
Maxime menjambak rambutnya, ia panik menunggu kabar dari dokter.
"Goblok banget sih lo, Kai!" gumamnya sebal bercampur khawatir, sejak tadi ia tidak bisa tenang dan terus mondar-mandir di depan ruangan gawat darurat.
Tadi saat ia akan menyusul Kaisar, ia kalah cepat pria itu lebih dulu pergi dengan mobilnya.
Karena khawatir, Kaisar menyetir dalam keadaan mabuk dan kondisi emosional, Maxime mengikutinya.
Dan benar saja, terjadi hal buruk.
Mobil yang di tumpangi Kaisar hampir bertabrakan dengan truk, untung truk itu menghindar dan berakhir dengan mobil Kaisar menabrak pembatas jalan.
"Oke, tenang. Gue harus hubungi Om Farid." ujarnya sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.
...****************...
Akira dan keluarganya langsung ke rumah sakit saat mendapat kabar kalau Kaisar kecelakaan.
Ia nampak gusar dan di tenangkan oleh Samudra, sedangkan Farid sibuk menelpon.
Mungkin mengurus urusan kecelakaan Kaisar , karena anaknya itu kecelakaan karena mengemudi dalam keadaan mabuk.
"Sam, kakak kamu kenapa sih?!" keluh Akira frustasi, ia menyugar rambutnya di iringi elusan Samudra di bahunya.
"Sabar, Ma. Kita kan gak tahu musibah kapan datang." kata Samudra menenangkan padahal ia juga tidak tenang.
Ia jarang berkomunikasi dengan Kaisar sejak kepulangan kakaknya ke rumah utama dan tahu-tahu malah kecelakaan kaya gini.
Nampak, Maxime berbincang serius dengan Farid dan Akira yang panik di temani Sam.
Sedangkan, Ayura di minta menjaga adiknya di rumah.
Perhatian semuanya teralihkan saat pintu itu terbuka dan keluar seorang dokter yang sepertinya masih muda, seumuran Kaisar mungkin ?
"Bagaimana dokter kondisinya?!" serobot Akira yang sudah tak sabar.
"Kondisinya tidak parah, cuma pasien belum sadar. Nanti, kalau pasien sadar dan sudah dalam kondisi stabil, baru kami akan memindahkan ke ruang rawat biasa. Dan kalian boleh menjenguknya, untuk sekarang jangan dulu." kata dokter itu sopan kemudian meninggalkan Akira yang menyentuh dadanya yang tadi terasa sesak perlahan lega.
"Ya Tuhan, Kaisar. Kamu suka sekali buat mama panik." ucapnya sambil terduduk lemas di lantai.
__ADS_1
Maxime juga merasa lega, untung saja teman bodohnya itu tidak koma apalagi mati.
'Punya teman sekalinya bucin goblok banget, kalau dia mati terus Krystal hamil kan kasihan.' batinnya.
...****************...
"Sha! Nanti tolong ikut aku ya, buat periksa pasien kecelakaan semalam." kata Darren pada Disha.
"Yang gara-gara mabuk itu, Dok?"
"Iya benar yang itu. Oh ya, kamu sudah makan siang? Mau makan siang bareng?"
Di tanyai begitu oleh Darren, yang sangat ia sukai, tentu hatinya sangat senang cuma sekarang ia sedang menahan itu dia tidak mau terlihat salah tingkah.
"Emm.. Dokter duluan saja, nanti saya makan sama Nala." katanya, sebenarnya ia ingin, sangat ingin!
Tapi, ia malu.
Yang ada dirinya tidak nafsu makan, karena kenyang dengan debaran jantungnya yang sangat kuat ketika berhadapan dengan Darren.
"Oh, gitu ya. Padahal saya sambil mau nanya, kata Shine, Krystal sudah pulang?"
Debaran yang tadi berubah rasanya, jadi berdenyut sakit.
Ternyata alasan pria itu mengajak makan karena Krystal.
"Maaf, dokter. Lain kali saja, atau kau bisa bertanya pada Shine saja, aku ada janji dengan Nala." katanya terkesan dingin lalu pergi meninggalkan Darren sendirian di ujung koridor rumah sakit.
"T-tapi!" teriak Darren tertahan, karena Disha benar-benar pergi.
Mana mungkin ia bertanya pada Shine, gadis itu belum balik dari Jepang.
Dan ya untuk meneleponnya agak susah karena kesibukan masing-masing dan perbedaan waktu.
Karena terlanjur sakit hati dan emosional, Disha jalan tanpa memperhatikan sekitar.
Bruk!
"Astaga, maaf! Maaf!" Disha membungkukkan badannya untuk meminta maaf dan memunguti barang yang jatuh.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati, Dok. Kal-au___" ucap pria itu, terhenti saat Disha menyodorkan barangnya yang tadi berserakan.
'C-cantik! Ya Tuhan, cantik sekali!" batin pria itu yang adalah Samudra, yang datang dengan beberapa paper bag berisi makan siang dan sedikit perlengkapan Kaisar.
"Mas?" tanya Disha, sebab pria di hadapannya malah melamun.
Disha terpikir untuk menggoyangkan paper bag itu untuk menyadarkan Samudra.
"Ah iya?!" sahut Samudra lucu, telinganya memerah, pria itu salah tingkah.
Disha tersenyum tipis, banyak pasien dan pria lain di rumah sakit salah tingkah karena Disha,tapi itu tidak berlaku pada Darren.
"Ini barangnya, maaf tadi saya buru-buru dan tidak memperhatikan sekitar." katanya sopan dengan senyum tipis yang menambah kekaguman Samudera pada Disha.
"E-eh iya, tidak masalah. Lain kali, hati-hati."
Disha mengangguk dan meninggalkan Samudra yang masih nge-bug karena terpesona oleh Disha.
"Ya Tuhan, mana boleh ada gadis secantik dia? Auranya lembut seperti malaikat." gumamnya dengan senyum yang tak tertahankan.
Puk!
"Astaga, Papa! Bikin kaget aja!" pekik Sam, karena mendadak bahunya di tepuk oleh papanya yang sepertinya baru sampai juga.
"Ngapain kamu bengong disini? Kesurupan setan rumah sakit kamu nanti! Liat tuh sampe ileran."
Sam langsung bergerak mengelap sekitar mulutnya yang ternyata tidak ada apapun.
"Papa iseng amat sih, malah kaya mama aja!" keluhnya saat menyadari sudah di bodohi Farid.
"Kamu saja yang bodoh, masa ngiler atau nggak, kok gak sadar, emang kamu lagi tidur? Kan enggak! Lamun terus, lamunin apa sih??" ledek Farid.
"Tau ah! Dah di tungguin mama!"
Farid terkekeh sambil mengikuti anaknya, Sam itu saat di kantor sok cool, tapi waktu dengan keluarga mudah sekali di bodohi ataupun di ledek, sangat lucu.
Haiii guysss
Hari ini Krystal gak muncul kangen gakkk?
__ADS_1