My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 5 - Pilihanku


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Menyadari aku sudah tertidur begitu lama, aku segera bangun. Sedari pagi aku belum makan, mungkin aku akan memasak sesuatu yang simpel. Berjalan menuju dapur aku memilih memasak mie instan saja. Rasa malas ku masih melekat tetapi cacing-cacing di perut sudah meronta meminta asupan.


Selesai makan, aku keluar rumah dan duduk di teras. Terlihat beberapa anak sedang bermain di jalanan, karena rumahku berada di area pemukiman jadi tidak terlalu ramai kendaraan melintas. Aku kembali teringat kejadian tadi pagi. Jika Mas Adnan memutuskan untuk memilih wanita itu, aku hanya bisa mengikhlaskannya, daripada melanjutkan denganku tetapi banyak yang tidak menerimanya. Mungkin untuk saat ini hanya orang tuanya yang menolak, bagaimana jika akhirnya keluarga besarnya tahu?


Tidak terasa hari sudah gelap. Aku masuk dan mengunci pintu lalu memutuskan untuk mandi dan segera tidur. Tidak ada yang ingin aku lakukan, jadi lebih baik tidur lebih awal.


Ketika aku sudah bersiap untuk tidur, aku mendengar ada yang mengetuk pintu rumahku. Aku penasaran dan takut siapa gerangan yang mengetuk pintu terus menerus. Selama ini tidak pernah ada yang bertamu di malam hari.


Aku berjalan keluar dengan mengendap-endap. Mencoba melihat dari jendela. Aku kembali dibuat terkejut, di luar terlihat Mas Adnan dengan penampilan berantakan masih terus mengetuk pintu. Aku segera berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Mas," panggilku.


"Akhirnya kamu buka juga," jawabnya dengan tatapan lega.


"Ada apa Mas, katanya ga jadi pulang hari ini?" tanyaku.


"Aku khawatir banget karena kamu matiin telpon tadi. Aku chat juga gak kamu bales, apalagi kamu baca," nadanya terdengar lesu.


"Maaf ya Mas, tadi aku ketiduran jadi ga sempet bales," dalihku. Padahal aku memang sengaja menghindarinya.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa, jadi aku langsung putusin buat pulang. Kamu jarang banget mau telpon aku duluan, tapi pas kamu telpon malah tiba-tiba kamu matiin."


"Kalo itu tadi aku lupa matiin kompor, jadinya aku kaget, ga sengaja ke pencet deh handphone nya," jawabku. Entah kenapa aku memilih untuk berbohong. Aku tidak akan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, biarkan dia menjelaskannya sendiri jika memang berniat bercerita. "Duduk dulu Mas, aku ambilin minum ya, kamu berantakan banget." Aku mempersilahkannya untuk duduk di kursi teras.


Aku lalu masuk ke dalam dan mengambilkannya segelas air. Setelah dia menghabiskan segelas air dia kembali berbicara.


"Kedatanganku yang mendadak ini sebenernya mau ngomong hal penting sama kamu," ucapnya. Setelah beberapa detik terdiam dia melanjutkan. "Udah aku pikirin mateng-mateng selama seminggu ini, mau gak mau kamu harus bisa nerima."

__ADS_1


Pikiran buruk kembali datang, apakah dia akan menerima perempuan yang dijodohkan dengannya itu? Aku tetap mencoba menetralkan ekspresiku. "Hal penting apa?" tanyaku.


"Aku juga udah ngomong sama orang tuaku, dan mereka setuju. Aku bakal nikahin kamu minggu depan," jawabnya.


Aku melotot mendengar jawabannya, "Gila ya kamu," nadaku meninggi. "Orang tua kamu aja masih ga nerima, bukannya kamu nyuruh aku buat mikirin hal ini dulu, kenapa tiba-tiba berubah kayak gini," mataku berkaca-kaca dan nada suaraku melemah.


"Aku bener-bener minta maaf kali ini," dia mengatupkan kedua tangannya dan berlutut. "Aku udah ga bisa nunggu lebih lama lagi.Orang tua aku juga udah nerima kamu dengan tangan terbuka."


"Gimana bisa orang tua kamu bisa nerima aku dalam waktu singkat. Tadi pagi aja ibu kamu datang ngomong kalo dia berharap kamu nikah sama perempuan itu."


"Ibu tadi kesini?" tanyanya kaget.


Aku yang masih dalam keterkejutan gak sengaja keceplosan. "Iya, tadi pagi dia kesini," jawabku pelan. Ya mau gimana udah terlanjur ngapain ditutup-tutupin lagi.


"Ngapain Ibu kesini. Ibu gak ngapa-ngapain kamu kan? Ibu ngomong apa sama kamu. Dia gak ngomong aneh-aneh kan, gak nyuruh kamu buat ninggalin aku kan?" tanyanya ketakutan.


"Dia ngomong kamu gak jadi pulang karena ketemu sama perempuan yang mau dijodohin sama kamu." Udahlah udah terbongkar juga, sekalian aja aku bahas.


"Berdiri dulu, jangan kayak gini," aku menuntunnya untuk duduk. "Kita omongin baik-baik dengan kepala dingin."


"Yang bikin aku kecewa kenapa aku harus denger berita itu dari orang lain. Padahal kalau kamu ngomong jujur, aku juga ga akan ngelarang kamu buat ketemu sama perempuan itu," lanjut ku.


"Kamu ingat kan kalau aku mau coba ngomong sama orang tuaku lagi? Setelah telah aku ngomong sama mereka, mereka ngasih syarat supaya aku ketemu dulu sama perempuan itu. Kata mereka setelah itu aku boleh nikahin kamu jika aku memang gak tertarik sama dia. Mereka juga ngomong bakal nerima kamu dengan tangan terbuka," jelasnya.


Hening melanda, dia tidak berbicara lagi. Aku juga tidak tau mau bereaksi seperti apa. Setelah berperang dengan isi pikiranku aku memberanikan diri untuk bertanya, "kenapa kamu ga ngomong dari awal?"


"Aku takut kamu bakal marah. Ini juga bentuk perjuanganku untuk kamu di depan kedua orangtuaku. Jadi biar aku aja yang tau, seharusnya," jawabnya.

__ADS_1


"Terus gimana perasaan kamu sama perempuan itu setelah ketemu dan ngobrol? Kalau boleh egois aku sebenernya takut kamu lebih milih perempuan itu dibanding aku."


"Kamu jangan berpikiran buruk kayak gitu, kamu taukan seberapa besarnya cintaku sama kamu?" tanyanya dan mulai memegang tangan kananku dan membawanya menyentuh dadanya. "Jantungku berdetak dengan kerasnya cuma pas bareng kamu," lanjutnya.


Aku menatap kedua matanya, tidak ada jejak kebohongan dari sana. Jantungnya berdetak dengan kencang. Kenapa di sini justru sepertinya akulah pihak yang salah? Aku seperti tidak menghargai bagaimana dia memperjuangkan ku di depan kedua orangtuanya.


Kali ini aku ingin egois sekali saja. Aku sudah lelah dengan masalah ini, aku juga akan ikut berjuang dengannya. Aku sudah tidak perduli dengan tanggapan kedua orang tuanya, karena yang menjalani nantinya adalah kami berdua.


"Kalo emang kamu mau nikah minggu depan, ya udah kita nikah," ucapku di iringi senyuman.


"Beneran, kamu gak bohong kan. Aku gak lagi mimpi kan?" tanyanya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Enggak. Kamu gak lagi mimpi, aku beneran mau nikah sama kamu."


"Makasih yang, makasih banget," dia berdiri dan membawaku ke dalam pelukannya. "Tapi...kamu gak bakal ninggalin aku pas acara pernikahan kan? Kayak di drama-drama itu?" dia menatapku.


"Ha ha ha, ya enggak lah. Pikiranmu random banget sih."


"Awalnya kamu kan nolak dan kekeh minta restu orang tuaku. Gak percaya mereka beneran nerima kamu, tapi ini tiba-tiba kamu mau, kan aku jadi kepikiran sampe sana."


"Udah-udah, ga usah mikir yang aneh-aneh. Aku sekarang udah yakin kalo kamu adalah orang yang bakalan bikin aku bahagia selamanya. Maafin aku yang pernah marah-marah sama kamu karena masalah ini."


"Gak papa. Yang lalu biarlah berlalu," jawabnya dan membawaku kembali ke dalam pelukannya.


Semoga pilihanku ini tidak salah dan semoga bisa menjadi awal baru dan lebih baik untuk kita berdua.


Bersambung

__ADS_1


Konflik tipis-tipis aja😁 See you on the next chap 🥰


Update tiap hari ya, tapi jamnya ga nentu😅


__ADS_2