
Aku sudah berada di rumah yang sekarang aku tempati bersama suamiku. Tadi sebelum ke sini aku sudah pergi ke makam kedua orangtuaku. Dan aku menaiki sepeda lamaku yang sekarang aku bawa ke sini.
Saat memarkirkan sepeda di garasi, tidak ada mobil Mas Adnan, mungkin semalam dia juga tidak pulang ke rumah. Aku segera memasuki rumah untuk beres-beres karena siang nanti aku ada kelas.
Sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan kelasku di mulai jam 11 jadi aku memutuskan untuk segera mandi dan bersiap.
Sampai selesai bersiap pun masih belum ada tanda-tanda Mas Adnan pulang, tetapi karena ini hari kerja dia tidak mungkin pulang, mengirim pesan pun tidak. Di dalam hatiku sebenarnya aku merasa kecewa karena sikapnya, tapi mau bagaimana lagi.
Mengayuh sepeda selama 20 menit akhirnya aku sampai di kampus. Orang-orang melihat ke arahku, karena biasanya aku selalu menaiki mobil dan baru kali ini aku berangkat menggunakan sepeda, mungkin itu yang membuat mereka heran.
Kelas hari ini hanya ada satu dan hanya berlangsung satu jam saja. Dari pada aku bosan di rumah lebih baik aku pergi ke minimarket tempatku bekerja dulu. Cuaca sedang terik-teriknya, bulir-bulir keringat sudah menetes dari dahi sampai pipiku.
Perjalanan terasa begitu lama, akhirnya aku sampai tempat tujuanku. Aku sudah beberapa kali berkunjung ke sini, sekarang yang memegang minimarket adalah menantu dari pemilik minimarket ini.
Tak terasa aku sudah seharian di sini, dan sampai sekarang Mas Adnan masih belum mengirim pesan atau menelepon. Jika kalian berpikir kenapa bukan aku saja yang menghubungi dia dulu jawabannya adalah aku memang tidak ingin. Kenapa tidak ingin? Karena aku ingin dia percaya padaku, bukankah jika dia mengabaikan ku artinya dia tidak mempercayai apa yang aku katakan? Jadi aku merasa malas untuk menanyakan kabarnya terlebih dahulu.
Sekarang sudah jam 5 sore, aku akan mampir untuk membeli makan malam terlebih dahulu, aku terlalu malas untuk memasak jika hanya aku yang akan memakannya, padahal dulu sebelum menikah aku sudah terbiasa masak dan makan sendiri.
Setelah membelinya aku mengayuh sepedaku untuk pulang. Kali ini aku memilih lewat jalan pintas karena itu jalur yang lebih cepat menuju rumah. Terdengar suara seseorang memanggil namaku dari belakang, aku menghentikan sepedaku, tetapi ketika aku menoleh tidak ada seorang pun di belakang.
Aku mengedikkan bahuku ke atas dan melanjutkan mengayuh sepedaku. Daerah ini memang agak sepi jadi hanya ada satu atau dua orang yang lewat. Aku mempercepat kayuhan sepedaku, hanya tinggal belok kiri pertigaan di depan aku akan keluar dari jalan kecil dan akan mencapai jalan raya kembali untuk mencapai perumahan yang aku tinggali.
...****************...
Gelap, hanya kegelapan yang bisa ditangkap oleh kedua netra ku. Mataku seperti tertutup sesuatu, tanganku di ikat di belakang tubuh. Apakah aku sedang di culik? Lantas siapa yang mau menculik ku? Pikiran-pikiran buruk segera menghantui otakku.
Tempat yang aku duduki terasa empuk, masih untung kakiku tidak di ikat, jadi aku bisa berputar dan meraba sekitar menggunakan kakiku. Ini terasa lebar, mungkin aku sedang di atas ranjang. Berteriak pun tidak ada gunanya karena mulutku di sumpal oleh kain.
Aku meraba-raba lagi sekitarku dengan kaki, aku berniat untuk turun, aku mengambil resiko untuk turun dari ranjang dengan mata tertutup. Saat baru beberapa langkah aku merangkak turun dari ranjang ada suara pintu terbuka.
"Sudah bangun Tuan Putri?" ucapnya gembira.
__ADS_1
Aku seperti mengenal suara ini, tapi aku lupa di mana aku pernah mendengarnya. Suara laki-laki, tak seberat suara Mas Adnan tetapi dari nada bicaranya bisa membuat bulu kudukku merinding.
Aku masih mencoba mengeluarkan suara, walaupun hanya erangan yang keluar, suara sepatu laki-laki mendekat, aku mendudukkan diriku di lantai yang dingin ini. Aku bisa merasakan hembusan napas di depan wajahku, kain di mulutku di lepas dan sebuah benda lunak menempel di bibirku sepersekian detik kemudian. Dia mencium ku!
"SIAPA KAMU!!"
Aku terus meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan di tanganku, tanganku sepertinya sudah lecet
"LEPAS! KAMU SIAPA!" aku terus berteriak. Mencoba menendang orang di depanku tetapi aku hanya menendang udara.
"Masa gak tau aku siapa sih?" tanyanya diiringi suara tawa.
Mas Adnan, aku butuh Mas Adnan, tetapi tak ada yang bisa aku lakukan, aku sudah menangis sedari tadi penutup mataku sudah terasa basah.
"Lepas," ucapku lirih. Suara sepatu kembali mendekat, perlahan ikatan penutup di mataku terbuka, aku menyamankan cahaya yang masuk ke mataku. Dan setelah merasa nyaman aku segera mendongak ke atas untuk melihat siapa pelaku penculikan ini.
"SURPRISE" teriak orang itu di atasku dan merentangkan kedua tangannya, senyum di wajahnya tidak luntur sama sekali.
"DAVID!" Bajingan yang sudah menculik ku adalah David si manusia gila.
Dia mendekatiku yang terus beringsut menghindarinya, meraih daguku, dan mencengkeramnya, "Jangan takut," ucapnya lembut. Bagaimana mungkin aku tidak takut dengan keadaan terikat dan hanya berdua dengannya?
"Pergi!" sentak ku. Aku mencoba untuk menendangnya, tetapi lagi-lagi aku gagal, dia berdiri tetapi masih mengapit daguku dengan tangannya.
"Susah-susah bawa kamu ke sini masa aku lepasin gitu aja," ucapnya dan tersenyum miring. Bibirku mengerucut karena ulahnya. Aku memalingkan wajahku ketika dia mendekatkan wajahnya lagi. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku heboh dengan mata terpejam.
"Nurut atau aku bakal ngelakuin lebih dari ini," ucapnya tegas. Aku sudah sesenggukan di buatnya. Mendengar perkataannya aku diam, aku sangat takut dia berbuat yang aneh-aneh.
"Vid, lepasin aku ya, jangan kayak gini," ucapku memelas setelah dia melepaskan cengkeraman di daguku.
"Enggak bakal aku lepasin sebelum kamu nurutin apa yang aku mau," ujarnya.
__ADS_1
"Lepas vid, pasti Mas Adnan lagi pusing nyari aku karena belum balik-balik," ucapku dengan air mata yang berderai. Tak sengaja aku melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Sudah selama itu aku di sini.
"Dia ga bakal nyari kamu, dia lagi pergi bersenang-senang sama Celine, makanya aku bawa kamu kesini buat seneng-seneng sama aku," ucapnya dengan seringai.
Aku tersentak mendengar ucapannya, tidak mungkin Mas Adnan seperti itu. Walaupun dia dalam keadaan marah tidak mungkin dia pergi dengan perempuan itu. Dia pasti membohongiku agar aku percaya dengan ucapannya.
"Bohong!" teriakku.
"Ngapain aku bohong, semalem aja dia ga percaya sama kamu, padahal kamu istrinya sendiri, bukankah seharusnya dia percaya sama istrinya sendiri, secara kalian udah lama bersama?"
Lagi-lagi aku tersentak, bagaimana dia bisa mempunyai pemikiran seperti itu. Tetapi yang keluar dari mulutnya sama persis dengan apa yang aku pikirkan dari semalam. Kenapa? kenapa dia tidak percaya dengan istrinya sendiri?
Aku sibuk dengan pikiran buruk ku dan tak menyadari pergerakan David yang kembali mencium bibirku, dengan *******. Aku melotot setelah menyadari apa yang dia lakukan. Aku menendangnya, kali ini berhasil. Dia terjengkang ke belakang.
"Jangan gini Vid, aku udah punya suami," ucapku diiringi tangisan. Aku menangis kencang, menggema dipenjuru kamar, tanganku terus mencoba melepas tali.
"Hei hei, tangan kamu nanti lecet," ucapnya lembut. Sebenarnya dia punya berapa kepribadian? Tiba-tiba lembut, tiba-tiba seperti orang gila.
"Lepas ya," ucapku pelan dan menatapnya dengan pandangan memohon.
"Aku udah pernah bilang gak bakal lepasin kamu kan?"
Aku menggeleng pelan. Aku sebenarnya ingat perkataanya ini, dia mengatakan ini ketika aku di pantai untuk berlibur bersama Mas Adnan. Mana bisa aku melupakan mimpi buruk itu.
Dia kembali mendekat dan menangkup wajahku menggunakan tangan besarnya, menghapus air mataku dengan ibu jarinya, aku mengalihkan pandanganku, tidak berani menatap matanya.
"Kalau kamu mau nurut dan penuhin syarat yang aku ajuin aku bakal lepasin kamu," ucapnya datar.
Aku tau dia tidak akan melepaskan ku dengan mudah. Dan kata "syarat" yang keluar dari mulutnya sudah pasti bukan hal yang bagus. Tetapi lagi dan lagi aku tidak berdaya.
Bersambung
__ADS_1
See you on the next chap(≧▽≦)
Jangan lupa jempolnya 👍