My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 9 : Sick


__ADS_3

Tidak terasa dua minggu sudah Krystal pura-pura jadi pembantu di rumah Kaisar dan selama itu, ia tidak pernah ketahuan, selama dua minggu ini Kaisar tidak pernah menyuruhnya berbelanja keperluan apapun.


Semuanya masih cukup, apalagi Kaisar jarang makan di rumah.


Tapi hari ini sepertinya akan mendebarkan.


"Belanja keperluan mingguan, di area apartment ini ada pusat perbelanjaan, kamu tahu kan? Ada supermarket juga disana, gunakan uang ini dengan baik."


Kaisar menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Krystal yang membeku.


"Kenapa diam saja? Ambil! Oya, beli ikan di pasar saja, lebih segar, kamu bisa kan memilih?"


Pertanyaan Kaisar semakin membuatnya merasa kaku, "Keluar? Ke pasar?!" batinnya terkejut.


Kesal dengan sikap aneh pembantunya, Kaisar menarik tangan kanan Krystal dan meletakkan uang itu pada genggaman tangan lentik Krystal.


"Apa harus saya? Pak? Eh, tuan?"


"Terus siapa? Aku?! Yang majikan itu aku atau kamu?! Sudahlah, lakukan tugasmu, aku harus segera bekerja."


Dan disinilah, Krystal ada di dalam supermarket dengan masker menutupi wajahnya, jangan lupa hoodie untuk menutupi kepalanya.


"Semoga gak ketemu orang suruhan, papa." harapnya sambil mengambil beberapa merk penyedap rasa dan kecap manis.


Aman, sekarang ia tinggal pergi ke pasar, "Hadeh, seumur-umur baru kali ini ke pasar." ocehnya, saat baru turun dari motor si ojol yang ia pesan tadi.


Krystal berjalan berjinjit melewati jalan yang becek di area perikanan.


"Ya Tuhan, aku sangat tidak suka sandalku basah." gumamnya sambil menatap sandalnya yang basah apalagi sekarang ia bisa mencium bau amis, Krystal sangat sensitif terhadap bau amis, ia bahkan tidak suka makan ikan.


Krystal menuju tempat penjual udang dan cumi, "Bu, udangnya satu kilo berapa?" tanyanya pada penjual udang yang tengah melayani pembeli lain.


"Delapan puluh ribu, neng! Dijamin segar, besar-besar juga nih." jawab si ibu-ibu dengan semangat.


"Oke deh mau satu kilo, cuminya juga satu kilo." putusnya tanpa menawar, Krystal mana tahu cara menawar harga di pasar.


"Lho? Asisten rumah tangganya, Kaisar kan?" sapa seseorang dengan dress panjang sebawah lutut bermotif floral yang membuat gadis di depan Krystal itu nampak anggun.


Warna kuning pastel sangat cocok dengan watak lembut yang gadis itu miliki.


"Eh? Nona?"


"Kebetulan sekali bertemu disini, gak usah formal gitu, panggil mbak aja kaya waktu itu." kata Liora.


"Eh? Nggak enak dong kalau begitu."


"Nggak papa, kamu di suruh belanja ya sama Kaisar? Kaisar itu emang suka banget seafood, dan harus yang segar, ini aja aku belanja aku mau masakin buat dia, terus aku bawain ke kantornya." jelas Liora bercerita tanpa ragu.


"Kalian romantis ya." sahut Krystal basa-basi, sebenarnya ia tidak begitu tertarik dengan percintaan majikannya.


Liora cuma tersenyum hambar, karena kenyataannya yang romantis dan manis cuma dia, Kaisar ?


Ya, sekedarnya saja.


Disisi lain, gadis lugu yang seharusnya bekerja di penthouse Kaisar, sekarang malah jadi asisten rumah tangga di tempat Maxime.


Gadis polos yang selalu menangkap kelakuan bejat majikannya yang sering kali membawa perempuan yang berbeda-beda setiap harinya.


Terkadang bercumbu di ruang tamu, terkadang di ambang pintu, bahkan majikan tampannya itu masih sempat-sempatnya menggodanya, seperti sekarang ini.


"Bulan, nama kamu cantik, secantik orangnya." rayu Maxime saat Bulan menyajikan sarapan pria itu.


Bulan tidak menampik bahwa ia terpesona dengan ketampanan majikannya, tapi ia gadis bermoral meski dari kampung.


Ia tidak suka dengan pria seperti Maxime yang mudah mempermainkan wanita.


"Ada yang di butuhkan lagi, Tuan?"


"Mungkin, kamu?" jawab Maxime ngawur.


"Kalau begitu, saya akan kembali ke dapur." sahutnya sopan.


Maxime tersenyum remeh melihat tubuh seksi yang di balut baju kampungan itu menjauh darinya.


"Sampai kapan kamu menahan diri dari pesonaku, heh?"


Maxime suka mempermainkan wanita, melihat semburat merah di pipi setiap wanita yang ia rayu, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan.


Menyadari tatapan mendamba dari para wanita murahan yang ia sewa, juga seolah jadi kebanggaan.


Tapi itu bagi Maxime, kalau bagi Kaisar, cinta bukan yang utama, menjadi sukses seperti papanya dan membuat kedua orangtuanya bangga adalah tujuannya.


"Ishar, fokus, mama bangga kok sama kamu, sekarang mama cuma mau kamu cepat nikah sama Liora. Itu aja, bisnis kalau gak fokus jalaninya juga berantakan lho." saran Akira, lalu meletakkan beberapa lauk di atas piring sang putra yang mampir untuk makan siang.


"Nih ya, dulu papa aja fokus sama satu perusahaan kok, baru setelahnya papa mengambil alih perusahaan yang di warisi sama kakek, tapi sekarang itu juga di urus sama om Farel kan?"


Akira mencoba membuat putranya mengerti, bahwa tidak perlulah terllau berambisi, apalagi di usia ini, putranya sudah harus menikah.


"Mama gak ngerti, aku tuh gak merasa becus kalau kaya gini." sahut Kaisar yang mulai makan makanannya.


Masakan mama memang selalu menjadi yang terbaik.


"Ck! Lihat itu, muka kamu pucat, kamu sakit kan? Telat makan, kurang tidur, kurangin rokok, jangan kira mama gak tahu ya." omel Akira, yang membuat Kaisar sedikit kaget.


Oke, tenang mamanya cuma tahu dia merokok, bukan yang lainnya.


Kalau mamanya tahu dia pernah menyewa wanita malam, bisa habis di gebukin.


Nakal dikit, nyewa saja, tidak pakai. Haha


"Nggak, aku gak sakit." kilahnya lalu terus makan dengan lahap bahkan menambah cumi sambel ijo kesukaannya.


"Bagi dong!" celetuk Samudra, yang sepertinya baru pulang dari kantor papanya.


"Mentang-mentang yaa, kesayangan mama masakan mama di habisin semua." kata pria manis itu pura-pura merajuk yang di tanggapi ekspresi jijik oleh Kaisar.


"Semua kesayangan mama kok." kata Akira santai.


"Aku paling di sayang mama kan tapi ya maa..."


Sara berlari menghampiri mama dan kedua kakak laki-lakinya.


"Lha, nih bocah." Samudera memutar bola matanya malas, bukannya tidak suka tapi ia kesal dengan Sara yang terlalu aktif dan pintar, rusuh baginya.


"Ish, Abang Sam kok disini sih, gak suka aku gak suka." oceh bocah berusia 9 tahun itu.


"Lo pikir gue suka ada lo disini hah?"


"Harusnya yang pindah Samud aja, Abang Kai dirumah aja." oceh gadis itu, Kaisar hanya terkekeh mendengarnya. Sedangkan, Samudera melotot mendengar panggilan jelek yang di cetuskan Sara padanya.


"Hush! Sam, jangan gue-elo sama Sara." tegur Akira, Sara yang tahu kakaknya di tegur sang mama malah memeletkan lidahnya jahil pada Samudra.

__ADS_1


Samudera hanya bersungut-sungut sambil menerima piring yang sudah di isi nasi dan lauk oleh Akira.


"Sam... Sam udah tua masih suka ribut sama bocil." ejek Kaisar.


"Bocil ini adek gue, kakak adek ribut wajar." sahut Samudra, tangannya bergerak untuk menjahili adiknya tapi....


"Samud!" tegur Akira, membuat Kaisar ngakak mendengar panggilan yang paling adiknya benci itu.


"Kok mama panggil aku Samud, sih?!"


"Ya gapapa, nama kamu emang Samud kan? Samudra?"


"Jelek banget, Ma!"


"Heh! Yang kasih nama gitu juga papa kamu, kalau denger papa kena semprot mau?"


"Ya... gak Samud juga, udah bagus Sam!" protes Samudera yang kini jadi mengaduk nasinya acak, karena merasa dia sudah jadi bahan ejekan sekarang.


"Cie, Samud..." ledek Kaisar.


"Diem lo, gue kasih tahu mama nih, kalau___mmphhh!"


Tiba-tiba Kaisar membekap mulut adiknya, yang membuat Akira heran.


"Kalian ada rahasia apa?!" tanya Akira dengan tegas.


"Nggak, gak ada Ma, emang Samud tuh suka ngarang, kaya mama gak paham aja." jelas Kaisar, lalu melepaskan bekapannya karena Sam menggigit tangannya.


"Jijik! Bekas ludah sama gigi lo, anj__"


"Kaisar, Samud!" peringat Akira dengan galak, karena hampir saja Kaisar mengucapkan kalimat haram di depan anak bungsunya yang masih bocil.


Kaisar dan Samudra sampai berjengit kaget karena bentakan galak dari mama mereka.


Ya, sedingin-dinginnya Kaisar dan sekeren-kerennya Samudra di luar sana, mereka tetaplah anak-anak saat campur jadi satu bersama keluarga.


Keluarga yang harmonis memang mengasyikkan ya...


...****************...


Liora mendesah pasrah saat datang ke kantor Kaisar, ternyata tunangannya tidak ada.


Gadis itu berinsiatif untuk membawa hasil masakannya ke penthouse pria itu saja, mungkin Kaisar bisa memakannya saat di rumah.


Krystal merasa merdeka, sebab aksi Liora membuatnya tak perlu masak makan malam hari ini. Ia akan memanaskan makanan itu saat tuannya sampai rumah nanti.


Krystal rebahan dengan pikirannya yang melayang pada keluarganya, "Maaf ya semuanya, pasti kalian khawatir dan kecewa tapi aku gak mau nikah sama Darren. Disha pasti bakal patah hati." ujarnya lirih sambil memandangi langit-langit kamar.


Krystal tahu, meski Disha bersikap biasa saja, ia tahu kakaknya itu suka pada Darren yang adalah anak dari sepupu ayah mereka.


"Ck! Bosen juga ya, bisa-bisanya aku nyasar jadi pembantu." keluhnya.


Saat sedang asyik mengeluh, Kaisar pulang, pria itu pulang saat waktu masih jam tiga menjelang sore.


"Nggak biasanya." batin Krystal sambil mengintip lewat pintu kamarnya.


Nampak, Kaisar terlihat lemas, lesu juga pucat sepertinya.


"Apa dia sakit?" batin Krystal, namun enggan menghampiri Kaisar.


Pukul enam sore, Krystal yang sudah mandi bergegas untuk memanaskan masakan yang Liora bawakan dan segera ia sajikan di meja makan, sekarang ia tinggal memanggil Kaisar untuk makan.


Tok Tok


Krystal mengetuk pintu itu hati-hati, namun tidak ada jawaban.


Tok Tok


Sekali lagi ia mengetuk namun tidak ada sahutan atau reaksi apapun.


"Apa dia pergi ya?" gumamnya kecil.


"Tuan, makan malam? Saya sudah panaskan makanan yang Mba Liora kasih." terangnya, tapi percuma saja, Kaisar sedang tertidur nyenyak.


Iseng, Krystal membuka sedikit pintu kamar itu dan mengintip, hingga nampak Kaisar yang tidur dengan gelagat yang tidak tenang.


Krystal mau tidak perduli tapi, lenguhan pria itu membuatnya penasaran dan menyentuh keningnya yang terasa begitu panas.


"Tuan? Sakit?" tanyanya yang tentu takkan di jawab oleh Kaisar.


Krystal mengguncang pelan tubuh pria itu agar mau bangun, "Tuan? Bangun dulu, makan saya akan cari obat penurun demam."


Mata Kaisar terbuka perlahan menangkap sosok Krystal samar-samar, "Ma.." gumamnya pelan, namun karena pusing yang luar biasa ia memilih untuk memejamkan kembali matanya, rasanya matanya tak kuat menerima cahaya lampu di kamarnya.


"Apa separah ini sampai dia halu, aku mamanya? Duh... tapi suhu badannya memang panas banget sih, aku harus gimana ini." gerutunya cemas, kedua ibu jarinya bertautan dan tangannya saling meremas, Krystal tidak cukup berpengalaman merawat orang sakit, tapi dia tahu sih apa yang harus dilakukan, namun ia ragu.


"Mama, panas..." gumam Kaisar lagi, yang membuat Krystal jadi kebingungan.


Ia cuma dapat ide untuk mengambil air dan kain untuk mengompres majikannya itu.


Awalnya, Krystal ragu tapi, di rumah ini cuma ada dia saja, kalau terjadi apa-apa pada Kaisar bisa-bisa dirinya yang di salahkan bukan?


Dengan telaten, Krystal mengompres dahi Kaisar sampai di rasa panasnya mulai sedikit turun, ia mencari cara bagaimana untuk menghubungi keluarga pria itu.


"Nomor keluarganya aja gak punya, nomor pacarnya apalagi." gerutunya, sambil menilik Kaisar yang sudah tenang dan tidak mengigau seperti tadi.


Di tengah kebingungannya, ia melihat ponsel Kaisar di nakas yang ada pada sebelah tempat tidur.


"Maaf ya majikan, ini demi anda juga kok." ucapnya pelan, lalu membuka ponsel Kaisar yang ternyata tidak di kunci.


Dengan lincah tangannya mencari nomor telepon ibunya.


Ma, aku sakit tolong temani aku


Ketik gadis itu, seolah-olah dirinya adalah Kaisar.


Tak lama muncul notifikasi balasan.


Tuh kan, kamu ngeyel banget sih kan tadi mama bilang kamu pucat banget, yaudah mama ke penthouse kamu sekarang!


Bunyi pesan itu, tanpa disadari, Krystal tersenyum tipis membaca balasan Akira.


"Jadi ingat mama, yang suka cerewet kalau aku sakit, hihi. Kangen mama..." ucapnya sedih.


Merasa bahwa mungkin sebentar lagi Akira datang, Krystal memilih untuk pergi sekalian mengembalikan baskom dan kain kompres ke belakang.


Namun, saat ia melepas kain basah yang melekat di kening Kaisar, "Jangan pergi, temani aku." gumam Kaisar dalam keadaan masih terpejam.


Kalau cuma bergumam tidak masalah, masalahnya ini tangannya di cekal oleh tangan panas majikannya.


"Kayanya tadi demamnya udah lumayan turun, kok tangannya masih panas gini. Duh gimana ya?"

__ADS_1


"Tuan?" panggilnya seraya menepuk-nepuk kecil pipi majikannya.


"Bangun, kita ke dokter, atau setidaknya bangunlah untuk minum obat." ucapnya.


Krystal merasa lega saat mata itu perlahan terbuka lagi, "Ma?"


Mendadak, Kaisar memeluk pinggang Krystal yang duduk di bibir ranjang, "Pak! Eh, Tuan?!" pekik Krystal kaget.


"Saya Krystal, bukan mama anda!"


Mendengar pekikan itu, Kaisar membuka paksa matanya lebar-lebar, tangannya menutupi matanya yang merasa silau pada cahaya.


"Matikan lampunya, Ma! Aku gak kuat." rengek Kaisar.


"Tuan, saya bukan mama anda." ujar Krystal sembari mematikan lampu kamar.


Kaisar mencoba menata kesadarannya, mencerna apa yang ia dengar.


"Sadar, sebentar lagi mama anda akan kemari." ucap Krystal yang perlahan-lahan membangkitkan kinerja otaknya.


"Mama? Ya Tuhan, aku lupa kalau sekarang tinggal sendirian cuma bersama asisten rumah tangga ini." rutuknya dalam hati.


"Maaf." ucapnya kikuk, untung lampu dalam keadaan mati, kalau tidak ia sudah tidak tahu mau di taruh mana muka tampannya ini.


Merengek seperti anak kecil di depan pembantunya dan entah apa yang sudah ia lakukan selama tidak sadar tadi.


"Kaisar bodoh!" rutuknya dalam hati lagi.


"Tuan, apa tuan menyimpan obat? Bisa beri tahu aku dimana anda menyimpannya?" tanya Krystal langsung.


"Suhu tubuh anda tinggi sekali tadi." lanjutnya mengoceh.


"Buka laci itu!" tunjuk Kaisar pada sebuah laci di dekat pintu kamarnya.


"Ada obat pusing disitu, ambilkan air minum juga!" titahnya.


"Tapi kan, anda demam bukan pusing? Oh ya, itu di nakas ada air minum." tunjuk Krystal pada segelas air minum yang memang selalu di siapkan oleh Kaisar disana.


"Ambilkan saja apa susahnya? Kepala ku juga pusing!"


"Kalau izinkan saya hidupkan lampunya sebentar saja, saya tidak bisa melihat apapun kalau begini caranya." protes Krystal.


"Nggak! Bisa makin pusing kepalaku!" hardik Kaisar dengan susah payah, tenaganya seolah tidak ada, tubuhnya sangat lemas.


"Sakit aja masih bisa galak." cibir Krystal.


"Ngomong apa kamu?!"


"Haish! Kenapa dia bisa dengar?" ucap Krystal dalam hati sambil meraba-raba tempat dimana obat itu disimpan.


"Nggak, saya gak ngomong apa-apa bapak sakit banget ya sampai halusinasi gitu?" jawab Krystal yang cukup membuat Kaisar meradang, cuma tenaganya tidak cukup untuk mengomel sekarang.


"Saya bukan bapak kamu." sahut Kaisar kesal, cuma itu balasan yang bisa ia ucapkan untuk saat ini.


"Tuan mau ke dokter?"


"Saya gak suka ke dokter dan ya bisa jangan banyak bertanya, hah?! Awas aja kalau mengoceh sekali lagi." ancam Kaisar, yang sepertinya menurun dari sifat Farid.


"Iya-iya, ini obatnya Tuan muda, aduh!" pekikan itu terdengar tepat saat Krystal merasa kakinya menyandung sesuatu.


Brukk


"Akhh!" pekik Kaisar saat tubuh semampai pembantunya itu jatuh di atas tubuhnya yang lemas, menimpa perutnya dan bahkan dagu gadis itu menyantuk rahangnya.


"Maaf, tuan maaf saya gak sengaja." ujar Krystal panik, ia berusaha bangkit sesegera mungkin.


"Arghh! Bodoh!" umpat Kaisar, sebab Krystal bangkit tapi menggunakan perutnya sebagai tumpuan, kalau ia sehat perut sixpack nya itu tidak akan masalah di tekan bobot tubuh Krystal yang tak seberapa.


Tapi sekarang ia sedang tidak ada tenaga.


"Ya Tuhan, maaf tuan maaf." ucap Krystal lagi, "Saya lupa kalau tuan sedang lemah."


Kali ini, Krystal mengganti tumpuan pada kasur, namun "Aduh!" gantian Krystal yang mengaduh.


"Kayanya rambut saya kesangkut di kancing piyama anda deh." ucapnya tak enak, posisinya sekarang sangat tidak sopan dan bukannya segera pergi, ia malah belum bisa pergi dari posisinya.


"Merepotkan!" ketus Kaisar, Krystal berusaha melepaskan rambutnya yang tersangkut itu.


Dalam remang cahaya dari luar kamar, wajah Krystal nampak berbeda.


Lebih cantik dari yang biasanya.


Entah kenapa dalam benak Kaisar saat ini, Krystal nampak indah di terpa remang cahaya lampu dari luar kamarnya.


"Tck! Bukannya bantuin, ini orang malah bengong!" batin Krystal kesal, posisinya yang seakan bersandar di dada majikanya itu sangat tidak menguntungkan.


"Kamu bisa diam tidak? Jangan terlalu banyak bergerak." ujar Kaisar mengusir pikiran anehnya.


"Makanya bantuin lepas rambut saya dong, ini sakit."


Bukan apa-apa, Krystal yang banyak bergerak di atas tubuhnya itu takut akan mengusik area sensitifnya, bagaimana kalau...


Arghh! Sudah-sudah.


Brett


"Aww!" pekik Krystal nyaring, "Gak punya perasaan banget sih!" bentaknya tanpa sadar, lalu dengan kasar bangkit dari tempat ia terjerumus tadi.


"Daripada kelamaan." sahut Kaisar dingin, Krystal menatap tak percaya pada majikannya yang baru saja melepas paksa rambutnya dari kancing bajunya.


"Tega banget, ini sakit." lirih Krystal yang seperti mau menangis.


Hah! Ingat kan?


Krystal itu anak manja dan seorang tuan putri,bukan tidak mungkin ia akan menangis hanya karena rambutnya rontok karena di lepas paksa oleh Kaisar.


"Hey kamu menangis? Cengeng sekali!" kata Kaisar ketus, yang membuat Krystal makin mewek dibuatnya.


Pelan-pelan, Kaisar bergerak menghidupkan lampu kembali dan melihat Krystal dengan mata memerah dan seperti menahan tangis.


"Sudahlah, aku minta maaf. Sakit? Tapi sekarang yang lebih sakit itu aku."


Krystal tak menjawab dan memilih pergi dari kamar itu tanpa sepatah katapun.


Kaisar mendesah kasar dan menjatuhkan tubuhnya lagi di atas kasur.


Sebenarnya ia tak berniat menyakiti, cuma posisi tadi, dimana Krystal bergerak di atasnya dengan bagian sensitif gadis itu menempel dengan apik di perutnya, belum lagi napas mereka begitu dekat.


Di tambah lagi, adegan itu membangkitkan ingatannya tentang mimpi kotornya di siang bolong beberapa waktu yang lalu, jika tidak segera di singkirkan bisa di pastikan bibir pucatnya itu sudah menangkap bibir ranum Krystal saat itu juga.


Jujur aku bingung, maaf ya kalau membosankan.

__ADS_1


__ADS_2