My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 39 - Ayah


__ADS_3

"Mas," panggilku.


"Hm."


Posisi kita saat ini adalah berbaring di ranjang tanpa sehelai benangpun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos kami.


Kami baru menyelesaikan kegiatan panas yang sudah lama tidak kami lakukan. Rasanya sedikit berbeda mungkin karena sudah lama tidak melakukannya. Tangan Mas Adnan aku jadikan sebagai bantalan kepala, tanganku memeluk pinggangnya. Tangannya mengelus rambutku pelan.


"Kenapa sekarang kamu baik sama Celine," akhirnya kata itu terlontar dari mulutku.


Dia menghentikan tangannya. Dia tak langsung menjawabnya, butuh hampir satu menit dia baru menjawab.


"Gak enak masa aku kasar terus, dia kan perempuan."


Kan udah tau dia perempuan dari dulu. Kenapa baru dilakuin sekarang. Batinku.


"Kenapa tiba-tiba?" Aku bertanya kembali. Masih tidak puas dengan jawabnya.


"Ya gak tiba-tiba juga. Udah dari lama sih aku mikir sebenarnya."


"Menurut kamu Celine itu gimana?" Aku akan terus mengorek sampai aku merasa puas.


"Ya gak gimana-gimana. Kenapa kamu tiba-tiba nanyain dia sih," ujarnya.


"Aku penasaran aja kenapa sekarang kamu baik sama dia, padahal dulu ogah-ogahan banget." Mari lihat jawaban dia selanjutnya.


"Ya kayak jawaban aku tadi yang, kan sekarang dia juga jadi model buat produk baru aku," balasnya.


"Sering ketemu dong sekarang," ucapku dengan candaan.


"Kok kamu gitu sih yang, dia udah ga jahat sama kamu kan sekarang?" Ujarnya terdengar tidak terima. "Aku aja bisa maafin dia masa kamu gak bisa," lanjutnya dan tiba-tiba melepaskan pelukannya.


Dia menegakkan dirinya dan bersiap untuk turun dari ranjang. "Kita baru baikan ya, jangan bikin aku diemin kamu lagi karena kamu bahas hal ini, aku gak se sabar itu," ucapnya dan benar-benar berlalu ke kamar mandi.


Aku salah ya? Kan aku hanya bertanya. Itupun tidak sampai keterlaluan pertanyaan yang aku ajukan. Kenapa responnya begitu.


Paginya Mas Adnan terlihat sangat buru-buru padahal ini baru jam setengah tujuh. Dan aku juga baru selesai memasak.


"Yang, aku gak sarapan di rumah ya, udah telat banget ini," pamitnya dan menyempatkan mencium keningku.


"Kenapa Mas," tanyaku penasaran.


"Aku harus jemput Celine karena pagi ini ada wawancara sama salah satu stasiun televisi," jawabnya dan segera keluar.


Celine lagi Celine lagi. Dulu aku tidak menganggap Celine adalah musuh karena Mas Adnan dulu tidak memperdulikannya. Tetapi sekarang perlakuan Mas Adnan sudah berubah, jadi aku takut dia lama-lama akan tergoda.

__ADS_1


Aku melengkungkan bibirku ke bawah. Padahal aku sudah masak lumayan banyak, tetapi sepertinya akan aku bungkus saja untuk dibagikan.


Selesai dengan semua perkerjaan rumah aku segera berganti dan pergi untuk membagikan makanan. Tidak perlu jauh-jauh karena di dekat perumahan ini ada pangkalan becak jadi aku kan memberikannya kepada mereka saja.


...****************...


Sebentar lagi adalah perayaan pernikahan kami yang kedua. tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Sebentar lagi aku juga harus magang, jadi mungkin waktuku dengan Mas Adnan kembali berkurang.


Hampir 2 tahun dan kami masih belum diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki momongan. Dulu sih aku mengatakan jika aku tidak terlalu memikirkannya, tetapi makin lama aku semakin berpikir. Jika memiliki anak pasti hubunganku dengan Mas Adnan akan semakin harmonis.


Tetapi kembali ke pemikiran awal, jika aku memiliki anak sekarang pastinya aku akan semakin susah mengatur waktu, secara aku masih kuliah. Aku juga tidak ingin menggunakan jasa baby sitter aku dari dulu sudah berpikir jika aku sendiri yang mengurus anakku nantinya.


Hari sudah sore, aku ingin menghubungi Mas Adnan dan bertanya pukul berapa dia akan pulang, jadi aku bisa mengira-ngira akan memasak jam berapa.


Sambungan pertama tidak diangkat, begitupun sambungan kedua. momen ini terasa seperti dejavu. Aku jadi teringat ketika kita belum menikah dan dia berkata pergi keluar kota untuk pekerjaan tetapi nyatanya dia malah bertemu Celine.


Sampai sambungan kelima dia masih belum mengangkatnya. Mungkin dia sedang sibuk jadi tidak sempat menjawab telepon. Sekarang justru aku yang merasa malas untuk memasak.


Saat sedang sibuk mengerjakan tugas di ruang tamu, aku mendengar suara mobil berhenti. Baru jam segini, mungkinkah Mas Adnan sudah pulang? Aku segera berdiri untuk melihatnya.


Saat sampai teras, memang benar itu Mas Adnan, "Kok udah pulang Mas?" tanyaku menghampirinya.


"Iya habis ini ada acara di rumah Ibu. Ayo siap-siap nanti kita ke sana," perintahnya dan masuk ke dalam rumah.


Acara di rumah Ibu?


"Gak bisa, kamu kan istri aku, udah sepatutnya kamu ikut," ujar Mas Adnan sedikit meninggi.


Aku menghela napas panjang dan segera menuju ruang tamu untuk mmbereskan laptop dan buku ku.


Tugasku belum selesai, tapi mau bagaimana lagi aku harus segera bersiap.


Satu jam kemudian kami sudah siap untuk berangkat menuju rumah Ibu. "Emang Ibu ngadain acara apa sih Mas," tanyaku yang sedang berjalan beriringan menuju mobil.


"Ayah ulang tahun hari ini jadi dia buat acara kecil-kecilan."


"Loh Ayah ulang tahun? Aku kok gak tau ya," ucapku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Karena tahun kemarin tidak ada acara seperti ini, jadi aku tidak tau, dan aku pun tidak pernah bertanya.


"Aku belum nyiapin kado buat Ayah Mas, gimana ini," panikku.


"Gak perlu bawa kado, Ayah gak suka di kasih kado," jawabnya. Mobil segera melaju. Tak butu waktu lama kami sampai di rumah Ibu. Sudah ada sekitar 4 mobil yang terparkir di sini.


Aku menarik napas panjang. Kembali menyiapkan hati dan telinga.


Aku berjalan di belakang Mas Adnan, setelah sampai ruang tamu sudah banyak sekali orang berkumpul dan sepertinya Mas Adnan dan aku yang datang paling akhir. Semua orang memandang ke arah kami..

__ADS_1


Mas Adnan segera mendekati Ayah dan mengucapkan selamat, aku juga melakukan hal yang sama.


"Karena Adnan udah dateng, ayo makan malem dulu," ajak Ibu dan segera menggandeng Mas Adnan ke arah ruang makan.


Aku menyingkir ke samping memberikan jalan saat semua orang berjalan ke arah ruang makan juga.


Sebelum benar-benar pergi Ayah berkata kepadaku, "Setelah semua orang pulang, nanti kamu ke ruang kerja Ayah."


"Iya Ayah," jawabku. Kira-kira apa yang akan di bicarakan oleh Ayah kali ini. Karena baru kali ini dia menyuruhku ke ruang kerjanya.


Aku segera mengikuti orang-orang itu ke ruang makan. Masih tersisa satu kursi kosong tetapi bukan di sebelah Mas Adnan. Tempat yang dulu selalu aku duduki ketika masih di sini.


Tak perlu protes atau bertanya, aku segera menduduki kursi kosong itu. Letaknya di ujung meja. Di depanku ada laki-laki paruh baya dan di sampingku ada seorang perempuan muda. Semua orang sudah mengambil makanannya masing-masing, aku juga melakukan hal yang sama.


Aku sudah menyelesaikan makananku terlebih dahulu, aku memperhatikan Mas Adnan yang sedari tadi tidak memanggilku atau melihatku. Sikapnya kembali berubah. Walaupun sudah selesai aku tidak akan beranjak terlebi dahulu, pasti nanti di kira tidak sopan. Aku akan menunggu mereka selesai terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian semua orang sudah meninggalkan ruang makan, termasuk Mas Adnan. Aku segera berdiri dan berniat membantu pelayan untuk membersihkan piring kotor.


"Bik, kali ini biar aku aja yang nyuci ya," ucapku pada bibi yang ikut membersihkan meja.


Bibi terlihat tidak enak tetapi tetap mengangguk pelan. Aku tersenyum singkat dan segera ke dapur. Daripada aku ikut berkumpul dengan mereka lebih baik aku mencuci piring saja.


"Raline sekarang jarang ke sini ya," ucap Bibi tadi kepadaku yang sedang sibuk mengelap piring dan gelas.


"Iya Bik, sibuk nugas," jawabku sambil terkekeh. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kenapa aku tidak ke sini.


Aku menghabiskan waktuku dengan berbincang dengan pelayan di sini. Dan sepertinya sudah ada beberapa orang yang pulang karena sudah semakin malam.


Aku mengintip ke arah ruang tamu, dan memang tinggal 2 orang saja yang belum pulang. Mereka terlibat pembicaraan serius dengan Ayah dan Ibu. Ayah terlihat marah sedangkan Mas Adnan hanya diam di samping Ibu.


Setelah beberapa saat akhirnya kedua orang tersebut pergi juga. Aku masih pada posisiku.


"Raline," suara Ayah memanggil.


Tanpa berlama-lama aku segera mendekat ke arah Ayah. "Iya Ayah," jawabku.


"Ikut Ayah," ucapnya dan segera berdiri. Aku menatap Mas Adnan dan Ibu mereka terlihat penasaran juga kenapa Ayah memanggilku.


"Ayah mau ngomong apa sama Raline," tanya Mas Adnan yang sudah berdiri.


"Bukan urusan kamu," sentak Ayah.


Aku menciut mendengar perkataan Ayah dan kembali menatap Mas Adnan dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Tetapi aku segera memutuskan kontak mata dan segera mengikuti Ayah.


Bersambung

__ADS_1


See you on the next chap


Maaf kalau gak nyambung


__ADS_2