My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 36 : Pendekatan


__ADS_3

Akhirnya, setelah mendapatkan persetujuan dokter, Kaisar sudah di pindahkan ke ruang perawatan.


"Sejak kapan kamu mabuk hah?!" omel Akira sambil mengupas buah apel di sebelah Kaisar yang masih berekspresi datar.


"Tanya sama Maxime, atau gak tuh tanya dia!" kata Kaisar sambil tersenyum licik ke arah adiknya.


"Apa? Kenapa aku?!" kejut Sam yang tengah bersantai dengan ponselnya.


"Kalian ini ya?!" sewot Akira memelototi kedua anaknya bergantian, kemudian ia tak segan menjewer telinga anaknya.


"Duh, Ma! Anak masih sakit juga." protesnya.


"Umur bentar lagi sudah kepala tiga, bukannya makin baik kelakuannya malah yang enggak-enggak aja!"


"Kepala aku masih satu, Ma. Kalau tiga ngeri dong, emang mama mau punya anak kepalanya tiga?"


"Ishar!" pekik Akira sambil kembali menjewer Kaisar, yang mengundang kekehan geli dari Sam.


"Sejak ketemu gadis itu kelakuan kamu di luar nalar!" ketus Akira yang langsung mengubah suasana hatinya, ia jadi ingat saat itu ia akan menemui gadis itu untuk memberikan kepastian.


Kaisar terdiam dan Samudra juga terhenti dari aktifitasnya.


"Permisi!" terdengar suara lembut yang nampak akrab di telinga Sam.


Kemudian, dari pintu yang terbuka muncul seorang dokter cantik.


Dokter itu tersenyum ramah sambil mendekat ke arah Kaisar.


"Dokter Darren sedang ada kesibukan, jadi hari ini cukup saya yang cek ya." kata Disha yang membuat Samudra terpana.


'Jodoh memang gak akan kemana-mana.' batinnya percaya diri.


Akira juga tak kalah kagum dengan Samudra, pikirnya gadis ini punya aura yang lembut bak malaikat.


Sedangkan Kaisar yang di periksa malah berpikir keras, ia seperti akrab dengan nama dokter yang di sebutkan Disha.


"Dokter Darren, memang siapa dok?"


"Dokter Darren itu, dokter yang menangani anda, cuma karena beliau ada kesibukan saya yang di tugaskan untuk memeriksa keadaan anda hari ini, saya cuma dokter koas sih." katanya sopan, Kaisar cuma mengangguk mengerti.


Mau bertanya lebih banyak tapi tidak baik melibatkan orang lain dalam urusan pribadi kan.


"Bersihkan liurmu itu!" ledek Kaisar, saat melihat adiknya terus menatap ke arah Disha bahkan saat pintu sudah tertutup rapat.


"Apaan sih, Bang!"


"Ciye, salah tingkah. Lo suka ya sama dokter tadi." tuduh Kaisar yang semakin membuat Sam salah tingkah dengan pipi yang memerah.


Akira turut menertawai ekspresi Samudra yang jarang-jarang ia lihat.

__ADS_1


Besoknya, ketika Samudra menjenguk Kaisar, ia pergi ke kantin rumah sakit berharap selama perjalanan itu ia akan bertemu dengan Disha dan benar saja ia menemukan Disha di paling ujung dengan seorang temannya.


"Hai!" sapanya yang membuat Disha terkejut, karena yang menyapanya itu bagi Disha orang asing yang tak ia kenal.


Samudra dengan senyum percaya diri dan dengan jus alpukat di tangannya.


Disha tersenyum kikuk, tapi Samudera tetap percaya diri demi perjuangannya untuk tahu nama gadis itu.


"Kita bertemu lagi, kamu ingat aku?"


Disha ingat kok, cuma rasanya gengsi saja untuk jawab ya!


Dia mengangguk samar dengan senyum yang benar-benar bisa membuat Samudra merasa banyak ombak berdeburan di hatinya.


Nala menyenggol lengan Disha seolah bertanya siapa pria itu, Disha memberikan kode melalu matanya untuk jangan bertanya sekarang.


"Boleh aku gabung?"


"Oh, boleh silahkan, Mas." katanya sopan, kemudian Samudra, mendudukkan dirinya di sebrang Disha dan Nala.


"Sepertinya kita seumuran ya? Nama kamu siapa?" tanya Sam to the poin.


Disha merasa kikuk sejenak. Disaat itu juga kebetulan makanan pesanan Samudra datang.


'Lha, kok pede amat langsung nanya nama aku.' batinnya.


"Nama aku ya?"


"Emm, aku Disha."


"Disha?" ulang Sam, ia seperti pernah mendengar nama itu, tapi dari siapa ya?


Sudahlah tak penting.


"Emm, ada apa?"


"Oh, tidak. Kalau gitu kenalin, aku Samudra." kata Samudra dengan senyum cerahnya, dasarnya Disha pendiam, ia hanya mengangguk dan tersenyum lembut, kemudian mereka makan dalam meja yang sama, Nala melirik keduanya bergantian ketika keduanya sibuk makan.


Ia tahu bahwa pria itu pasti tertarik pada Disha, sudah bukan hal yang aneh kalau ada pria yang tertarik pada Disha, itu sudah biasa.


Nala, bahkan pernah di titipkan coklat dan bunga dari laki-laki untuk Disha.


Pendekatan Samudera, tidak sampai disitu saja, setelah makan siang ia bahkan ikut dengan Disha jalan bersama kembali ke ruangan Kaisar.


Paling tidak mereka melewati arah yang sama dalam waktu yang lama, lumayan kan pendekatan.


"Sha, duluan aja, gue mau ke toilet." kata Nala beralasan, ia cuma ingin memberikan ruang untuk dua manusia itu, tidak enak juga jadi orang ketiga.


Jujur, sebagai orang pendiam Disha sangat bingung di situasi ini dan ia tak tahu cara memulai obrolan.

__ADS_1


"Jadi kamu koas disini?"


"Iya." jawab Disha singkat dan itu mematikan obrolan, Sam jadi bingung juga!


Mau bertanya sudah punya pacar belum?


Nanti, cewek ini ilfeel kan gawat!


"Boleh minta nomor ponselnya?" kata Sam, yang langsung ia rutuki dalam hati.


'Kau terlalu terburu-buru, Sam! Dia pasti ilfeel!'


batinnya heboh.


"Eh? Untuk?"


"Siapa tahu saya memerlukan kamu untuk menanyakan kondisi kakak saya." kilahnya cepat.


"Kalau gitu saya berikan nomor dokter Darren saja." usul Disha yang membuat misinya gagal, sepertinya.


"Eh, kamu saja. Dokter Darren itu bukannya sibuk, saya butuh respon cepat." kilah Sam, beralasan lagi,memang dasar Samudra ada saja alasannya demi cewek cakep.


Akhirnya, walaupun ragu Disha memberikan nomor ponselnya pada Sam.


Di balik berlangsungnya pendekatan mereka ada mata tajam Kris yang diam-diam melihat mereka tanpa sengaja.


"Kalau jodoh pasti kena!" ucapnya ambisius, sebab memang ia sudah berencana memilih Samudra yang menurutnya tepat untuk putri terbaiknya itu.


Di rumah, Krystal tidak memiliki kegiatan lain, setiap saatnya ia cuma menggalau, kadang pergi keluar sendiri atau mengajak Karina yang rada kapok di tinggal sendirian oleh Krystal.


Tapi, Karina tetap menyanggupi panggilan teman terbaiknya itu, untuk menemani Krystal yang gabut sendirian di rumah.


"Krys, lo tau gak? Mantan bos lo, kata Maxime kecelakaan karena mabuk." ucap Karina menggebu-gebu dengan mode ghibahnya yang sudah aktif seratus persen.


Sebenarnya, Karina sengaja berkata soal itu untuk mengetahui benarkah temannya itu ada sesuatu dengan si tuan Dirgantara?


"Hah?! Kok bisa?!" pekik Krystal yang mendadak heboh, ia reflek melemparkan snack yang ada di tangannya ke arah Karina sehingga tumpah di pangkuan Karina dan membuat kasur Krystal bersimbah remah-remah kripik kentang.


Tapi yang punya kasur tidak peduli dan malah ngegas sendiri.


"Ya mana gue taw__"


"Jangan bilang lo gak tahu ya, gak usah kebiasaan kasih info setengah-setengah!" potong Krystal menggebu-gebu.


"Ya gue gak tau lah! Orang Bang Maxime, kutu kupret itu cuma bilang gitu." katanya bohong, ia sudah tau sesuatu dari Maxime, kakak sepupunya itu punya sebuah rencana kecil untuk mempertemukan kekasih yang terpisahkan.


Walaupun awalnya, Karina kesal sih masa masalah kaya gini Krystal tidak percaya untuk bercerita padanya.


Dan saat itu juga, Krystal

__ADS_1


Gimana?


__ADS_2