My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 11 - Hari Kedua


__ADS_3

Pagi ini aku sudah di dapur membantu para pelayan menyiapkan sarapan, masakan yang dibuat pun tidak terlalu banyak, sebenarnya para pelayan sudah menyuruhku untuk duduk saja, tetapi aku masih kekeh ingin membantu.


Karena aku belum tau makanan apa yang disukai dan tidak oleh ayah dan ibu mertuaku, jadi aku tidak ingin memasak terlebih dahulu, aku hanya membantu memasak nasi, memotong sayur dan mencucinya.


Ketika aku bertanya kepada pelayan pukul berapa biasanya ayah dan ibu sarapan, mereka menjawab serempak pukul tujuh. Karena masakan sudah hampir siap dan sekarang sudah pukul 06.35 aku memutuskan untuk naik ke atas untuk membangunkan Mas Adnan agar bisa sarapan bersama sebelum dia berangkat kerja. Biasanya dia jarang sarapan di rumah karena dia selalu sarapan bersamaku saat dia menjemputku untuk bekerja.


Saat membuka pintu kamar, sudah tidak ada Mas Adnan di atas ranjang, dia sudah bangun dan terdengar suara gemerisik air dari dalam kamar mandi. Karena dia sudah bangun dan mandi aku memutuskan untuk mengambilkan pakaian yang akan dia kenakan ke kantor hari ini. Setelah memilihkannya, aku keluar dari walk in closet dan membereskan tempat tidur.


Pintu kamar mandi terbuka, tampak Mas Adnan dengan rambut basah dan handuk yang melingkar sebatas pinggul. Aku tersipu malu dan menoleh ke arah lain, "kamu dari mana yang?" Tanyanya mendekatiku.


"Aku tadi bantuin bibi nyiapin sarapan, aku tadinya mau bangunin kamu, eh ternyata udah bangun." Jawabku tetapi masih tidak berani menatap matanya.


"Tadi aku nyariin kamu, pas aku raba-raba samping aku udah ga ada kamu, ya udah aku bangun sekalian," ucapnya dan setelahnya dia mengecup bibirku.


"Ya udah kalo gitu aku mau bantuin bibi lagi nata makanan ke atas meja, kamu langsung turun," kataku dan melangkah pergi, tetapi baru selangkah tanganku ditarik olehnya, dan aku menubruk dadanya yang masih shirtless. Aku masih menunduk tidak berani untuk menatap matanya, pipiku terasa memanas, posisi ini terlalu dekat untukku.


"Hadap aku yang," pintanya dan menarik daguku pelan agar bisa menatap matanya. Meskipun aku sudah mendongak, tetapi aku memejamkan mataku tidak berani menatap matanya.


Fyuhhh, dia meniup kedua mataku, aku mengerjap dan mau tidak mau membuka kedua mataku, dia tidak mengalihkan pandangannya dariku, dia mengecup keningku lalu kedua pipiku, yang terakhir dia kembali mengecup bibirku, diiringi dengan sedikit *******.


"Ngapain sih nutup mata, masih malu-malu aja kamu," katanya seduktif. "Lihat kamu yang malu-malu gini malah jadi pengen aku," bisiknya di telingaku, tangannya sudah melingkar indah di pinggulku.

__ADS_1


"Pagi-pagi udah mesum!" Teriakku dan melepaskan tangannya dari pinggulku dan berlari keluar kamar. Terdengar suara tertawa kencang dari dalam, aku menetralkan degup jantungku dan menuruni tangga. Di pijakan terakhir aku melihat sudah ada Ayah dan Ibu yang yang duduk tenang di meja makan.


"Selamat pagi Ayah, Ibu," sapaku kepada mereka. Walaupun tidak ada yang menjawab tidak apa-apa, aku meneruskan langkahku menuju dapur untuk membantu pelayan meyajikan makan. Saat sampai di dapur, makanan sudah siap untuk dibawa ke meja makan, jadi aku langsung saja membawa piring-piring tersebut dibantu oleh para pelayan juga.


Setelah menata semuanya di atas meja makan, aku masih berdiri di samping meja, karena Mas Adnan belum turun, jadi aku tidak berani untuk duduk terlebih dahulu. Aku menautkan kedua tanganku dan terus menunduk sampai aku mendengar suara langkah seseorang mendekat. "Ayo duduk yang," ucapnya padaku yang ternyata Mas Adnan, memang siapa lagi yang ada di rumah ini selain kami berempat dan para pelayan.


Aku menarik kursi dan duduk di samping Mas Adnan, posisi kami sama seperti makan malam semalam, aku mulai mengambilkan nasi serta lauk pauk di piringnya kemudian aku melakukan hal yang sama untuk piringku, selama melakukan kegiatan ini aku tidak berani memandang 2 pasang mata lainnya yang ada disini.


Selesai sarapan, aku membantu Mas Adnan untuk bersiap ke kantor, "Mas nanti aku mau ke minimarket buat ngundurin diri," kataku.


"Jam berapa? Nanti kalau bisa aku anterin," jawabnya.


"Ga perlu mas, nanti aku naik bis aja, daripada kamu bolak balik," aku menolak ajakannya, rumah dan kantor jaraknya sedikit jauh, jadi sangat sayang jika dia hanya bolak balik pulang untuk mengantarku.


"Iya mas, kalau sibuk jangan di paksain buat nganter aku ya," pintaku memelas.


"Iya sayang, kalau gitu aku pergi dulu ya, nanti aku kabarin lagi," setelah mengucapkan itu dia mencium kening dan bibirku, aku mengantarkannya sampai teras dan menuggunya sampai mobilnya tidak terlihat.


Aku masuk kembali ke dalam rumah dan terlihat Ayah yang tampaknya akan pergi ke kantor juga, aku menunduk ketika melewatinya dan berjalan ke belakang barang kali ada sesuatu yang bisa aku lakukan. "Ada yang bisa saya bantu gak Bik?" Tanyaku.


"Eh ga ada non, semuanya adalah tugas kami," jawabnya pelan. Pelayan di rumah ini ada 3 orang, dan semuanya sudah punya jatah tugasnya masing-masing.

__ADS_1


"Gapapa Bik, saya juga ga ada kerjaan, daripada nganggur, saya bisa kerjain macem-macem kok," jelasku. "Dan jangan panggil saya non, saya ga pantas dapet panggilan seperti itu, panggil aja Raline atau Aline," tambahku.


"Ga bisa non, kan non Raline udah jadi istrinya Tuan Adnan, jadi otomatis non Raline juga majikan kami, ga pantas untuk kamu jika hanya memanggil nama saja."


"Emang ga pantes panggilan itu buat kamu," suara ibu terdengar. "Kalian semua ga perlu panggil dia nona, walaupun statusnya udah naik jadi istrinya Adnan, tetep aja kamu harus ingat asal usul kamu dari mana, ngerti kan kamu," sinis ibu kepadaku.


"Iya bu, aku juga udah minta mereka ga usah pake embel-embel Nona," jawabku pelan. Aku memang tidak pantas mendapatkan panggilan seperti itu, aku juga sudah menyadarinya sendiri, dan aku lebih nyaman ketika dipanggil dengan nama saja.


"Inget ya, jangan mentang-mentang kamu istrinya anakku kamu bisa berpikiran bahwa kamu bisa jadi tuan rumah juga di sini, saya ga akan biarin hal itu, dan tunggu saja sampai mana kamu bisa bertahan sama Adnan."


Hah, sepertinya hari-hariku akan sulit di sini, tetapi aku tidak boleh menyerah aku akan berjuang untuk mendapatkan restu mereka berdua.


"Sana kamu bantuin pelayan bersih-bersih, jangan cuma mau hidup enak di sini," sentak ibu lalu melangkah pergi. Ibu adalah wanita sosialita jadi jam segini dia sudah akan pergi keluar, terlihat saat ke dapur tadi dia sudah berpakaian rapi dan membawa tas, mungkin dia akan berkumpul dengan teman-temannya. Ya memang begitulah kehidupan istri orang kaya, pergi arisan, berkumpul dengan teman-teman sosialitanya, tidak perlu bersusah payah untuk mencari uang.


Aku akhirnya memutuskan untuk membereskan meja makan dan membersihkan peralatan masak, para pelayan yang tadi sedang mengerjakannya aku suruh pergi untuk mengerjakan yang lainnya. Selesai membereskan semua yang ada di dapur, aku mengambil lap dan juga kemoceng untuk membersihkan ruang tamu, sebenarnya area ruang tamu terlihat sangat bersih karena pelayan disini sudah membersihkannya setiap hari, tetapi dari pada aku tidak ada kerjaan, lebih baik aku tetap membersihkannya.


Selesai membersihkan ruang tamu, aku melangkah ke belakang berencana untuk mencuci pakaian, tetapi saat aku sampai di belakang, ternyata semua pakaian sudah di cuci dan tinggal untuk di jemur, jadi aku akan menjemurnya, tidak ada pelayan yang terlihat, mungkin mereka sibuk melakukan perkerjaan yang lain.


Tempat menjemur pakaiannya berada di area indoor dan dekat dengan area cuci baju, jadi tidak perlu susah-susah mengangkat keranjang baju keluar. Hanya perlu sedikit waktu untuk menjemur pakaian, saat keluar dari pintu belakang, aku melihat ada tukang kebun yang sedang membersihkan taman, mencabut rumput dan menyiram tanaman.


Karena sudah tidak ada lagi yang aku lakukan aku naik ke atas menuju kamar. Tak terasa aku menghabiskan hampir 2 jam untuk bersih bersih, tadi pagi aku sudah mandi, tetapi karena badanku agak lengket karena keringat, aku memutuskan untuk mandi kembali. Setelah mandi aku bersiap-siap untuk pergi ke minimarket, aku menghubungi Mas Adnan jika aku akan pergi sekarang, tetapi tampaknya dia sedang sangat sibuk, karena sudah 5 kali panggilan dan chat yang aku kirimkan tidak dia jawab satupun. Jadi aku akan pergi dengan naik bus saja, aku juga sudah mengatakan pada Mas Adnan jika aku pergi sendiri saja.

__ADS_1


Bersambung


See you on the next chap 🥰


__ADS_2