My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 7 - Akhirnya


__ADS_3

Merasa pipiku semakin memanas, aku segera mengenyahkan pikiran tersebut dan memutuskan untuk bersih-bersih dan mandi, badanku sudah terasa sangat lengket karena mengenakan pakaian pengantin yang sedikit berat membuatku cukup berkeringat.


Hampir 1 jam aku berada di dalam kamar mandi dan sekarang aku sudah berganti dengan baju tidur yang sudah tersedia. Setelah mandi badanku terasa lebih enteng, dan pikiranku menjadi lebih segar. Ketika sedang sibuk mengeringkan rambut aku mendengar suara pintu terbuka, dan ketika aku menoleh Mas Adnan masuk dan terlihat sangat kelelahan, tetapi dia masih menyempatkan untuk tersenyum kepadaku, "Udah selesai mandi ya?" Tanyanya dan melangkah mendekatiku.


Aku yang masih duduk dan memegang pengering rambut langsung berdiri dihadapannya, membantunya membuka jas yang dia kenakan, dan melepaskan dasi yang melekat indah di lehernya. Sekarang hanya tersisa kemeja putih yang melekat di tubuhnya.


"Aku mandi dulu ya, udah gerah banget," ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Lagi-lagi pikiranku terisi tentang malam pertama, akankah kita akan melakukannya malam ini? Sebenarnya aku belum siap, tapi siap atau tidak aku harus melakukannya karena ini adalah kewajiban seorang istri. Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun tentang hal itu, aku takut aku tidak bisa memuaskannya karena aku yang tidak tahu menahu apapun tentang itu.


Sibuk berperang dengan pikiranku sendiri, Mas Adnan sudah berdiri di sampingku dan juga sudah berganti dengan baju tidur, dan ternyata baju tidur kami couple, benar-benar kamar yang sudah disiapkan untuk pengantin baru.


"Kamu lagi mikirin apa sih sampe segitunya, aku panggil-panggil dari tadi sampe ga denger," tanyanya.


"Bukan apa-apa kok, cuma lagi mikir sekarang aku udah punya bayi gede yang harus aku urus," jawabku dan terkekeh.


Dia juga ikut terkekeh, "Iya sekarang ada bayi gede yang harus kamu urus, yang akan selalu bergantung sama kamu, jadi jangan pernah berpikir buat ninggalin bayi besar ini ya," pintanya.


"Mana mungkin aku ninggalin bayi gede dan imut ini," aku tertawa dan mencubit kedua pipinya. "Kamu kan tau aku cuma mau nikah sekali seumur hidup, kalo ga sama kamu sama siapa lagi," jelas ku.


Dia membawaku ke dalam pelukannya dan mengecup bibirku. Ini adalah pertama kalinya dia mengecup bibirku, dan ini adalah ciuman pertamaku, rasanya seperti tersengat aliran listrik, aku terkejut dan melotot, pipiku kembali terasa panas.


"Manis," ucapnya. Aku semakin merasa malu, lalu membenamkan wajahku ke dadanya, tinggi ku hanya sebatas dagunya, dan ketika aku berada di dalam dekapannya aku terasa begitu kecil dan tak berdaya.


"Sekarang ayo tidur, kamu pasti udah pengen cepet-cepet istirahat," ajaknya. Aku menatapnya kembali dan bertanya-tanya di dalam hati, apakah dia tidak akan melakukan itu? Bukankan dia sudah menahannya selama ini? Bukankah ini adalah saat yang tepat?


Sibuk berpikir sendiri aku memberanikan diri dan menekan rasa maluku, "Mm...kita...kita ga ngelakuin 'itu'?," tanyaku tergagap.

__ADS_1


"'Itu'?" tanyanya kemudian terdiam beberapa saat, dan seperti teringat sesuatu dia kembali berkata, "Oh, itu yang kamu maksud tuh 'itu'. Aku tau kamu kecapekan, kita bisa ngelakuin itu kapan aja kok, ga harus malam ini, sekarang kita istirahat dulu aja," ucapnya dan menuntunku ke arah ranjang, membantuku merebahkan diri kemudian ikut naik, membenarkan letak selimut dan membawaku kedalam pelukannya, meletakkan kepalaku di atas lengan kanannya, dan tangan kirinya di taruh di atas perutku.


Nyaman, itu yang aku rasakan, sejak orang tuaku meninggal, sudah tidak ada lagi yang memelukku saat tidur, dan sekarang aku sudah punya seseorang yang akan memelukku tiap malam. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan laki-laki sebaik Mas Adnan.


Kurasakan usapan di atas kepalaku, seketika aku mengantuk dan jatuh tertidur, sebelum benar-benar menutup mata aku merasakan basah di keningku, Mas Adnan kembali mencium ku, mengeratkan pelukannya dan aku pun masuk ke alam mimpi.


Semalam adalah malam di mana tidurku terasa begitu nyenyak, aku tidak terbangun sama sekali, mungkin karena aku yang sangat kelelahan ditambah pelukan yang di berikan Mas Adnan. Sekarang sudah pukul 8 pagi aku melihat suamiku yang masih terlelap, dengan pelan dan hati-hati aku melepaskan tangannya yang masih memelukku, kemudian aku turun dari ranjang dan memutuskan untuk mandi.


Keluar dari kamar mandi aku melihat Mas Adnan masih bergelung di dalam mimpi, aku berjalan pelan menuju sofa dan duduk dengan tenang. Memikirkan kembali awal mula kami bertemu sampai sekarang dia resmi menjadi suamiku, banyak sekali kenangan indah di dalamnya, karena dia selalu memperlakukanku dengan baik, jadi sangat jarang kami bertengkar, pertengkaran terbesar kami ya hanya saat sebelum pernikahan itu. Semoga setelah ini kami akan selalu diberikan kebahagiaan dan bisa hidup bersama sampai tua.


Tersadar dari lamunanku, aku menoleh ke arah ranjang dan terlihat Mas Adnan sudah bangun dan sedang menatapku, "kamu kok suka ngelamun sih?" Tanyanya.


Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, duduk di tepi ranjang, "ga tau," jawabku terkekeh.


"Naik sini yang," perintahnya.


Kelelahan akibat aktivitas itu, aku langsung tertidur, dan sekarang aku terbangun dan melihat jam di handphone sudah menunjukkan pukul 15.25 sore, Mas Adnan masih tertidur, seharian kami belum makan, jadi aku memutuskan untuk membangunkannya.


"Mas, bangun dulu." Panggilku. Tetapi dia tidak bergeming sama sekali, "Mas, Mas Adnan, bangun," panggilku kembali dan menepuk-nepuk pelan pipinya. Dia perlahan membuka matanya, dengan wajah khas bangun tidur yang sekarang menjadi favoritku.


"Ada apa?" Tanyanya, suaranya serak, suara khas bangun tidur.


"Aku laper," kataku cemberut.


"Uluh uluh, kesayangan aku laper ya, habis main seharian," ucapnya menggoda.


"Ini juga gara-gara kamu yang main ga ingat waktu, dari pagi juga belum makan, sekarang udah sore, ya pasti kelaparan lah," omel ku.

__ADS_1


"He he he, habisnya enak," dia nyengir. "Ini kan pertama kalinya buat kita yang, ya pasti aku semangat banget lah, maaf ya," katanya.


"Badanku rasanya mau rontok, pertama kali bukannya pelan-pelan malah semangat 45."


"Iya-iya, nanti pelan-pelan deh," katanya pelan.


"Ini aja masih sakit, udah pengen lagi."


"Maksudnya tuh nanti kalo udah kamu udah sembuh yang," kilahnya. "Ya udah ini aku telpon staff hotel dulu buat nganter makan kesini."


"Aku mau mandi, tapi susah mau berdiri, sakit banget," mataku mulai berkaca-kaca.


"Ya udah ayo aku gendong terus mandi bareng."


"Mandi aja loh ya, ga usah aneh-aneh," sungutku.


"Iya-iya mandi doang, ayo."


Setelah selesai memesan makanan, dia menggendongku memasuki kamar mandi, dengan masih sama-sama telanjang, saat mengingat aktivitas kami tadi, pipiku kembali memerah, dan aku menenggelamkan wajahku di perpotongan lehernya.


Selesai mandi, aku mendengar suara bel berbunyi, sepertinya itu pelayan yang mengantarkan makanan, karena aku masih berada di gendongannya, aku memintanya untuk menurunkan ku di atas sofa. Kemudian dia melangkah menuju pintu, membukanya dan pelayan masuk membawa satu troli yang berisi berbagai macam makanan serta minuman.


Setelah pelayan itu menata makanan beserta minuman di atas meja, dia pamit pergi. Kami pun mulai menikmati makanan itu, tanpa pembicaraan, efek kelaparan.


Bersambung


Maaf kalo kurang pas🥲 See you on the next chap🥰

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya


__ADS_2