My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 36 - Lelah


__ADS_3

"Kesambet apa suami kamu," ucap David memecah keheningan di dalam mobil.


Itulah yang aku pikirkan sedari tadi. Aku juga tidak mengerti kenapa dia memberikan izin dengan begitu mudahnya. Semakin lama aku semakin sulit untuk memahaminya.


Aku menempelkan pipiku di kaca jendela mobil. Enggan menjawab pertanyaannya. Otakku penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang belum ada petunjuk jawabannya. Mengapa, kapan, bagaimana.


"Mau makan apa? Kamu belum makan kan?" tanya David mencoba mencairkan suasana.


"Kamu pernah makan di pinggir jalan gak?" tanyaku sembari menatapnya.


"P-p-ernah?" dia tergagap menjawab pertanyaanku, ekspresinya terlihat bingung.


Tak apa kan jika aku pergi makan di luar bersama laki-laki yang bukan suamiku? Toh aku juga tidak memiliki niat yang lain. Dan juga suamiku sedang bersenang-senang dengan orang lain kenapa aku tidak boleh?


"Dari lampu merah depan nanti belok kiri," ucapku memberinya arahan. Aku akan mengajaknya makan di salah satu tempat langganan favoritku. Bakso pinggir jalan. Aku tau dia belum pernah makan di tempat seperti itu, jadi untuk kali ini biarkan dia mencoba makan di pedagang kaki lima.


Setelah aku memberinya arahan dan petunjuk akhirnya kami sampai di tempat yang aku inginkan. Sedikit susah mencari tempat parkir mobil, tetapi beruntung masih ada satu tempat kosong yang tersedia.


Aku sudah bersiap untuk membuka pintu mobil. Tapi David kemudian bercelatuk, "Ini kita makan di pinggir jalan pakai baju kayak gini?" Aku mengernyitkan dahiku bingung. Memangnya kenapa dengan pakaian yang kita kenakan.


"Kenapa?" tanyaku.


"Masa makan di pinggir jalan pakai baju rapi kayak gini," ujarnya memperhatikan baju yang aku kenakan, dia juga menatap baju yang dia kenakan.


"Selagi bukan telanjang ga masalah kan?" jawabku kemudian membuka pintu mobil dan turun terlebih dahulu. Tanpa menunggunya aku segera menuju gerobak penjual bakso dan memesan seperti biasanya.


Ada yang menepuk pundakku pelan. Ketika aku lihat ternyata itu David yang sudah berada di belakangku. Aku sudah memesankan bakso yang sama denganku, jadi aku mengajaknya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


Sedari tadi aku hanya menatap kendaraan yang lewat. Menopang dagu menggunakan tangan kiri dan mengetuk ngetuk meja menggunakan tangan kanan. Aku sadar sedari tadi David terus saja memperhatikanku. Tetapi tidak ada hal yang ingin aku katakan, jadi aku diam.


"Padahal suami kamu bisa ajak kamu tadi," ucapnya pelan. "Jangan-jangan suami kamu udah bosen lagi sama kamu," tambahnya dengan nada gembira.


Aku meliriknya sekilas. Tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutku.


"Dahlah kamu cerai aja sama dia, terus nikah sama aku."


"Segampang itu ya kata cerai keluar dari mulut kamu," jawabku dan menegakkan tubuhnya, sembari menatap kedua matanya.


Dia juga menatapku dengan seksama. Ketika dia ingin mengucapkan sesuatu tiba-tiba bakso pesanan kami datang. Aku menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu.


"Aku kalau lagi sedih pasti dateng ke sini," ucapku sembari meniup kuah bakso yang masih panas.


"Kalau butuh temen curhat panggil aku aja," jawab David tanpa memandangku.


Aku tidak membalas perkataannya. Aku sibuk meniup dan menguyah bakso di hadapanku. Tetapi tetap saja pikiranku penuh dengan kejadian tadi.


Bahkan tadi Mas Adnan tidak mengajakku atau menawariku untuk ikut dia. Apakah dia mulai merasa malu karena kehadiranku? Jika begitu kenapa dia mengajakku ke sana.


Tak terasa mangkok di hadapanku sudah kosong, hanya tinggal kuahnya saja. David juga terlihat sudah selesai dengan makanannya.


"Vid," panggilku.


Dia mendongak. "Muter-muter dulu ya, jangan langsung pulang," pintaku.


Dia mengangguk sebagai tanda setuju. Aku suka jika dia waras begini. Setelah berkali-kali bertemu dengannya, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Tak seperti dulu yang aku akan langsung ketakutan.


Setelah membayar aku segera masuk ke dalam mobil. Tadi saat aku akan membayar David mencegahnya, dia berkata dia saja yang membayarnya.


Di dalam mobil tidak ada lagi percakapan. Aku juga tidak tau dia akan membawaku kemana. Kali ini aku menurut saja tanpa protes. Karena aku juga tidak tau ingin pergi kemana, dan aku juga malas untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Setelah lumayan lama berkendara David membelokkan mobilnya ke salah satu kafe yang ramai pengunjung. Tanpa bertanya aku mengikutinya turun dari mobil.


Sekarang sudah jam setengah sepuluh malam, tapi masih banyak muda mudi datang dan pergi. David mengajakku duduk di salah satu kursi depan panggung kecil yang ada di kafe. Sebelum aku masuk tadi sudah ada live band yang tampil.


Aku duduk berhadapan dengan David, "mau makan lagi gak? Atau mau minum aja,"


"Minum aja."


Dia mengangguk dan berdiri menuju meja barista untuk memesan. Tak butuh waktu lama dia kembali.


"Aku ke belakang bentar ya," pamitnya.


Aku mengangguk pelan. Di sini memang ramai dan banyak orang tetapi entah mengapa pikiranku tidak ada di sini. Pikiranku terus tertuju kepada Mas Adnan.


"Selamat malam, saya mau menyanyikan sebuah lagu untuk perempuan cantik yang duduk di depan saya."


Aku tersadar ketika mendengar suara laki-laki berbicara di mikrofon, setelah aku menoleh ternyata itu David yang sedang berdiri dengan memegang mikrofon di atas panggung. Dia terlihat sedang berbicara dengan anggota band yang lain.


Suara petikan gitar terdengar mengalun lembut.


There goes my heart beating


'Cause you are the reason


David mulai bernyanyi, tatapan matanya mengarah kepadaku.


I'm losing my sleep


Please come back now


Lirik demi lirik dia nyanyikan, tanpa melepaskan tatapannya dariku


And you are the reason


That I'm still breathing


I'm hopeless now


Aku juga menatapnya. Terkadang dia mengeluarkan senyumnya ketika bernyanyi. Tak ku sangka ternyata suaranya merdu ketika bernyanyi.


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


Lagu ini seperti curahan isi hatinya selama ini.


There goes my hands shaking


And you are the reason


My heart keeps bleeding

__ADS_1


I need you now


Keadaan kafe yang tadi ramai akan suara pengunjung tiba-tiba terasa sunyi, hanya suara nyanyian David yang terdengar. Semuanya terlihat sedang menikmati lagu yang dinyanyikan olehnya.


And if I could turn back the clock


I'd make sure the light defeated the dark


I'd spend every hour, of every day


Keeping you safe


Tak terasa satu lagu penuh sudah dia nyanyikan. Suara tepuk tangan terdengar begitu meriah. Aku juga ikut bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi untuknya.


David menaruh mikrofon di tempat semula kemudian turun dari panggung dan menghampiriku. "Suka gak sama lagunya?" tanyanya.


"Iya," jawabku pelan.


"Jangan sedih lagi ya," ucapnya sembari memegang kedua tanganku. Entah kenapa aku tidak menarik tanganku seperti biasanya. Aku membiarkannya begitu saja.


Kami cukup lama mengobrol, sebenarnya hanya dia yang sedari tadi berceloteh. Aku terkadang menanggapi ucapnya terkadang tidak.


Sekarang sudah pukul 11 malam, sudah banyak pengunjung yang pulang karena sebentar lagi kafe


akan tutup. Aku dan David juga sudah beranjak menuju parkiran. Sudah saatnya aku pulang. Untuk saat ini setidaknya pikiranku tak sepenuh tadi.


Tak terasa mobil sudah berhenti di depan rumahku. Aku segera turun dan berpamitan dan berterima kasih kepada David yang sudah mau mengantarku pulang dan membantuku sedikit melupakan kejadian tadi.


Di garasi sudah ada mobil Mas Adnan yang terparkir rapi. Aku segera memasuki rumah ketika David sudah melajukan mobilnya.


Saat membuka pintu terlihat Mas Adnan sedang duduk di sofa dengan menunduk. Dia menoleh ke arahku. "Kamu dari mana aja?"


"Makan," jawabku singkat. Aku hendak menuju tangga untuk segera bersih-bersih dan tidur.


"Sampai jam segini?" tanyanya lagi.


"Iya."


"Aku izinin kamu pulang sama dia bukan berarti kamu bisa jalan bareng dia seenaknya kayak gini," suaranya mulai meninggi.


Aku menoleh dan menaruh atensi ku penuh ke arahnya, "setidaknya dia masih ingat kalau aku belum makan, ga kayak seseorang yang lupain istrinya gitu aja demi sebuah kesenangan," jawabku santai.


Ekspresi wajahnya mulai berubah, "siapa yang lupa? Aku udah bilang kalau aku ada acara sama staff kan?"


Aku tidak menjawab ucapnya, dan segera menaiki tangga. Hatiku masih terasa gondok jika mengingat hal tadi.


"Kenapa gak jawab. Atau kamu emang seneng bisa berduaan sama laki-laki itu."


"Kalau seneng terus kenapa?" jawabku menantang.


Kali ini dia terlihat begitu marah. "Kalau kamu bisa seneng-seneng sama yang lain kenapa aku gak boleh?" ujarku.


Dia terlihat akan menjawab tetapi aku kembali menyela, "udahlah gak penting juga, aku capek mau tidur."


Aku melanjutkan langkahku yang tertunda. Sudah tidak ada yang ingin aku katakan. Biarkan jika nanti dia akan marah untuk sekarang aku sudah merasa lelah.


Bersambung


Maaf kalau kurang nyambung

__ADS_1


see you on the next chap


__ADS_2