
Krystal sedang sibuk mengeringkan rambutnya ketika ponselnya berisik menyerukan notifikasi dan entah siapa yang menghubungi dirinya, mungkin, Di?
Ayolah, biasanya juga seperti itu.
Terbiasa hidup sendiri dengan hanya Di, yang menjadi sumber kebisingan dalam hidupnya.
Ya, andai bayinya ada di sampingnya, mungkin ia sudah besar dan menjadi sumber kebisingan yang mewarnai setiap harinya.
Sayangnya, dia tidak berada di sisi Krystal.
Krystal menghela napas sebelum mengangkat panggilan dari nomor Indonesia.
"Ya, kak?"
"Kembalilah untuk pernikahan, Disha." ucap Shine di seberang sana.
"Kapan?" tanyanya dingin, ia tidak begitu hangat setelah kejadian buruk itu, ya kecuali dengan Shine, mungkin ?
"Minggu depan." sahut Shine di seberang sana, Krystal bahkan tidak mendapat kabar apapun dari papa,mama atau bahkan Disha sendiri.
Krystal seperti, di kucilkan tapi tidak di kucilkan juga, ya begitulah intinya ia merasa kurang nyaman, ada rasa bersalah yang mengganjal di hatinya.
"Mungkin, Disha tidak berharap aku datang." selorohnya dengan senyum kecut.
"Krysie, ayolah! Kamu adik kami, Disha sibuk di rumah sakit dan juga persiapan pernikahan, mungkin karena itu." jelas Shine.
"Rumah sakit? Disha bekerja menjelang pernikahan? Apa dia bercanda?"
Disha masih saja belum berubah, pikir Krystal.
"Ya, tahu sendiri lah bocah itu sangat giat belajar dan bekerja."
"Oke, aku harus diskusikan dengan, Di. Nanti aku hubungi lagi." putus Krystal.
Sepertinya baru kemarin mereka bertunangan lalu sekarang mau menikah, pemberitahuan juga mendadak.
Entahlah, mungkin orang-orang disana lupa kalau Krystal berhak tau semuanya.
"Apa aku harus pergi? Pentingkah?" gumamnya sambil menatap dirinya di cermin, tiba-tiba ia merasa asing, di tambah lagi pernikahan Disha itu bahaya untuknya.
Kalau dia hadir, ia akan membuka luka lama atau membuat cinta lama bersemi, ada dua kemungkinan!
Krystal hampir merebahkan tubuhnya seandainya ponselnya tidak kembali menginterupsi kegiatannya.
"Ya ampun, gue mau istirahat!" keluhnya.
"Ada apa?" sahutnya judes.
"Apa aku mengganggumu, Racle?" tanya orang di sebrang sana.
"Racle? Kamu menyebut aku apa, Leonel?" Krystal terkekeh pelan disana.
"Ya, namamu Miracle kan? Aku ingin panggilan yang berbeda."
"So, ada perlu apa, Leo?" kata Krystal tak mau berbasa-basi karena jujur saja ia sudah lelah dan besok ia ada pemotretan.
Kenapa pria ini tidak pernah berhenti mendekatinya, ya ampun Krystal tahu dia tampan, fotografer profesional dan dengan vibes manly di tambah tubuh atletisnya siapa sih yang tidak mau dengan Leonel, walaupun bukan Leonel Messi, tapi mata hijau emerald nya sangat memikat.
"Hanya ingin menyapa." sahut Leonel santai.
__ADS_1
"Hah? Apa kau serius? Dasar gila, aku mau istirahat,heh." keluh Krystal lelah.
"Oke-oke, princess. Selamat beristirahat, keajaibanku." kemudian Leonel memutuskan sambungan secara sepihak sebelum Krystal melayangkan protes.
"Apa itu tadi? Apa dia jadi semakin gila, hah? Dia tidak tahu saja aku kesialan bernama keajaiban." Krystal tersenyum pahit sebelum memulai memejamkan mata dan menitikkan air mata dalam diam ketika kilasan masa lalu melintas di pikirannya.
Semua berubah tapi satu yang belum berubah.
Kebiasaan, Krystal yang menangis dalam diam sebelum tidur.
Paginya.
Sambil sarapan Krystal memainkan ponselnya.
"Wah, menikah dengan keluarga itu membuat Disha masuk berita di internet." puji Diana yang sambil memotong pancake apelnya tapi matanya fokus pada ponsel yang menunjukkan berita pernikahan seorang anak konglomerat.
"Dia keren kan, Krys. Kakakmu itu, pintar dan mendapat suami yang luar biasa." puji Di, lagi dan lagi.
"Ya, dia sangat beruntung." jawab Krystal seadanya, lain dengan dirinya yang jauh dari kata beruntung soal cinta.
Ia diam-diam melihat akun sosial media Liora dengan akun fake, ia menonton kebahagiaan orang yang pernah atau bahkan masih ia cintai hingga detik ini.
Mommy, Daddy dan seorang balita laki-laki.
Liora terlihat sangat bahagia dengan keluarga kecilnya.
Dia juga, nampak bahagia.
Kaisar, nampak bahagia dengan istri dan putranya.
Lalu, Krystal.
'No! Bersyukur, kamu punya karir yang luar biasa, Krys!' batinnya mengingatkan.
Di lain sisi.
"Dia sudah menjadi sangat luar biasa." celetuk Liora, tiba-tiba.
Akira yang tidak tahu apa-apa, menoleh bingung ke arah sang menantu yang tak sengaja melihat majalah fashion di atas meja yang terletak di ruang keluarga.
"Siapa maksud mu?"
"Dia, Miracle Krystal model ternama yang sangat di cari, karena seluruh brand yang tersentuh oleh tangannya akan langsung habis terjual di pasaran, impact-nya tidak pernah main-main." jelas Liora kemudian di akhiri dengan senyum masam.
Perkataannya benar, impact atau pengaruh dari seorang Miracle Krystal tidak pernah main-main.
Ia bahkan tinggal bersama orang yang terkena dampak dari kuatnya pengaruh Krystal.
"Sudah, kita harus segera mengatur semuanya, sebentar lagi waktunya pertemuan keluarga, jangan singgung apapun di depan mereka tentang Krystal dan soal Kaisar, mama akan coba tangani anak itu!" ucap Akira mencoba mengalihkan pembicaraan menantunya, ia bisa membaca raut wajah Liora yang tak enak dan muram.
Kadang Akira penasaran, apa iya setelah hadirnya Jeno di antara mereka, Kaisar masih tidak bisa mengalihkan perhatiannya untuk istrinya?
Oh ayolah!
Apa putranya menjadi brengsek hanya mau memakai, menghamili, memberikan uang tanpa mau membagi hatinya dan perhatiannya untuk Liora.
Jujur, Akira agak khawatir tentang kondisi batin menantunya.
Meski bahagia ,tapi Liora nampak kurus dan terkadang nampak pucat.
__ADS_1
"Tck! Anak itu! Bisa gak sih ngurus istri!" decihnya pelan sambil berjalan cepat menuju dapur untuk menyiapkan segala keperluan.
"Mom!" teriak Jeno, melengking.
Senyum, Liora terpatri lembut di wajah ayunya.
Matanya berbinar lebar saat setelah Jeno, ada suaminya disana.
"Daddy datang?"
"Tidak, aku tidak akan ikut makan malam."
"Kaisar!" tegur Farid yang juga ada disana datang bersama mereka berdua.
Oke, Liora bisa menangkap keadaan ini.
Pasti Farid yang menyeret anaknya kesini.
"Pa! Papa harusnya ngerti, kalau_"
"Bersikap biasa saja kan bisa, demi kelancaran semuanya."
"Nono, main sama aunty dulu ya." bisik Liora sambil menunjuk ke arah adik iparnya berada.
"Papa benar, Kai. Harusnya, kalau kamu merasa sudah selesai sama masa lalu kamu, kamu bisa bersikap biasa aja." kali ini Liora ikut nimbrung.
"Li, kamu gak akan tahu rasanya jadi aku!" dengus Kaisar setelah tadi sedikit membentak istrinya di depan papanya sendiri.
"Buat apa jadi kamu, Kai! Orang jadi diri aku sendiri aja capek, capek Kai! Kamu kira aku gak bisa marah dan hanya bisa nurut sama kamu aja gitu?"
"Li, sejak kapan kamu berani sama aku, sih?"
"Dan sejak kapan kamu kasar sama istrimu, hah?!" geram Farid.
"Pa, ini urusan rumah tangga aku." sanggahnya.
Farid memutar bola matanya malas dan memilih pergi memberikan waktu untuk pasangan itu, walaupun sebenarnya ingin ikut campur.
"Li, ayo ke kamar aku!" Kaisar menarik tangan Liora masuk ke dalam kamarnya dulu yang ada di rumah itu.
Di kamar, Kaisar menyugar rambutnya kasar, tangan kuatnya itu mencengkram sebelah lengan Liora.
"Maksud kamu bilang gitu di depan papa apa?" todongnya pada sang istri.
"Aku cuma__"
"Cuma?" todong Kaisar lagi, Liora gelagapan ia takut dengan sosok Kaisar yang ini, biasanya Kaisar hanya bersikap dingin jarang bersikap kasar.
"Aku cuma bilang aku capek, capek jadi istri yang gak di anggap, kalau kamu nyuruh aku jadi kamu, apa kamu sanggup jadi aku sehari aja?! Aku kasih kamu, Jeno. Tapi, apa kamu pernah kasih aku cinta?"
"Li, apa semua yang aku kasih kurang? Aku menafkahi kamu lahir dan batin, aku putus sama dia, aku menikah sama kamu, kita ngurus Jeno bersama ,kurang?"
Liora sakit mendengar penuturan Kaisar.
Tentu saja itu kurang, untuk apa semua itu kalau Kaisar tak cukup menganggapnya sebagai sekedar ibu dari anaknya saja.
Ia ingin menjawab tapi ia merasa lemas, dan tiba-tiba semuanya gelap.
Double up dongg
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mau dukung
Komen di bawah ya bagaimana menurut kamu episode ini, makasihh