My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 46 : Hancur


__ADS_3

"Besok aku ada survei resort di Bali, jadi __"


"Lagi-lagi kamu gak ada di acara keluarga, Kai?" kata Liora kecewa sembari menyajikan sarapan untuk anak dan suaminya.


"Jangan berlebihan, besok cuma persiapan kamu sama mama cukup, aku gak ada sangkut pautnya kan? Apa aku harus mendekorasi pelaminannya?"


"Ya, gak gitu. Cuma, kamu berapa lama di sana, sedangkan hari Minggu sudah pernikahan yang benar aja?" omel Liora sambil mengambil posisi di sebelah Jeno yang tengah memperhatikan perdebatan orang tuanya.


bibir anak itu mengerucut, 'Daddy selalu saja sibuk.' batin bocah itu sambil menatap piringnya yang tengah di isi nugget ayam kesukaannya yang tentu itu buatan mommynya.


"Sabtu aku pasti sudah pulang, tenang saja." kata Kaisar santai.


"Mom, Nono mau di suapi." rengek Jeno, menghentikan Liora yang sudah bersiap menjawab ucapan suaminya.


"Oke, sini!" kemudian seperti pagi biasanya Kaisar akan melihat pemandangan di mana Liora yang mengurus putra mereka dengan sangat baik.


'Bagaimana caranya agar aku mencintaimu, Liora? Kenapa sulit di saat, kamu sebaik itu.' pikir Kaisar sambil menatap ibu dan anak itu.


"Cuma sebentar kok, daddy disana tidak sampai satu hari juga setelah beres Daddy pasti pulang."


"Jangan mencoba berjanji, kalau belum tentu bisa di tepati, Daddy kan suka begitu." ucap Liora dingin tanpa mau menghadap suaminya.


"Sungguh! Bagaimana kalau hari ini, daddy kosongkan jadwal, lalu kita pergi bersama kemanapun kalian mau?"


Mendengar penawaran dari Kaisar tentu Jeno langsung girang.


"Yes! Mom, Jeno mau!" pekik Jeno senang.


"Kai... Jeno sekolah." sergah Liora, ya Jeno baru masuk playgrup. Sengaja, agar anak itu bertemu teman-teman, karena di rumah temannya hanya mommynya saja dan Jeno belum punya sepupu seumurannya.


"Bolos saja." ucap Kaisar dengan entengnya."


"Kai!"


"Cuma sekali, lagipula selama ini Jeno jadi anak yang baik dan tidak pernah bolos, nanti aku telpon gurunya. Lagian, mommy jangan terlalu serius Jeno masih di playgrup kan?"


Setelah mendengar itu, baru Liora berhenti mendebat.


Meski begitu, Liora senang akhirnya mereka punya waktu bersama dan Kaisar tidak biasanya begini.


Dulu, kalau mau pergi bersama sangat sulit kalau tidak akhir Minggu.


"Masakan mommy enak kan, Jeno?" dan lagi, tumben sekali Kaisar memuji masakannya tanpa di suruh Jeno.


"Masakan mommy yang terbaik,dad! Apa yang daddy makan itu enak? Jeno mau coba, tapi kata mommy itu pedas." cerocos bocah itu sambil menunjuk makanan yang di makan daddynya dengan matanya.


Tumis brokoli ada campuran wortel, telur puyuh dan bakso.


"Sebenarnya tidak__"


"Kai, ukuran pedas kamu dan anak kita berbeda jangan coba-coba, aku tidak mau membuat anakku sakit perut, lagian kita akan pergi kan?" omel Liora, walaupun tumis itu hanya dengan merica dan saus tiram, tapi anaknya masih balita.


Satu lagi, Kaisar baru menyadari bahwa Liora sangat cerewet rupanya, seingatnya Liora adalah seorang yang kalem dan lemah lembut.


'Itu sudah jadi bukti kalau aku kurang memperhatikannya. Aku sejahat itu rupanya?' batin Kaisar, di iringi senyum masam.


...****************...


"Aku mau langsung ke Bali, kak." kata Krystal, ia sama sekali tidak membongkar kopernya atau yang lainnya.


"Untuk?"


"Pemotretan." singkatnya sambil melepas blazer yang melekat di tubuhnya menyisakan dress polos tanpa lengan yang mencapai lututnya saja.

__ADS_1


"Yang benar saja, kamu kan suruh pulang untuk kumpul keluarga. Bukan kerja!" kata Shine.


"Bahkan nenek dan kakek saja bersikap dingin padaku. Besok pagi aku langsung ke Bali, sekitar pukul tujuh." tegas Krystal.


"Pernikahan Disha?"


"Aku kembali hari Sabtu." jawab Krystal cuek, ia menyalakan televisi di kamarnya dan mulai menonton sebuah film.


"Sampai kapan kamu mau nonton film yang sama?" tegur Shine, sudah lama tidak tinggal bersama, tapi sejak Krystal meninggalkan Kaisar, adiknya itu selalu menonton film yang sama.


"Sampai aku bosan, tapi___


"Tidak mungkin, karena mungkin sudah ada 100 kali kamu nonton itu, apa kamu tidak mau bertemu mama, papa?"


"Nanti."


"Jangan terus merasa bahwa diri kamu itu Zooni yang di tinggalkan Rehan, kenyataannya kamu yang meninggalkan Kaisar." kata Shine.


"Aku tidak mengatakan alasanku menonton film ini pada kakak, kenapa kau berspekulasi hal-hal aneh seperti itu." sangkal Krystal.


"Aku menonton ini karena aku suka." lanjut Krystal lagi, Shine memutar bola matanya malas, adiknya tidak mau mengaku.


"Terserahlah, aku harus menidurkan Jenara." kata Shine lalu meninggalkan adiknya yang keras kepala.


Fanaa


dalam bahasa Persia artinya hancur.


Ini film lama dan Krystal suka menonton itu berulangkali, benar kata Shine ia bukan Zooni yang di tinggalkan Rehan setelah di buat cinta setengah mati.


Tapi, disini ia seperti Rehan yang meninggalkan Zooni.


Krystal meninggalkan Kaisar dan anak mereka demi sesuatu.


Dan itu membuatnya hancur.


"Aku mencintaimu, Kaisar. Aku mencintaimu." gumamnya sambil menitikkan air mata setiap film berakhir dengan sedih.


Rehan dan Zooni tak pernah bersatu dan berakhir sedih , seperti dia dan Kaisar.


...****************...


Paginya, Rayrin antusias menyiapkan sarapan karena ada putrinya yang sudah lama ia rindukan.


"Krysie!" panggilannya terdengar antusias saat anaknya itu turun dengan koper?


"What? Apa kamu? Kenapa kamu tidak bilang mama kalau cuma sebentar?" tanya Rayrin kecewa.


"Apa anak itu pernah mementingkan orang lain selain dirinya? Dia tidak pernah memikirkan perasaan orang selain perasaannya sendiri." celetuk kakeknya tanpa melepaskan pandangannya dari koran.


Rayrin langsung diam.


Kris juga sedang malas adu mulut di pagi hari.


"Maaf, aku ada pekerjaan di Bali, sebentar. Tapi aku tetap akan kembali, sebelum pernikahan, Kak Disha." katanya canggung.


'Dia sudah dewasa.' batin Rayrin terharu, putri bungsunya itu ,tidak lagi berbicara sembarangan, bahasanya bahkan sangat formal dan mulai memanggil kakaknya dengan pantas.


"Ayo makan!" Rayrin menarik Krystal tanpa mempedulikan canggungnya suasana di meja makan.


"Apa, Jennara belum bangun?" tanyanya pada mamanya.


"Oh, pasti belum semalam dia tidur larut, anak itu tidak akan tidur kalau belum mendengar cerita dari kakeknya, dia menunggu papa pulang baru tidur. Benar-benar."

__ADS_1


Krystal tersenyum tipis mendengar penjelasan Rayrin.


"Aku akan berangkat, mama. Pesawatku berangkat pukul tujuh tigapuluh." pamitnya, lalu mencium pipi Rayrin dan pergi tanpa pamit pada yang lainnya.


Situasi di meja makan masih hening.


"Apa dia lupa kalau masih punya papa?" nadanya terdengar ketus dan kecewa.


"Mas, maafkan dia. Mungkin dia canggung."


"Canggung dengan kita yang mengurusnya meski sudah melukai harga diri orang tuanya?" sindir Kris, pria setengah baya itu berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja.


Rayrin menghela napasnya kasar.


Disha mengusap bahu mamanya, ia juga masih merasa bersalah karena dirinya yang...


sudahlah Disha malas mengingat kebodohannya waktu itu.


...****************...


"Jeno, mau rasa coklat atau_"


"Stroberi daddy, Jeno suka susu stroberi!" seru bocah itu sambil menunjuk salah satu susu stroberi di lemari pendingin yang ada di minimarket.


Mereka sedang berbelanja, untuk piknik.


Ya, mereka memutuskan piknik saja di pinggir danau yang ada di salah satu taman nasional.


Kaisar terdiam sejenak, beberapa hal kecil soal Jeno mengingatkan dia dengan perempuan itu. Entah kenapa?


Kenapa Jeno suka butter cookies seperti dia?


Kenapa Jeno suka susu stroberi seperti dia?


Kenapa Jeno,


"Daddy, gendong Jeno!" rengek Jeno.


Dan, Jeno juga suka merengek ketika minta gendong seperti dia.


"Nono, kan sudah besar. Berat tau." Liora menggelengkan kepalanya saat melihat putra mereka yang manja itu.


"Nono, jangan suka manja lagi, nanti kalau punya adik, malu sama adik." ucap Kaisar seadanya.


"Adik?!" seru Liora dan Jeno bersamaan.


Ngomong-ngomong, Liora tidak pernah mengharap Kaisar ingin seorang anak lagi darinya, jadi dia juga tidak pernah membahas apa itu adik kepada Jeno.


"Adik itu apa, Dad?"


"Seperti, daddy yang punya om Sam sebagai adik Daddy, ya seperti itu." jelas Kaisar sembari menggendong Jeno, sedangkan Liora mengambil alih troli mereka.


"Jangan mengatakan yang tidak-tidak, padanya, Kai." cegah Liora.


"Kalau punya adik, Jeno akan punya teman." kata Kaisar tak memperdulikan Liora.


"Benarkah itu? Pasti menyenangkan sekali."


Dan apa ini?


Apa yang pria itu maksud?


Liora kira ia tidak akan hidup lebih lama bersama pria ini.

__ADS_1


Liora tidak mungkin bisa memberikan Jeno adik, tidak.


Apa ia harus merasakan sakitnya lebih lama lagi?


__ADS_2