My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 51 - Tamparan


__ADS_3

Mendengar Celine dan Mas Adnan memperdebatkan masalah anak, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di otakku. Hampir 3 tahun ini mereka memang belum memiliki anak. Dulu ketika aku masih menjadi satu-satunya istrinya Mas Adnan, Ibu sama sekali tidak pernah menyinggung masalah anak kepada kami berdua.


Mungkin karena Ibu tidak pernah mengharapkan aku yang menjadi menantunya, jadi dia pasti tidak berharap mendapatkan cucu dariku. Tapi sekarang dia sudah mendapatkan Celine sebagai menantu yang dari awal memang dia inginkan. Sudah pasti dia mendesak mereka tentang anak, apalagi Mas Adnan adalah anak satu-satunya.


Jika saja Ibu mau membuka hatinya untukku, bukankah sekarang harusnya dia sudah bisa bermain dengan cucunya? Tetapi dia telah dibutakan oleh rasa bencinya kepadaku, jadi biarkan saja dia terus meneror menantu keduanya itu.


Dan jika kalian penasaran bagaimana sikap Ayah kepadaku sekarang. Jawabannya adalah kembali seperti saat pertama kali bertemu. Beberapa hari setelah aku keluar dari rumah sakit selepas kecelakaan itu, Ayah menemui ku dan bertanya kepadaku bagaimana kami bisa terlibat kecelakaan.


Dan karena Ayah sudah tau bagaimana kelakuan anaknya sendiri, jadi aku dengan gamblang mengatakan bahwa kecelakaan itu bisa terjadi karena aku yang sedang adu mulut dengan Mas Adnan karena membahas hubungannya dengan Celine, sehingga membuat Mas Adnan kehilangan fokus.


Respon pertama Ayah hanya diam, tetapi wajahnya menyiratkan raut marah. Setelahnya dia berkata, "Ya. Memang benar ini gara-gara kamu. Andaikan kamu mau menunggu sebentar lagi, pasti hal ini tidak akan terjadi. Bukankah saya pernah bilang kamu harus menunggu! Jika sudah begini maka kamu yang akan di rugikan. Semua rencana yang sudah saya susun jadi berantakan."


Mendengar perkataan Ayah, aku tersenyum getir. "Tak apa jika Ayah menyalahkan ku. Maaf jika aku sudah mengacaukan rencana Ayah. Terima kasih juga karena Ayah sudah membantuku selama ini. Berkat kemurahan hati Ayah, aku kembali merasakan sosok 'Ayah' yang beberapa tahun ini sudah tidak bisa aku rasakan."


Setelah pertemuan kami hari itu, aku sama sekai tidak pernah bertegur sapa dengannya. Sekarang sebisa mungkin aku menghindari kontak dengan Ayah maupun Ibu. Aku kembali menjalani hidupku seperti dulu, dimana kedua orang itu tidak pernah menganggap ku.


Tak apa, itu bukan masalah untukku. Bukankah aku sudah cukup aku memiliki Ai sebagai sumber kekuatanku? Sekarang aku memiliki seseorang yang harus aku jaga dengan sepenuh hati. Tak masalah jika orang-orang memusuhiku, yang terpenting Ai selalu ada di samping ku.


Hari sudah beranjak siang, David juga sudah di dalam perjalanan menuju ke sini. Aku masih sedikit was-was jika saja dia tidak diijinkan masuk, karena aku belum memberitahukan hal ini kepadanya, apalagi Mas Adnan juga sedang di rumah.


Jarum jam di dinding seolah-oleh berputar dengan lambat. Ai juga sedang tidur siang, aku menunggu dengan resah dia atas sofa kamar. Entah berapa lama aku menunggu, pintu kamarku terbuka dari luar.


Aku seketika menoleh dan sedikit melotot ketika melihat siapa yang masuk. Tetapi setelahnya aku menghela napas lega dan tersenyum tipis, "Akhirnya dateng juga," ucapku dan mendekati orang yang membuka pintu tadi.


"Kangen ya," balasnya dengan senyum lebar. Dia membawa 2 bungkusan di kedua tangannya. Mendengar itu, aku tidak menjawab, tetapi mengambil kedua bungkusan di tangannya.


"Iya. Kangen sama yang kamu bawa," jawabku dan menjulurkan lidah kearahnya.


Dia mendengus sebal. "Baru tidur apa udah dari tadi?" tanyanya dengan menunjuk Ai yang masih terlelap di atas kasur.

__ADS_1


"Udah dari tadi," jawabku dengan masih menata makanan di atas meja. Aku hanya meminta satu menu saja, dan lihatlah apa yang dia bawa. Ayam goreng dan bakar satu ekor utuh, udang asam manis 2 porsi, tumis sayur, gorengan, sambal dan jangan lupakan satu kotak penuh nasi.


Aku menatapnya tak percaya, "Yang mau habisin siapa?! Kan aku mintanya ayam goreng aja."


"Kan bisa buat makan malem juga," jawabnya santai dan ikut duduk di sampingku.


"Tetep aja kebanyakan," dengusku.


"Calon suami kamu kan ga pelit. Cuma ini doang gak bakal bikin aku miskin."


"Bukan masalah pelit atau enggak. Tapi ini kebanyakan buat kita bertiga." tutur ku lembut.


"Ini pertama kalinya kamu minta sesuatu sama aku. Ya udah aku beliin aja yang banyak sekalian," jawabnya di iringi engan cengiran.


Aku menggelengkan kepalaku pelan. "Bentar aku ngambil piring sama sendok dulu di dapur," ucapku padanya dan berdiri hendak ke dapur.


Dia mencekal tanganku, "Aku temenin ya," ujarnya.


Dia menyetujui usulanku dan aku pun melangkah keluar kamar. Kembali melihat-lihat sekitar siapa tau ada yang sedang di lantai bawah. Tidak melihat siapapun, aku melangkah pelan ke arah dapur.


Mengambil peralatan makan yang aku butuhkan, saat akan kembali ke kamar terdengar suara dari arah tangga. "Kenapa kamu gak masak?!" tanya orang itu dengan bentakan.


Aku memutar bola mataku malas, baru juga sehari gak dimasakin, udah kayak orang gak makan berbulan-bulan. Aku menatap orang tersebut. "Kamu kan seorang istri juga, harusnya kamu masakin suami kamu juga dong," ucapku pedas.


Wajah Celine mulai memerah. Baru di balas omongan seperti itu saja dia sudah mau marah. Tidak salah kan apa yang aku katakan. Dulu aja dia sok-sokan belajar masak buat Mas Adnan. Nyatanya setelah berhasil menikahinya dia malah tidak pernah memasak.


"Di sini yang babu itu kan kamu! Udah tugas kamu buat masakin majikan kamu! Jangan mentang-mentang Adnan sekarang nyewa orang buat bersihin rumah, kamu bisa seenaknya ya!" ucapnya dengan marah, urat di dahi dan lehernya sampai terlihat.


"Ribet banget sih jadi manusia." Setelah mengatakan itu aku kembali melanjutkan langkahku ke arah kamar. Tapi sebelum aku menggapai handle pintu, Celine menarik tanganku, dan piring yang ada di tangan kiriku seketika jatuh

__ADS_1


Pyarrrr


"Punya masalah apa sih kamu!" teriakku pada akhirnya.


Dia juga membalas berteriak. "Kamu itu emang perempuan gak tau diri! Ada orang ngomong malah pergi gitu aja!!"


"Buat apa ladenin kamu. Yang keluar dari mulut kamu itu gak ada yang bermutu, sampah semua!" balasku tak mau kalah.


"Kamu!!" Teriaknya kembali dan melayangkan tangannya ke arahku. Aku reflek memejamkan mataku, tetapi sampai saat ini aku belum merasakan tamparan di pipiku. Aku dengan cepat membuka kedua mataku. Yang saat ini aku lihat adalah Celine yang wajahnya sudah sangat merah karena amarah dan di sebelahnya ada Mas Adnan dengan tatapan dingin nya sedang memegang tangan Celine yang belum sempat menamparku.


"Jaga batasan kamu," ucapnya tajam kepada Celine. Aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka, jadi aku akan kembali ke kamar saja. Tetapi sebelum aku membuka pintu kamar, pintu sudah terlebih dahulu terbuka dari dalam.


Terlihatlah Ai yang sedang berada di gendongan David. "Bunda," panggilnya lirih. Dia pasti terbangun karena mendengar suara piring terjatuh dan juga teriakan kami berdua tadi.


"Maaf ya, gara-gara bunda kamu kebangun. Ayo masuk kamar aja," ajak ku dan meraihnya ke gendonganku.


"Tadi aku udah bilang mau nemenin kamu kan. Aku ngomong gitu karena takut kamu ketemu nenek lampir, beneran ketemu kan?" ucap David dengan nada dingin.


Aku menggelengkan kepalaku pelan agar dia berhenti membahas hal ini. "Udah ayo masuk aja," pintaku.


"Urusin tuh istri kedua kamu," ucap David kepada Mas Adnan yang masih memegang tangan Celine, tetapi sekarang dia sudah menurunkan tangannya.


"Aku ini sepupu kamu Vid! Harusnya kamu bela aku dong," ujar Celine kepada David.


"Ga guna." Setelah mengatakan itu, David menarik tanganku pelan dan mengajakku masuk ke dalam kamar.


"ADA APA INI!"


Satu lagi sumber masalah datang di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2