My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 45 -Siuman


__ADS_3

"Bunda!" Pekik suara anak laki-laki.


Aku segera melihat ke arah sumber suara dan tersenyum teduh. "Udah bangun anak bunda," ucapku dengan senyuman.


"Bunda. Tadi aku mimpi selem (serem) banget loh," ucapnya dengan nada cadel. Dia baru berumur 2.5 tahun dan belum fasih mengucapkan huruf R.


"Mimpi apa sayang. Sini ceritain ke Bunda," jawabku dan memberikan isyarat agar dia mendekat ke arahku.


Dia dengan bersemangat berlari ke arahku. "Bunda bilang apa tentang tata krama di dalam rumah?" tanyaku memperingatkan.


"Ndak boleh lali (lari). Nanti jatuh sakit," jawabnya dengan memelankan langkah kakinya.


"Jangan diulangi ya," peringat ku.


Dia mengangguk dengan tatapan menyesal. "Maafin Ai ya Bun."


Namanya Aithan Adhikara. Anak laki-laki yang sangat aku cintai dan sayangi. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa tiba-tiba aku memiliki anak kan? Dia adalah anak laki-laki yang berhasil selamat dan berhasil aku lahirkan dengan taruhan nyawaku.


Tepat ketika kejadian naas menimpaku dan Mas Adnan saat itu, setelah aku sadar dokter mengatakan bahwa aku sedang mengandung dan usianya baru 5 minggu. Sungguh suatu keajaiban dia masih bisa bertahan saat kecelakaan itu terjadi.


Aku saat itu sangat terkejut saat mengetahui fakta tersebut. Aku tidak menyangka akan mengandung, karena aku sama sekali tidak mendapatkan tanda-tanda kehadirannya. Dan juga karena beberapa masalah saat itu aku mengabaikan datangnya siklus bulananku. Jadi aku tidak menyadarinya sama sekali.


FLASHBACK


Aku menangis dengan keras dan mengelus perutku yang masih rata. Aku bahagia juga takut secara bersamaan. Aku tidak menyalahkan kehadirannya, hanya saja kenapa dia hadir di saat rumah tanggaku di ambang kehancuran?


Apakah dia hadir untuk menjadi sumber kekuatanku?


Aku tadi sempat bertanya keadaan Mas Adnan kepada suster yang datang mengecek kondisiku. Katanya saat ini Mas Adnan masih berada di ICU. Keadaannya saat itu memang sangat parah, jadi tidak heran jika dia masih berada di sana.


Aku juga mendapatkan beberapa jahitan di kulit kepalaku, karena saat itu aku juga terbentur entah apa aku tidak ingat karena kejadiannya begitu cepat. Kata dokter aku baru sadar setelah 3 hari setelah operasi.


Aku berniat mengunjungi Mas Adnan di ruangannya. Aku turun dari ranjang dan meraih tiang infus, baru saja akan melangkah keluar, pintu kamarku di buka oleh seseorang. Awalnya aku kira itu dokter atau suster, tetapi saat aku menoleh itu adalah David.


"Mau kemana?" Tanyanya panik.


"Mau lihat Mas Adnan," jawabku pelan.


"Jangan!"


Aku menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Tetapi belum sempat aku bertanya dia sudah berbicara kembali.


"Di sana rame, jangan ke sana dulu," jelasnya seolah-olah tau apa yang akan aku tanyakan.


Sudah pasti di sana banyak orang yang menjenguk. Tidak seperti aku yang tidak ada satupun orang yang datang melihat keadaanku.


"Naik lagi. Ayo aku bantu," ujarnya mendekatiku. Dia membentuku duduk di atas ranjang dan membantuku berbaring.

__ADS_1


"Makasih," ucapku tulus.


"Pikirin diri kamu juga, apalagi sekarang ada yang harus kamu jaga di dalam perut kamu," ujarnya sembari menarik kursi dan duduk di sebelahku.


"Kamu tau?!" Tanyaku kaget.


Dia mengangguk. "Cuma aku yang jenguk dan nunggu kamu bangun 3 hari ini."


Mataku berkaca-kaca. Orang yang dulunya sangat aku takuti dan berusaha aku hindari sekarang menjadi orang yang peduli kepadaku.


"Makasih. Sekali lagi makasih."


Dia mengelus pelan rambutku. "Kalau butuh bantuin langsung kabari aku aja," ucapnya tegas.


Aku tersenyum menanggapi ucapannya. "Gimana kondisi Mas Adnan?" Tanyaku penasaran.


"Operasinya lancar, tapi sampai sekarang belum sadar juga," ucapnya dengan nada malas.


"Kalau aja aku gak ngungkit masalah dia sama Celine pasti kejadian ini gak akan terjadi," ucapku dengan sesenggukan.


"Hei. Jangan nyalahin diri kamu, ini namanya musibah gak ada yang tau," balasnya menenangkan.


"Tapi dia marah karena hal itu. Dan akhirnya dia ngebut." Aku masih terus menyalahkan diriku karena memang benar kan sumber kecelakaan ini karena aku yang mengungkap hubungannya dengan Celine.


"Untuk sekarang polisi udah menyimpulkan sesuai kejadian kalau suami kamu ngebut di jalan sesuai keterangan cctv dan beberapa saksi yang lihat," jelas David.


"Gak akan. Kamu pasti tau kekuatan keluarga besar dia kan?"


Benar, Mas Adnan dari golongan atas, sekali keluar uang masalah beres.


Tanpa mereka sadari, ada orang yang menguping di dekat pintu kamar.


Oh jadi dia udah tau? Dan dia juga yang udah bikin Adnan celaka? Ini akan semakin mempermudah rencanaku untuk menyingkirkannya, batin orang tersebut dengan senyum miring. Kemudian pergi dengan senyum kemenangan di wajahnya.


Satu minggu berlalu, dan sampai sekarang aku masih belum melihat langsung bagaimana keadaan Mas Adnan. Aku hanya mendapatkan info perkembangannya dari David yang aku suruh untuk memantau.


Awalnya dia menolak keras, tapi akhirnya dia luluh juga ketika aku iming-imingi aku mau jalan-jalan bersamanya seharian ketika aku sudah bisa keluar dari rumah sakit.


Dari informasi yang diberikan David, Mas Adnan masih belum sadar. Tetapi sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP. Dan setiap harinya katanya selalu banyak orang yang menjenguk.


"Aku mau lihat Mas Adnan," pintaku pada David yang sedang mengupas buah pisang di sebelahku.


Seminggu ini juga David lah yang menjaga dan menungguku di sini. Dia hanya akan keluar untuk makan dan membeli sesuatu untukku. Selebihnya dia akan berada di kamar inap ini menemaniku.


"Iya, nanti malem," jawabnya dengan masih fokus pada pekerjaannya.


"Aku mau pulang," celetukku.

__ADS_1


Kali ini David menaruh atensinya kepadaku. "Nunggu kamu pulih dulu."


"Aku udah bosen di sini," rengek ku manja. Dia yang tadinya menatapku teduh sekarang sorot matanya terlihat sedikit terkejut.


Aku menatapnya bingung, dia tak bergerak dan tetap diam menatapku tanpa berkedip. "David!" pekikku.


Mendengar suaraku yang keras dia tersadar dari lamunannya dan berdehem. "Ekhemm."


"Diajak ngomong malah bengong," ucapku meninggi.


"Jangan bikin ekspresi kayak gitu lagi. Bikin aku pengen makan kamu," ucapnya kemudian memasukan pisan yang sudah setengah terkupas ke dalam mulutnya.


Aku melotot mendengar perkataannya. Jadi tadi diam tanpa bergerak karena mendengar rengekan manjaku? Tapi aku memang tidak pernah mengeluarkan sisi diriku yang ini kepada orang lain. Memang dasar otak mesum!


"Mesum!" Aku memukul-mukul tubuhnya menggunakan bantal.


Aku terus melakukan hal tersebut sampai akhirnya aku menghentikan aksiku ketika pintu kamarku di buka seseorang. Siapa yang membukanya? Karena dokter dan suster baru 30 menit yang lalu mengecek kondisiku.


Di ambang pintu terlihat Celine yang sedang melipat tangannya di dada. "Adnan nyari kamu," ucapnya terdengar malas.


Aku terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Celine. "Mas Adnan udah sadar?!" tanyaku heboh.


"Habis kecelakaan mendadak tuli kamu?" sinis nya.


"Kenapa dia nyari aku?" tanyaku balik.


"Lah mana aku tau. Sana temuin dulu, pacarannya lanjutin nanti." Setelah mengucapkan itu Celine berlalu pergi meninggalkanku dan David.


Pacaran katanya? Dia pasti salah paham. Dan dia pasti akan membeberkan hal ini kepada Mas Adnan dan yang lainnya.


Aku tiba-tiba merasa takut dan murung. "Aku kok mendadak takut ketemu Mas Adnan ya," ucapku dengan menatap David yang masih dengan santainya memakan pisang yang harusnya untukku.


"Ayo aku temenin," ucapnya tenang kemudian berdiri dan membantuku turun dari atas ranjang. Padahal aku sudah bisa melakukannya sendiri tetapi dia tetap keras kepala untuk membantu.


Sampai di depan ruang rawat yang di tempat Mas Adnan aku terdiam. Rasa takut masih menyelimuti ku. "Mau balik aja?" tanya David yang sedari tadi berada di sampingku.


Aku menggeleng. Dengan mantap membuka pintu ruang rawat Mas Adnan. Seketika pandangan orang-orang yang berada di dalam mengarah kepadaku dan juga David. Di dalam kamar ada Ayah dan Ibu, Celine, dan Mas Ardi.


Entah kenapa hawa di kamar ini terasa mencekam ketika aku masuk.


"Masih inget juga kamu kalau punya suami," celetuk Ibu. Nyaliku menciut kembali apalagi melihat tatapan Mas Adnan yang dia berikan kepadaku.


Bersambung


See you on the next chap 🥰


Jangan lupa like dan komen ya

__ADS_1


__ADS_2