My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 50 - Unek-Unek


__ADS_3

Malam ini, aku sudah memutuskan untuk berbicara dengan Mas Adnan mengenai aku yang tidak boleh keluar rumah. Sepertinya keputusanku ini tidak salah, karena tadi sehabis makan malam Celine tiba-tiba pergi. Ini lebih menguntungkan ku dan lebih memudahkan ku untuk berbicara 2 mata dengan Mas Adnan.


Ai juga sudah tidur karena kecapekan bermain di luar. Jadi sekarang aku sudah berada di depan pintu ruang kerja Mas Adnan. Menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.


Aku hanya mengetuk pintu tanpa memanggil namanya. Ketukan keenam pintu terbuka. Dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan datarnya.


"Aku mau bicara," ucapku tenang.


Tanpa menjawab dia membuka pintu lebih lebar dan berbalik untuk masuk, aku segera mengikutinya dari belakang. Suasana ruang kerja rasanya tidak sehangat dulu. Posisi barang-barang di sini juga masih sama. Ruang kerja dan tempat tidur utama adalah 2 tempat yang tidak pernah aku bersihkan. Selama ini mungkin Mas Adnan sendiri yang membersihkannya, tidak mungkin Celine mau melakukan hal itu.


Dia kembali duduk di kursi kerjanya, seperti tidak menghiraukan keberadaan ku, dia melihat pekerjaannya kembali. Aku berdiri di depan mejanya. "Sebenarnya apa alasan kamu gak perbolehin aku pergi keluar," ucapku mantap.


"Dulu saat aku pertama kali tanya hal ini kamu jawab kalau kamu takut aku bakal kabur. Tapi makin kesini aku pikir bukan itu alasan kamu yang sebenarnya. Jangan bikin aku tambah benci sama kamu Mas," unek-unek yang selama ini aku pendam akhirnya keluar.


Dia masih bergeming, tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Tapi aku akan terus menyampaikan isi hatiku, walaupun dia tidak menjawab tapi telinganya masih berfungsi kan?


"Kamu adalah laki-laki pertama yang buat aku jatuh cinta dengan tingkah konyol kamu. Kamu juga laki-laki pertama yang perlakuin aku seperti Ratu. Tapi sepertinya itu semua kamu lakukan karena ada alasan di belakangnya, dan itu bukan karena kamu jatuh cinta sama aku."


"Sejujurnya dengan kamu yang sekarang perlakuin aku kayak gini, malah semakin membuatku berpikiran negatif sama kamu. Dengan kamu yang gak mengakui anak kandung kamu sendiri aja udah bikin aku sakit sesakit-sakitnya. Apakah masih pantas kamu aku sebut sebagai suami?"


"Kalau emang kamu sebenarnya cintanya sama Celine, terus kenapa kamu bawa aku ke dalam lingkaran percintaan kalian. Dulu kamu adalah laki-laki yang paling aku percaya, laki-laki yang aku pikir gak bakal nyakitin aku. Tapi nyatanya? Kamu yang udah bikin aku melayang, dan kamu juga yang jatuhin aku gitu aja."


"Sampai sekarang aku masih gak paham dengan kamu yang gak mau ngelepas aku padahal kamu udah menikah sama perempuan yang udah hadir lebih dulu di hidup kamu. Walaupun kamu masih menuhin kewajiban kamu dengan nafkahin aku, tapi yang sebenarnya aku mau bukan itu. Aku cuma mau kamu jujur sama aku, apakah sesulit itu?"


"Kalaupun kamu emang gak mau ngelepas aku, setidaknya ijinin aku buat keluar rumah. Kasian anak aku yang gak kenal sama dunia luar. Kalau kamu gak kasian sama aku, tolong turunin sedikit ego kamu buat anak kecil yang sama sekali gak tau apa-apa."

__ADS_1


"Kalau kamu takut aku bakalan kabur, kamu bisa nyewa atau nyuruh orang buat ngikutin aku pas aku lagi di luar. Hampir 3 tahun ini kamu udah ngerampas hak aku gitu aja. Jangan buat aku ngelakuin hal nekat."


Setelah mengatakan itu semua aku berbalik, berniat keluar dan kembali ke dalam kamar, sudah cukup lama aku meninggalkan Ai sendiri, takut jika dia tiba-tiba terbangun mencari ku.


Baru saja tanganku menyentuh handle pintu, Mas Adnan bersuara. "Satu minggu sekali atau enggak sama sekali."


Aku menoleh kearahnya dan tersenyum miring, "Oke."


"Aku bakal ngirim orang buat mantau kamu selama di luar. Dan sebagai gantinya, laki-laki itu gak boleh masuk rumah ini," ucapnya tanpa menatap mataku.


Emosi kembali mendatangiku. Baru saja aku akan bersyukur karena dia sudah memperbolehkan ku keluar, tetapi apa katanya tadi? David tidak boleh ke sini?


"Atas dasar apa kamu bikin peraturan kayak gitu!" teriakku pada akhirnya. Aku kembali mendekati meja kerja nya. Dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun aku membuang map dan kertas yang berada di atas meja. Aku tidak perduli jika itu adalah kertas penting atau apalah, yang sekarang ada di otakku adalah aku harus mendapatkan keadilan untuk diriku.


Laki-laki yang bahkan di panggil Papa, karena laki-laki brengsek yang notabennya adalah ayah kandungnya sendiri tidak mau mengakuinya sebagai anak!!"


"Apa sih yang buat kamu dengan begitu percayanya kalau aku selingkuh! Hanya karena sebuah foto kamu sampai gak percaya dengan penjelasan istri kamu sendiri." Aku menarik napas panjang. "Oh, apakah dengan kamu percaya, maka akan mempermudah kamu menikahi Celine?!" dengus ku.


"Aku muak, aku udah muak!! Hal yang paling aku sesali di dunia ini adalah kenal dan nikah sama kamu." ucapku dingin. "Jangan kaget kalau aku sampe nekat buat dapet keadilan." Setelah mengatakan itu aku melepas cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manis ku. Aku melempar cincin itu ke arahnya. Dan aku dengan cepat melangkah keluar. Air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi.


Aku membuka pintu kamar dengan pelan, takut jika Ai terusik. Setelahnya aku berjalan ke arah kamar mandi, aku ingin menangis dengan kencang tetapi tidak bisa. Akhirnya aku hanya bisa menangis dengan menggigit ujung bajuku agar suaraku teredam.


...****************...


Pagi ini aku sedang menemani Ai bermain seperti biasanya. Aku tidak menyiapkan sarapan untuk kedua orang tersebut. Aku hanya memasak untukku dan Ai, dan untuk makan siang aku meminta David untuk membelikanku makan siang dari luar. Bukan salahku kan jika aku akan jatuh cinta kepada David? Tapi aku masih menahan diri. Bukankah sama saja aku mengakui berselingkuh jika posisiku yang masih memiliki suami saat ini? Walaupun orang yang di panggil dengan sebutan suami tidak mencerminkan sebutan itu. Setidaknya aku tidak boleh berlaku seperti apa yang dia lakukan.

__ADS_1


Hari ini hari minggu, jadi sudah dipastikan jika kedua orang tersebut pasti berada di rumah. Tadi aku masak pagi-pagi sekali agar aku tidak perlu bertatap muka dengan kedua orang itu. Karena jika hari libur begini mereka pasti akan bangun agak siang.


Semoga saja David masih diperbolehkan masuk ke dalam rumah ini. Jika tidak, apa yang harus aku katakan kepada Ai sebagai alasan? Apakah lagi-lagi dia akan kehilangan sosok Ayah?


"Bunda," panggil Ai dan menepuk pelan pipiku.


"Iya" jawabku lembut seperti biasanya.


"Ai pengen minum susu," ucapnya dengan mata berbinar. Pancaran mata yang selalu dia keluarkan ketika mengiginkan sesuatu.


Aku tertawa pelan, "Ai tunggu sini ya. Bunda ke dapur buat susu," jawabku. Dia mengangguk dan kembali fokus dengan mainannya. Ai memang sudah tidak menyusu kepadaku. Dia sudah berhenti sejak umur 2 tahun, dan sekarang dia minum susu formula sebagai gantinya. Dan memang tadi pagi aku belum membuatkannya, jadi dia managihnya saat ini.


Aku keluar kamar dan melihat sekitar, masih aman. Jadi aku berlari kecil ke arah dapur, segera membuat susu yang diinginkan Ai. Saat sudah selesai dan hendak kembali ke kamar. Sayup-sayup dari arah tangga terdengar suara Celine berbicara cukup keras.


"Aku capek, hampir tiap hari Ibu kamu tanya kapan kita punya anak!" teriak Celine.


"Kamu yang pinter lah nyari alasan," suara Mas Adnan terdengar menanggapi.


"Kamu yang anaknya kamu yang mikir dong," balas Celine.


Tanpa mau mendengar lebih lanjut, aku segera berjalan cepat ke arah kamar, sebelum mereka berdua melihat keberadaan ku.


Bersambung


See you on the next chap

__ADS_1


__ADS_2