
Aku termenung di atas ranjang kamar. Setelah pulang dari rumah Ibu tadi aku segera bersih-bersih dan mandi. Aku masih memikirkan ucapan Ayah tadi. Benar-benar di luar dugaanku selama ini. Menangis pun sepertinya percuma.
Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Tetapi jika aku bisa lebih peka lagi harusnya aku tidak perlu kaget. Semuanya sudah terlihat, hanya aku saja yang selalu berusaha mengelak.
Di jalan tadi Mas Adnan terus menerus mendesak ku untuk mengatakan apa yang aku bicarakan dengan dengan Ayah. Dan seperti pesan Ayah sebelumnya aku menjawab dengan apa yang seperti dia perintahkan.
Walaupun sepertinya Mas Adnan terlihat tidak percaya, tetapi dia tidak bertanya lebih. Aku tidak menyangka Ayah akan berpihak kepadaku. Aku pikir selama ini dia tidak menyukaiku. Nyatanya dialah orang pertama yang mendukungku. Aku jadi merasa bersalah.
Aku jadi teringat Ayahku sendiri. Seseorang yang selalu mendukung apa yang aku lakukan. Tetapi tetap menegurku jika yang aku lakukan itu salah.
Mas Adnan sudah selesai mandi dan berjalan ke arah ranjang. "Udah malem yang, tidur gih," ucapnya.
"Iya ini mau tidur, nunggu kamu," jawabku dan tersenyum ke arahnya. Dia menaiki ranjang dan berbaring menyamping ke arahku. Memeluk perutku dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Aku mengelus rambutnya, "katanya mau tidur."
"Kamu percaya sama aku kan?" Tanyanya tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahi. Apakah dia mulai merasa?
"Percaya dong, masa sama suami sendiri gak percaya," jawabku dengan bumbu kebohongan. Aku sudah tau teka teki kenapa dia berbicara seperti itu.
Dia melepaskan pelukannya dan menghadap ke atas. Aku menunduk dan menatapnya. "Apapun yang aku lakuin nanti, aku mau kamu tetap di samping aku," ucapnya yakin.
Aku tersenyum mendengar perkataannya. "Iya," jawabku singkat.
"Udah ah ayo tidur, udah ngantuk aku," lanjut ku dan mengangkat kepalanya agar berpindah ke samping. Lalu aku menurunkan tubuhku dan berbaring menatap langit-langit kamar. Mas Adnan membawaku ke dalam pelukannya seperti biasanya, tetapi pelukannya terasa dingin.
Aku segera menutup kedua mataku, pura-pura tidur. Sebenarnya aku belum mengantuk karena jika aku sedang banyak pikiran maka aku akan sulit tidur.
Setelah tidak ada pergerakan di sampingku dan terdengar dengkuran halus aku membuka mataku perlahan. Melambaikan tanganku di depan wajahnya untuk mengecek apakah dia benar-benar sudah tidur atau belum. Setelah memastikan dia benar-benar sudah tidur, aku memandang lamat-lamat
wajahnya.
Wajah ini adalah wajah orang yang berhasil membuatku jatuh cinta dengan tingkahnya dulu. Wajah
yang selalu menatap garang orang-orang yang mencaci dan mencemooh ku. Tapi belakangan ini, wajah ini seperti bukan wajah orang yang aku kenal selama ini.
Cukup lama aku memandang wajahnya, dan karena aku belum mengantuk juga jadi aku dengan pelan melepaskan tangannya yang melingkar indah di pinggangku. Aku turun pelan dari atas ranjang dan berjalan ke arah sofa. Aku akan mengerjakan tugasku yang tertunda tadi sore.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, sudah satu jam aku mengerjakan tugas. Tinggal sedikit lagi selesai, mataku juga sudah terasa berat.
"Yang," suara Mas Adnan terdengar. Aku segera menoleh ke arahnya. Dia memandangku dengan mata
yang sedikit tertutup.
"Aku ngerjain tugas bentar Mas, udah hampir selesai kok. Kamu lanjut tidur aja," ucapku.
"Jangan lama-lama," pintanya dan membenarkan posisinya lalu tidur kembali.
Aku meregangkan tanganku badanku dan berdiri untuk tidur. Buku dan laptop biarkan tetap di situ, aku akan membereskannya besok pagi saja.
Di atas ranjang aku berbaring membelakangi Mas Adnan. Bukan apa-apa memang aku sedang tidak ingin di peluk olehnya.
...****************...
Seharian ini aku sangat sibuk di kampus, selain sibuk mengurus berkas-berkas magang aku juga di sibukkan dengan kegiatan sosial yang selalu dilakukan tiap bulannya.
Sebenarnya ini sudah dibagi beberapa anak setiap fakultas dan kali ini adalah bagianku untuk ikut. Jadi dari pagi sampai sore ini aku masih di kampus. Aku juga sudah meminta izin Mas Adnan jika aku akan pulang malam, mungkin dia akan tiba di rumah terlebih dahulu.
Benar-benar melelahkan, tetapi setidaknya dengan kesibukan yang aku lakukan sekarang, aku sedikit melupakan masalah yang ada.
Tidak hanya aku saja, ada beberapa teman satu kelompokku juga yang membantu.
Aku sedang menghubungi Mas Adnan apakah dia sudah pulang atau belum. Jika dia belum pulang aku akan memintanya menjemputku sekalian, dan jika dia sudah di rumah aku ingin memintanya menjemputku.
"Mas, kamu udah di rumah apa belum," tanyaku lewat sambungan telepon.
"Belum yang, masih ada rapat habis ini, ada apa?" jawabnya. Ada suara grusak grusuk di sebelahnya dan napasnya terdengar memburu.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, justru kembali bertanya. "Kamu lagi ngapain Mas."
"Ehghh. Kaki aku kesandung meja yang," jawabnya cepat. Tentu saja aku tidak mempercayainya. Setelah Ayah memberitahuku semuanya, sekarang aku sulit percaya dengan suamiku sendiri.
"Ya udah aku matiin ya," ucapku.
"Loh. Ya udah sampai jumpa di rumah sayang," ucapnya dan segera mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Aku tertawa keras mendengar jawabannya. Beberapa orang yang masih berada di kampus menatapku heran yang tiba-tiba tertawa keras. Mataku sedikit mengeluarkan air mata. Aku tidak memperdulikan orang-orang yang menatapku.
Aku segera memesan ojek online agar bisa segera pulang. 10 menit kemudian ojol yang aku pesan sudah datang. Malam ini jalanan tidak terlalu ramai jadi aku bisa sampai rumah dengan cepat.
Saat sudah mendekati rumah, dari kejauhan aku melihat lampu rumah sudah menyala terang. Aku mngeryitkan dahi, katanya Mas Adnan belum pulang, lalu kenapa semua lampu sudah menyala?
Aku meminta ojol yang mengantarku untuk menurunkanku sedikit jauh dari rumah. Aku segera membayar dan berjalan pelan menuju rumah. Saat sampai di depan rumah aku mengintip dari gerbang dan terlihat mobil Mas Adnan sudah berada di dalam garasi.
Jadi dia berbohong kepadaku? Aku dengan pelan membuka gerbang agar Mas Adnan tidak menyadari kehadiranku. Membuka pintu utama dengan pelan juga aku memasuki rumah, tidak ada siapa-siapa di ruang tamu, sepertinya Mas Adnan berada di kamar.
Aku berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum, tetapi saat melewati kamar tamu sayup-sayup aku mendengar suara orang sedang berbicara. Aku yang sangat penasaran segera mendekati pintu kamar tersebut.
Aku menempelkan telingaku di pintu, memang benar jika ada orang sedang berbicara. Aku menajamkan pendengaranku, itu suara perempuan dan laki-laki. Sayup-sayup juga terdengar erangan.
Aku menutup mulutku menggunakan tangan. Tetapi aku sama sekali tidak memiliki niat untuk membuka pintu ini.
Aku sudah tau siapa yang ada di dalam, walaupun tidak terlalu terdengar, tetapi aku tau suara siapa yang ada di dalam. Aku menegakkan tubuhku dan kembali berjalan pelan menuju kamar.
Kamar dalam keadaan kosong, tidak ada Mas Adnan di dalam. Seperti dugaanku sebelumnya. Aku terkekeh pelan dan segera mandi untuk mendinginkan pikiranku.
Baru saja keluar dari kamar mandi, pintu kamar terbuka, "Loh yang, udah pulang?" tanya Mas Adnan gugup.
"Iya," jawabku singkat.
"Kok aku ga denger suara kamu masuk?" tananya penasaran dan mendekatiku.
"Mungkin kamu lagi sibuk makanya gak denger," jawabku tetap tenang.
Mendengar aku menjawab dengan kata 'sibuk' dia sedikit tersentak, "Iya tadi aku di ruang kerja."
"Katanya belum pulang?" tanyaku.
Belum sempat dia menjawab sudah terdengar suara perempuan berteriak memanggil nama Mas Adnan dari bawah.
"Nannnnn!"
Mas Adnan tanpa mengucapkan sepatah kata segera berlari keluar kamar. Aku tertawa sumbang. Aku tidak berniat untuk mengikutinya, lebih baik aku tidur. Kita lihat sejauh mana dia akan terus seperti ini.
__ADS_1
Bersambung
See you on the next chap