My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 64 : Self Harm


__ADS_3

"Sini aku yang bawa." ujar Leonel lalu mengambil alih troli yang tadinya pada Krystal.


Krystal tersenyum, Leonel sangat peka bahkan pada hal-hal kecil yang tidak perlu kepekaan darinya.


"Leon, kamu suka susu?" tanya Krystal sambil membuka lemari pendingin yang di dalamnya berjejer susu kotak dengan berbagai macam rasa dan jenis.


"Low fat." jawab Leonel singkat, kemudian Krystal mengambil beberapa susu segar rendah lemak untuk Leonel dan rasa stroberi untuknya sendiri.


Mereka memang belanja kebutuhan rumah Leonel, tapi berhubung Krystal setiap hari juga di sana ya tidak apa kan menyertakan keperluannya.


"Leon, you know? My mom said..." Krystal menjeda ucapannya dan tersenyum ragu sambil menggembungkan pipinya.


Huh! Krystal benar-benar, dia tidak tahu kalau Leonel tidak tahan dengan itu, di matanya Krystal menggemaskan!


"What?" tanya Leonel sambil mencubit pelan pipi Krystal.


"Katanya, kenapa tidak tinggal bersama sekalian kalau kamu setiap hari disana terus? Hehe." kata Krystal menirukan nada bicara Rayrin.


"Oh ya? Kalau gitu jangan terlalu sering, aku jadi tidak enak dengan mama mu. Aku merebut waktumu darinya." canda Leonel.


"No!"


"Dia pasti masih sangat rindu dengan anak bungsunya ini." kata Leonel sambil mencubit pelan hidung kecil mancung itu.


"Tapi kamu disini tidak punya teman." timpal Krystal, itu benar kan Leonel disini untuknya ya mana mungkin Krystal membiarkan pria itu begitu saja?


"Lalu, mau tinggal bersama denganku, hm?"


"Bukan begitu, nanti aku bisa kena marah papa, tadi juga mama di marahi papa karena memberikan ide itu." kata Krystal sambil memasukkan beberapa kaleng sarden.


"Iya tuan putri, baiklah. Ah, aku mau semua rasa." seru Leonel kemudian memasukan banyak mie instan dengan berbagai rasa.


"Cita rasanya pasti beda sama yang biasa kamu makan."


"Bukan masalah, aku tetap suka."


"Kita sama! Kamu bukan pria penganut hidup sehat, kamu bebas. Aku suka, kita satu frekuensi!" seru Krystal sambil mengapit lengan Leonel, siapapun pasti akan iri melihat mereka. Sangat serasi dan manis.


"Aku cuma mau menikmati apapun itu selagi masih bisa menikmatinya." ujar Leonel yang mendapatkan anggukan persetujuan dari Krystal.


Tapi, senyum lebar Krystal pupus, tergantikan dengan tatapan iri dan penuh harap.


"Jeno?" gumam Krystal saat matanya menangkap sosok kecil itu penuh kerinduan.


"Leon, ada Jeno!" beritahu Krystal, sambil akan mengambil langkah maju.


"Nono, jangan duluin mommy!" seruan itu membuat Krystal membeku, Leonel langsung peka dan merangkul Krystal untuk menjauh sebelum keduanya bertemu.


Sekarang mereka sudah sampai rumah Leonel dan memasak sesuatu.


"Kamu harus coba ini, Leon." kata Krystal yang sekarang sedang sibuk memasak, mencampuri bumbu dan sambal dengan dua kaleng ikan sarden.


Kali ini, Krystal yang masak dan Leonel yang menonton.


"Ini enak, biasa sih, tapi aku bisa menghabiskan banyak nasi. Nanti, kalau anak-anakku besar mereka harus makan resep-resep yang aku ciptakan. Tapi, sekarang Jeno masih kecil, kalau dia sudah besar___"


Krystal menghentikan ucapannya dan menghela napasnya, sejak bertemu lagi dengan Jeno dan setelah Leonel tahu tentang Jeno, ia sulit menahan diri.


Krystal jadi lebih ekspresif untuk hal-hal yang berhubungan dengan anak itu, tidak lagi menahan diri seperti dulu.


Leonel yang paham langsung mendekati Krystal yang menjeda kegiatannya yang tadi menyajikan nasi pada Leonel.


Leonel berdiri dan mendekap kekasihnya dari samping.


"Bisa-bisanya aku bilang gitu, sedangkan aku tidak pernah melihat tumbuh kembangnya apalagi nanti saat dia tumbuh semakin dewasa, apa dia suka makan pedas? Apa dia suka makan manis, aku tidak tahu apapun."


"Miracle..."


"Aku ibu yang buruk." tambah Krystal yang sekarang semakin terbawa suasana, dekapan Leonel benar-benar menggiring suasana hatinya menjadi lebih biru dan membuat tangisnya pecah.


"No! Jangan nangis, kamu ibu terbaik, kamu cuma mau yang terbaik untuk Jeno, jika bukan untuk Jeno, nanti kamu kan bisa membuat banyak masakan untuk anak-anak kita, kan?"


Set!


Krystal menoleh dan membuat wajah mereka sangat dekat, jujur saja, Krystal kaget dengan penuturan Leonel.

__ADS_1


'Anak kita, katanya?' pikir Krystal sambil menyelami mata hijau emerald itu.


...****************...


Sret! Satu.


Sret! Dua.


Dua goresan, di titik yang sama.


Dua goresan untuk satu luka yang perlahan mengeluarkan darah.


Krystal menatap temannya, kalian tahu itu apa? Bukan pisau, bukan!


Cutter juga bukan.


Itu cuma pemotong kuku yang punya bagian yang ujungnya tajam.


Kenapa, Krystal menggunakan itu?


'Aku masih mau hidup, tapi aku lelah hidup.' batinnya, ia melukai dirinya sendiri untuk mencari ketenangan, ia belum mau mati.


Belum!


Krystal takut, jika Tuhan menolaknya di kehidupan berikutnya.


Sekarang saja, ia sudah pernah merasa di tolak oleh keluarganya, apa iya dirinya harus di tolak Tuhan, juga?


Lagipula, Krystal masih mau melihat Jeno tumbuh dan dewasa.


"Maafin, mama." lirih Krystal, ia membuka sebuah buku, buku diary punyanya, di pertengahannya ada foto bayi.


"Anak mama." isaknya tertahan, ia takut terdengar, apalagi kamarnya bersebelahan dengan Shine.


Krystal mengusap foto itu dan menciuminya berulang kali.


"Mama menyesal, mama bukan ibu yang baik, mama kangen, Jeno. Mama pengin di panggil mama sama Jeno, pengin banget. Mama sedih, tapi kalau Jeno waktu itu hidup sama mama, pasti Jeno bakal lebih sedih lagi, Jeno gak akan bisa sama papanya Jeno, Jeno pasti bakal malu."


Demi Tuhan!


Walaupun, ia cuma beberapa kali memberi Jeno asi.


Tapi, Krystal membawa Jeno dalam kehangatannya selama sembilan bulan.


"Mama mau, Jeno! Tapi, kamu pasti gak mau sama mama."


Krystal kembali mengingat saat Jeno bersama Liora tadi siang, yang kemarin-kemarin ia lihat diam-diam, atau bahkan yang sekedar ia dengar dari mama atau Disha.


"Kamu sayang banget ya, sama mommy Liora. Kapan kamu juga bisa sayang sama mama, Jeno?"


Miris, Krystal hanya bisa tersenyum pahit ia menatap nanar foto bayi, Jeno, satu-satunya kenangan yang ia punya.


Satu-satunya perantara agar ia bisa memeluk Jeno dalam tidurnya.


Krystal diam ketika melihat anak itu, bukan karena ia tidak sayang Jeno, Krystal cuma menahan diri dan itu sulit juga sakit.


Lebih sakit dari luka sayatan di pergelangan tangannya, yang kerap kali ia buat ketika merasa bersalah.


"Ini salahku, andaikan aku memperjuangkan hubungan dengan kakak, andaikan aku berani mengatakan aku hamil, tapi bagaimana bisa?!"


Ya, bagaimana bisa?


Pertama, ia terlanjur memutuskan hubungannya dan menghilang.


Lalu, saat hari dimana ia mau mengatakan ia hamil, saat itu adalah hari pernikahan Kaisar dan Liora.


Dan, Krystal tidak sejahat itu untuk membatalkan pernikahan orang karena ia hamil.


Krystal bangkit, mengusap air matanya kasar, ia masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub hingga penuh.


Krystal merendam dirinya dan menenggelamkan diri hingga hampir kehabisan napas.


Kilasan, masa lalu terus menari di pikirannya, lalu beralih ke masa depan, pada Kaisar dan keluarga barunya, lalu pada dirinya dan Leonel yang ia bangun dengan cinta palsu.


Pria baik itu.

__ADS_1


Sialan!


Krystal hidup dengan banyak kesalahan!


Krystal salah pada setiap kehidupan!


"Akhh! Aku benci diriku!" pekiknya lalu mengeluarkan dirinya dari dalam air, dan mengambil udara dengan rakus.


Krystal pikir, ia sudah bahagia dengan kembalinya kasih sayang keluarga dan keberadaan Leonel.


Tapi, ia punya rasa bersalah yang luar biasa di benaknya yang sulit di atasi.


...****************...


Besoknya, Krystal bangun dengan wajah yang mengenaskan, ini masih pagi buta.


Krystal buru-buru ke dapur ia mengambil salju di freezer lalu meletakkan di kelopak matanya yang bengkak karena kemarin.


"Untung masih sepi, mama pasti belum bangun." pikirnya, sambil melihat jam dinding dan masih pukul lima.


Setelah dirasa bengkak di matanya sudah lebih baik dan matanya bisa terbuka dengan nyaman, Krystal berlari masuk lagi ke kamarnya sebelum semua orang bangun.


Ia membersihkan dirinya dengan benar kali ini, tidak menenggelamkan diri atau lainnya.


Hari ini sepertinya akan dingin, soalnya dini hari tadi hujan deras dan sekarang pun berkabut.


Krystal memilih celana jeans cutbray sebagai bawahan, kemudian tanktop putih yang di tutupi oleh sweater cardigan warna soft pink.


Rambutnya di biarkan tergerai dan sepatu kets putih melengkapi penampilannya pagi ini.


Sempurna!


Kemarin malam ia menangis, pagi ini ia sudah ceria, apa penyakit nya bertambah?


Apa Krystal juga berkepribadian ganda?


Krystal tersenyum kecut memikirkannya, lalu berlari keluar kamar.


"Wah, lihat anak siapa ini? Kenapa kamu kaya anak belasan tahun?" sapa Kris yang sedang duduk di ruang keluarga dengan beberapa berkas yang mungkin akan di bawa.


"Aku memang masih muda, papa." sahutnya asal dan mencium pipi papanya singkat, lalu berlari mencari mamanya.


"Hey, mau kemana sudah rapih begini." tanya Kris agak keras karena anaknya sudah menjauh.


"Mau ke rumah Leon!" seru Krystal dari arah dapur, yang mana itu adalah tujuannya untuk mencari Rayrin.


"Aku kalah dengan pacarnya, pagi-pagi sudah mencari Leonel saja." gerutu Kris, geleng-geleng kepala.


"Mama masak apa?" sapa Krystal mengagetkan Rayrin yang langsung menggeplak bahu anaknya.


"Astaga! Kagetin banget! Mau kemana kamu udah rapi?" tanya Rayrin lalu melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Hehe, tempat ayang!" seru Krystal sok manis yang mendapatkan cebikan sinis dari mamanya, tapi itu cuma bercanda kok.


"Ini masih pagi, Krystal, nanti dulu tunggu masakan mama, sarapan dulu."


"Nggak mau, aku mau makan masakan Leon." Rajuk Krystal.


"Hahh? Jadi, masakan mama kalah sama masakan pacar kamu?!" pekik Rayrin heran, sedangkan Krystal cuma meringis menunjukan giginya yang rapi itu.


"Ayolah, ma. Aku pergi dulu, bye!"


"Krystal, ya ampun ini masih pagi."


"Selagi dia ada disini mama, nanti kalau sudah balik ke Inggris, bisa kangen dong aku." jawab Krystal sambil pergi menjauhi Rayrin.


"Ya ampun anak, Kris!" gerutu Rayrin sambil memegangi kepalanya.


Segini dulu


Semoga suka


Terimakasih untuk yang selalu mendukung aku dan menyukai book ini.


Love you semuaaa

__ADS_1


__ADS_2