My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 51 : Secret


__ADS_3

"Pulang minggu depan bisa kan? Bisa kan, Di?" ujar Shine menyudutkan Diana yang kini niatnya menjemput artisnya agar segera bersiap.


Diana cuma planga-plongo menoleh ke arah Krystal dan Shine bergantian.


"Kak jangan bikin susah, Di. Dia pasti sudah susah menyusun jadwalku dan__"


"Bisa di susun ulang, iya kan, Di? Kami mohon." pinta Shine dengan menangkupkan kedua tangannya.


Diana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia harus bagaimana sih ini?


Semuanya jadi ribet, pantes Krystal males pulang, keluarganya ribet.


Diam-diam, Diana mengeluh dalam hati.


Tiba-tiba, Shine mengambil paksa koper Krystal, "Tetap disini sampai semuanya baik."


"Tapi, Di yang gak baik kak."


"Oke, Krys, aku bakal minta tolong Leonel soal ini, akan aku usahakan." putus Diana mengangkat tangan, awalnya ia merasa kesal dengan drama ini, tapi memang antara Krystal dan keluarganya itu banyak yang harus di selesaikan.


"Aku akan berusaha berbicara dengan beberapa pihak, Krystal akan cuti beberapa waktu."


"Astaga, kak? Di, maaf ini pasti akan sulit untuk kamu." Krystal benar-benar merasa menyesal, walaupun tidak banyak ini pasti akan membuatnya dan Diana di cap tidak profesional, padahal lusa nanti adalah jadwalnya untuk Glare & Claire.


"Tapi, kali ini biarkan Krystal pulang ke Milan untuk mewakili salah satu brand, aku yang memohon kali ini, ia harus ada di fashion week lusa." ucap Diana memohon.


"Setelah itu aku akan mencoba mengkondisikan untuk membuat Krystal tetap disini, bahkan hiatus___"


"Di, kamu gak perlu repot-repot. Kakakku berlebihan maaf." sela Krystal menyentuh bahu managernya.


"No, Krys! Kamu memang harus menyelesaikan beberapa hal dengan keluargamu, oke?" putus Diana, telak.


...****************...


Memukau!


Satu kata yang bisa menggambarkan betapa menawan wanita yang berjalan di atas catwalk itu.


"Dia luar biasa!" puji Claire, melihat penampilan Krystal, Leonel tersenyum masam.


"What happen,Leon? Biasanya putraku paling bersemangat soal Krystal." kata Claire menggoda putranya, Claire mungkin sosok yang nampak tegas di luar tapi dimata anak-anaknya ia adalah ibu yang periang.


Meski, sibuk.


Putra-putri Claire tidak pernah kekurangan kasih sayang, ia pandai membuat semuanya jadi seimbang.


Kesibukan tidak membuatnya abai, ia selalu meminta maaf dan melakukan usaha apapun jika ia merasa ingkar janji atau punya salah pada anak-anaknya.


Oke, kembali dengan pria patah hati itu.


Mata hijaunya tetap menatap diam-diam kecantikan wanita pujaannya.

__ADS_1


"Mom, jangan bicara aneh-aneh. Aku tidak begitu." sangkal Leonel.


"Kau, begitu. Dia model favoritmu."


"Tidak lagi." balasannya.


"Kenapa?" tanya Claire heran.


"Tidak." ucap Leonel dingin, semua putranya pendiam dan dingin, tapi Leonel ini masih punya sisi hangat dan ramah sepertinya.


Cuma, ini berbeda.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya curiga.


"Stop, Mom. Fokus pada acara lebih baik."


...****************...


Acara selesai, waktunya pulang dan istirahat, tapi masalahnya kali ini ia akan pulang ke Indonesia.


"Tidur yang nyenyak, Krystal. Aku ada urusan mendadak, kamu bisa kan pulang sendiri."


"Ya, Di." jawab Krystal sambil memakai mantel berbulunya, cuaca malam ini dingin.


"Ingat, Krys! Besok siang penerbangan ke Indonesia, istirahat yang cukup."


"Iya, Diana sayang. Cukup? Sudah, ayo kita pulang."


"Hati-hati, kau pulang sendirian atau mau aku panggilkan, Leonel saja, dia akan mengantarmu." usul Diana.


Baru saja, Diana mengangkat tangannya untuk memanggil Leonel yang juga ada di area parkir, Krystal menampik tangan perempuan itu.


"Jangan merepotkan orang lain, Di. Aku bisa." tekan Krystal.


Oke, Diana blank.


Dirinya lupa kalau terjadi sesuatu antara mereka, Krystal pasti tidak enak hati.


"Minta maaf, Krys. Leonel pria baik, aku pergi dulu." pesan Diana, berlari ke arah mobil yang baru saja berhenti di dekat mereka.


Krystal menghela napas sambil melihat ke arah dimana pria tampan itu berdiri, nampaknya Leonel sedang berbicara di telepon, entah kenapa ia ingin memerhatikan Leonel sampai pria itu masuk ke dalam kendaraannya.


"Maaf, kamu begitu baik untuk sampah seperti aku." gumamnya.


Krystal merasa bersalah, ia tak pernah merasa berharga di balik rasa percaya dirinya ia punya rasa rendah diri yang sangat besar.


Setelah sekian lama, di kamar apartemen yang sudah ia tinggali beberapa tahun terakhir ini.


Krystal terdiam melihat pergelangan tangan kirinya yang ia sayat sampai berdarah.


Beruntung, ia tidak menyayat dalam, karena malam ini tidak akan ada Diana yang membalut lukanya atau menghentikan darahnya dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Krystal menatap kosong pada satu titik.


Cermin, ada bayangan dirinya disana.


Tetes demi tetes air mata juga mulai keluar dari kelopak matanya.


Baginya, ketika ia merasa bersalah dan tak berguna menyakiti dirinya sendiri adalah cara terbaik untuk membuat perasaannya lega.


"Ck! Bodoh!" tiba-tiba ia bangkit mengusap air matanya kasar, lalu tertawa sumbang melihat dirinya di cermin, ia berdiri meraih tisu dan mengambil beberapa lembar dengan kasar dan membersihkan darah yang ada di tangannya.


"Aku sudah mirip orang gila kalau seperti ini." gumamnya geli, tapi perasaannya masih tak karuan.


"Pulang?"


Krystal bicara sendiri, pada dirinya sendiri, ia membuka laci meja rias dan mengambil sebuah buku.


Ia mengambil sebuah foto polaroid, "Apa kita akan bertemu lagi, kak? Bagaimana ini? Aku masih mencintaimu, apa aku harus jadi pelakor?" katanya nyeleneh sambil memandangi foto itu, kemudian tertawa sumbang, lagi...


"Oh, come on, Krystal. Kamu cantik, terkenal, kenapa harus dengan suami orang? Leonel bahkan sangat tampan dan kaya." katanya lagi lalu membanting tubuhnya di kasur.


Ini!


Adalah rahasia Krystal.


Krystal kadang heran ia seperti gila, tapi tidak!


Ia tahu ia masih punya akal.


Hanya saja, terkadang ia bingung dan seperti orang depresi.


Sering berdebat dengan dirinya sendiri, seolah punya lawan bicara yang lain.


Krystal rasa, mungkin itu karena ia tidak punya siapapun.


"Aku sendirian." itu yang selalu ia ucapkan, "Padahal, disini aku punya Di, ada Leonel yang baik, ada rekan-rekan yang baik."


Entahlah, pernahkah kalian merasakan ini?


Sendirian, meski dikelilingi keluarga dan teman-teman?


Bercerita pada mereka terkadang hanya akan menambah beban.


Krystal tersenyum tiba-tiba.


"Aku harus menemui, Leonel, sekarang juga." lalu bangkit dari kasurnya kemudian bergegas menghubungi pria itu.


'Apa aku harus menumbalkan seseorang untuk kesedihanku yang tak jelas ini?' pikir Krystal, kepalang tanggung ia tetap menuju pada dimana Leonel berada.


Kalau aku gak sibuk atau gak ada kendala aku bakalan update setiap hari makasihh


maaf yaaa kalau part ini gak jelas banget aku tau kok ini gak jelas banget tapi....

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya semuaa 🤍


__ADS_2