
Hari demi hari terus berlalu, kegiatanku sehari-hari tetap monoton seperti biasanya, mengurus rumah, mengurus suami, pergi kuliah, terkadang juga pergi keluar ketika Mas Adnan tidak begitu sibuk.
Menjadi istri sekaligus mahasiswi memang sedikit menguras tenaga, tetapi jika di jalani dengan senang hati maka tidaklah seberat itu.
Sudah 3 bulan kami tinggal di rumah kami sendiri, selama 3 bulan ini Mas Adnan juga masih rutin mengunjungi orang tuanya tanpa diriku. Aku tidak pernah bertemu dengan Ayah dan Ibu setelah kejadian itu, aku seperti menantu durhaka, tapi mau bagaimana lagi, memang seharusnya begitu sedari awal.
Tentang emosi Mas Adnan, beberapa hari yang lalu kami pergi ke psikolog untuk mencari tahu bagaimana agar dia bisa mengontrolnya. Dan setelah pemeriksaan dan beberapa pertanyaan yang di ajukan, bisa jadi emosi disebabkan karena depresi yang di sebabkan ketika Mas Adnan masih kecil selalu di tuntut untuk bisa ini dan itu. Jadi ketika dia sudah dewasa dan sudah bisa memberontak dia akhirnya mengeluarkan semua emosi terpendamnya.
Untuk pengobatannya Mas Adnan seminggu sekali harus rajin terapi ke dokter, dan juga aku tidak ingin dia mengonsumsi obat untuk menekan emosinya, menurutku hal itu hanya akan membuatnya ketergantungan, bukan sembuh.
Dan di rumah aku juga pelan-pelan menanyakan bagaimana ketika dia masih kecil, mencoba memahami situasinya saat itu dan aku juga pelan-pelan mencoba memberinya pengertian.
Mengenalnya selama ini, aku sama sekali tidak tau dia memiliki masalah emosi terpendam seperti ini. Setahuku dia hanya seseorang yang keras dan kemauannya harus di turuti.
Sebenarnya puncak emosinya hanya akan keluar jika ada yang memicunya, tetapi yang menjadi masalah adalah, mau besar atau kecil pemicunya, tetap saja dia tidak bisa mengontrolnya.
Saat ini aku sedang berada di supermarket untuk belanja bulanan, tetapi bukan supermarket yang dulu aku kunjungi ketika bertemu Ibu. Setelah kejadian memalukan itu aku lebih memilih pergi ke supermarket yang lebih jauh dari rumah, untuk meminimalisir orang-orang yang pernah melihatku di supermarket yang lama.
Baru kali ini aku pergi berbelanja sendiri, Mas Adnan kemarin tiba-tiba harus ke luar kota, dan hari ini adalah jadwal belanja, jadi mau tidak mau aku harus pergi sendiri karena persediaan di rumah sudah menipis.
Troli yang aku dorong sudah hampir penuh, aku sudah berada di sini hampir 1 jam, setiap hari aku selalu menyempatkan untuk memasak, karena Mas Adnan sekarang meminta membawa bekal ke kantor.
Semua yang aku butuhkan sudah ada di dalam troli, untunglah hari ini antriannya tidak panjang jadi tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama.
Selesai membayar aku keluar dengan membawa troli berisi kardus-kardus berisi belanjaan. Aku akan memesan GoCar saja, tadi saat berangkat aku menaiki busway, jadi karena sekarang aku membawa banyak barang, jadi aku tidak bisa menaiki busway lagi.
"Hei," seseorang menepuk pundak kiriku.
Aku seketika menoleh. Lagi-lagi aku menemukan hari sial. Di depanku sekarang berdiri 2 orang berjenis kelamin berbeda, tapi yang membuatku bertanya-tanya adalah kenapa Mas Ardi bisa bersama Celine?
Mungkinkah mereka saling mengenal?
Sepertinya untuk hal ini aku tidak perlu bertanya-tanya. Celine kan dekat dengan orang tua Mas Adnan, otomatis dia pasti mengenal keluarga Mas Adnan yang lain.
"Ada apa ya?" Biasanya jika orang-orang ini muncul yang akan datang hanyalah masalah.
"Sendirian?" Tanya Mas Ardi.
__ADS_1
Aku mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua berpandangan dan saling tersenyum satu sama lain.
"Kamu udah mau pulang ya," tanya Mas Ardi kembali. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Aku mengingat pesan dari Mas Adnan yang mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu akrab dengan anggota keluarganya. Bukan karena sombong atau apa, kata Mas Adnan itu demi kebaikan diriku sendiri.
"Mendadak bisu kah?" sarkas Celine.
Mas Ardi terlihat menyenggol lengan Celine dan menatapnya tajam. "Gimana kalau aku antar kamu pulang?" ucap Mas Ardi kepadaku dengan tatapan manisnya. Walaupun manis tapi sangat terlihat jika itu di buat-buat.
"Enggak usah, aku udah pesan GoCar," tolak ku halus. Sebenarnya aku belum memesannya, tetapi dari pada bersusah payah menolak ajakannya lebih baik bohong kan? Karena jika aku menolak dia pasti akan memaksa.
"Wah sayang banget ya Lin," dia berkata dengan nada sedih sembari menatap Celine. Celine hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Padahal aku mau ajak kamu jalan-jalan sekalian bareng Celine," ucapnya lagi.
"Ga perlu, aku punya banyak tugas," tolak ku. Kalau ini bukanlah kebohongan. Memang benar jika aku punya banyak tugas, karena sebentar lagi akan ujian semester, jadi semakin banyak tugas yang aku dapat.
"Kalau gitu aku tunggu sampe GoCar yang kamu pesan dateng ya," ucapnya. Mendengar ucapannya aku mulai was-was karena aku kan belum memesannya, jadi kapan datangnya jika di pesan saja belum.
"Kamu kan mau nganterin aku belanja, kenapa malah jadi mau nungguin perempuan ini sih," ujar Celine dengan bersidekap dada.
"Songong banget sih, siapa juga yang mau nungguin kamu," sentak Celine.
Sekarang ganti aku yang memutar bola mataku dengan malas. Berhadapan dengan Celine hanya menguras banyak tenaga. Daripada ku terus berada di sini dengan orang-orang ini lebih baik aku mencari tempat lain.
Aku tidak berniat untuk berpamitan dengan mereka, aku segera mendorong troli ku, tetapi baru beberapa langkah ada yang memegang tanganku. Aku tidak perlu bertanya itu ulah siapa. Aku menoleh dan menatap orang yang memegang tanganku.
"Apa lagi Mas," tanyaku malas.
Mas Ardi tidak menjawab dan malah melirik Celine dan diberi anggukan oleh celine. Kali ini Celine terlihat bersemangat, tidak seperti tadi yang terlihat malas-malasan.
"Di pipi kamu ada bekas tepung," ucap Mas Ardi dan mengelus pipiku lembut menggunakan tangannya.
Aku segera menyingkirkan tangannya, dan mengusap pipiku sendiri. Tadi aku memang mengambil tepung dan tadi juga tanganku ada bekas tepung jadi aku percaya ucapannya.
"Makasih," ucapku tulus. Setelahnya aku segera berbalik dan berniat pergi. Tetapi lagi-lagi ada yang menarik tanganku. Kali ini tarikan keras, aku seketika menoleh dan menubruk dada Mas Ardi. Dia melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku.
Aku yang kaget karena terlalu dekat seketika mendorongnya menjauh. "Apa sih Mas," sentak ku di depan wajahnya.
__ADS_1
Dia terkekeh, "Kamu cantik."
Bukannya tersipu malu aku malah ingin marah. Aku mundur beberapa langkah. Dia berniat mendekat dan mengulurkan tangannya untuk meraih wajahku, tetapi aku segera menepis tangannya.
"Jangan kurang ajar ya Mas!" marahku.
"Siapa yang kurang ajar sih, kamu sekarang kan istrinya Adnan, otomatis kamu jadi adik sepupuku juga kan? Saudara kan, di mana letak kurang ajarnya?" ucapnya santai.
"Sok jual mahal," celetuk Celine. Jual mahal katanya? Mereka ini amnesia atau apa sih sebenarnya, walaupun sudah menjadi bagian dari kelurga bukan berarti bisa memegang orang sembarangan kan?
Kenapa aku harus dipertemukan dengan orang-orang gila ini. Tidak heran jika Mas Adnan mudah emosi jika berhadapan dengan mereka, aku saja yang bisa mengontrol emosi dengan baik rasanya sudah ingin berteriak kencang di depan mereka.
Aku memandang bergantian kedua orang tersebut, kali ini aku akan benar-benar pergi, dari pada aku kelepasan di tempat umum. Kalian pasti pernah dengar pepatah "jangan membangunkan singa yang tertidur" nah itulah diriku. Setenang-tenangnya diriku, pastinya di dalam diriku ada sosok singa yang siap menerjang kapan saja.
"TUNGGU HADIAH KAKAK SEPUPUMU INI MANIS," teriak Mas Ardi saat aku sudah menjauh dari mereka berdua.
Benar-benar tidak waras, berteriak di tempat umum seenaknya tanpa ada rasa malu. Aku tetap berjalan cepat mencari tempat untuk berteduh dan memesan GoCar seperti rencanaku sebelumnya.
Aku tidak akan menganggap serius perkataannya yang akan memberikan kado. Memangnya untuk apa dia memberikanku kado. Dasar tidak waras.
GoCar yang aku pesan akhirnya datang, dan aku meminta tolong sopirnya untuk memasukkan belanjaanku ke dalam bagasi. Setelahnya aku masuk dan mobil pun perlahan menjauhi supermarket.
Sampai rumah aku segera menata barang-barang belanjaanku pada tempatnya. Sekarang baru jam 3 sore jadi aku akan tidur sebentar. Lagi pula Mas Adnan akan pulang nanti malam, jadi aku akan memasak nanti malam saja.
Tak terasa malam sudah menyapa, aku segera bangun dan mandi. Setelahnya aku akan ke bawah untuk memasak, tetapi saat baru menuruni tangga aku mendengar suara mobil berhenti. Itu sepertinya Mas Adnan. Aku sedikit berlari ke arah pintu utama untuk membukakannya pintu.
Dan benar itu adalah Mas Adnan, aku segera mendekatinya dan tersenyum cerah ke arahnya.
"Ganti baju kamu, kita ke rumah Ibu sekarang," ucapnya tanpa menatapku dan memasuki rumah begitu saja. Aku melunturkan senyum di wajahku begitu saja. Baru kali ini dia mengabaikan keberadaan ku begitu saja.
Tetapi aku segera mengikutinya dari belakang, mungkin dia masih lelah karena dari perjalanan yang jauh. Tanpa bertanya lebih jauh aku segera berganti pakaian.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
Jangan lupa like dan komen 🤩
__ADS_1