
Ini adalah hari kedua kami liburan di sini, dan saat ini kami sedang menunggu sunset di pinggir pantai, tadi siang kami sudah mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di sini, jadi untuk mengisi waktu di sore hari kami duduk di kursi pinggiran pantai yang sudah di sediakan sebelumnya untuk para pengunjung.
"Aku pergi beli minum dulu ya yang," kata Mas Adnan.
"Iya mas."
Setelah kepergiannya aku menatap ke arah depan, melihat matahari yang sebentar lagi akan kembali menuju peraduannya.
"Kemana suami kamu." Saat tengah asik memandang langit, sebuah suara terdengar dari sampingku.
Saat aku menoleh dan mendongak ternyata David, aku menghiraukannya dan kembali melihat ke depan.
Karena aku menghiraukannya, dia mulai duduk di kursi yang tadi ditempati Mas Adnan dan menghadap ku . "Ya udah aku temenin aja."
Aku masih menghiraukannya, "Mending kamu cerai sama suami kamu terus nikah sama aku, dijamin hidup kamu lebih bahagia dari ini," ucapnya.
Aku yang terpancing dengan perkataannya menoleh ke arahnya dan menatap tajam, "Pergi."
"Jangan galak-galak sama calon suami dong," jawabnya dan tertawa pelan.
"Pergi."
"Kan niat aku baik mau nemenin kamu di sini, kenapa malah di usir?"
"Pergi atau nanti Mas Adnan lihat kamu," ancam ku. Aku sudah muak dengan kehadirannya, sungguh menganggu.
"Itu emang tujuanku." Dia menyeringai.
" Sepasang sepupu gila."
"Apa aku kasih tau Celine aja ya kalau kamu sama suami kamu lagi liburan di sini." Dia menatapku sambil menggoyang-goyangkan handphonenya di hadapanku.
Jika dia menghubungi Celine dan mengatakan bahwa Mas Adnan sedang pergi berlibur bersamaku
sudah dipastikan di pasti akan menyusul terlihat dari sifatnya yang pantang menyerah akan Mas Adnan.
"Ga usah macem-macem," aku mencoba merebut handphone di genggamannya.
"Ga macem-macem kok, cuma satu macem aja sama kamu udah cukup," ucapnya dan mencekal tanganku. Sekarang kedua tanganku sudah berada di dalam genggamannya, aku mencoba memberontak tetapi karena dia laki-laki jadi tenaganya lebih besar.
"Lepas." Aku menggertakkan gigiku.
__ADS_1
"Coba lepas sendiri," tantangnya.
Aku mencoba melepaskan tanganku, karena terlalu keras aku mencoba tanganku sudah terasa sakit dan memerah. Mas Adnan beli minum juga lama banget, rasanya sudah ingin menangis saja aku, apalagi sekarang David mendekatkan wajahnya ke arahku.
Walaupun terasa sakit aku masih mencoba, dia semakin mencondongkan tubuhnya ke arahku, aku otomatis mencondongkan tubuhku kebelakang, semakin kebelakang aku terantuk kepala kursi, dan aku akhirnya aku dalam posisi rebahan, karena ini memang kursi yang biasa dipakai berjemur di pantai.
Dia berdiri dan merangkak mendekatiku, tanganku masih berada di genggamannya, aku sudah siap mengeluarkan air mata.
"Pergi." Ucapku lirih.
Dia memandangku dengan seksama, ada sedikit rasa bersalah di matanya, dan akhirnya dia melepaskan genggamannya, aku langsung bangun dan mendorongnya menjauh, dia terhuyung ke belakang tetapi tidak sampai jatuh.
Aku langsung berdiri dan menjauh darinya, dia menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arahku, "mau apa lagi," ucapku setengah berteriak.
"Sini, aku ga bakal apa-apain kamu, oh bukan ga sih, tapi belum," ucapnya dan terkekeh.
Aku melihat ke sekeliling, tidak ada tanda kehadiran Mas Adnan, saat aku akan berlari menjauh dia sudah terlebih dahulu mencekal tanganku.
"Ga usah takut, sama calon suami sendiri kok takut," ujarnya.
Aku sudah mengeluarkan air mataku dan ketakutan, tanganku gemetaran, "aku mohon sama kamu, lepasin aku," ucapku sesegukan.
"Ssst ssstt, jangan nangis dong, iya iya ini aku lepasin," jawabnya dan melepaskan cekalan tangannya.
Gila, benar-benar manusia gila, ku kira hanya Celine yang berani berperilaku seperti itu, ternyata sepupunya juga sama gilanya dengannya.
Aku kembali ke tempat dudukku, mengambil tisu basah yang selalu aku bawa di tas dan mengelap tanganku yang tadi dia pegang. Aku takut ketika Mas Adnan datang dia mencium aroma laki-laki itu yang tertinggal di tanganku.
Setelah beberapa menit aku membersihkan tanganku, aku segera membuang tisu-tisu itu ditempat sampah yang letaknya tidak jauh dari tempatku.
Saat akan kembali ke tempat dudukku, aku melihat Mas Adnan juga berjalan ke arahku, tangganya membawa 2 minuman dingin, aku segera berlari kecil ke arahnya, menubrukkan tubuhku ke arahnya dan memeluknya dengan erat.
Dia terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh karena kedua tangannya memegang minuman, "hei sayang, hei kamu kenapa?" Tanyanya khawatir. Aku menggeleng pelan di dadanya
"Lepas dulu ya pelukannya, ayo kita bicara sambil duduk," ajaknya. Tetapi aku masih enggan untuk melepaskan tanganku. Dia menghela napas, tetapi tidak lagi mengeluarkan suaranya, kami berada di posisi ini untuk beberapa menit, setelah aku merasa aman dan lega aku melepaskan pelukanku.
"Kamu lama banget," rengek ku.
"Maaf ya, tadi antriannya panjang banget, biasanya kalau antrian panjang kan enak, ya udah aku ikut ngantri sekalian" ucapnya dan tersenyum kepadaku.
Aku segera menganti ekspresiku menjadi senang, mencoba menutupi kegundahan hatiku, " mana, biar aku coba," pintaku.
__ADS_1
Dia menyodorkan salah satu gelas minuman itu kepadaku, "aku beli 2 rasa tadi, biar kita bisa sharing," ucapnya dan mengelus puncak kepalaku.
Aku segera meminumnya, memang benar rasanya enak dan menyegarkan, aku yang sudah kehausan sedari tadi tak terasa sudah menyedotnya sampai hampir habis.
"Haus banget ya yang," ejeknya. "Sampai aku ga disisain."
Aku terkekeh, "Hehehe, habisnya kamu lama, kan aku udah kehausan dari tadi." Aku menyodorkan minumanku kepadanya, "ini masih ada dikit kalau mau nyobain."
"Ga perlu yang, buat kamu aja semuanya, habisin," ucapnya dan mencubit pelan pipi kananku.
Dia memeluk pinggangku dan mengajakku menuju tempat kami sebelumya, matahari sudah mulai tenggelam, warna jingga sudah menghiasi langit. Indah, sungguh pemandangan yang sangat indah.
"Habis ini langsung balik hotel ya mas," pintaku.
"Iya sayang, kamu pasti udah kecapekan kan?" Tanyanya penuh perhatian.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
Setelah matahari benar-benar tenggelam, aku dan Mas Adnan berdiri dan berjalan menuju penginapan, saat jalan-jalan tadi kami di pandu oleh tour guide, tetapi karena letak pantai dan hotel dekat, jadinya Mas Adnan menyuruh tour guide itu untuk kembali lebih dahulu.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Mas Adnan terus menggenggam tanganku, tidak ada pembicaraan diantara kami berdua, aku sibuk dengan isi pikiranku, dan Mas Adnan sepertinya juga sibuk dengan isi pikirannya.
Sampai di kamar, aku langsung memutuskan untuk mandi, agar isi pikiranku tentang David menghilang sepertinya aku butuh pelampiasan.
"Mas,"panggilku ke arahnya yang sedang menyandar di sofa.
"Kenapa yang," jawabnya dan berdiri menghampiriku.
"Mandi bareng?" Tatap ku menggoda.
Dia terbelalak, "dari kemarin kamu suka mancing-mancing terus ya," ucapnya dan menarik hidungku pelan.
Aku terkekeh, "kalau ga mau ya udah, aku mandi sendiri aja," setelah mengatakan itu, aku menjulurkan lidahku ke arahnya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Tidak sampai satu detik, suara langkah kaki terdengar di belakangku, kakiku melayang , Mas Adnan menggendongku menuju bath up.
"Jangan minta berhenti," ucapnya seduktif dan menjilat daun telingaku.
"Ga akan," jawabku.
Dan penyatuan pun di mulai.
__ADS_1
Bersambung
See you on the next chap 🥰