
Terhitung sudah satu minggu sejak pertengkaran ku dengan Mas Adnan. Keesokan hari setelah perdebatan itu dia menghubungiku dan mengatakan bahwa dia harus pergi ke luar kota untuk menemui klien. Setidaknya selama satu minggu ini aku bisa menghindarinya, karena aku masih ragu untuk melanjutkan hubunganku dengannya atau mengakhirinya saja. Jika aku memilih untuk melanjutkan, bagaimana jika orang tuanya masih tidak bisa menerimanya? Atau jika aku memilih untuk mengakhirinya bagaimana dengan dia yang sudah terlanjur menyiapkan semuanya? Ketika sedang sibuk berpikir tiba-tiba ada suara panggilan masuk di handphone ku. Ketika ku lihat ternyata dari Mas Adnan, aku pun langsung mengangkatnya.
"Sayang," terdengar suara Mas Adnan dari seberang sana.
"Iya, ada apa Mas," jawabku.
"Aku cuma mau ngabarin, aku kayaknya ga jadi pulang hari ini. Ada sedikit masalah di sini," katanya.
"Oh iya gak papa."
"Andaikan ada yang bisa handle udah aku suruh orang buat gantiin, tapi ini harus aku sendiri yang turun tangan," nadanya terdengar sedih.
Sebenarnya tadi malam dia sudah menghubungiku, jika hari ini dia akan pulang. Dia berencana mengajakku jalan-jalan di pusat kota. Mungkin karena hal itu dia merasa bersalah.
"Tenang aja, kita masih bisa jalan-jalan setelah kamu selesai sama urusan kamu kan. Gak usah sedih gitu," hibur ku.
"Tapikan aku udah terlanjur janji sama kamu. Dan juga udah seminggu ini aku gak bisa lihat kamu."
"Kan biasanya juga kita Video Call, kamu masih bisa lihat aku kan?"
"Gak enak tau yang. Enak lihat langsung," dia mulai merengek.
"Kalo gitu cepat selesaikan urusan kamu, biar bisa ketemu langsung," jawabku.
"Ini juga lagi di usahain biar bisa cepat selesai. Kalau gitu aku balik kerja dulu ya, setelah denger suara kamu semangatku nambah" ucapnya.
"Iya, ada-ada aja kamu. Aku tunggu kamu pulang."
"Aku matiin ya, semangat juga kamu."
Setelah sambungan telepon mati, aku menghela napas panjang. Meskipun suaranya terdengar bersemangat, tetapi dalam nada bicaranya seperti menyimpan kecemasan. Aku adalah orang yang memiliki feeling tinggi, jadi aku bisa menebak jika ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di sana. Bukan tentang pekerjaan, tetapi hal yang lain. Semoga saja feeling ku kali ini salah.
Entah kenapa aku juga sulit untuk melepaskan Mas Adnan. Dia adalah satu-satunya laki-laki yang mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya ada beberapa laki-laki yang mendekatiku, tetapi tiba-tiba saja mereka menghilang setelah aku mengatakan bahwa aku adalah seorang kasir minimarket. Dan ketika Mas Adnan memintaku untuk menjadi kekasihnya, hal pertama yang aku tanyakan adalah mengapa dia ingin aku menjadi kekasihnya, dan jawabannya sangat sederhana. Karena aku adalah orang yang baik, dia belum pernah menemui perempuan sederhana sepertiku. Mungkin karena dia dari kalangan atas, jadi lingkupnya hanya seputar manusia-manusia sosialita.
Hari ini sebenarnya aku sedang libur karena memang jadwal liburku satu bulan sekali, jadi aku gunakan waktu luang ku untuk beberes dan bersantai. Setelah di pikir-pikir aku juga sudah jarang memasak mungkin habis ini aku akan pergi berbelanja dan memasak untuk makan siang dan malam. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, maka aku putuskan untuk mandi dan segera bersiap.
Setelah 15 menit bersiap, aku segera mengeluarkan sepedaku dan menutup pintu untuk keluar. Aku tidak pergi ke pasar karena jaraknya yang lumayan jauh dan aku sedikit malas, jadi aku memutuskan untuk berbelanja di dekat rumahku yang juga menyediakan berbagai macam sayuran juga.
Setelah mendapatkan semua yang aku butuhkan, aku mengayuh sepedaku kembali menuju rumah. Ketika hampir sampai di halaman rumah aku melihat ada mobil yang terparkir di jalanan depan rumahku. Aku tidak pernah melihat mobil itu sebelumya, walaupun sedikit penasaran tetapi aku memutuskan untuk menghiraukannya, mungkin itu mobil tamu tetangga sebelah yang di parkir tepat di depan rumahku.
Ketika aku memasuki halaman, dan memarkirkan sepedaku, aku mendengar seseorang seperti memanggilku.
"Hey kamu."
Aku segera menoleh, dan betapa kagetnya diriku ternyata yang memanggil adalah ibunya Mas Adnan. Mobil terparkir yang kupikir milik tamu tetangga ternyata adalah milik ibunya. Dalam keterkejutan aku mulai berpikir yang tidak-tidak, sepertinya kedatangannya saat ini bukanlah hal yang baik.
__ADS_1
"Iya, ada yang bisa saya bantu,?" tanyaku sopan.
"Darimana aja kamu, saya udah nunggu dari tadi," bentaknya.
"Saya habis belanja bahan masakan Bu, kebetulan bahan di rumah udah habis," jawabku mencoba tenang. "Silahkan masuk Bu, maaf rumah saya kecil," tambahku.
Aku segera membuka pintu dan mengajak Ibu Mas Adnan untuk masuk dan menyuruhnya duduk di kursi ruang tamu. Setelah duduk dia melihat sekeliling seperti mengamati apapun yang masuk dalam penglihatannya. Terlihat seperti menilai dan berdecak, "seperti dugaanku," katanya pelan. Tetapi aku masih bisa mendengarnya karena aku yang masih berdiri di sampingnya.
Aku seperti paham apa maksud dari perkataannya. Aku segera mengubah ekspresiku dan bertanya, "mau minum apa Bu, biar saya ambilkan."
"Ga perlu, palingan punyamu juga cuma air putih," tolaknya.
Selain air putih, sebenarnya aku juga punya kopi dan teh, dan masih ada sebotol jus jeruk kemasan yang aku bawa dari minimarket kemarin, tetapi karena dia sudah menolak ya sudah, tak perlu untuk menawari kembali. Orang kaya seperti itu mana mau minum di tempat orang miskin sepertiku.
"Ada keperluan apa ya Bu, sampai datang jauh-jauh ketempat orang miskin ini," tanyaku. Aku tidak perlu bertanya dari mana dia bisa tahu alamat rumahku. Orang kaya bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, termasuk mencari alamatku adalah hal yang kecil bagi mereka.
"Itu kamu nyadar kalo kamu miskin, kenapa masih tetep pacaran sama anak saya." jawabnya keras. "Harusnya dari awal itu kamu nolak waktu diajak pacaran sama anak saya, atau jangan-jangan kamu melet anak saya, makanya dia segitunya pengen nikahin kamu."
"Saya ga segila itu bu, saya juga sedari awal sudah sadar kalau saya gak pantes dapet anak ibu. Tetapi setiap hari anak ibu datang dan merusuh di tempat saya kerja. Dia berkata gak akan berhenti ngelakuin hal itu sampai saya nerima dia," kataku. Setelah jeda aku melanjutkan, "apalagi yang bisa saya lakukan selain menerimanya, saya juga merasa gak enak sama pembeli serta pemilik minimarket yang merasa terganggu karena ulah anak Ibu," jelas ku panjang lebar.
Di awal aku sudah mengatakan bahwa dia sangat gigih untuk mendapatkan ku kan, dan yang sebenarnya dia lakukan adalah datang ke minimarket setiap hari membuat gaduh tiap kali datang dan menggangguku ketika melayani pembeli. Jadi untuk menghentikan kegilaannya aku memutuskan untuk menerimanya.
"Alasan aja kamu, ga mungkin anak saya kayak gitu. Adnan itu berpendidikan tinggi, dari kecil udah diajarin agar berwibawa," ujarnya tidak terima.
"Adnan sering kesini?" Tanyanya lagi.
"Biasanya dia kesini pagi dan sore buat antar jemput saya tetapi sudah seminggu ini dia tidak datang karena sedang diluar kota, ibu pasti sudah tau kan?"
"Udah miskin, masih aja nyusahin anak orang. Dia a di rumah diperlakukan seperti pangeran di sini malah kamu jadiin babu buat antar jemput kamu. Emangnya kamu ga bisa pulang pergi sendiri apa?" bentaknya.
"Mas Adnan sendiri yang pengen antar jemput saya Bu, saya tidak pernah memaksa. Saya takut dia kembali melakukan hal aneh ketika saya menolaknya," jawabku halus.
"Haduh, heran saya. Emangnya apa sih yang dilihat anak saya dari kamu, cantik enggak, cuma lulus SMA, miskin pula," cibirnya.
"Mana saya tau, kenapa Ibu ga tanya anak Ibu sendiri," aku balik bertanya.
"Yang dia ceritain cuma kebaikan, kebaikan, kebaikan, yang kamu lakukan. Gak ada yang bisa di banggain lagi," jawabnya.
Mendengar jawabannya aku tidak terkejut. Mas Adnan sudah berkali-kali berkata dia bisa mencintaiku ya karena dari kebaikanku ini, padahal aku tidak merasa kalau aku ini orang baik.
"Kamu udah tau kan kalo Adnan ga jadi pulang hari ini?" Tanyanya.
"Iya bu, tadi Mas Adnan udah ngabarin saya," jawabku.
"Bilang apa dia sama kamu kenapa ga jadi pulang hari ini?"
__ADS_1
"Katanya ada masalah yang harus dia sendiri yang handle Bu," kataku.
"Dan kamu percaya sama apa yang dia katakan?" tanyanya lagi.
"Iya Bu, memangnya ada hal lain selain itu?"
"Sebenarnya saya males datang jauh-jauh ke tempat kecil kayak gini. Tpi karena saya udah gak tahan dan harus segera memberitahu kamu, saya putuskan buat datang." katanya.
Karena perkataanya ini, pikiranku mulai dipenuhi hal-hal buruk. Entah kenapa dari nada bicaranya sepertinya ini memang benar berita tidak mengenakkan.
"Memang benar dia seminggu ini keluar kota karena kerjaan, tetapi alasan dia ga jadi pulang hari ini bukan karena ada masalah yang harus dia handle, tetapi karena dia menemui anak dari rekan kerja Ayahnya yang rencananya mau dijodohin sama dia," jelasnya.
Walaupun sejak dia selesai menghubungiku tadi aku mencoba tetap berpikir positif, nyatanya feeling ku kembali terbukti benar bahwa ada sesuatu yang coba dia sembunyikan.
"Bukan karena dia anak satu-satunya dan semua yang dia inginkan harus terpenuhi. Bukan berarti saya ga bisa keras sama dia. Saya berharap semoga setelah dia bertemu dan ngobrol dengan perempuan itu dia berubah pikiran mau menikahinya dan meninggalkanmu,"
Rasa kecewa datang menyeruak ketika mendengar Mas Adnan bertemu perempuan lain, dan memilih berbohong kepadaku. Padahal jika dia jujur sejak awal aku mungkin tidak akan sekecewa ini.
"Cuma itu aja yang mau saya omongin sama kamu. Saya pergi dulu," katanya. Dia pun melangkah keluar dan segera masuk ke dalam mobil, ternyata ada sopir yang menunggu sejak tadi di dalam mobil. Aku yang sejak tadi mengikutinya keluar memutuskan untuk masuk dan membawa barang belanjaan yang masih berada di dalam keranjang sepeda.
Setelah mendengar berita itu, aku menjadi tidak mood untuk memasak. Aku hanya menata barang-barang belanjaanku, setelah itu menuju kamar.
Di dalam kamar, aku mengambil handphone ku dan mencoba menghubungi Mas Adnan. Panggilan pertama tidak terhubung, begitupun panggilan kedua, tepat ketika panggilan ketiga dia baru mengangkatnya.
"Ada apa yang, tumben telpon dulu, ini aku masih di tempat rapat," katanya.
"Cuma mau telpon aja, emang ga boleh?" tanyaku.
"Boleh kok boleh banget, tapi gak biasanya."
Ketika aku ingin bertanya, terdengar suara perempuan dari kejauhan memanggil namanya dengan suara manja.
"Nannnn...kamu teleponan sama siapa sih kok lama banget?" tanyanya.
Belum sempat mendengar Mas Adnan menjawab, aku segera mematikan sambungan telepon, tidak ingin mendengar lebih.
Handphone ku berdering tanda panggilan masuk, sudah dipastikan itu dari Mas Adnan. Aku memilih untuk mengabaikannya. Sampai dering kelima aku tidak mengangkatnya, setelah itu tidak terdengar lagi suara telepon, tetapi terdengar suara pesan masuk beruntun. Aku tidak berniat membukanya dan memilih untuk tidur.
Bersambung
Nyambung ga sih chap ini?🥲
See you on the next chap
Thanks buat yang udah baca🤩
__ADS_1