
"Sialan!" umpatnya saat melihat punggung Dave yang hilang setelah pintu ruangannya tertutup.
Kaisar meraih tisu di atas meja kerjanya, ia mengelap keringatnya sebelum papanya itu masuk.
Bisa-bisanya, ia ketiduran di ruang kerja bahkan mimpi melakukan hal tak senonoh dengan Krystal.
"Kaisar bodoh! Sejak kapan otakmu sebodoh dan selemah ini sampai memimpikan hal mesum?!" Kaisar merutuki dirinya sendiri, lalu cepat-cepat ke kamar ganti untuk mengganti kemejanya yang basah oleh keringat.
Mimpi erotis di siang bolong ini, nampaknya menghasilkan banyak keringat, padahal ruangannya memiliki pendingin.
Mimpi yang benar-benar panas!
...****************...
"Jangan bantu aku, Pa." tolak Kaisar saat Farid menawarkan bantuan padanya.
Farid, berinsiatif untuk membantu merayu Tuan Adiguna atau mungkin mendapatkan tempat lainnya, bahkan memberikan suntikan dana, sebab bisnis yang akan di mulai putranya kali ini butuh biaya yang besar.
"Jangan sombong kamu, sebagai orang tua papa cuma mau membantu karena itu bagian dari tanggung jawab papa, tahu?"
"Bukannya sombong, tapi aku mau mandiri."
"Hei, gak semuanya semudah itu, mungkin di awal kamu sukses dengan agensimu itu, tapi gak selamanya bisnis itu lancar."
"Nyatanya, papa lancar terus!" kilah Kaisar.
"Kata siapa? Pasti ada masalah di setiap bisnis, tinggal bagaimana kita mengurus masalah itu, jangan ragu untuk minta bantuan, dulu papa melakukannya dengan bantuan Om Gio dan Om Farel." jelas Farid, ia mencoba memberikan pemahaman bahwa tidak semuanya harus sendiri dan mandiri bukan berarti kita tidak butuh bantuan orang lain.
Apalagi, ini bantuan datang dari Farid, papa Kaisar sendiri !
"Hah! Mama benar, kamu semuanya 99.9% nurun papa. Sulit di mengerti." keluh Farid sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Menghadapi Kaisar, Farid merasa seperti mengahadapi dirinya sendiri, tiba-tiba pria tua itu bersyukur memiliki istrinya yang tahan dengan sikapnya yang keras kepala.
...****************...
Di tempat lain,
"Max!" panggil Karina pada sepupunya yang dengan bodohnya sedang bercumbu dengan perempuan bayaran di depan pintu penthouse milik pria itu.
Maxime mendesah kasar, wanita bayaran itu merengut kesal karena kegiatan mereka terganggu oleh Karina.
__ADS_1
"Liat-liat tempat dong!" ucap Karina sambil melirik tak suka pada wanita di sebelah sepupunya.
"Ganggu aja!" dengus Maxime, sambil mengusap wajahnya kasar, ia sebal sebab tadi gairahnya sedang naik saat Karina menginterupsi kegiatannya.
"Gue ada sesuatu yang penting buat di omongin." tanpa basa-basi Karina menarik tangan Maxime masuk penthouse seenaknya, meninggalkan wanita malam itu sendirian.
Maxime, cuma bisa menengok ke belakang sebentar untuk memberikan tatapan menyesal dan kedipan genit agar wanita itu mengerti dan pergi.
Karina mendorong Maxime kasar ke sofa milik pria itu, "Nggak tau malu!" ketus Karina.
"Heh! Gue nih cowok dewasa, bulan bocah ingusan kaya lo. Terserah gue lah!"
"Bodo amat! Gue mau ngomong penting!"
"Ada apaan?" tanya Maxime cuek, sambil membenarkan posisi duduknya.
"Jangan kasih tau teman lo, kalau Krystal bukan pembantu yang sebenarnya." ucap Karina agak berbisik.
"Lah? Kenapa? Katanya tuh cewek mau jadi model? Beneran nih, yang harusnya jadi pembantu Kai, udah dateng."
"Ssstt! Nurut aja sih, tolong kali ini aja, jangan sampai ada yang tau keberadaan Krystal, dia lagi ngumpet soalnya."
"Ngumpet? Dia buronan? Wah gila lo! Gue gak mau ya urusan sama polisi."
"Oke-oke, tapi ini cewek gimana? Mau jadi model? Kan harusnya jadi pembantu."
"Ya itu sih terserah lo, kayanya udah jadi pembantu di rumah lo." sindir Karina sambil melirik seorang gadis yang tengah berjalan dengan dua gelas minuman menuju mereka.
Maxime mana mungkin melepaskan, cewek ini, meski dari kampung tapi Bulan sangat cantik dan seksi di balik baju kampungannya.
Ia takkan menyia-nyiakan Bulan, agar jatuh ke dalam pesonanya.
Bagi seorang Casanova unggulan seperti Maxime, gatal rasanya jika tidak membuat gadis cantik jatuh ke pelukannya.
.
.
.
Kaisar menatap makan malamnya dengan diam, jemarinya mengetuk meja pelan.
__ADS_1
"Gadis ini bisa masak gak sih?" gumamnya, sambil melirik Krystal yang sedang berjalan membawa susu untuknya.
Pandangan elang Kaisar, naik ke arah wajah Krystal yang...
"Astaga, melihat bibir itu aku jadi ingat mimpiku tadi siang. Bisa-bisanya aku!" rutuknya dalam hati.
"Silahkan, Tuan Muda." ujar Krystal mempersilahkan.
"Kau merubah panggilanmu?" tanya Kaisar dengan nada datar sambil mencoba memakan telur mata sapi yang bentuknya berantakan, agak gosong dan kuningnya pecah sangat tidak aesthetic.
Krystal mengangguk kuat, "Aku harus belajar, lebih formal soalnya pembantu di rumahku memanggil, ups!"
Reflek, Krystal menepuk mulutnya yang salah bicara.
"Pembantu di rumahmu? Apa seorang asisten rumah tangga sekarang kaya raya sampai punya pembantu di rumahnya?" tanya Kaisar heran.
"Itu maksudnya, di rumah majikan terdahulu, begitu." jawab Krystal kikuk, Kaisar hanya mengangguk lalu memasukkan suapan pertamanya.
"Uhuk!"
Krystal yang berdiri di sisi depannya, di sebrang meja makan reflek menuangkan air mineral untuk di berikan pada majikan tampannya itu.
"Apa kau menaburkan satu bungkus garam ke makanan ini, hah?"
Krystal meringis dan menggaruk kepalanya, "Anu, tadi kebablasan cuma sayang kan, kalau telurnya di buang. Jadi yaa..."
"Tck! Terus aku suruh makan telur gagal ini, begitu? Kalau kau buang juga, tidak akan membuatku rugi atau kalau kau merasa sayang, makan saja ini!" ketus Kaisar sambil menaruh sendoknya kasar hingga menimbulkan bunyi penyatuan kasar sendok dan piring, lalu menggeser piringnya ke arah Krystal dengan kasar.
Kaisar sudah lelah, usahanya untuk membangun bisnis properti seperti kakeknya tidak semulus saat ia membangun sebuah agensi entertainment.
Sampai rumah malah di berikan makanan yang seperti sebuah hasil eksperimen gagal.
Krystal menunduk dalam dan menggigit bibir bawahnya, meski Kaisar memang galak tapi pria itu belum pernah bertingkah kasar.
Kaisar melirik kesal ke arah pembantunya yang sembrono itu.
Sialnya, mata nakalnya menangkap pemandangan menarik.
Bibir yang di gigit kecil itu menarik perhatiannya.
"Sadar!" bentak Kaisar dalam hati untuk dirinya sendiri, ia menggeleng pelan kemudian meninggalkan meja makan dan juga Krystal yang menghela napasnya kasar.
__ADS_1
"Galak banget! Sabar... sampai mama papa berhenti menjodohkan aku."