My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 33 : Tak Tergapai


__ADS_3

Entah apa yang Liora harapkan dengan tetap menahan Kaisar untuk berada di sisinya.


Liora cuma berpikir usahanya akan sia-sia selama tahun ini jika ia melepas Kaisar begitu saja tanpa memperjuangkan cintanya.


"Sejak awal kamu punya aku, Kai. Dan harus terus kaya gitu sampai akhir." katanya, ia mencengkram kerah kemeja Kaisar dengan wajah mendongak penuh air mata.


Lalu, tanpa Kaisar duta Liora yang polos itu memaksakan diri untuk menciumnya, di bibir.


Kaisar mencoba menolak, tapi gerakan Liora seolah memaksa.


Liora menatap nanar pada pria itu yang benar-benar membuat dirinya semakin tak ada harganya sama sekali.


"Sekali lagi aku mempertaruhkan harga diriku karena kamu." katanya, dulu Liora melukai harga dirinya dengan menjadi yang selalu lebih dulu memulai komunikasi dan interaksi mereka.


Dan barusan juga.


Oh ya, jangan lupa saat ini ia tengah mengemis.


Mengemis cinta seperti orang bodoh!


"Oleh karena itu, sudahi semuanya dan hargai dirimu sendiri Liora. Kamu berharga di tangan orang yang tepat, Li." jelas Kaisar yang terdengar seperti tidak berperasaan di telinga Liora.


"Apa selama dua tahun ini__"


"Nggak, Liora. Jangan bertanya, jawabannya sudah jelas, kalau selama dua tahun ini kamu bisa mencuri hati dan perhatianku, aku takkan pernah mencintai Krystal. Karena aku bukan pria yang mudah jatuh hati." ucapnya lugas.


Liora terdiam.


Cinta di depan mata, namun sayang seribu sayang.


Terasa jauh untuk di gapai.


...****************...


Sedangkan, Krystal.


Gadis itu tengah berusaha menyingkirkan Kaisar dulu dari pikirannya dengan berjalan-jalan dengan Karina.


"Buset, enak banget!" puji Karina dengan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O.


Krystal mengangguk setuju,lalu buru-buru menelan makanannya.


"Asli, rasa seblaknya gak berubah masih sama kaya terakhir kita makan." sahutnya semangat, kemudian menyendokan seblak lagi ke mulutnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Neng. Kalau masih doyan sama seblaknya, padahal sudah lama lo gak nongkrong kesini." celetuk Mbak Ika, yang merupakan pemilik warung seblak di dekat area sekolahnya dulu.


Langganan Krystal dan teman-temannya.


"Hooh mbak! Namanya juga ya sudah lulus, apalagi nih dah viral dia supermodel!" ledeknya, pada Karina.


"Uhuk!" Karina tersedak karena tadi saat meledeknya, Krystal menyikut lengannya yang sedang menyuapkan seblak ke mulut.


"Minum, Neng!" ucap Mbak Ika, sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas plastik.


"Teman kurang ngajar ya lo!" umpat Karina yang di balas kekehan oleh Krystal.


"Ya maap ye."


Rampung makan seblak mereka menikmati jajanan sekolah saat mereka SMP.


Kemudian, Karina lanjut mengajak Krystal shopping.


"Krys, lo balik berarti bentar lagi mantenan dong." tanya Karina yang memendam rasa penasarannya sejak tadi.


"Ya gak lah! Nggak mau gue." sahutnya tegas.


"Lha, terus?"


"Nggak tau." jawabnya malas, Karina masih belum tau masalah yang menimpanya sekarang dan ia malas untuk bercerita juga.


"Bagus warna apa yaaa?" gumam Karina menimbang-nimbang.


"Coklat susu bagus di kulit lo yang eksotis,Kayin! Sumpah, jangan pernah lo pakai warna biru laut, jelek banget." saran Krystal yang menurut Karina bercampur dengan ejekan.


Tapi ada benarnya juga sih.


"Oke, cokelat susu." putus Karina.


Setelah lelah berkeliling mall, Karina mengajak Krystal nongkrong di suatu kafe.


"Ini kafe lagi viral loh, katanya sih ya yang punya itu ibunya majikan lo, temennya si Maxime." kata Karina tanpa beban, ya iyalah! Karina belum tahu soal itu.


"Keren banget si kalau misal lo cinlok sama doi, tajir melintir." ucap Karina ngasal, tidak tahu saja gadis itu kalau sahabatnya sudah dekat sangat amat dekat dengan putra pemilik kafe ini.


"Balik aja yuk!" ajak Krystal padahal mereka baru saja duduk, tapi Krystal merasa tak nyaman. Niatnya mau sejenak melupakan,malah jadi ingat.


"Dih, baru ngejogrok disini masa balik, gak asik." kata Karina cemberut.

__ADS_1


"Dah ah, ayo balik!" paksa Krystal, sambil menarik pergelangan tangan temannya.


"Kenapa buru-buru, Krystal?" ucap sebuah suara yang ia yakini itu bukan suara Karina.


...****************...


"Apa kabar?" tanya Akira dengan senyum yang terkesan di buat-buat, Krystal paham itu.


"Jangan tegang, minum dong banana milkshake nya, kata Kaisar kamu suka susu pisang." sambung Akira, yang seperti menyindir.


Ya, sekarang Krystal sedang bersama Akira di sebuah sudut kafe yang sepi dan jauh dari siapapun.


Karina cuma bisa melihat penasaran dari tempatnya berada, kok bisa gitu loh Krystal, sahabatnya kenal dengan pemilik kafe ini.


Ya walaupun mungkin, bisa saja kan Krystal dulu kerja untuk anak Akira.


"Langsung ke intinya saja, Nyonya." ucap Krystal yang sudah malas dalam situasi ini.


Akira tersenyum miring mendengar itu.


'Berani juga gadis ini.' pikir Akira.


"Kamu mencintai Kaisar?" tanya Akira langsung dan membuat Krystal yang semula lebih banyak menunduk jadi mendongak sempurna.


"Sangat!" jawabnya berani dan mengundang senyum dari bibir Akira.


"Tapi kamu tahu kan, ka__"


"Kalau, Kaisar sudah bertunangan." potong gadis itu.


"Oke, kamu tahu lalu kenapa kamu merebut hati Kaisar, hah?"


"Maaf, dari awal saya tidak pernah merebut hati Kaisar, karena sejak awal hati Kaisar tidak di miliki siapapun. Cuma raganya. Cuma raganya yang di miliki Liora dengan status tunangannya. Kalau, anda mau menghina saya dan ibu saya seperti yang suami anda lakukan, silahkan! Saya tidak perduli, kami cuma saling mencintai, dan yang paling penting. Saya bukan perebut suami orang!" tekan Krystal.


Akira terkejut dengan keberanian gadis kecil ini dalam berbicara dengannya.


Ia seperti melihat Rayrin saat dulu melawannya untuk merebut Farid.


"Kenapa kalian menghinaku seolah aku merebut suami orang? Sedangkan, Kaisar sendiri yang mengatakan, hatinya belum pernah jadi milik siapapun kecuali aku." lanjut gadis itu.


Akira masih terdiam.


Pikirannya bergelut, yang di ucapkan Krystal ada benarnya.

__ADS_1


Tapi yang gadis itu lakukan bersama putranya juga tidaklah benar.


"Jika tidak ada lagi yang ingin di katakan, saya permisi."


__ADS_2