
Terpukau!
Satu kata yang mewakilkan bagaimana perasaan Leonel saat melihat wanita pujaannya dalam balutan gaun pengantin.
Gaun putih off shoulder dengan lengan puff dan rambut panjang Krystal yang di buat cantik sedemikian rupa dengan hiasan bunga-bunga kecil.
Cantik! Sangat!
Krystal seperti dewi di matanya.
"Hello, Leonel! Aku tahu dia cantik, tapi tolonglah kedipkan matamu dan ayo potret." tegur Diana yang membuyarkan lamunannya.
Sedangkan sekarang di depannya, ada Krystal dengan wajah kesalnya.
"Cepat!!! Aku pegal!" rengeknya.
Oh, jadi itu hanya pemotretan Krystal dengan gaun pengantin milik salah satu merk ternama Joselene's Bride.
Bukan sebuah pernikahan seperti yang kalian kira, apa menurut kalian mereka akan menikah?
Bisakah ???
Ini pemotretan terakhir di Milan sampai ia memutuskan untuk berkarir di Indonesia, hanya saja kontrak kerja bersama Glare & Claire masih harus berjalan.
Sekarang, mereka di Milan.
Bekerja sambil berpacaran tentu.
Kenapa Krystal ingin berkarir di Indonesia?
Sekarang ia punya alasan, dari dulu punya, hanya saja sekarang lebih kuat karena masalahnya dengan keluarganya selesai lebih cepat dari yang pernah ia kira.
"Sampai kapan?"
"Lusa, beres kita pindah dan aku juga. Huft, sekarang aku yang di negeri orang." Diana mengeluh sambil meniup ujung poninya.
"Di, itu juga negara asal orang tuamu."
"Tapi aku asing, kan jarang mengunjungi Indonesia." kilah Diana.
Krystal mengedikan bahu sambil kembali fokus pada dirinya.
"Sempurna, aku pergi dulu!" serunya kemudian menyambar tas branded miliknya.
Baru ia membuka pintu dan....
"Hello, babe!"
Leonel sudah siap di depan pintu dengan pakaian yang keren yang membuat pria itu semakin tampan.
__ADS_1
Cup!
Krystal mengecup pipi kiri Leonel sebagai salam pertemuan.
"Nakal!" desis Leonel, lalu menyambar bibir tipis Krystal dan sedikit ********** lembut.
"Kita pergi?" tanya Krystal langsung setelah ciuman singkat Leonel terlepas.
"Tentu, tuan putri." jawab Leonel sambil merangkul pinggang Krystal.
"Apa kita pergi sampai malam?"
"Kamu bilang mau lihat kembang api, di taman kota." timpal Leonel, mereka berjalan sambil mengobrol satu sama lain.
Siapapun, akan iri melihat mereka begitu serasi dan manis.
...****************...
Satu minggu kemudian...
Krystal sudah di Indonesia, Leonel?
Bagaimana ya, pria itu belum bisa menyusul dalam waktu dekat.
Krystal belum di sibukkan oleh pekerjaan, karena sekarang ia masih berisitirahat meskipun ia mendapat banyak tawaran.
"Hadeh, umurnya sudah 24 kan? Bukannya sebentar lagi 25, tapi masih suka makan di kasur!" celoteh Rayrin yang tengah merapikan kamar putrinya.
Kemudian, Rayrin berpindah pada suaminya, ia membenarkan jas putih suaminya lalu sarapan bersama Shine dan Jennara yang tengah di suapi Langit.
"Ngapa sih mukanya di tekuk gitu?" tanya Kris, kemudian melahap suapan pertamanya.
"Krystal, udah gak sarapan, pergi gitu aja karpet di kamarnya juga banyak remah-remah makanan, kebiasaan dari dulu makan di kamar gak ada ubahnya." oceh Rayrin.
"Biarlah, ma. Nanti kalau dia nikah bakal beda lagi, kaya aku ini." timpal Shine.
"Apa? Itu kenapa malah suamimu yang kasih makan Jennara?"
Shine cemberut, "Nggak masalah, ma. Aku juga kangen sama Jennara, oh ya rencananya aku mau bawa Shine sama Jennara pindah ke rumah dinas di Kalimantan."
Langit memberi jeda sejenak untuk memperhatikan reaksi mertuanya.
"Maaf, bilang ini di saat seperti ini. Tapi kalau nanti-nanti terus takutnya gak keburu, papa sibuk terus kan?"
"Tapi, rumah ini bakal sepi banget dong." keluh Rayrin.
"Ya nggak dong, kan Krystal udah ada, Disha bentar lagi juga bakal punya bayi." sahut Shine, sebenarnya ia tidak ingin pergi jauh, cuma bagaimana lagi memilih disini dan berjauhan dengan suaminya juga berat baginya dan suaminya tentu saja.
"Izinin ya, ma? Pa?" imbuh Shine lagi.
__ADS_1
"Yah, mau gimana lagi, gini kalau punya anak cewek semua, kamu udah nikah ya kamu harus nurut suami kamu kan?" jawab Kris, ya kedua putrinya sudah punya suami tinggal Krystal yang mungkin tidak lama lagi juga menikah dan meninggalkan mereka berdua di rumah ini.
...****************...
Di sisi lain, dari kejauhan Krystal melihat seorang anak yang baru keluar dari ruang kelas, anak itu nampak lucu dengan bucket hat dan tas beruang.
Dari balik gerbang ia memperhatikan, bagaimana langkah kecilnya menuju kursi panjang di bawah pohon mangga, lalu duduk disana.
Jeno, pasti sedang menunggu orang tuanya.
Padahal, dia, ibunya sudah menunggu dia sejak pagi tadi, melihatnya bermain bersama teman-temannya sampai waktu pulang.
"Daddy!" Jeno berteriak ketika matanya menangkap sosok ayahnya, mata Krystal membulat saat itu juga ia menoleh ke belakangnya.
Tak jauh darinya Kaisar sedang berjalan melewatinya menuju Jeno.
"Kakak?" gumamnya pelan, tapi itu menghentikan langkah Kaisar.
"Krystal?" Kaisar juga bergumam namun tanpa suara.
'Untuk apa dia disini? Di sekolah Jeno?' pikir Kaisar, tapi...
"Daddy!" suara Jeno membuyarkan pertanyaan di benaknya, ia menoleh ke arah Jeno dan saat ia menoleh ke tempat Krystal lagi...
"Kemana dia?"
"Daddy, kenapa lihat kesana?" tanya Jeno, yang sudah menarik-narik celananya, karena merasa di abaikan oleh Kaisar.
"Ah, nggak tadi kayanya dad, lihat teman disana, tapi ternyata salah orang, ayo pulang, mommy akan mengomel kalau kita telat." ujarnya sambil membawa Jeno dalam gendongannya.
Kandungan, Liora lemah.
Kaisar kaget saat tahu itu, walaupun ia sudah pernah mengalami hal yang sama saat mengandung Jeno, tapi saat itu Kaisar tidak begitu perhatian dengan Liora.
Beda dengan sekarang, ia akan menjaga Liora, jadi Kaisar membatasi aktivitas Liora termasuk menjemput Jeno, juga di batasi.
Hah!
Napas, Krystal terengah, ia menutup pintu mobilnya kasar kemudian memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Untuk apa, jantung ini berdetak kencang? Kenapa cuma waktu ketemu kamu sih kak? Kenapa nggak ke Leonel?"
Berulang kali, Krystal menepis perasaannya.
Berulangkali, Krystal mencoba meyakinkan dirinya agar bisa mencintai Leonel.
Tapi sulit, ia suka Leonel, mungkin sayang?
Tapi, rasanya berbeda dengan yang ia rasakan untuk Kaisar, benar-benar sesuatu yang sulit untuk di hapuskan.
__ADS_1
Rasanya pengin nyerah nulis cerita ini
hehe