
Keesokan harinya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa aku tetap menyiapkan sarapan seperti biasanya. Sejak tadi aku turun ke bawah, aku tidak melihat perempuan yang memanggil Mas Adnan semalam. Aku juga tidak berniat bertanya kepada Mas Adnan yang sedari tadi terus menatapku saat memasak. Tapi lama-lama aku merasa jengah.
"Kamu ngapain natap aku terus sih Mas?"
"Gak ada yang mau kamu tanyain ke aku?" ucapnya ragu.
Aku menautkan kedua alisku kemudian menggeleng. Buat apa aku bertanya jika aku sudah tahu jawabannya. Dan juga biasanya juga dia yang selalu menjelaskan terlebih dahulu tanpa aku bertanya.
Sarapan kali ini terasa hening. Biasanya kami akan berbincang ketika makan, tetapi pagi ini terasa begitu canggung. Entahlah, semuanya terasa berbeda.
Lagi-lagi Mas Adnan terus saja memperhatikanku ketika aku membereskan meja. "Kalau mau ngomong, ngomong aja Mas, jangan lihatin aku terus," ucapku dengan bertolak pinggang.
"Enggak kok, enggak ada. Kalau gitu aku pergi ke kantor dulu ya," pamitnya dan segera berdiri.
Selepas kepergiannya, aku melanjutkan pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Pagi-pagi sekali tadi Ayah mengirimkan pesan kepadaku agar menemuinya ketika jam makan siang. Karena aku tidak ada kelas jadi aku akan bersih-bersih rumah dan bersantai terlebih dahulu.
Ayah mengatakan juga jika jangan sampai Mas Adnan tau jika dia memintaku untuk bertemu dengannya. Sepertinya Ayah akan kembali membahas perkara kemarin.
Masih sisa 2 jam untuk jam makan siang, jadi aku putuskan untuk mandi saja. Selesai mandi aku hanya bersantai di ruang tamu, mungkin 15 menit lagi aku akan berangkat.
Sampai tempat yang di sudah di share oleh Ayah aku segera masuk dan mencari tempat kosong. Ini bukanlah restoran atau kafe mahal, tempat ini hanyalah tempat makan sederhana, tempatnya juga sedikit tersembunyi.
Beberapa menit kemudian, Ayah datang. Aku berdiri dari dudukku dan membungkuk kecil ke arahnya,
"Udah lama?" tanyanya padaku.
"Baru 5 menit sampai kok, Yah," jawabku lembut.
"Ayo pesan makan dulu," ajaknya dan aku mengikuti langkahnya. Tempat makan ini menyediakan masakan prasmanan, jadi tergantung kita mau memilih menu yang mana. Dan selepas memilih akan langsung dihitung dan membayar.
Dengan membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya, aku dan Ayah kembali menuju meja yang tadi aku duduki. Untuk minumnya nanti akan di antar oleh pelayan.
"Makan dulu, nanti baru kita ngobrol," perintah Ayah. Aku mengangguk dan segera memakan makanan yang ada di depanku. Tidak terlalu banyak pembeli yang makan di sini, hanya ada beberapa yang membungkus dan di bawa pulang.
Selesai dengan makananku, aku menatap Ayah yang masih belum selesai dengan makanannya. Jika dilihat dari dekat, Ayah seperti Mas Adnan versi tuanya, tetapi jika di lihat dari kejauhan, Mas Adnan mirip dengan Ibu.
"Maaf kalau Ayah ngajak ketemu di tempat seperti ini," ucap Ayah setelah menyelesaikan makannya.
Aku tersenyum mendengar perkataannya. "Gak papa kok Yah. Aku udah biasa makan di tempat kayak gini."
"Seperti yang udah Ayah omongin kemarin malam," Ayah membuka pembicaraan. Aku mendengarkan dengan seksama tiap kalimat yang dia ucapkan.
__ADS_1
Terkadang aku terkejut dan menutup mulutku tak percaya. Ayah terkadang juga mengeraskan rahangnya ketika bercerita.
"Selalu ingat pesan Ayah. Bersandiwara lah dengan baik, ikuti alur. Saat sudah waktunya Ayah yang akan mengakhirinya," pungkasnya.
Aku mengangguk patuh. "Terima kasih untuk semuanya Ayah. Raline kira Ayah benci sama Raline, tapi ternyata Ayah lah orang pertama yang bantuin Raline," ujarku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf buat sikap Ayah yang dulu. Ayah bukannya benci kamu, Ayah cuma belum bisa nerima aja," balas Ayah.
Aku kembali mengangguk dengan di iringi senyuman.
"Kalau gitu Ayah balik dulu ya, bentar lagi ada rapat," ucap Ayah dan berdiri dari duduknya.
"Iya Yah. Hati-hati di jalan," jawabku.
Tetapi seperti teringat sesuatu Ayah menghentikan langkahnya dan menatapku yang masih duduk. "Ingat. Tetap jaga rahasia sampai akhir, jangan sampai ada yang tau kalau Ayah yang bantuin kamu."
ucapnya.
Aku mengacungkan kedua jempolku, dan Ayah pun tersenyum tipis dan melambai untuk melanjutkan langkahnya.
Aku masih pada posisiku. Fakta baru lagi. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata sudah begitu jauh. Aku seperti keledai bodoh selama ini.
Sebelum pulang aku memutuskan untuk ke toko buku terlebih dahulu. Keluar dari gang dan berjalan sedikit saja sudah sampai di halte busway. Setelah menunggu sedikit lama akhirnya rute yang aku tunggu datang. Aku pergi ke toko buku yang ada di pusat kota karena beberapa hari yang lalu saat aku ke toko buku di dekat kampus buku yang aku cari tidak ada.
Siang ini jalanan sangat macet, ditambah cuaca yang begitu panas membuat siapapun mengeluh dan ingin berteriak marah karena ramainya jalanan. Beruntung trotoar yang aku lewati ini ditumbuhi pohon-pohon yang membuatnya tidak terlalu panas saat aku berjalan.
Saat menoleh ke jalanan yang ramai, tak sengaja aku melihat mobil yang sangat aku kenal. Bahan nomor polisinya pun aku tau itu milik siapa. Di dalam mobil terlihat 2 siluet orang yang juga sangat aku kenal. Aku tertawa sumbang dan mengeluarkan handphone ku.
Kali ini baru sambungan pertama sudah di jawab oleh orang yang aku telepon. "Ada apa yang, tumben telepon," jawab Mas Adnan yang sedang aku telepon. Aku belum menjawab dan masih memperhatikan orang yang berada di dalam mobil.
"Kamu udah makan?"
"Udah tadi di kantor kantin," jawabnya dengan suara rendah.
"Kamu lagi sibuk gak?"
"Kenapa? Ini aku udah di ruang rapat, bentar lagi ada rapat bulanan."
Aku tersenyum miring. "Enggak kok, cuma nanya aja. Have fun Mas."
Setelah mengucapkan itu aku segera mematikan telepon dan kembali melanjutkan langkahku. Berdiri lama-lama di sini juga terasa panas. Toh, aku cukup mengikuti alurnya saja.
__ADS_1
Cukup lama aku di toko buku. Selain mencari buku yang aku inginkan aku juga belum ingin pulang ke rumah. Di rumah pun juga sepi.
Sekarang sudah sore, jadi aku segera beranjak untuk pulang.
Sampai rumah, Mas Adnan belum pulang karena ini masih jam 5. Aku sekarang juga tidak terlalu memperdulikan dia pulang jam berapa. Yang penting kewajibanku sebagai istri masih aku jalankan.
Dia sekarang juga tidak begitu peduli padaku kan? Lalu buat apa aku peduli kepadanya. Aku akan mandi dan memasak makan malam. Aku juga tidak akan bertanya padanya makan di luar atau di rumah. Jika dia belum makan ya syukur, jika sudah ya akan aku makan sendiri. Gitu aja kok repot.
Aku hanya memasak sederhana seperti biasanya, dan aku masak hanya untuk 2 orang. Jadi nanti jika Mas Adnan sudah makan aku hanya perlu memakan bagiannya.
Semua lauk sudah matang, hanya tinggal nasi yang mungkin sebentar lagi akan matang. Jadi aku menaruh semua masakan di atas meja makan dan berlalu ke ruang tamu.
Sebelum sampai ruang tamu Mas Adnan sepertinya sudah pulang. Aku sedang tidak ingin menyambutnya jadi aku terus melangkah ke arah sofa dan menyalakan televisi.
Pintu terbuka, menampakkan Mas Adnan dan Celine. Aku sudah tidak heran kenapa dia ikut ke sini.
"Tumben kamu gak nyambut aku yang," ucap Mas Adnan saat melihatku yang sedang menonton.
"Ga denger suara mobil kamu," jawabku santai.
"Celine malem ini nginep sini ya," ucapnya dan mendekatiku untuk mencium ku. Tetapi aku menolak.
"Mandi dulu sana, kamu bau," ujarku dan menutup hidungku. Dia mengendus-endus tubuhnya sendiri.
"He he he. Ya udah aku mandi dulu ya," pamitnya dan berjalan ke arah kamar. Celine masih berdiri di sampingku, aku menghiraukan keberadaanya dan fokus menonton.
"Santai banget kamu sekarang lihat aku nginep," cibirnya.
Aku menoleh, "Ya mau gimana lagi, udah terlanjur."
"Sana mandi. Bau pandan," usir ku. Dia menghentakkan kakinya dan melangkah ke arah ruang tamu.
Aku memperhatikan pintu kamar tamu dan lantai atas bergantian lalu terkekeh.
Aku berdiri menuju dapur, mungkin nasiku sudah matang. Dan memang benar jika sudah matang, aku mengaduk-aduk nya sebentar dan menutupnya kembali. Mas Adnan terlihat berjalan ke arah ruang makan.
"Kamu makan dulu Mas, Celine sekalian suruh makan," ucapku di hadapannya.
"Kamu gak ikut makan yang," tanyanya.
"Enggak, aku udah makan tadi. Aku mau ke kamar ngerjain tugas," balasku. Setelah itu aku benar-benar melangkah menuju kamar. Bukan untuk mengerjakan tugas, tetapi untuk menghindar dari kedua orang tersebut.
__ADS_1
Bersambung
See you on the next chap