
Saat masuk ke dalam, Mas Adnan tidak kembali ke ruang tamu, dia justru berjalan ke arah tangga, menuju kamar. Aku sedari tadi mengikuti langkahnya, saat sampai di anak tangga pertama, suara Ibu terdengar, "mau kemana kamu nan, ada Celine ini loh."
"Dia tamu Ibu, bukan tamu aku," sarkas Mas Adnan.
Ibu menghela napas, "Celine Ibu undang karena gimanapun dia kan temen kamu, mumpung dia lagi libur kerja."
Mas Adnan mengepalkan kedua tangannya, "dia bukan temen aku, Ibu stop buat deketin aku sama dia, aku udah punya istri," bentak Mas Adnan. "Dan buat kamu Celine, kamu ga malu apa ngejar laki-laki yang udah jelas-jelas punya istri?" Lanjut Mas Adnan.
Aku rasanya ingin tertawa mendengar Mas Adnan mengatakan hal tersebut, aku melihat Celine yang wajahnya memerah menahan rasa malu.
"Adnan, Ibu ga pernah ngajarin kamu ngomong kasar sama perempuan kayak gitu," bentak Ibu.
Selalu saja seperti itu, apapun yang di lakukan Celine mau benar atau salah pasti ada Ibu yang selalu membela.
"Kalau kehadiran ku di sini ga diterima ga papa kok tan, aku pulang aja," ujar Celine sendu.
"Gak gak, ga usah dengerin kata Adnan ya, masa baru nyampe sini langsung pulang," pinta Ibu dan mengelus tangannya lembut.
Air mata buaya mulai di keluarkan Celine, itu memang trik murahannya untuk mengambil hati Ibu.
"Ada orang bertamu bukannya di sambut dengan baik, kok malah di sinisin," David ikut berbicara. Tatapannya lurus ke depan, kaki kanannya menumpu di kaki satunya.
"Orang asing di larang komentar, tau apa kamu," suara Mas Adnan kembali meninggi, dan dia menghampiri David.
"Mas," panggilku menarik pelan tangannya agar mundur. Mas Adnan paling tidak suka jika ada yang menentang dia, apalagi ini orang asing yang berbicara seperti itu. Benar orang asing kan? Dia hanya sepupu dari Celine, bukan anggota keluarga atau teman dekatnya.
"Ibu kalau mau ngobrol sama mereka berdua silahkan, aku mau ke atas," ucap Mas Adnan dan menarik tanganku menuju kamar.
Sampai kamar dia menjatuhkan dirinya di sofa, memang kepalanya dengan kedua tangannya, tampak berantakan. Aku mencoba mendekat dan ikut duduk di sampingnya, membawanya ke dalam pelukanku, mengelus-elus lembut punggungnya, "ga papa Mas, ga usah dipikirin, mungkin mereka pengen ngucapin selamat sama kita karena punya rumah baru," aku berbicara lembut mencoba menenangkannya.
Dia menjatuhkan kepalanya di bahuku, "aku ga suka yang, Ibu seenaknya undang dia tanpa ngomong dulu sama aku, aku ga suka sama sifat perempuan itu," suara Mas Adnan teredam di pundakku.
"Mungkin cara Ibu salah karena ga ngomong sama kamu, tapi Ibu pasti udah mikir juga kenapa dia ga ngomong sama kamu, karena pasti kamu tolak kayak gini."
__ADS_1
"Udah tau bakal aku tolak kenapa masih di undang juga," ucap Mas Adnan melepaskan pelukanku.
"Jangan lupa ya dia Ibu kandung Mas, pasti sifat keras kepala kamu nurun dari dia," ucapku terkekeh sembari mencubit pelan kedua pipinya.
" Ya... Ga gitu juga," jawabnya pelan.
"Udah sekarang mending kamu anterin aku ke kampus aja, 30 menit lagi kelasku mulai," pintaku padanya dan berdiri lalu diberikan anggukan olehnya.
"Berapa jam nanti kamu yang," tanyanya padaku yang sedang memasukkan beberapa buku ke dalam tas yang biasanya aku bawa ke kampus.
"Cuma satu jam sih," jawabku.
"Kalau gitu aku tungguin aja ya, di rumah juga aku ga ada kerjaan," pintanya.
"Ga bosen kamu nungguin aku sampe satu jam?" Godaku padanya.
"Gak lah, mau nunggu sampel 3 jam pun aku sanggup kalau buat kamu," jawabnya terkekeh.
Setelah aku selesai berganti baju dan semua yang aku butuhkan sudah masuk tas, aku menghampiri Mas Adnan yang tiduran di sofa dengan memainkan handphonenya.
"Kamu mau ganti baju dulu gak Mas?" Tanyaku. Karena saat ini dia mengenakan celana jogger panjang berwarna abu-abu dan juga kaos hitam polos.
"Enggak ah, pake jaket aja, tolong dong yang ambilin jaketku yang warna army," jawabnya.
Aku segera berlalu menuju walk in closet kembali untuk mengambilkan jaket seperti yang dia minta, setelah mencari di space untuk jaketnya aku membawanya keluar dan memberikan kepadanya.
"Ini mas, ayo berangkat," ucapku berjalan menuju pintu terlebih dahulu, tetapi suara Mas Adnan menghentikan langkahku.
"Bantu pakein yang."
Aku memutar tubuhku dan menghampirinya, mengambil jaket yang berada di tangannya, dan memakaikan untuknya, setelah sudah pas di tubuhnya aku menepuk pelan kedua dadanya, "Manja," ucapku
Dia hanya menyengir memperlihatkan giginya, aku kembali memutar tubuhku untuk menuju pintu keluar, tetapi dia mencekal tanganku, "apalagi Mas," desakku, jika terus mengulur-ulur waktu bisa-bisa aku telat nanti.
__ADS_1
Setelah aku menghadapnya lagi, dia berkata," Ada yang kurang," mendengar perkataannya aku mengernyitkan dahi, memang apa yang kurang?
Dia menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya, "belum dapet jatah dari tadi," ucapnya.
Aku menghela napas pasrah dan mengecup singkat bibirnya. Tetapi saat aku akan menjauhkan wajahku, dia menahan tengkukku dan ******* bibirku sedikit kasar.
Aku memukul-mukul dadanya, akhirnya dia melepaskan lumatannya, "bengkak nanti Mas bibir aku," ucapku sambil mengelap bibirku yang basah dengan punggung tangan.
"Enggak kok, masih kayak biasanya."
"Udah ah ayo berangkat, telat nanti aku," ujarku dan menarik tangannya keluar.
Sampai depan pintu dia menghentikan langkahnya, aku pun ikut berhenti," kali ini apalagi Mas?" Aku menggertakkan gigiku.
"Kunci mobil aku masih di dalem," katanya tanpa dosa. Dan kembali masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. Aku menunggunya di dekat tangga, aku akan menunggunya untuk turun bersama, di ruang tamu masih terdengar suara orang berbicara, mereka masih di sini ternyata.
Setelah Mas Adnan menemukan kuncinya dia menghampiriku, merangkul pinggangku dan berjalan beriringan ke bawah. Sampai bawah Mas Adnan pamit kepada Ayah dan Ibu.
"Ayah Ibu aku mau nganter Raline ke kampus dulu, kalau kalian mau pulang tutup aja pintunya," setelah mengucapkan itu, Mas Adnan kembali melanjutkan langkahnya dengan aku yang masih ada di dalam rangkulannya. Dia sama sekali tidak menatap Raline maupun David.
"Ya," Ayah menjawab dengan singkat padat dan jelas seperti biasa.
"Kok Ibu sama Ayah malah kamu tinggal sih nan," ucap Ibu.
"Anggap aja rumah kalian sendiri, aku pergi," aku tersenyum kikuk di depan keempat orang tersebut dan setelahnya Mas Adnan benar-benar mengajakku pergi.
Ternyata letak kampusku benar-benar dekat dengan rumah, mengendarai mobil hanya memakan waktu 10 menit, mungkin untuk kedepannya aku bisa menaiki sepeda lamaku untuk pulang pergi kampus, agar Mas Adnan tidak terlalu repot harus mengantar jemput ku.
Soal sepeda lamaku itu masih berada di rumah peninggalan orang tuaku, aku tidak menjual rumah itu karena itu adalah kenangan satu-satunya yang masih tersisa dari mereka, dan juga di sanalah aku belajar dan tumbuh. Rumah itu masih aku rawat sampai sekarang, sebulan sekali aku akan pergi ke sana untuk membersihkannya. Sebenarnya Mas Adnan sudah menawariku agar orang lain saja yang di suruh untuk membersihkan rumah itu, tetapi aku menolaknya, aku hanya ingin diriku sendirilah yang merawat rumah yang pernah aku tinggali sebelumnya.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
__ADS_1