
Setelah kejadian itu, Celine sudah tidak pernah datang kerumah lagi, aku bisa sedikit bernapas lega.
Hari ini aku ada kuis di kampus jadi aku berangkat lebih awal, karena semalam tidak sempat belajar karena Mas Adnan mengajak "olahraga malam", jadi aku yang harus mengalah.
Hari ini aku memutuskan sarapan di kantin sambil belajar, saat sedang fokus belajar, aku mendengar kursi depanku di geser, saat aku mendongak ternyata itu Aryo.
"Tumben sarapan di kampus," tanyanya.
"Iya, tadi bangun kesiangan, jadi ga sempet sarapan di rumah," setelah menjawab, aku kembali fokus pada bukuku.
"Ada kuis ya?" Tanyanya lagi
Aku hanya mengangguk tanpa melihatnya, aku akan susah fokus jika ada suara berisik atau ada yang mengajak berbicara. Padahal aku sudah mencari tempat pojokan yang tidak terlalu ramai, tapi masih ada yang mengenaliku. Oh, aku disini tidak memiliki teman akrab, hanya sebatas tau nama, itu saja karena pernah satu kelompok.
"Kalau gitu lanjutin aja, aku juga mau ada kelas bentar lagi, see you next time."
"Iya," aku tersenyum singkat ke arahnya. Dia pun membalas senyumanku dan berlalu pergi. Aku melihat jam tangan di pergelangan tanganku, sebentar lagi kelas akan dimulai jadi aku segera membereskan bukuku dan menaruhnya di dalam tas, tak lupa juga membawa piring makanku yang sudah tidak ada isinya ke tempat pencucian.
Aku memasuki kelas, dan lagi-lagi yang tersisa hanya bangku depan, aku tidak heran kenapa banyak orang suka duduk di belakang, karena aku sudah pernah mengalaminya saat duduk di bangku SMA, menurut teman-temanku dulu area belakang adalah area terbaik di dalam kelas, dan menurut mereka juga bangku depan adalah bangku horor hanya-hanya anak-anak pintar dan kutu buku yang menempatinya.
Karena hari ini hanya ada kuis jadi pembelajaran tidak begitu lama, aku keluar kelas dan menuju tempat duduk di bawah pohon di depan fakultas. Hari ini aku ada 2 kelas dan kelas kedua dimulai satu jam lagi, jadi daripada aku bolak balik lebih baik aku menunggu disini saja.
Sebenarnya aku masih sangat mengantuk, semalam aku 'bermain' sampai pukul 2 dini hari, dan aku harus bangun sebelum jam 6 karena harus membantu para pelayan menyiapkan makanan, sekarang aku sudah jarang membantu bersih-bersih di rumah, hanya saat libur kuliah, itu saja hanya saat hari sabtu karena saat hari minggu ada Mas Adnan di rumah, jadi waktuku dari pagi sampai malam aku habiskan bersamanya.
Disini tidak ada yang tau bahwa aku sudah menikah, termasuk Aryo yang terlihat gencar mendekatiku. Bukannya aku geer atau sok, tetapi aku sudah pernah bilang kan jika aku punya feeling yang kuat aku juga sangat peka. Dan antena di atas kepalaku mengatakan bahwa dia menyukaiku.
Hari ini Mas Adnan akan pergi keluar kota untuk mengurus sedikit masalah di cabang sana, dia sudah mengabariku, jika memungkinkan untuk pulang, ia akan pulang, jika tidak ia akan menginap dan pulang pagi harinya.
Tadi pagi aku diantar sopir rumah atas perintah Mas Adnan, tetapi karena sehabis kelas selesai aku berencana pergi ke toko buku, jadi aku mengatakan bahwa aku akan pulang naik bus atau taksi saja.
Dari arah depan terlihat Aryo sedang berjalan ke arahku, "Udah selesai kuisnya?" Sedari tadi aku hanya melamun melihat orang-orang berlalu lalang.
"Iya udah," jawabku.
Di duduk di depanku dan memandangku, "Mau nemenin aku ke toko buku gak nanti."
"Boleh, tapi aku masih ada kelas habis ini." Aku juga berencana kesana nanti, jadi lebih baik pergi bersama saja, lagipula dia juga katingku, mungkin aku bisa meminta beberapa rekomendasi buku kepadanya.
"Ya udah aku tunggu kalau gitu."
"Ga ngerepotin nih, kayaknya sampai 2 jam."
"Ga papa, santai aja, aku juga masih ada urusan sama temenku disini, jadi sekalian nungguin kamu," ucapnya.
"Oke, kalau gitu aku masuk kelas dulu ya, nanti ketemu di sini lagi," jawabku lalu berdiri dan pergi menuju kelas.
Kali ini pembelajaran berlangsung sedikit lebih lama, tadi aku mengatakan 2 jam, ternyata lewat dari waktunya. Aku segera melangkah keluar kelas karena takut Aryo sudah menungguku terlalalu lama.
Saat sampai di taman, aku sudah melihatnya duduk dan memainkan handphone nya, aku segera menghampirinya, "Maaf ya, ternyata lebih lama dari biasanya," kataku.
__ADS_1
"Tenang, aku juga baru nyampe kok," jawabnya diiringi senyuman.
"Maaf sekali lagi ya," sesalku.
"Iya, ya udah ayo berangkat sekarang," ujarnya dan mengandeng tanganku. Aku memandang tanganku yang dia pegang, ada rasa takut dan risih, karena tidak ada laki-laki yang menyentuhku selain Mas Adnan sebelumnya.
"Ar," panggilku.
"Iya kenapa," dia menoleh dan berhenti melangkah.
"Bisa lepasin tangan aku gak? Aku gak terbiasa," ucapku memelas.
Dia langsung melepas tanganku, "Maaf ya, ga sengaja tadi," ucapnya dengan rasa bersalah.
"Iya."
Kami menuju parkiran dimana motornya aryo di parkir, dia memberikanku helm lain yang dia taruh di jok motor, kemudian aku naik dan motor pun melaju.
Siang ini terasa begitu panas, selama perjalanan aku sama sekali tidak berpegangan kepadanya, aku duduk agak kebelakang, sama sekali tidak ada niat untuk dekat dengannya.
"Kita makan dulu ya, udah jam makan siang," katanya sedikit berteriak.
"Iya," jawabku dengan berteriak juga.
Aku tidak tau dia akan membawaku makan dimana, aku tidak bertanya lebih lanjut, makan di manapun tidak masalah menurutku.
Cafe ini lumayan besar, tempat parkirnya juga luas, saat sudah mendapatkan tempat parkir aku turun dari motor dan melepas helm yang aku pakai.
Aku melihat sekeliling parkiran, tiba-tiba pandanganku melihat sosok yang aku kenal, Celine. Dia berjalan ke arah mobil yang terparkir, dia tidak sendiri, dia sedang berjalan dengan seorang laki-laki, dan laki-laki tersebut memeluk pinggangnya!
Aku terus memperhatikannya, laki-laki itu membukakan pintu mobil untuknya, lalu berjalan menuju kemudi dan mobil pun melaju pergi. Untung saja dia tidak melihatku berada di tempat yang sama dengannya.
"Lihat apa," suara Aryo menyadarkanku dari acara memandangku.
"Enggak," jawabku.
"Ayo masuk," ajaknya. "Ini kafe langganan aku, semoga kamu suka sama menunya." Tambahnya.
Saat masuk, di dalam kafe begitu ramai, terlalu banyak orang, Aryo mengajakku untuk naik ke lantai atas, lantai dua ini masuk kategori outdoor, jadi bisa langsung memandang gedung-gedung tinggi dari atas sini, ketika menemukan tempat kosong kami segera menempatinya.
Setelah memesan makanan, kami berbincang-bincang selagi menunggu pesanan.
"Udah udah punya pacar atau deket sama seseorang," tanya Aryo.
"Enggak." jawabku singkat, aku sudah tau ke arah mana pembicaraan ini akan berjalan.
"Kalau gitu aku boleh daftar jadi pacar kamu gak," ucapnya lepas landas.
"Aku."
__ADS_1
"Aku... Aku ud..."
"Pesanan datang." Saat aku akan mengatakan kebenaran bahwa aku sudah menikah, pasti ada saja yang memotong perkataanku.
Setelah meletakkan makanan di meja, pelayan itu membungkuk dan pergi, "Makan dulu aja, ga perlu kamu jawab sekarang," ucapnya padaku.
Aku tidak menjawab atau merespon, aku mulai memakan makananku, makanan di sini memang lezat, selain lezat penyajiannya juga cepat walaupun banyak pengunjung, tidak salah Aryo menjadikannya tempat langganan, kapan-kapan aku akan mengajak Mas Adnan kesini.
Sedari tadi aku merasa ada yang memperhatikanku, saat aku mendongak Aryo sedang memperhatikanku, "Kok malah lihatin aku sih, dingin nanti pesananmu?"
"Iya ini mau makan kok," mendengar jawabannya aku menaikkaan kedua bahuku dan melanjutka makanku.
Beberapa menit kemudian makanan kami sudah habis, "Mau langsung ke toko buku, apa mau nongkrong di sini dulu?"
"Langsung ke toko buku aja," jawabku. Dia mengangguk dan kami pun turun menuju kasir, saat aku akan membayar sendiri pesananku, Aryo menolak, "Jangan, aku aja yang bayar."
"Ga usah, aku bayar sendiri aja, kesini udah nebeng kamu masa makannya juga kamu yang bayarin," ucapku.
"Ga papa, kali ini aku yang bayar, kapan-kapan kamu yang traktir," jawabnya terkekeh.
"Okelah, aku tunggu di parkiran ya."
"Iya." Setelah mendapatkan persetujuannya, aku melangkah keluar menuju parkiran. Saat sampai parkiran aku melihat kembali dimana mobil yang dinaiki Celine tadi terparkir.
Jika dilihat dari cara laki-laki itu memperlakukan Celine, sepertinya itu bukan temannya, mana ada teman laki-laki sampai merangkkul pinggang.
"Ayo," ternyata Aryo sudah berada di sampingku. Saat akan memakaikanku helm, aku menolak, "Aku bisa sendiri."
Dia hanya tersenyum tipis dan kami langsung menuju toko buku.
Tidak banyak membutuhkan waktu di dalam toko buku, benar yang aku harapkan, Aryo benar-benar membantuku mencari buku yang aku butuhkan.
"Rumah kamu di mana? Aku anterin sekalian ya?" ajaknya.
"Gak usah, aku naik bus aja, itu depan ada halte," jawabku menolak.
Dari ekspresinya sepertinya dia sedikit keberatan, tetapi lebih memilih tidak memaksa, "Ya udah deh, ayo aku anter sampe halte."
Aku menerima tawarannya kali ini, setelah sampai halte, dia tidak langsung pergi, tetapi menungguku sampai bus datang, beberapa saat kemudian bus datang, setelah aku naik, dia melambai kepadaku dan melaju pergi.
Butuh waktu hampir 45 menit menuju rumah, karena toko buku ini arahnya berlawanan dengan jalan pulang.
Halte tempat pemberhentianku cukup dekat dari rumah, cukup 5 menit berjalan sudah sampai rumah, saat aku memasuki rumah, di ruang tamu ada Celine dan laki-laki tadi?
Aku menghiraukan keberadaan mereka dan melangkah menuju kamar. Seharian ini Mas Adnan belum mengabariku sama sekali, mungkin dia benar-benar sibuk, tak apa aku akan menghubunginya nanti malam.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
__ADS_1