My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 21 - Speak up


__ADS_3

Pagi ini aku sudah berkutat di dapur, karena kelasku siang mungkin setelah sarapan selesai dan Mas Adnan sudah berangkat ke kantor aku akan bersih-bersih rumah juga.


Ayah dan Ibu sudah berada di meja makan sedari tadi, hanya tinggal satu masakan yang belum matang, Mas Adnan juga sudah terdengar suaranya di ruang makan.


"Ayah Ibu, setelah sarapan ada hal penting yang mau kau katakan," ujar Mas Adnan.


Aku sudah tau apa yang akan dia katakan kepada orangtuanya, pasti perihal dia dan aku yang tidak akan satu rumah lagi dengan mereka.


Sembari meletakkan masakan yang sudah matang, aku mencuri dengar percakapan mereka.


"Nanti masuk ke ruang kerja Ayah," suara ayah terdengar.


"Ga perlu yah, di ruang tamu juga cukup," tolak Mas Adnan.


Aku segera membawa masakan yang sudah aku pindahkan ke piring, keluar menuju ruang makan, dan bergabung untuk sarapan bersama mereka.


Seperti biasanya di ruang makan tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali, setelah semuanya menyelesaikan sarapannya, Ayah lebih dulu beranjak menuju ruang tamu, dan di susul Ibu setelahnya.


"Kamu ke ruang tamu dulu mas, aku mau beresin ini dulu, nanti aku nyusul,"ucapku padanya yang masih duduk di kursinya.


"Biar pelayan aja yang beresin," pintanya.


"Ga papa Mas, aku juga mau jadi berguna sebagai menantu," jawabku dan tanganku yang masih sibuk menumpuk piring-piring kotor.


"Ya udah, Mas ngomong dulu sama mereka ya, kamu jangan lama-lama," ucapnya padaku, dan beranjak menuju ruang tamu menyusul kedua orang tuanya.


Aku segera membereskan piring-piring yang berada di meja makan, setelah semuanya sudah aku taruh di wastafel, aku menuju ruang makan lagi dengan membawa kain basah untuk mengelap meja makan dan membenarkan kursi-kursi ke tempat semula.


Setelah semuanya sudah bersih kembali, aku menuju dapur kembali untuk mencuci piring-piring kotor itu, untuk peralatan masak yang kotor semuanya sudah di cuci oleh pelayan, jadi aku hanya mencuci piring dan gelas bekas makan tadi.


Tak butuh waktu lama semuanya sudah beres, aku mengelap tanganku agar kering dan berjalan menuju ruang tamu, sayup-sayup aku mendengar suara Mas Adnan meninggi.

__ADS_1


"Aku juga mau mandiri bu,"ucapnya keras. Aku melangkah dengan cepat, dan setelah sampai di ruang tamu aku segera duduk di samping Mas Adnan.


"Aku udah ngerencanain ini dari lama, awalnya aku tinggal di sini setelah menikah karena aku pengen kalian bisa makin dekat sama lain, aku berharap kalian bisa nerima Raline dengan baik setelah tinggal satu atap, nyatanya ga ada perubahan sampai sekarang, jadi aku memutuskan akan tinggal di rumah kami sendiri ." Jelas Mas Adnan.


Raut wajah Ibu menjadi sedih, "Tapi nan, kamu kan anak satu-satunya kami, udah tinggal disini dari kecil, masa kamu tega ninggalin Ayah sama Ibu cuma berdua?"


"Kami bisa mengunjungi kalian seminggu sekali saat libur, aku tidak meminta izin kalian tetapi aku sedang memberi tahu kalian," jawab Mas Adnan.


Ayah sedari tadi hanya diam, memandang kami berdua, Ibu kembali berbicara, "Apa ga kamu pikirin lagi nan?" Tanya Ibu memelas.


"Maaf bu, sebenarnya aku juga udah punya rumah sendiri sebelum aku ketemu sama Raline, rumah yang emang aku siapin kalau aku nikah nanti, dan karena aku udah nikah jadi aku bakal tempati rumah itu," kata Mas Adnan.


Aku yang sedari tadi hanya menyimak dan sekarang aku sedikit terkejut karena dia yang mengatakan sudah punya rumah sendiri sebelum mengenalku, selama kami berpacaran dan satu tahun menikah, Mas Adnan sama sekali tidak pernah membahas hal ini. Aku juga tidak pernah berpikir dia memiliki rumah sendiri, karena kebanyakan anak tunggal akan ikut orang tuanya setelah menikah.


"Terserah kalau itu yang kamu mau," suara Ayah terdengar.


"Ayah!" Bentak Ibu.


"Iya, dari awal aku mau nikah juga kan Ayah udah ngomong kayak gitu, aku udah siap dari dulu," jawab Mas Adnan tanpa ada rasa ragu.


"Pasti kamu kan yang nyuruh Adnan buat ninggalin rumah ini," sentak Ibu kepadaku.


Aku menarik tangan Mas Adnan dan menggenggam tanganya erat, di dalam hatiku juga merasa enggan meninggalkan rumah ini, tetapi jika aku tidak pindah dari sini, itu juga tidak akan baik buatku kedepannya, karena sepertinya aku gagal membuat mereka untuk menyukaiku.


"Ini ga ada sangkut pautnya sama Raline, dia ga tau apa-apa," sentak Mas Adnan balik.


Dipikir-pikir entah sudah berapa kali Mas Adnan menentang kedua orangtuanya, dan itu bukanlah hal yang baik.


Ibu menunduk dan meremat kedua tangannya, merasa kalah dengan anaknya, kemudian dia berdiri dan meninggalkan ruang tamu.


"Kapan kamu pindah," tanya Ayah.

__ADS_1


"Mungkin 3 hari lagi, karena rumah baru aku belum ada perabotnya, aku bakal nyari perabot dan yang lainnya dulu," jawab Mas Adnan.


Ayah mengangguk-anggukan kepalanya," hati-hati," ucap Ayah dan berdiri bersiap untuk pergi ke kantor juga.


Aku dan Mas Adnan masih tetap berada di sini, aku bergelung dengan isi pikiranku, apakah aku dan Mas Adnan harus pindah atau tetap di sini?


Jika aku meminta Mas Adnan untuk tetap di sini akankah dia mau menuruti ku? Tapi terlihat dari sifatnya yang keras sepertinya dia akan tetap pada pendiriannya.


"Aku berangkat dulu ya, nanti siang aku pulang lagi buat nganter kamu ke kampus," ucap Mas Adnan padaku dan mengecup tanganku yang masih menggenggamnya erat.


"Apa ga papa Mas, nentang keingininan Ibu lagi?" Tanyaku ingin memastikan kembali.


"Ga usah pikiran itu, jangan kira aku ga tau gimana perlakuan Ibu sama kamu di rumah, apalagi pas ada Celine dateng," ucapnya menatap kedua mataku.


Aku terkejut, aku kira aku sudah menyembunyikannya dengan baik, pasti ada salah satu pelayan yang dia percaya untuk memberitahunya semua kegiatanku dan perlakuan saat dia tidak ada di rumah.


Jadi, sebenarnya dia juga tau David pernah kesini? Kenapa saat liburan kemarin dia seolah-olah tidak tau? Apakah sebetulnya niatnya adalah untuk mengujiku?


Aku menggeleng pelan, kembali ke realita, biarlah jika memang niatnya mengujiku yang penting aku sudah berkata dengan sedikit jujur, semoga saja saat perdebatanku dengan David saat di depan pintu kamar tidak ada pelayan yang melihat atau mendengar.


Mas Adnan berdiri dan membawa tasnya yang sudah dia bawa sedari tadi dari kamar, "kamu masuk kamar aja, jangan bersih-bersih rumah lagi, kamu bukan pembantu di sini," ucapnya dan mencium keningku.


Aku mengantarnya sampai teras seperti biasa, dan setelah mobilnya meninggalkan halaman rumah aku kembali masuk dan langsung menuju kamar, aku masih tidak menyangka dia menyuruh pelayan untuk memata-matai ku di rumah.


Sampai kamar tidak ada yang aku lakukan, aku duduk di sofa dan kembali memikirkan hal ini, keuntunganku jika pindah dari rumah ini adalah tidak akan lagi mendengar Omelan dan cibiran ibu, tidak akan lagi bertemu Celine dan sepupunya.


Tetapi di setiap keuntungan pasti ada kekurangannya juga, akankah Ibu semakin membenciku karena anaknya keluar dari rumah ini? Karena melihat respon Ibu tadi yang mengatakan bahwa akulah penyebab anaknya ingin keluar dari rumah, sepertinya memang tingkat kebenciannya meningkat padaku.


Bersambung


See you on the next chap 🥰

__ADS_1


__ADS_2