
Nyatanya sampai sekarang aku masih belum bisa mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Ini sudah satu minggu berlalu. Setiap harinya aku tetap melakukan rutinitas seperti biasanya, hanya Mas Adnan yang masih bersifat dingin.
Aku sudah berulangkali mencoba mengajaknya berbicara, tetapi tidak pernah dapat respon yang baik. Dia tetap memakan masakan yang aku sajikan. Kita setiap malam juga tidur di atas ranjang yang sama. Tetapi ya begitu tidak ada pelukan saat tidur atau ciuman di pagi harinya.
Semuanya benar-benar berubah drastis. Aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi di dalam rumah tanggaku. Aku hanya ingin kita menjadi seperti dulu, kenapa sesulit itu? Harusnya tidak begitu sulit jika pihak satunya mau diajak bekerja sama, tetapi sangat sulit menurunkan ego Mas Adnan. Malam ini aku kembali bertekad untuk berbicara dengannya, pokoknya malam ini masalah ini harus selesai.
Membiarkan masalah rumah tangga berlarut larut hanya akan mendatangkan masalah yang lain. Hampir satu bulan ini aku tidak pernah 'disentuh' oleh suamiku sendiri. Itu juga yang membuatku tambah khawatir. Mas Adnan adalah tipe yang sulit menahan hasrat, lalu bagaimana dia bisa menahannya selama ini?
Pikiran pikiran buruk terus berdatangan, dan karena hal ini ketika kuliah aku sering tidak fokus dan berakhir di marahi oleh dosen. Pendidikan memang penting, tetapi posisiku sekarang adalah seorang istri yang sedang mencoba mempertahankan rumah tangganya. Bukankah itu jauh lebih penting?
Untunglah hari ini aku tidak perlu ke rumah David untuk menyiapkan makan siang. Tadi pagi dia mengabari ku jika dia ada kerjaan di luar kota, jadi dia akan menggantinya di lain hari.
Urusanku dengan David juga masih menjadi momok mengerikan untukku. Selain aku takut dia mengirimkan foto itu kepada Mas Adnan, aku juga takut jika Celine mengetahui tentang foto itu. Secara mereka adalah sepupu, bisa saja David lengah dan Celine tidak sengaja melihatnya.
...****************...
Aku sedang menyiapkan makan malam, sebentar lagi Mas Adnan pasti pulang. Sudah beberapa hari ini aku selalu memasakkan makanan kesukaannya. Suara deru mobil memasuki halaman rumah, aku bergegas keluar untuk menyambutnya.
Sampai depan pintu aku melihat dia sedang bertelepon dengan seseorang. Aku menunggunya untuk masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian handphonenya sudah di masukkan ke dalam kantong celana tanda telepon sudah selesai.
Aku mengeluarkan senyumku ketika sudah berhadapan dengannya, "mandi dulu ya Mas, makan malamnya belum matang," ucapku lembut. Dia hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar. Aku segera kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakanku.
30 menit kemudian masakan sudah tertata rapi di atas meja, Mas Adnan juga sudah duduk tenang di ruang makan. Di terlihat sedang melakukan sesuatu, jadi aku menepuk pundaknya pelan agar dia tersadar.
"Mas, ayo makan dulu," ajak ku. Setelahnya aku mengambil piring kosong di depannya dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Kemudian aku melakukan hal yang sama untuk piring kosong di hadapanku.
Makan malam terasa hening seperti sebelumnya. Mas Adnan segera berdiri setelah menyelesaikan makannya. Aku melirik kemana arah dia pergi, ternyata dia berjalan ke arah ruang tamu. Menyalakan televisi dan duduk tenang di atas sofa.
Aku segera membereskan piring-piring kotor ini agar aku bisa segera mengajaknya berbicara.
Semuanya sudah selesai, aku menarik napas panjang sebelum berjalan ke ruang tamu. Setelah mengumpulkan cukup keberanian aku memantapkan langkah kakiku.
"Mas," panggilku.
__ADS_1
Dia berdehem pelan. Aku semakin mendekatkan diriku ke arahnya. Berdiri di samping sofa yang dia duduki, mataku menatap lurus dirinya yang sedang fokus dengan berita yang tersaji di televisi.
"Ingat gak aku mau ngomong sesuatu sama kamu?" tanyaku membuka pembicaraan ini.
Dia mengangguk sebagai respon tetap tidak menoleh. Aku menarik napas pelan. "Maaf buat sikapku sebelumnya ya Mas."
"Aku kebawa emosi, harusnya aku lebih ngertiin kamu." Aku akan meminta maaf dulu kepadanya. Menenangkan dulu hati dan pikirannya agar aku bisa menanyakan terkait dia yang mulai berubah akhir akhir ini.
Dia mulai menolehkan kepalanya ke arahku, menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku harus lebih berusaha lagi agar tatapan dingin itu perlahan mencair.
"Aku sadar akan kesalahan yang udah aku lakuin, harusnya aku kembali ngertiin kamu. Harusnya aku ga pergi makan sama David. Harusnya aku nyampe rumah dulu sebelum kamu. Harusnya..." Aku sudah mulai sesenggukan. Sangat susah menahan air mata yang akan keluar.
Aku menundukkan kepalaku, air mata terus mengalir. Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Jika aku menyalahkannya kembali pasti semua ini tidak akan ada akhirnya.
Saat menunduk aku melihat sepasang tangan menggenggam tanganku. Aku mendongak, Mas Adnan menatapku dengan tatapan lembutnya. Dia sudah kembali. Aku bersorak di dalam hati. Tidak sia-sia aku melihat acting Celine selama ini. Dan ini berhasil.
Aku masih mengeluarkan air mataku, sebenarnya tadi aku bukan menangis karena meminta maaf, tetapi aku tiba-tiba teringat dosen yang mengusirku dari kelas kemarin saat kuis. Dan dosen itu mengancamku akan memberikan nilai E. Bagaimana aku tidak sedih jika mengingatnya.
"Maafin Mas juga ya, udah diemin kamu seminggu ini," ucapnya penuh penyesalan di dalam sorot matanya. "Kamu tau kan Mas ga suka kamu lama-lama sama dia," lanjutnya.
Aku mengangguk pelan. Dia membawaku ke dalam pelukannya, melingkarkan tangannya di pinggangku, tetapi aku tidak membalas pelukannya. Aku masih saja menangis, agar drama yang aku buat ini terlihat lebih nyata.
Setelah beberapa saat dia melepaskan pelukannya. Mengusap pipiku yang basah dengan ibu jarinya. "Udah jangan nangis lagi, udah bengkak ini mata kamu," ucapnya menenangkan ku.
Bukannya berhenti aku malah kembali menangis keras, "hei hei kenapa malah tambah kenceng," ujarnya panik. Aku juga tidak tau kenapa mengencangkan tangisanku.
"Cup cup, nanti cantiknya ilang kalau kebanyakan nangis," lanjutnya dengan jokes bapak-bapak. Aku memukul pelan pundaknya, dengan masih sesenggukan.
"Lain kali jangan di ulangi lagi ya," ucapnya dengan mengelus rambutku. "Aku juga ga bisa lama-lama diemin kamu."
"Terus kenapa kamu diem aja tiap aku ajak ngomong," balasku cemberut.
"Kamu tau kan kalau aku ini punya watak keras, susah buat aku nerima itu gitu aja," jawabnya.
__ADS_1
Perasaan dulu gak gini-gini amat, chat gak aku bales aja dia langsung samperin ke rumah, ucapku kembali di dalam hati.
"Iya," hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Dia tiba-tiba menyeringai, "sekarang kita kan udah baikan, aku mau minta jatah aku, udah lama kita gak main."
Aku melotot, "baru juga baikan udah minta jatah" protes ku.
"Kasian adik aku yang, udah lama gak masuk sarangnya," ucapnya dengan menaik turunkan alisnya.
"Siapa suruh diemin aku," sinis ku. "Nunggu seminggu kalau mau minta jatah," lanjut ku.
Dia megeryitkan dahinya," kalau bisa sekarang kenapa harus nunggu."
"Lagi ada tamu bulanan," jawabku. Bohong. Aku berbohong. Enak aja langsung minta jatah.
Dia hanya diam menatapku, tetapi tiba-tiba dia menggendongku seperti karung beras, dan membawaku menaiki tangga.
"Mas!" Pekikku. Aku kaget tentu saja tiba-tiba digendong seperti ini.
Aku memukul-mukul punggungnya. Dia tidak menjawab, dan terus melangkah menuju kamar.
Setelah berhasil membuka pintu dia berjalan ke arah ranjang dan melemparku begitu saja di atasnya.
"Jangan kira aku gak tau siklus kamu setiap bulan ya," ucapnya di iringi senyum miring.
Bagaimana aku bisa lupa akan hal ini. Dia memang tau siklus bulananku karena dia sendiri yang menyuruhku untuk memberitahunya, karena dia sering mengajak bermain dulu.
Pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.
Bersambung
See you on the next chap
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen