
Seminggu sudah berlalu kembali, sekarang aku sedang bersiap untuk pergi ke kampus untuk pertama kalinya, kata Mas Adnan hari ini sudah bisa lansung ikut pembelajaran, meskipun dulunya aku tidak begitu bodoh dan berhasil mempertahankan beasiswa selama 3 tahun berturut-turut, sekarang rasanya aku sedikit cemas, mungkin karena sudah bertahun-tahun aku tidak mengasah otakku kembali, dan aku tidak tau menahu bagaimana kehidupan di bangku perkuliahan itu.
"Udah siap kan yang, ayo turun sarapan, terus berangkat," ajak Mas Adnan, aku hanya mengangguk menanggapi ajakannya. Hari ini aku tidak membantu para pelayan memasak dan bersih-bersih terlebih dahulu, karena sedari bangun, aku sudah dilanda rasa cemas, takut dan bahagia secara bersamaan, jadi untuk kali ini aku akan melewatkan runitinasku tersebut.
Hari ini hanya ada Ayah, Mas Adnan dan aku yang sarapan bersama, ibu semalam pergi ke rumah saudaranya, dan sampai pagi ini belum kembali, mungkin sedang ada urusan penting. Setidaknya di hari pertama aku kuliah ini aku terbebas dari cibiran ibu, karena sedari awal ibu yang tidak menyetujuinya.
Sarapan berjalan dengan lancar seperti biasanya, Ayah sepertinya tidak pergi ke kantor hari ini, karena jika biasanya dia sarapan sudah dengan mengenakan pakaian kerja lengkap, tetapi hari ini dia hanya mengenakan pakaian rumahan biasa.
Sekarang aku sudah di dalam mobil untuk menuju kampus di antar Mas Adnan, kemarin aku sudah dapat daftar mata perkuliahan dan jamnya, dan 30 menit lagi adalah jam pertama untuk mata kuliah hari ini dan itu berjalan selama 2 jam.
"Mas, aku kok ga ikut tes ini itu dulu ya," tanyaku kepada Mas Adnan yang sedang fokus menyetir, aku sebenarnya sangat penasaran sedari dia mengatakan sudah mendaftarkanku di salah satu kampus ternama, dia dengan begitu mudahnya memasukkanku tanpa syarat ini itu, benar-benar mulus.
"Ga perlu yang, semuanya udah aku urus sampai tuntas, kamu tinggl duduk manis aja di kelas," jawabnya kelewat santai.
"Kamu punya kenalan di sana ya? Jangan suka gunain kekuasaan kamu kayak gitu dong Mas, aku kan makin ngerasa ga enak," ucapku pelan. "Aku masih mampu kok kalo harus ngelewatin tes atau apa itu" tambahku.
"Kalau ada cara yang lebih mudah ngapain harus susah-susah sih yang, kamu jangan lupa dong suami kamu ini siapa," jawabnya.
"Iya aku ga lupa kamu siapa Mas, tapi bukan berarti kamu bisa gunain koneksi kamu seenaknya gitu."
"Apa sih yang, ini kan cuma hal kecil," ucapnya sedikit meninggi.
"Hal kecil bagi kamu, tapi buat aku ini adalah hal besar," jawabku dingin, aku tidak lagi menatapnya, aku menyenderkan kepalaku di kaca jendela mobil, menatap jalanan yang sedang ramai pagi ini.
Mas Adnan tidak menjawab lagi, mungkin dia sudah menyadari kesalahannya. Setelah bermacet-macetan akhirnya aku sampai kampus. Setelah mobil berhenti di parkiran, aku membuka pintu mobil untuk keluar, sebelum sepenuhnya menutup pintu aku berpamitan kepadanya, walaupun aku masih agak kesal, tetapi aku tidak akan lupa akan kewajibanku .
"Aku masuk dulu ya mas, hati-hati dijalan."
"Iya, kalau udah selesai kelasnya kabarin aku, nanti aku jemput lagi," ucapnya.
"Iya Mas." setelah mengatakan itu aku menutup pintu mobil dan setelahnya mobil itu berlalu pergi. Aku menatap sekitaran parkiran dan melihat banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang, aku segera beranjak dan mencari kelas yang akan aku tempati.
Setelah aku masuk, terlihat sudah ada beberapa orang di dalamnya, bangku depan masih kosong dan aku memutuskan untuk duduk di sana. Sedari dulu aku lebih suka duduk di depan lebih nyaman saja menurutku.
Mahasiswa dan Mahasiswi lain mulai memasuki kelas, dan selang beberapa menit kemudian dosen masuk dan mata kuliah pun di mulai.
2 jam berlalu dengan begitu cepat, aku begitu bersemangat mengikuti mata kuliah ini, walaupun dulu yang aku baca adalah buku-buku tentang psikolog, entah kenapa saat ini aku merasa begitu tertarik dengan ilmu yang baru aku dapatkan kali ini.
Sekarang aku sedang duduk di taman depan fakultasku, menunggu Mas Adnan yang mungkin sudah berada di jalan untuk menjemputku, tadi aku sudah mengabarinya jika aku sudah selesai, dan dia menjawab akan segera menjemputku karena dia sedang tidak sibuk. Hari ini aku hanya ada satu mata kuliah saja, jadi aku bisa langsung pulang setelah ini. Saat sedang asik memainkan handphone tiba-tiba ada yang berbicara di sampingku, suara seorang laki-laki.
"Mahasiswi baru ya?" tanyanya padaku. Aku mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku kok ga lihat kamu pas ospek ya," tanyanya padaku lagi. Aku yang bingung bagaimana menjawabnya hanya menjawab asal, "Iya pas ospek aku lagi di rawat di rumah sakit, jadi ga bisa ikut."
"Oh gitu, boleh duduk disini juga gak."
"Iya boleh, silahkan," kemudian laki-laki itu duduk di depanku.
"Kenalin, nama aku Aryo mahasiswa semester akhir dari fakultas manajemen bisnis," ujarnya dan menyodorkan tangannya padaku untuk berjabat tangan.
Aku yang sedikit kaget karena perkenalan tiba-tiba ini segera menanggapi uluran tangannya. "Nama aku Raline, mahasiswi baru dari fakultas majanemen bisnis juga."
"Wah ternyata kita satu fakultas ya, kalau gitu kita bakal sering ketemu nih," jawabnya dan tersenyum ke arahku.
"Iya... kak?" aku masih bingung akan memanggilnya apa, tapi dia adalah katingku di sini jadi aku harus memanggilnya begitu bukan?
"Senyamannya kamu aja mau manggil gimana, nama aja juga ga papa," lagi-lagi dia tersenyum. "By the way umur kamu berapa," tanyanya lagi.
"Aku 20 tahun kak."
"Wah berarti kita seumuran dong, kalau gitu ga perlu pakai embel-emble kak segala," kali ini dia tertawa.
"I-Iya Ar," jawabku masih membiasakan diri.
"Berarti kamu berdiam diri selama 3 tahun ini dong?"
"Wah keren juga ya, udah bisa nyari uang sendiri, dan aku masih jadi beban keluarga," jawabnya dan tertawa kembali. Aku tidak ikut tertawa karena menurutku tidak ada yang lucu.
"Kamu lagi nunggu apa? Ada kelas lagi?"
"Enggak, aku lagi nung---" saat akan melanjutkan perkataanku tiba-tiba handphoneku berdering tanda panggilan masuk, panggilan dari Mas Adnan.
Aku pun segera menjawabnya, "Iya Mas? Udah nyampe ya?"
"Iya aku udah diparkiran kayak tadi pagi ya yang," jawabnya di seberang sana."
"Ya udah aku kesana sekarang," jawabku dan mematikan sambungan telepon.
Aku segera memberesi buku-buku dan membenahi pakaianku yang kusut karena duduk. Aryo sedari tadi terus memperhatikanku. Aku menoleh ke arahnya, "Aku pergi dulu ya Ar udah ditunggu."
"Iya hati-hati di jalan, semoga besok kita ketemu lagi," ucapnya. Aku megangguk pelan dan berlalu pergi meninggalkannya untuk menyusul Mas Adnan di parkiran.
Sesampainya di parkiran aku mendekati mobilnya dan membuka pintunya, saat sudah berada di dalam mobil aku menatapnya, "Udah nunggu lama ya Mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Enggak kok, aku juga baru nyampe terus telpon kamu tadi," jawabnya. "Deketan sini deh yang," pintanya.
Aku mencondongkan ubuhku ke arahnya, "Ada apa?" Tanyaku penasaran.
Kedua mata kita bertemu dia kemudian mengecup bibirku dan **********. Setelah tautan bibir kami terpisah dia berkata pelan, "Maafin aku tadi pagi udah emosi sama kamu ya."
"Iya ga papa Mas, aku juga minta maaf karena udah ngambek sama kamu," jawabku dan menatapnya dengan tatapan teduh.
"Aku tau aku salah karena udah pake orang dalem buat masukin kamu kesana, tapi semua ini aku lakukan demi kebaikan kamu, aku ga mau kamu terlalu capek atau repot." ucapnya sambi mengelus tanganku
"Iya Mas, sekarang aku paham maksud kamu kok."
"Kamu mau jalan-jalan dulu apa langsung pulang?" Tanyanya padaku.
"Langsung pulang aja deh Mas, kamu pasti mau balik ke kantor lagi kan, kita bisa jalan kalau kamu udah libur," jawabku. Aku tau dia sedang sibuk di kantor, aku juga tau dia sedang berbohong kepadaku ketika dia mengatakan dia sedang tidak sibuk, dia memang seperti itu sedari dulu.
"Ya udah deh, langsung pulang ya."
Aku berdehem dan kembali ke posisi yang benar, kemudian mobil melaju kembali membelah padatnya kota.
Ketika sampai di rumah aku melihat ada mobil asing yang terparkir di depan rumah. Aku segera turun dari mobil dan menyuruh Mas Adnan untuk berhati-hati di jalan, setelah kepergiannya aku langsung masuk kedalam rumah.
Saat melewati ruang tamu, terlihat ada sepasang paruh baya seumuran Ayah dan Ibu, kelihatannya Ayah dan Ibu sedang memiliki tamu. Saat aku akan naik ke atas tangga, terdengar seseorang berbicara, "Oh ini toh istrinya Adnan, ga ada seperempatnya Celine." ucapnya dengan dengusan.
Aku tidak jadi menaiki tangga dan menoleh ke arah sumber suara tadi, memperhatikan orang tersebut dengan tatapan bertanya-tanya. Ibu menyauti suara wanita itu, "Iya jeng, ga tau pelet apa yang dia gunain sampai Adnan bertekuk lutut sama dia."
Sampai kapan ibu menganggap bahwa aku menggunakan pelet untuk anaknya, jelas-jelas Mas Adnan yang duluan terpikat padaku.
Aku tidak mengenal wanita itu, tetapi sepertinya wanita itu mengenal Celine sebagai seseorang yang dulunya akan dijodohkan dengan Mas Adnan. Tiba-tiba ada suara perempuan dari arah dapur, "Keluyuran aja kamu babu, ga inget kerjaan di rumah numpuk, aku sampai bikin minum sendiri," ucapnya sarkas dengan membawa satu nampa berisi minuman di atasnya, prempuan itu adalah Celine.
"Aku ga keluyuran kok, aku baru pulang dari kampus," jawabku.
"Halah, babu aja sok-sokan kuliah, habis-habisin uangnya Adnan aja,"cibirnya.
"Iya bener tuh Cel, udah tante bilangin kalau dia ga pantes kuliah, eh dia masih ngotot aja, bener-bener pinter memanfaatkan keadaan," jawab ibu sarkas.
Aku yang tidak ingin mendengar lebih perkataan mereka memutuskan untuk melanjutkan langkahku menuju kamar, percuma saja jika aku membela diri, mereka malah akan semakin mengolok-olok ku, lebih baik aku diam seperti biasanya.
Saat sampai di tangga teratas aku sayup-sayup masih mendengar mereka membicarakanku dan mencibirku, sebetulnya yang benar-benar mencibirku hanyalaha Ibu mertuaku, Celine dan wanita itu yang sepertinya adalah ibunya Celine, para laki-laki sama sekali tidak perduli.
Aku tidak memperdulikannya lagi dan melangkah menuju kamar, cibiran dan cemoohan itu sudah menjadi makananku sehari-hari, jadi tidak ada lagi rasa sakit hati saat kata-kata jahat itu keluar dari mulut mereka.
__ADS_1
Bersambung
Semoga suka😉