My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 27 - Supermarket


__ADS_3

"Cuma ini aja yang," Mas Adnan menatap isi troli yang sedang dia dorong berisi berbagai macam sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu, serta kebutuhan dapur yang lainnya.


"Iya, kayaknya cukup ini aja dulu," jawabku yang masih memilih-milih daging. Mas Adnan sedari tadi mengekori ku dari belakang.


Setelah mendapatkan daging yang aku inginkan, aku menyuruh Mas Adnan untuk mengantri terlebih dahulu di kasir. Karena siang ini supermarket sedang ramai jadi antrian di kasir juga panjang.


Aku tadi lupa mengambil roti tawar, jadi selagi Mas Adnan mengambil antrian, aku akan ke tempat roti terlebih dahulu.


"Heh," seru orang di belakangku.


Saat aku menoleh ternyata itu Ibu, sepertinya Ibu juga sedang berbelanja terlihat dia juga sedang mendorong troli belanjaan.


"Enak ya sekarang bisa pergi-pergi belanja habisin uang Adnan," cibir Ibu. Baru satu hari tidak bertemu dia langsung mencibirku, sepertinya jika dia tidak mencibirku sehari saja bibirnya akan gatal.


"Aku sama Mas Adnan kok Bu," jawabku sopan.


"Semenjak dia nikah sama kamu sekarang dia sering bolos di kantor, dulu pas belum nikah dia ga pernah tuh bolos dari kantor sama sekali, entah kenapa kayaknya kamu bikin pengaruh buruk buat dia," sinis Ibu.


Sabar, sabar dan sabar. Kata-kata itu terus menerus aku rapalkan di dalam hati.


"Ini kemauan Mas Adnan sendiri Bu, aku ga pernah minta apalagi nyuruh dia buat ga berangkat ke kantor," jawabku.


"Ngomong aja emang kamu nyuruh dia buat nganter kamu kan? Makannya dia sampe ga berangkat kerja," lanjutnya.


Aku menghela napas jengah dan berjalan meninggalkan Ibu begitu saja, jika aku meladeninya dia akan berbicara lebih jauh lagi, apalagi sekarang kita sedang berada di tempat umum. Aku sudah melihat sekitar sedari tadi, takut jika ada yang mendengar percakapan kami.


Tetapi baru beberapa langkah tanganku sudah di cekal Ibu dengan keras, roti yang aku bawa jatuh begitu saja, "Dasar perempuan ga tau di untung!" teriak Ibu.


Aku membalikkan badanku dan menatap Ibu yang wajahnya memerah karena amarah, harusnya percakapan ini selesai begitu saja, tetapi dia malah berteriak dan membuat orang sekitar yang tadinya sibuk berbelanja menghentikan aktivitasnya dan melihat kami seperti sedang melihat live drama.


"Bu," peringat ku.


"Apa! Mau ngelawan kamu, sama mertua ga ada sopan santunnya sedikit pun," serunya.


Banyak orang-orang mulai mendekat dan mengarahkan kamera handphone nya ke arah kami berdua, aku sudah merasa malu sekali.


"Bu, malu Bu, dilihatin banyak orang, ini bisa kita bicarain di rumah," ucapku pelan dan berusaha menarik tangan Ibu.

__ADS_1


"Ga usah pegang-pegang!" teriak Ibu kembali.


Aku mundur beberapa langkah, mataku sudah memerah siap untuk menumpahkan air mata, baru kali ini aku di permalukan dengan begitu hebatnya, biasanya Ibu hanya akan mencibirku saat di rumah, tetapi kali ini dia dengan berani melakukannya di depan banyak orang.


"Biar semua orang tau kalau kamu itu cuma orang miskin yang bisanya cuma morotin laki-laki," ujar Ibu keras. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku, semakin banyak orang yang mengerubungi kami, aku langsung menerobos kerumunan begitu saja, melupakan rotiku yang terjatuh, tujuanku saat ini hanyalah rumah.


Aku sudah sampai luar supermarket, orang-orang yang aku lewati menatapku heran karena aku berlari dengan berderai air mata, aku menghentikan taksi yang lewat dan mengarahkannya untuk menuju rumah.


Handphone ku berdering sedari tadi, itu sepertinya dari Mas Adnan, aku mengambil handphone ku dari dalam tas dan mengangkat telponnya.


Baru saja aku menekan tombol hijau suaranya sudah terdengar, "kamu di mana yang, ini aku udah mau bayar," ucapnya dari seberang sana.


"Maaf ya Mas, aku tiba-tiba gak enak badan, jadi aku pulang dulu naik taksi," jawabku parau.


"Suara kamu kenapa? Ya udah, habis bayar ini aku langsung pulang." Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung saja mematikan panggilan telepon.


Tak butuh waktu lama, aku turun dari taksi tak lupa membayarnya juga, aku langsung masuk menuju rumah dan masuk ke dalam kamar. Melepaskan sepatu dan tas dan menaiki ranjang.


Aku menutup seluruh tubuhku menggunakan selimut, air mata kembali turun, tetapi segera aku usap dengan kedua tanganku, takut jika nanti Mas Adnan curiga.


Sekitar 20 menit kemudian pintu kamar terbuka, itu pasti Mas Adnan. Aku memejamkan mataku dan pura-pura tidur.


Setelah mengecek ku dia mengecup keningku dan pergi ke luar kamar, aku tidak tau apa yang dia lakukan, aku menyamakan posisiku dan akhirnya tertidur.


Aku membuka mataku perlahan, saat melihat jam kecil di atas meja samping ranjang, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, lama juga aku tertidur, mungkin karena habis menangis itulah yang menyebabkan aku tertidur dengan nyenyak.


Aku memutuskan untuk mandi selagi Mas Adnan tidak ada di kamar, aku harus segera membersihkan diriku agar mataku tidak terlihat sembab.


Selesai mandi saat aku mengaca, mataku terlihat masih bengkak, ini pasti efek karena sehabis menangis aku langsung tidur.


Pintu kamar kembali terbuka, "Yang," panggil Mas Adnan dan mendekatiku yang sedang duduk di meja rias.


"Maaf ya Mas, udah ninggalin kamu sendiri tadi." Aku membalikkan badanku dan mendongak untuk menatapnya.


Dia mengusap pipiku, "ini mata kamu kenapa bengkak gini," tanyanya panik.


"Ga papa kok, tadi kepalaku sakit banget, ga tahan sampe nangis deh," ucapku melas.

__ADS_1


"Kenapa ga istirahat lagi aja, ayo tiduran lagi," ajak Mas Adnan memegang tanganku agar berdiri.


"Tadi sampai rumah aku langsung minum obat kok, ini udah mendingan," jawabku. Sekarang aku ingin menangis kembali, rasa bersalah menyeruak, sudah berapa kali aku berbohong kepada suamiku sendiri?


Jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku takut jika Mas Adnan akan mendatangi Ibu dan memarahinya, jadi lebih baik aku merahasiakannya. Dan juga, jika aku mengatakan yang sebenarnya, Ibu pasti akan semakin membenciku.


"Mau makan malem apa Mas, aku masakin," tanyaku kepada Mas Adnan yang masih dalam posisi berdiri.


"Pesan aja ya yang, kamu lagi sakit gini," jawabnya dengan suara teduh.


"Aku masih bisa kok, sayang banget udah belanja banyak masa gak di masak?" Ucapku.


Dia mengelus pipiku, "kan bisa di masak nanti pas kamu udah bener-bener sembuh."


"Masak simpel aja ya," pintaku dengan tatapan memelas.


"Ya udah aku bantuin ya," katanya. Aku mengangguk dengan senyuman, setidaknya dia percaya dengan apa yang aku katakan, dan dia akan melupakannya begitu saja, walaupun aku yang akan selalu terbayang-bayang kejadian tadi, tapi tak apa dari pada aku memperburuk hubungan Ibu dan anak.


Sampai dapur, ternyata semua barang belanjaan tadi sudah di bereskan oleh Mas Adnan. "Harusnya tadi kamu nunggu aku buat beresin ini Mas," kataku dengan nada bersalah.


"Aku tau kalau kamu ga enak badan, jadi aku beresin aja tadi, biar kamu ga kerepotan," jawabnya.


Sekarang aku akan memasak nasi terlebih dahulu, setelah mencuci beras dan memasukkannya ke dalam rice cooker aku berganti membuka kulkas untuk mencari bahan masakan yang simpel.


Saat membuka kulkas aku melihat ayam semalam masih ada, jadi aku mengeluarkannya, mungkin aku akan makan ini lagi dan memasak sayur agar lebih seimbang.


"Mas, tolong masukin ayamnya ke Air Fryer, aku mau masak sayurnya dulu," pintaku pada Mas Adnan yang sedari tadi hanya menatapku.


Dia mengiyakan permintaanku, aku segera memotong sayur yang akan aku masak, aku hanya akan memasak sayur pakcoy yang sangat simpel.


Semuanya sudah matang, aku meminta Mas Adnan untuk membawa semuanya ke meja makan, aku membawa piring bersih dan juga gelas berisi jus.


Kami pun mulai menikmati makan, menangis menguras tenaga, jadi aku akan makan banyak malam ini.


Bersambung


See you on the next chap 🥰

__ADS_1


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa like dan komen 🤩


__ADS_2