ternyata yang datang adalah Celine, untuk apa perempuan itu datang ke sini.


"Tadi aku ada kerjaan di dekat sini, ya udah aku mampir sekalian, eh ternyata kamu di rumah," Celine mulai mengeluarkan suaranya.


"Pergi," sentak Mas Adnan. "Udah berapa kali aku bilang, mau sekuat apapun usaha kamu biar aku ngelirik kamu, aku ga akan kepincut sedikitpun," jelas Mas Adnan, nada suara Mas Adnan meninggi.


Aku melihat Celine mengepalkan tangannya, "usaha apa sih nan, aku udah ga berharap kamu jadi suami aku kok, yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita buka lembaran baru sebagai teman," jawab Celine. Nada suaranya halus, tetapi meskipun begitu, aku tau di sedang menahan emosinya.


"Kalau kamu masih punya tata krama sebagai TEMAN, sekarang kamu pulang," ucap Mas Adnan kembali menyuruhnya untuk pulang.

__ADS_1


Celine tampak cemberut, "lain kali kita ngobrol lagi ya, dengan waktu dan suasana yang lebih baik," pasrah Celine. "Kalau gitu aku pulang dulu, sampai jumpa di lain waktu Adnan."


Mas Adnan tidak menjawab sama sekali, tetapi terus mengawasi Celine yang masuk mobil sampai mobilnya pergi menjauh dari pandangan mata.


Aku mendekati Mas Adnan yang sedang memijat pelipisnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya bertolak pinggang, "Mas," panggilku.


Dia sedikit terkejut dan menurunkan tangannya lalu berbalik untuk menatapku, "oh udah siap ya," katanya dengan senyuman dan melangkah mendekatiku.


"Mandi sana," perintahku.


"Iya ini mau mandi."


"Tadi aku denger kamu ngobrol sama orang, ngobrol sama siapa?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.


Dia sedikit tersentak karena pertanyaanku, "bukan siapa-siapa, pas aku buka gerbang tadi ada tetangga yang nyapa," jawabnya. Jelas sekali jawaban bohong.


Aku mengangguk-anggukan kepalaku, dia kembali tersenyum mungkin untuk menghilangkan rasa gugupnya akibat berbohong, lalu dia mengapit lenganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah.


Dia membawaku ke ruang tamu, "Kamu tunggu sini ya, aku mandi dulu bentar," ucapnya kemudian mengecup keningku sedikit lama.


Setelah kepergiannya, aku langsung duduk di sofa, memikirkan kenapa dia berbohong kepadaku, seharusnya aku juga tidak perlu takut karena sudah berkali-kali Mas Adnan menolak Celine.


Mungkin saja jika dia jujur, dia takut aku akan merasa sakit hati, jadi dia lebih memilih untuk menutupinya. Ucapan Celine yang mengatakan dia tidak sudah tidak mengharapkan Mas Adnan menurutku adalah kebohongan besar, melihat usaha-usaha yang dia lakukan sebelumya tidak mungkin dia menyerah begitu saja.


Sibuk melamun dan berpikir, tak terasa Mas Adnan sudah berada di sampingku, "aku udah siap yang, ayo berangkat sekarang," ajaknya.


"Bentar Mas, tas sama handphone ku masih di atas," ucapku dan berlari kecil untuk naik ke lantai atas.


Setelah mengambil tas dan handphone aku turun kembali ke bawah, sepertinya Mas Adnan sedang memanasi mobil, jadi aku langsung saja menutup pintu rumah, jika biasanya ada penjaga yang membuka dan menutup pintu gerbang, di sini tidak ada, jadi semuanya harus di lakukan sendiri.


Jadi aku menyuruh Mas Adnan untuk mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu, setelah mobil keluar aku segera menutup pintu gerbang, dan aku pun masuk mobil dan mobil pun melaju menuju tempat tujuan.


Bersambung


See you on the next chap 🥰

__ADS_1


Thanks buat yang udah mau baca


__ADS_2