My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 29 - Berani


__ADS_3

"ADA APA INI?" Teriak Ibu. Ibu mendekati Mas Ardi yang masih duduk di lantai.


Tanganku masih berada di genggamannya Mas Adnan, dia masih mengatur napasnya agar kembali stabil. Aku tetap diam, tidak berniat untuk menjelaskan, karena jika aku yang menjelaskan mungkin tidak akan ada yang percaya.


Ada 6 pasang kepala yang mengerubungi kami, termasuk Ayah dan Ibu, aku menundukkan kepalaku, Mas Adnan membawaku untuk berdiri di belakang tubuhnya.


"Nan, jelaskan ini ada apa? Ini ulah kamu?" Tanya Ibu menatap Mas Adnan tetapi telunjuknya menunjuk Mas Ardi.


"Biasa laki-laki," jawab Mas Adnan santai.


Mas Ardi terkekeh, "kita udah biasa kayak gini kan Tan? Dulu kita juga sering berkelahi karena sesuatu kan?"


"Itu kan saat kalian kecil, sekarang kalian udah pada gede," ucap Ibu dengan nada tinggi.


"Ayo bicara di ruang tamu," ujar Ayah dan melangkah pergi ke ruang tamu.


Sepertinya banyak pasang mata yang menatap ke arahku, tetapi tidak ada satupun yang mengeluarkan suaranya. Dari posisiku yang menunduk aku bisa sedikit melihat ada sepasang kaki yang mendekati Mas Ardi, membantunya untuk berdiri.


Sekarang hanya tersisa aku dan Mas Adnan, semuanya sudah kembali ke ruang tamu. Aku membalikkan tubuhnya agar berhadapan denganku. Aku mendongak untuk menatap kedua matanya, "belajar tahan emosi kamu ya," ucapku lembut dan mengelus rahang tegasnya.


Dia memejamkan mata menikmati elusan tanganku. "Aku paling ga suka kalau milik aku di rebut," ucapnya pelan.


"Ga ada yang mau di rebut Mas."


"Kamu. Dia mau rebut kamu dari aku," jawabnya keras dan membuka kedua matanya.


"Aku menangkup wajahnya menggunakan tangan, "Mas, aku milik kamu seutuhnya, jangan takut ya."


"Aku tau kalau kamu milik aku seutuhnya, tapi aku tau sifat dia. Dia kalau udah suka sama sesuatu pasti dia akan berusaha buat dapetin hal itu sampe dapet. Sedari kecil aku selalu bareng dia jadi aku udah tau luar dalamnya dia gimana," jelasnya.


"Tenang ya, sekarang kamu ke ruang tamu dulu, jelasin kalau masalah tadi cuma kesalahpahaman," ucapku.


"Sama kamu juga ya," ajaknya dengan tatapan memelas.


"Iya." Mau tidak mau aku harus siap bertemu dengan mereka, meskipun tadi mereka sudah melihatku dengan suasana yang tidak mengenakkan, tetapi aku belum memperkenalkan diri dengan layak. Tapi sepertinya mereka juga sudah tau siapa aku.


Kami berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam, di ruang tamu semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ibu terlihat mengobati wajah Mas Ardi yang lecet akibat pukulan dari Mas Adnan tadi.


Mas Adnan sepertinya tidak berniat untuk ikut duduk di sofa, sejak dia sampai di ruang tamu dia hanya berdiri di samping sofa tunggal tempat yang di duduki oleh Ayah. Aku juga ikut berdiri di sampingnya.


"Bisa kamu jelasin kenapa kamu sampe mukul Ardi," tegas Ayah yang kini sudah menoleh ke arahku dan Mas Adnan.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, cuma salah paham," jawab Mas Adnan. Ayah menaikkan sebelah alisnya ke atas, terlihat menolak untuk percaya.


"Kenapa sampe mukul kalau cuma salah paham," tanya Ayah kembali.


"Laki-laki." Jawab Mas Adnan acuh.


"Nan," panggil Ibu. Mas Adnan tidak menjawab, hanya mengalihkan perhatiannya ke arah Ibu.


"Ibu yang udah ngelahirin kamu, jadi Ibu tau kalau kamu bohong," ujar Ibu menatap tajam Mas Adnan.


"Di bilang cuma salah paham, masalahnya juga udah selesai," sentak Mas Adnan. "Aku mau pulang dulu," lanjut Mas Adnan.


"Kamu ga ada niat buat ngenalin istri kamu ke keluarga kamu yang lain?" Celetuk Mas Ardi.


Aku kembali mematung mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Mas Ardi, rasa gugup kembali menyerang, aku meremas kuat baju yang di kenakan Mas Adnan. Mas Adnan menoleh ke arahku dan menatapku seolah-olah berkata maaf.


"Ini Raline istri aku, waktu kami nikah kalian gak ada yang datang," ucap Mas Adnan sedikit sarkas.


Ibu menatapku dengan pandangan tidak suka, Mas Ardi tersenyum licik, Ayah hanya menatap lurus ke depan, sedangkan beberapa pasang mata yang lain menatapku dengan tatapan menilai mereka.


Aku memberanikan diri untuk menatap mata orang satu persatu, "halo, salam kenal buat semuanya,"ucapku dengan menahan rasa gugup.


"Kalau dari fisik sih lumayan ngimbangi Adnan lah, tapi kalau masalah harta mah bagaikan langit dan bumi," jawab salah satu wanita dengan make up sedikit menor. Setelah mengatakan hal tersebut dia mulai tertawa dan di ikuti oleh yang lainnya.


Itu adalah hal yang lumrah, jika tidak bisa membandingkan dari segi fisik, maka orang-orang akan mulai membandingkan dari segi harta. Aku hanya tersenyum tipis mendengar jawaban tersebut.


"Iya tante, maaf kalau saya bukanlah perempuan berada seperti yang kalian sukai." Aku tetap mempertahankan senyum manis di wajahku.


"Padahal dulu katanya kamu aja ga berani ngomong, sekarang pas udah jadi istrinya Adnan udah berani jawab ya," sinis wanita yang satunya.


"Iya Tan, masa harus takut terus sih."


"Berani juga ya kamu," jawabnya balik. Aku berikan kembali senyuman terbaikku.


"Ya emang gitu, udah miskin ga tau diri lagi," Ibu menyahut.


"Silahkan jika kalian mau hujat atau mencaci maki saya, saya sudah kebal dengan semua itu," ucap ku sungguh-sungguh. "Dan sekali lagi saya minta maaf kepada semua yang ada di sini dan juga untuk seluruh keluarga besar Mas Adnan yang tidak ada di sini. Maaf jika saya tidak sesuai ekspetasi kalian, saya memang hanya perempuan miskin tetapi saya masih punya harga diri," tambahku.


"Paling berapa sih harga diri kamu, ga lebih dari harga baju yang saya pake ini," ucap wanita ner make up menor tadi.


Mas Adnan sudah mengepalkan tangannya erat, wajahnya memerah menahan amarah, sedari aku berbicara, aku selalu mengelus lengannya, agar dia tidak keblablasan seperti tadi.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, mau semahal apapun baju yang Tante pakai, tidak akan bisa membeli harga diri saya, dan juga bagaimana jika saya yang miskin ini adalah memang jodohnya Mas Adnan?" Setelah mengucapkan itu aku memandang mata semua orang, aku mengangkat daguku tanda bahwa aku tidak takut lagi kepada mereka.


"Cukup," ucap Ayah. "Mending kamu sama istri kamu pulang aja," lanjutnya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Mas Adnan menarik tanganku keras ke arah pintu keluar, tetapi aku menghentikan langkahku dan Mas Adnan pun ikut berhenti.


"Orang miskin ini pamit dulu kepada semua orang kaya yang ada di sini. Jikalau entah kapan kita bertemu di tempat umum, tenang saja. Saya tidak akan menegur ataupun menyapa kalian, daripada saya di permalukan di tempat umum kembali, lebih baik kita pura-pura tidak saling mengenal bukan?" Ucapku tenang, dan menatap Ibu dengan senyuman.


Ibu terlihat tersentak, sepertinya dia merasa jika aku menyindirnya, tangannya juga terkepal di sisi tubuhnya yang sedang duduk.


Setelah mengatakan itu, aku mengajak Mas Adnan pergi, "ayo pergi Mas, sepertinya di sini bukan tempat yang cocok untuk aku," ucapku sedikit keras. Aku memang sengaja, agar mereka mendengarnya.


Mas Adnan segera mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah dan segera melajukannya dengan kencang. "Pelan-pelan aja Mas, emosi cuma bisa bikin kamu celaka," ucapku lembut.


"Pokoknya setelah ini kita gak usah pergi ke rumah Ayah lagi," ucapnya keras.


"Ga boleh gitu ya, kan mereka orang tua kamu Mas," ucapku pelan agar tidak menyinggung perasaannya.


"Orang tua yang sama sekali ga dukung anaknya bahagia," jawabnya ketus.


Aku menggenggam tangan kirinya, "Mas kan udah janji sama mereka, kalau libur bakal main kesana."


"Aku ga suka perlakuan Ibu sama kamu, udah berapa kali aku negur dia, sama sekali ga ada perubahan." Dia masih menatap jalanan. "Dan juga ngapain tadi dia nyuruh keluarga yang lain dateng," lanjutnya sebal.


"Minggu depan kamu ke rumah Ayah ya, aku ga usah ikut kalau kamu takut," kataku mencoba menenangkannya. Bisa-bisa aku kembali di salahkan Ibu jika anaknya tidak mau ke rumahnya lagi.


Seperti teringat sesuatu, ketika sampai di lampu merah Mas Adnan segera menoleh ke arahku, "Yang, aku baru inget kalau kamu belum makan siang," ucapnya panik.


Aku terkekeh di buatnya, "ayo anter aku cari makan dulu mumpung belum sampai rumah."


"Maaf ya yang, maaf banget, karena emosi aku sampe lupa," matanya menyiratkan kekhawatiran.


"Ga papa, lain kali kamu harus bisa tahan emosi ya," bujuk ku.


Dia mengangguk patuh, "bakal aku coba pelan-pelan."


Bersambung


See you on the next chap 🥰


Jangan lupa like dan komen 🤩

__ADS_1


__ADS_2