
Leonel takkan pernah mau melepaskan Krystal, tidak akan pernah!
Jika bukan sekarang, mungkin besok lagi ia takkan mendapatkan kesempatan memiliki Krystal lagi, Leonel bukan tipikal orang yang menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Leonel mengatur tempat tinggal selama ia berada disini untuk menjaga Krystal.
Jujur, ia takut, kilasan akan anak kecil dan mantan kekasih Krystal menakutinya.
Krystal dan pria itu punya benang penghubung, Jeno. Anak mereka.
"Le, kira-kira ada yang kurang tidak ya? Kita sudah beli semua keperluan rumah kan, aku takut ada yang belum kebeli, nanti kamu bingung." oceh Krystal sambil membongkar belanjaan mereka, wajar sih Krystal khawatir kan kekasihnya orang asing, akan sulit bagi Leonel untuk menemukan tempat atau toko ketika ia butuh sesuatu.
"Le? Leonel?!" tegur Krystal agak mengeraskan suaranya, karena Leonel malah melamun saja menghadap pintu kaca yang menghadap ke balkon.
Krystal menghela napas, pria itu masih belum menoleh atau bergeming dari tempatnya.
Krystal perlahan mendekati pria itu dan memeluknya dari belakang.
Leonel tersentak kaget, tapi segera mengkondisikan ekspresinya dan tersenyum segera, lalu mengelus dua tangan yang melingkar di perutnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Krystal, dia pikir semuanya sudah baik-baik saja, Krystal sudah jujur, Leonel sudah menerima, Krystal sudah memberikan penawaran dan Leonel sudah memutuskan.
Tapi, sepertinya Leonel masih punya beban pikiran.
"Tidak ada." jawab Leonel lembut, suara hangat itu membuat Krystal nyaman.
Akan sangat aneh jika Krystal tidak jatuh cinta pada pria ini suatu hari nanti.
"Bohong! Aku manggil kamu sejak tadi, tapi kamu tidak dengar." gerutu Krystal, yang membenamkan wajahnya pada punggung tegap Leonel, ia menghirup aroma Leonel, sepertinya ini akan jadi aroma kesukaannya. Sangat candu!
"Oh ya? Aku tidak mendengar, aku__"
"Jujur!" desak Krystal, membuat Leonel berbaik menatap mata Krystal-nya.
"Aku cuma, takut kehilanganmu. Itu saja." jawab pria itu santai.
"Apa kamu sedang merayu?"
"Aku cuma menjawab jujur, jangan terlalu percaya diri begitu."
"Ish! Menyebalkan ya, coba ayo cek, apa yang kamu butuhkan apa sudah kebeli semua atau belum, kalau belum aku akan cari nanti buatmu." Krystal menarik tangan Leonel menuju meja dan sofa tempat tadi ia membongkar belanjaan.
"Peralatan mandi sudah, stock makanan, camilan, terus apalagi ya? Sabun cuci piring, deterjen..... "dan masih banyak lagi barang-barang yang Krystal absen.
__ADS_1
"Rasanya aku seperti anak yang di urus ibuku waktu aku akan pindah ke asrama, Krys." kekeh Leonel, yang di balas cebikan jelek dari Krystal.
"Itu artinya aku mengurus kamu dengan baik, kamu beruntung, pacarmu itu aku." bangga Krystal dengan wajah sombong.
"Yayaya, aku beruntung." jawab Leonel malas, lalu memberikan kecupan pada pipi, Krystal.
Leonel tertawa saat Krystal mematung dengan rona merah di pipinya.
"Cuma di cium pipinya, sudah salah tingkah." goda Leonel, membuat Krystal kesal dan berakhir dengan perkelahian lucu di antara mereka.
Setidaknya, mereka harus bahagia di awal hubungan mereka kan?
...****************...
"Kai!" tegur Akira pada sang anak, sejak awal Kaisar datang ke rumahnya, pria itu cuma diam dan malah melamun di taman belakang sambil merokok.
Kaisar mendengus kasar, kala ia mendapati ibunya mengangetkan dirinya.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Akira yang kini memilih duduk di sebelah anaknya.
"Enggak." jawab Kaisar cuek, Akira kini sudah biasa karena sejak menikahi Liora dan di tinggalkan Krystal, anaknya jadi cuek terhadap dirinya.
Tapi bagaimana lagi, Akira tidak mungkin mendukung sebuah hubungan perselingkuhan!
Kaisar melihat ke arah mamanya dan membuang rokoknya, menginjaknya sampai tak mengeluarkan asap lagi.
"Sejak hari itu banyak hal yang ganggu pikiran aku, mama baru peka sekarang kah?" sahut Kaisar tak ramah, maafkan Kaisar tapi ia tetap menyesali apa yang mamanya lakukan, memaksanya menikah secepat mungkin tanpa membiarkan dirinya mencari keberadaan Krystal yang mendadak hilang.
"Ishar! Mama cuma melakukan yang seharusnya, seharusnya memang kamu ya sama Liora, di tambah dia udah memutuskan pergi Kaisar, dia sendiri yang mau, bukan mama yang suruh kenapa seolah-olah kaya semuanya kamu anggap salah mama?"
Kaisar hanya mendengarkan lalu menoleh ke arah mamanya lagi, tapi ia cuma diam.
"Jadi, yang buat kamu kepikiran dari tadi itu perempuan itu? Come on! Dia udah memutuskan pergi dan kamu udah punya istri, punya anak, Ishar! Jadilah laki-laki yang bertanggungjawab, jangan gila karena cinta butamu itu! Awas aja kalau kamu menyakiti menantuku dengan memilih kembali dengan perempuan itu!" hardik Akira, walaupun Krystal sudah meninggalkan putranya.
Tapi, Akira tahu Kaisar belum sepenuhnya lupa apalagi dengan eksistensi Krystal yang tak pernah hilang, pergi bukannya menghilang wajah perempuan itu malah ada dimana-mana.
"Tenang aja, mama gak usah khawatir, lagian dia sudah punya kekasih." jawab Kaisar sambil menunduk.
Akira menghela napas kasar, lelah ia lelah!
Menasihati putranya yang masih sama.
"Kamu sedih? Kenapa reaksinya gak enak gitu? Bagus dong, kamu punya istri dia juga punya pacar, itu bagus emang seharusnya gitu."
__ADS_1
"Tapi, mama____"
"Liora, Kaisar ingat! Dia sudah mendedikasikan dirinya untuk kamu, dia setia, dia sabar, dia terima sikap gak tau dirimu itu!"
"Iya, mama iya! Kaisar lagi berusaha untuk itu, aku juga sayang sama Liora, cuma___"
"Belajarlah untuk enggak peduli tentang apapun yang berhubungan sama dia, keluarga kita dan om Kris kerabat dekat sekarang, jangan buat masalah." pesan Akira sebelum meninggalkan Kaisar sendirian.
Kilasan saat ia bertatap mata dengan Krystal benar-benar menganggu pikirannya.
Ia rindu, sangat!
"Sadar, Kai, sadar!" Kaisar mengacak rambutnya kasar dan mulai menyalakan api untuk membakar rokoknya dan menghisapnya berharap pikirannya soal Krystal hilang bersamaan asap yang mengepul.
Lain, Kaisar.
Lain lagi dengan Liora, merasa mualnya tidak berhenti dari hari ke hari, membuat perempuan itu curiga.
Di tambah ia sudah melewatkan tanggalnya.
Dan benar saja, sekarang ia sudah memegang bukti garis dua, yang artinya dirinya positif hamil.
"Dia pasti senang kan? Calon adiknya, Jeno datang, aku akan jaga kamu disini calon anakku, walaupun nyawaku taruhannya." ujarnya sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Aku harus cepat pulang, aku gak sabar kasih tau ke Kai." gumamnya lalu membereskan barangnya dan segera keluar ruangan.
"Tara, aku titip butik ya, aku mau pulang lebih awal." pesannya ke Tara, Tara hanya mengiyakan walaupun ia penasaran apa yang membuat bosnya terlihat sebahagia itu?
Niatnya, Liora pulang lebih awal ia mau masak spesial untuk suaminya, menunggunya pulang dan memberikan kejutan.
"Semoga kamu senang, karena demi keinginanmu, aku mempertaruhkan keselamatanku lagi." ucap Liora yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Liora ingat saat mengandung Jeno, ia bahkan sampai koma beberapa hari, waktu itu hubungan antara mereka tidak baik sehingga jadi pemicu yang sangat buruk.
Untung saja , Jeno selamat.
Karena sekarang hubungan mereka baik, semoga saja semuanya akan jadi lebih baik walaupun seharusnya, ia tidak boleh hamil.
Lemah jantung dan gagal ginjal yang ia derita akibat dari eklampsia dulu, membuatnya di larang untuk hamil lagi.
Tapi, ini untuk kebahagiaan Kaisar, cinta yang selalu ia coba raih.
Belom tamat lohh gayss
__ADS_1
maksudnya end itu end flashback nya hehe