My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 44 - Terjadi


__ADS_3

"Sayang, maafin aku ya," ucap Mas Adnan dengan nada sedih.


Ini sudah 4 hari berlalu semenjak Anniversary pernikahan kami yang kedua. Dan selama 4 hari ini dia benar-benar lupa. Entah ada angin dari mana tiba-tiba malam ini dia teringat hal itu.


"Aku sibuk banget yang, jadinya lupa sama hari penting kita," ucapnya kembali. Dia terus-terusan menggoyang-goyangkan tanganku yang sedang memegang buku menyandar pada sofa.


"Ya udah sih Mas, bukan hal penting juga," ucapku jengah. Mau dia ingat atau tidak, untuk sekarang itu bukan hal penting lagi untukku. Dan juga aku tau jika dia bohong ketika dia mengatakan jika dia sibuk. Karena aku tau apa yang 'sebenarnya' dia lakukan.


"Gak penting kata kamu? Kenapa kamu gak ingetin aku sih," ujarnya merajuk.


Aku menoleh ke arahnya dengan pandangan meremehkan. "Buat apa ingetin orang yang lagi sibuk. Ujung-ujungnya juga bakal lupa lagi kan?"


"Seenggaknya kalau kamu ingetin, aku bisa luangin waktu buat kamu," balasnya.


"Udah lewat berhari-hari kan Mas? Biarin aja sih, kenapa harus diungkit lagi," jawabku dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Tidak ada yang aku lakukan di kamar mandi. Hanya menatap pantulan diriku dari kaca. Jika aku kembali berbicara dan aku kelepasan saat menjawab maka itu bukan hal yang baik untukku.


Setelah merasa cukup, aku keluar dari kamar mandi. Saat membuka pintu kamar mandi aku dikejutkan dengan kehadiran Mas Adnan di depan pintu kamar mandi. Sepertinya dia menungguku.


Dia masih dengan tatapan bersalahnya, "Gimana kalau weekend kita pergi liburan? Buat nebus kesalahan aku."


Aku melanjutkan langkahku yang tertunda dan langsung menuju ranjang. Dia mengekori ku dari belakang dan ikut naik. "Mau ya yang?" pintanya dengan nada memelas.


Aku belum menjawabnya, pikiranku masih bimbang. Haruskah aku menerimanya agar dia tidak curiga.


"Liburan kemana?" tanyaku akhirnya.


"Terserah kamu mau kemana. Nanti aku yang atur semuanya."


"Yang deket-deket aja" jawabku menimpali perkataannya.


"Ya udah besok aku suruh orang buat ngurus semua kebutuhan selama kita di sana."


Setelahnya aku merebahkan diriku dan menarik selimut sebatas dagu. Mas Adnan juga melakukan hal yang sama, dia membawaku ke dalam dekapannya. Meletakkan kepalaku di atas lengan kirinya.


Tanpa protes aku tetap bersandiwara seperti biasanya. Nanti saat dia sudah tertidur juga akan lepas pelukannya. Hal itu sudah aku lakukan semenjak aku mengetahui kebenarannya.


Jika kalian kepo dengan urusan ranjang kami bagaimana, jawabannya adalah aku tetap melakukannya walaupun tanpa perasaan. Mau bagaimana lagi, hal ini harus terus aku lakukan. Aku masih mengingat kewajibanku sebagai istri, walaupun dia sudah melalaikan tugasnya sebagai seorang suami.


"Main bentar yuk yang, udah lama kita gak main loh," ucapnya tiba-tiba. Lama katanya, baru juga 2 hari yang lalu.


"Aku capek banget seharian di kampus Mas. Besok aja," tolak ku. Besok? Jika aku tidak malas aku akan melakukannya besok, tetapi jika aku malas aku akan kembali mencari alasan. Tunggu saja besok.


"Kamu sekarang susah banget diajak main. Padahal dulu suka banget minta duluan."

__ADS_1


Menurut ngana? Jika aku tau dari dulu udah pasti aku gak bakal ngajak duluan. Sekarang jelas aku sering nolak orang aku udah tau semuanya. Bukannya durhaka karena menolak ajakan suami, tetapi bukankah aku juga memiliki hak sebagai seorang istri juga?


"Sekarang aku sibuk banget karena mau magang Mas. Capek banget badan aku, belum lagi ngurus rumah," jawabku meyakinkan.


"Ya udah deh," ujarnya dengan mengeratkan pelukannya.


...****************...


Hari yang dia janjikan akhirnya datang. Aku sudah bersiap begitupun Mas Adnan, aku tidak membawa banyak pakaian karena aku hanya meminta berlibur hari ini dan besok. Jika boleh jujur, aku sebenarnya malas untuk pergi liburan kali ini. Tidak seperti dulu yang merasa sangat bersemangat, kali ini terasa biasa saja.


Saat aku meminta berlibur di tempat yang dekat setuju. Dan jaraknya hanya 2 jam dengan menaiki mobil. Jadi sekarang aku dan Mas Adnan sudah berada di dalam mobil untuk menuju tempat tujuan.


Di dalam mobil dia terus berceloteh menceritakan kesibukannya beberapa minggu ini. Aku yang tidak terlalu perduli hanya menanggapinya sesekali.


"Tau gak yang, produk baru yang aku luncurin laku keras di pasaran. Apalagi di tambah Celine yang jadi modelnya," ucapnya.


Dia? Memuji Celine di depanku? Kata apakah yang tepat untuk menanggapi ucapannya?


"Oh ya. Beruntung dong kamu dapet Celine," jawabku.


"Iya beruntung banget aku punya dia," jawabnya dengan senyum merekah. Tak sadarkah dia apa yang baru saja dia katakan? Berbicara seperti itu di depan istri sahnya?


Aku tersenyum miring. "Beruntung mana antara punya aku sebagai istri apa beruntung punya Celine sebagai model kamu?"


"Hampir tiap hari loh kamu bareng sama dia," ucapku.


"Ya kan itu buat kerjaan. Aku juga gak macem-macem kok."


"Siapa juga yang nuduh kamu macem-macem."


"Kamu kenapa sih sensi mulu sama Celine," sentaknya. Baru di pancing dikit aja langsung gitu responnya.


"Bukannya sensi, cuma masih aneh aja gitu kamu bisa cepet akrab sama dia," setelah jeda aku kembali melanjutkan. "Atau kamu udah kenal dia dari lama?"


Cengkeraman tanganya di atas stir mobil terlihat mengeras. Aku terus memperhatikan ekspresinya yang ikutan mengeras. "Jangan ngarang kamu ya. Aku kenal dia aja baru pas katanya mau di jodohin itu," ucapnya menahan emosi.


"Ya siapa tau. Kan gak ada yang tau kecuali kamu sama dia. Ibu juga mungkin," ucapku dengan nada bercanda.


Dia akhirnya menoleh ke arahku dengan marah. "Jaga bicara kamu ya."


"Lah kok marah. Bener kan?" jawabku dengan nada meledek.


"Jangan bikin aku nurunin kamu di pinggir jalan ya. Jaga omongan kamu," ujarnya kemudian kembali fokus ke arah jalanan.


"Turunin aja. Siapa juga yang takut." Mendengar aku mengatakan hal tersebut dia langsung mengerem mendadak. Karena perbuatannya tersebut kepalaku terantuk dashboard. Untung jalanan pagi ini tidak terlalu ramai, jika ramai sudah pasti dia akan kena omelann banyak orang.

__ADS_1


Mobil berhenti di pinggir jalan. "Sekali aja jangan bikin aku emosi bisa gak sih. Kita itu mau pergi liburan, pergi seneng-seneng," bentaknya.


"Kamu kali yang mau seneng-seneng. Kamu kira aku gak terpaksa!," bentakku balik. "Kamu pikir aku gak tau apa. Selama ini aku diem bukan berarti aku gak tau kelakuan kamu selama ini." lanjut ku.


Dia tampak terkejut. "Kamu ngomong apa sih," ucapnya terdengar sedikit bergetar.


"Kamu kira aku gak tau kalau kamu udah kenal Celine dari lama. Bahkan sebelum kamu kenal sama aku. Dan selama ini kalian akting seolah-olah belum pernah kenal?! Sok-sokan nolak perjodohan, taunya udah ada hubungan dari lama."


SKAKMAT


Sebenarnya aku tidak berniat mengatakan fakta ini sekarang. Tetapi aku juga sudah tidak tahan.


"Terus maksud kamu jadiin aku istri itu apa?!"


"Tau dari mana kamu!" teriaknya keras di depan wajahku.


"Kepo," jawabku dengan nada sinis. Aku mencoba melepaskan kaitan seat belt. Lebih baik aku turun di sini saja. Aku sudah tidak memperdulikan jika setelah ini dia akan menceraikan ku. Aku sudah tidak tahan dengan kelakuannya selama ini.


Entah kenapa kali ini sulit sekali melepaskan kaitan seat belt. Aku terus mencoba, tetapi tanganku di cekal oleh Mas Adnan. "Jangan harap kamu bisa keluar dari mobil ini," ucapnya dengan senyum miring.


Hampir saja kaitannya terlepas tetapi dia sudah terlebih dahulu menyalakan mobil dan menginjak gas. Mobil kembali melaju dengan kecepatan kencang.


"Kamu gak akan bisa lari dari aku. Ga akan aku biarin kamu kabur gitu aja," ucapnya dengan satu tangan yang masih memegang tanganku dan satu tangan mengendalikan stir mobil.


Aku mulai takut dengan caranya mengendarai mobil, "Pelan-pelan Mas!" bentakku.


"Biar kamu bisa kabur gitu? Gak akan." Setelah dia mengucapkan itu dia menambah kecepatan mobil. Aku sudah benar-benar ketakutan.


"Pelan Mas! Aku takut. Aku gak bakal kabur," ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Bukannya mendengarkan, dia justru mencengkeram tanganku dengan kencang. Matanya tidak hanya fokus di jalanan tetapi juga menatapku dengan tajam.


Walaupun ketakutan aku tetap memperhatikan jalanan. Jalanan kali ini terlihat ramai. "Mas! Lihat depan Mas!" teriakku heboh.


Dia yang kembali fokus ke jalanan, tetapi dari arah berlawanan sudah ada truk besar yang akan melintas. Aku sudah menangis sesenggukan, begitupun Mas Adnan yang terlihat terkejut dan memutar stir ke arah kanan.


BRAKKK


Hal yang aku takutkan terjadi, mobil yang kami tumpangi menabrak pembatas jalan karena Mas Adnan berusaha menghindari truk besar tadi. Mobil kami terbalik, terdengar teriakan banyak orang. Aku mengabaikan rasa sakit di tubuhku dan mencoba melihat kondisi Mas Adnan dengan batas kesadaranku, dia sudah tidak sadarkan diri. Darah terus mengucur dari kepalanya, dan setelahnya telingaku berdengung dan pandanganku memburam.


Bersambung


See you on the next chap


Terimakasih buat yang udah baca (⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)

__ADS_1


__ADS_2