
"Aku tidak yakin soal ini, tapi setelah di lacak lokasi ponsel putrimu ada di gedung apartemen yang sama dengan tempat tinggal putraku." jelas Farid pada teman lamanya, Kris.
"Kau yakin?!" ucap pria itu dengan wajah sumringah akhirnya... Kalau tahu begini harusnya dari awal saja ia minta bantuan Farid.
"Hmm, karena keberadaannya cuma bisa di lacak sampai cctv jalanan sekitar apartemen terakhir, jadi kami melacak nomor yang kau berikan padaku kemarin." kata Farid, setelah Rayrin mendapatkan nomor Krystal yang baru wanita itu langsung memberi tahu pada suaminya.
"Untung kau bergerak cepat, jadi aku dapat melacaknya sebelum nomor itu akhirnya tidak aktif lagi. Cuma, maaf aku agak terlambat mengabari karena kau tahu lah, aku cukup sibuk."
"Tidak! Tidak apa-apa, aku sudah sangat berterimakasih padamu, akhirnya aku menemukan titik terang di mana Krystal berada." kata Kris bahagia, lihat saja kalau sudah di ketemukan setidaknya putri kecilnya harus mendapat hukuman kecil untuk kesalahannya yang telah membuat seluruh keluarganya khawatir.
"Krystal ?" celetuk Farid.
"Ya, Krystal nama anakku, aku kan sudah memberitahu sebelumnya." kata Kris.
'Apa mereka orang yang sama? Krystal asisten rumah tangganya Kaisar, namanya juga Krystal dan nampaknya dia juga gadis muda seusia dua puluh tahunan.' pikir Farid, sambil mengusap-usap dagunya.
"Sekali lagi terimakasih banyak atas bantuanmu, Rayrin pasti senang mendengarnya." ucap Kris menghancurkan lamunan Farid yang kemudian langsung beralih fokus pada Kris.
"Baiklah, karena aku sebentar lagi ada urusan, jadi nanti akan aku kirimkan alamatnya padamu." kata Farid, kemudian mereka saling bersalaman sebelum pria tua itu meninggalkan Kris yang sudah lega, akhirnya putri nakalnya ketemu!
Seluruh keluarga, bernafas lega karena akhirnya anggota termuda nya ketemu keberadaannya.
Walaupun ya, Disha agak merasa bersalah karena tidak jujur, cuma walaupun jujur kan sama saja, ia tidak tahu Krystal tinggal dimana.
"Ya sudahlah." batin Disha sambil melanjutkan makan malamnya, sesekali ia melirik satu persatu anggota keluarganya.
"Jadi sudah bisa kan, Pa." celetuk Shine, yang mana semua sudah tahu apa maksud gadis itu.
"Apa?" tanya Kris pura-pura tidak tahu.
"Langit kan mau datang untuk melamar aku secara resmi, terus ..."
"Iya-iya, tunggu situasinya kondusif ya sayang, supaya kita juga gak malu sama keluarganya Langit." potong Kris di susul kekehan, ia tidak menyangka putri pertamanya akan menikah dan ia akan kehilangan putrinya satu persatu saat mereka menikah.
Ia menyesal tidak nambah anak laki-laki.
"Sayang, kita program anak yuk!" celetuk Kris pada Rayrin dengan entengnya.
"Uhuk!" Kris buru-buru menyerahkan segelas air putih untuk istrinya yang tiba-tiba tersedak.
Tanpa mereka sadari, anak-anak dan orangtua mereka juga melongo mendengar penuturan Kris barusan.
"Mas! Ingat umur sih!" ucap Rayrin sambil menggeplak lengan suaminya yang masih saja keras dan kekar padahal Kris sudah berumur.
__ADS_1
Sedangkan, orang tua mereka cuma menggelengkan kepala heran melihat kelakuan putra mereka.
"Ya habisnya, kalau di pikir-pikir ya... nanti Shine, Disha, Krystal mereka bakal di bawa suaminya. Terus kita sendirian deh, seandainya punya anak cowok kan, jadi punya anak yang tersisa di sisi kita." jelas pria itu dengan tatapan sendu, Disha dan Shine jadi merasa terharu di buatnya.
"Sudahlah, Kris. Kamu ini nemuin Krystal aja gak becus kok mau nambah anak." ejek Bram sambil terkekeh meremehkan ala tawa kakek-kakek.
Yang juga mengundang gelak tawa dari seluruh keluarga, "Bawa pulang dulu itu anak gadismu, baru nambah anak." timpal ibu Kris.
"Emm, terus perjodohan Krystal sama Darren di lanjut, Pa?" kini Disha nimbrung dan membuat suasana rada canggung.
"Harus dong!" sambar Bram yakin, seketika hatinya menciut mendengar penuturan singkat kakeknya, ia harus segera membuang jauh-jauh perasaannya pada Dokter Darren.
Tidak seperti yang lainnya, Rayrin sangat peka dengan perubahan putrinya yang biasanya tidak terlalu peduli akan hal yang bukan urusannya, apalagi setelah itu ada kekecewaan yang tergambar dari wajah manis anak tengahnya.
...****************...
"Eh? Mama, kenapa, Mam?" tanya Disha, ia sedang mengeringkan rambutnya dan tiba-tiba sang mama masuk kamarnya.
"Sini anak kesayangan, mama." ujar Rayrin sambil menepuk ranjang di sisi kirinya, sebagai anak yang paling penurut Disha langsung duduk di samping mamanya.
Kemudian, Rayrin menyamping menghadap putri keduanya, mengambil alih handuknya dan mengambil alih pekerjaan mengeringkan rambut itu dari Disha.
"Eh, gak usah ma, biar aku sendiri." cegah Disha, tapi Rayrin tentu tidak mau mempedulikan.
"Kamu ini ya, selalu aja gak enakan, biarlah lagian mama ini kan mama kamu, emang salah mau ngurusin anak sendiri ?"
Dalam diamnya, Disha sangat baik, rendah hati, penurut dan pengertian.
"Tapi, mama kan tetap mamanya, Disha. Kalau, Disha ada perasaan yang ganjal hati Disha, Disha boleh cerita sama mama, jangan di pendam sendiri sayang..."
"Iya, mama. Mama selalu bilang itu sama Disha, sampai aku bosan lho dengarnya." jawab gadis itu bercanda.
Rayrin tertawa kecil dan menarik hidung putrinya gemas, ia mengecup singkat pipi putrinya dari belakang dan memegang kedua bahunya untuk membuat Disha menghadapnya.
"Dan kamu juga selalu jawab iya, tapi kamu selalu aja sembunyikan beberapa hal dari mama." tukas Rayrin dengan wajah di buat sedih.
"Ih, mama ini sok tahu."
"Bukan sok tahu, sayang. Tapi ..."
"Iya-iya, hubungan hati kan? Ikatan batin kan, dah Disha sudah hafal sama jawaban mama." lagi-lagi jawaban Disha membuatnya terkekeh.
"Jadi?"
__ADS_1
"Jadi apaan sih, gak jelas deh mama." ucap Disha sambil menaruh kepalanya di paha Rayrin.
"Kamu suka sama dokter Darren?" tanya Rayrin iseng, Disha langsung kembali duduk dan menatap mamanya.
"Mama?!"
"Hubungan hati, sayangnya mama. Jujur, saja. Jangan takut, kalian sama-sama putri mama, mama gak akan marah, perasaan datang tanpa bisa kita hindari." Rayrin merengkuh Disha dalam pelukannya.
"Kenapa bukan sama Disha, sih Ma?" tanyanya sendu, setitik air mata mulai jatuh setelah ia tahan-tahan sejak tadi.
Disha memang nampak tangguh, tapi ketika ia bercakap dengan mamanya, pertahanannya selalu runtuh.
"Karena, Darren sukanya sama Krystal, ya?" tebak gadis itu yang sudah pasti benar tanpa perlu di benarkan lagi.
"Sayang..."
Rayrin jadi ikut menangis, "Maaf ya, mama gak bisa apa-apa. Tapi, nanti mama usahakan bilang sama Papa, siapa tahu nanti, "
"Jangan, Ma! Hal ini pasti akan buat malu keluarga kita lebih banyak lagi, keluarga Om Dean pasti berpikir kita sudah mempermainkan mereka." cegah Disha, ia tidak bisa egois, ia akan memilih mengubur dalam-dalam saja perasaannya pada Darren daripada membuat keluarganya semakin malu.
Tanpa mereka tahu, Kris mendengar mereka dari balik pintu dan ikut menitikkan air matanya.
Selama ini, dirinya dan seluruh keluarganya mengutamakan Krystal, tapi lihatlah siapa yang telah berkorban perasaan demi mereka?
"Dishaku.." lirih Kris yang akhirnya tidak tahan untuk tidak memunculkan dirinya.
"Papa?"
"Mas, kamu?"
"Iya, aku dengar semuanya, makasih ya putri kebanggaan papa dan mama...tidak salah mama selama ini selalu condong ke kamu, ternyata memang kamu putri terbaik kami." ucap Kris sambil memeluk putrinya dengan perasaan bangga.
"Putri papa yang ini cantik dan sangat baik, papa akan cari jodoh yang lebih baik dari Darren, bagaimana dengan Sam?"
"Papa apaan sih, Disha bisa cari sendiri." tolak gadis itu dalam pelukan sang ayah.
"Iya, apa sih, kamu ini, Mas. Sam itu siapa lagi?!" sarkas Rayrin.
"Itu lho, Ma.. putranya Akira, Samudra. Sudah tampan, pewaris tahtanya Farid lagi, bahkan sekarang ia mengembangkan perusahaan manufaktur bersama kakaknya." jelas Kris menggebu-gebu.
Entah kenapa, Kris sangat tertarik dengan putra keduanya Farid itu.
#Kaisar dan Krystal gak muncul dulu kali ini:))
__ADS_1
jangan lupa vote dan bintang 5 nya yaaa
double up nihh hari ini kann