
Kembali ke masa sekarang.
"Papa kok belum ke sini ya Bun?"
"Papa kan lagi kerja di luar kota. Nanti kalau udah pulang pasti ke sini," jawabku lembut.
Aku sedang duduk di ruang tamu bersama Aithan, menemaninya menonton kartun selepas makan siang tadi. Saat dia bercerita tentang mimpi buruknya tadi, aku sedang menyiapkan makan siang untuk kami berdua.
Jika siang begini memang hanya aku dan Ai saja yang ada di rumah. Aku baru saja menyelesaikan wisudaku beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang aku hanya akan fokus untuk mengurus Ai. Mungkin nanti jika Ai sudah masuk playgroup aku akan mencoba membuka usaha.
"Bunda," panggilnya tiba-tiba. Aku yang sedang melamun tersadar dan melihat ke bawah. Posisi Ai sedang tiduran di atas pahaku.
"Iya sayang," jawabku dengan tangan yang mengelus lembut rambutnya.
"Ai boleh naik sepeda gak?" tanyanya. Ini pasti tadi karena dia melihat iklan yang menayangkan anak kecil sedang bermain sepeda. Jadi dia kembali teringat.
Aku tersenyum teduh ke arahnya, "Boleh, tapi nunggu Ai umur 3 tahun ya."
"Kenapa gak sekalang (sekarang) aja?" rajuknya dengan bibir yang di majukan. Aku jadi gemas sendiri dengan tingkahnya.
"Kata Papa kan Ai baru boleh naik sepeda pas udah umur 3 tahun kan? Ai lupa ya," ucapku dengan mencolek hidungnya pelan.
"Ai gak lupa. Tapi Ai udah gak sabal (sabar) pengen naik sepeda," jawabnya masih dengan cemberut.
"Belajar sabar ya. Gak semua yang Ai inginkan harus ada saat ini juga," ucapku memberi pengertian.
Dia mengangguk lemah dan kembali menonton kartun kesukaannya. Bukannya aku tidak
mengijinkannya untuk menaiki sepeda saat ini. Tetapi keadaan fisik Ai yang tidak seperti anak lainnya yang membuatku harus tegas. Ketika kandunganku berusia 7 bulan aku terjatuh di dapur, dan karena benturan yang cukup keras mau tidak mau bayiku harus segera di keluarkan. Walaupun Ai harus di rawat di dalam inkubator setidaknya dia masih bisa di selamatkan.
"Bunda," panggilnya kembali. Kali ini dia merubah posisinya menjadi duduk. "Ai kangen Papa," lanjutnya.
"Papa kan lagi kerja sayang," jawabku.
"Kenapa kita gak tinggal baleng (bareng) Papa aja sih Bun?" lirihnya.
Selama ini memang "Papa" Ai yang selalu berkunjung ke sini. Jika aku bisa aku juga lebih memilih tinggal bersamanya dari pada harus hidup di sini. Semenjak Ai bisa berbicara baru kali ini dia menanyakan hal ini. Hatiku tersentil saat mendengarnya bertanya seperti itu.
"Nanti ya kalau Papa udah gak sering keluar kota," ucapku dengan menahan air mata. Bohong. Perkataan itu sepenuhnya bohong. Aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepadanya.
Ai kembali terlihat lesu. "Gimana kalau kita coba telpon Papa?" rayuku.
Dia menegakkan tubuhnya dan kembali terlihat sorot semangat di dalam matanya. "Mau, Ai mau telpon Papa." jawabnya dengan semangat yang menggebu.
"Tapi Bunda gak tau Papa lagi sibuk atau gak. Kalau misalnya Papa gak jawab Ai gak boleh sedih ya," ujarku lembut.
"Iya Bunda."
__ADS_1
Setelahnya aku meraih handphone ku yang ada di atas meja. Mencari nomornya dan menekan tombol panggil. Baru saja dering pertama, dia sudah menjawab telepon dariku.
"Halo."
" Kamu sibuk gak? Ai kangen sama kamu nih," ucapku dan melirik Ai yang terlihat berbinar karena
mendengar suara Papanya.
"Enggak kok. Mana jagoan aku," jawabnya bersemangat. Aku segera mengganti sambungan telepon menjadi sambungan Video call dan mengarahkan handphonku ke depan wajah Ai.
"Papa," pekik Ai saat melihat wajahnya.
"Halo jagoan Papa."
"Papa kapan pulangnya," tanya Ai dengan nada sedih.
"Lusa Papa pulang."
"Lama banget," rajuk Ai.
"Nanti kalau Papa pulang, Papa bawain hadiah buat Ai."
Ai kembali tersenyum lebar. "Benel (bener) ya Pa. Yang banyak ya."
"Gak boleh gitu ya," tegur ku. Dia langsung menunduk karena ucapanku.
"David!" geram ku. "Nanti Ai kebiasaan minta ini itu sama kamu."
David? Benar. Kalian tidak salah lihat atau dengar. Orang yang selama ini selalu di panggil Papa oleh Ai adalah David.
Kalian pasti penasaran kenapa David bisa mendapatkan panggilan itu bukan? Secara kami tidak memiliki hubungan apapun.
Singkat cerita, saat usia kandunganku berumur 3 bulan dan akhirnya semua orang tau jika aku mengandung di saat itulah sebuah masalah besar datang.
FLASHBACK
"Anak siapa yang kamu kandung?" celetuk Celine.
Aku yang kecelakan kanapa dia yang mendadak amnesia? Sudah jelas ini anaknya Mas Adnan kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Ya anak Mas Adnan lah," jawabku keras di depan semua orang yang sedang berada di sini.
"Gak yakin," ucapnya kembali dan berdiri dari duduknya.
"Kandungan kamu udah 3 bulan? Jika memang itu anaknya Adnan kenapa kamu gak beritahu dia? Jelas-jelas dia udah sadar dari lama," ucapnya remeh dan mengitari ku.
"A-a-aku..." kenapa mendadak lidahku kelu?
__ADS_1
"Itu pasti anak kamu sama selingkuhan kamu kan?" tuduhnya.
Aku melotot ke arahnya. Orang-orang langsung menatapku dengan pandangan yang berbeda. "Gak. Aku gak pernah selingkuh. Ini anak Mas Adnan," jawabku sembari memeluk perutku sendiri.
"Halah. Maling mana mau ngaku," Ibu menimpali dengan nada sinis nya.
Aku menggeleng keras dan menatap Mas Adnan yang masih duduk diam tanpa ekspresi di wajahnya.
"Ini anak kamu Mas. Kamu percaya sama aku kan?" ujarku. Meskipun aku sakit hati dan sudah mengetahui hubungannya dengan Celine, tetapi aku tidak mungkin membiarkan anak yang aku kandung ini tidak mengenali Ayahnya kelak.
"Jangan percaya Nan. Aku punya bukti kalau wanita ini selingkuh di belakang kamu selama ini," sentak Celine.
Dengan tergesa Celine kembali ke arah sofa dan mengambil handphone yang berada di dalam tasnya. Seperti telah menemukan sesuatu di dalam handphone nya dia menyerahkan handphone tersebut kepada Mas Adnan yang sedari tadi tidak bergeming sama sekali.
Mas Adnan tampak terkejut dan menatapku tajam. Ibu yang penasaran segera mendekat dan ikut melihat. Aku bingung dan bertanya-tanya, Apakah dia akan menjebakku lagi seperti terkahir kali?
"Dasar wanita gak tau diuntung!" teriak Ibu dan berjalan mendekatiku. "Kamu itu udah miskin masih berani-beraninya nyelingkuhin anak saya!"
"Bu, aku enggak selingkuh. Justru Mas Adnan yang udah ada main sama Celine selama ini," jawabku dengan lantang.
"Keputusan ada di tangan kamu," ucap Ayah lalu berdiri meninggalkan ruang tamu. Dia menatapku sekilas dan menghilang di balik dinding.
"Mas. Ini beneran anak kamu Mas. Aku gak pernah main sama siapapun! Apalagi sampai selingkuh!"
"Percuma kamu membela diri. Kelakuan busuk kamu udah terungkap," sinis Celine.
"Jelaskan maksud foto itu," tegas Mas Adnan dan menunjuk handphone yang berada di atas meja.
Aku segera mendekat ke arahnya dan mengambil handphone tersebut. Aku sangat terkejut. Bagaimana dia bisa mendapatkan foto ini! Ini adalah foto yang selama ini aku tutupi, foto yang sampai sekarang belum bisa aku hapus dari handphone David. Bagaimana dia bisa mendapatkannya!
"Kaget kan? Kaget dong pasti," ledek Celine.
"Aku gak selingkuh. Foto itu diambil David pas dia nyulik aku. Dan foto itu di buat buat ngancem aku selama ini," ujarku menjelaskan.
"Ga usah ngelak. Mana ada orang yang habis di culik tapi tiap seminggu sekali selalu dateng ke rumah orang yang nyulik. Kalau bukan suka apalagi," ucap Celine.
Bagaimana dia bisa tau hal itu juga! Apakah David membocorkan hal ini kepada sepupunya?
"Udah cerain aja Nan. Ga guna," ucap Ibu.
Aku menatap Mas Adnan dengan air mata yang siap keluar. Aku tidak takut dia ceraikan , tetapi jika perceraian ini terjadi karena foto ini, sama saja aku yang kalah telak. Aku dulunya berharap jika dia memang mau menceraikan ku, aku berharap perceraian itu ada karena dia yang sudah terbukti memiliki hubungan dengan Celine. Kenapa keadaan berbalik seperti ini.
FLASHBACK OFF
Bersambung
See you on the chapš„°
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya