My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 15 : Semakin Dekat #2


__ADS_3

Krystal merasa bersalah ia tidak mampu menjawab panggilan mamanya.


Walaupun rindu, tapi rasa bersalah lebih mendominasi.


"Sudah jangan nangis." ujar Kaisar yang sejak setengah jam lalu berusaha menenangkannya.


"Kangen mama....! Huaa..." rengeknya, seperti anak kecil, toh dasarnya Krystal emang manja.


Situasi itu membuat Kaisar, membawa Krystal dalam dekapannya.


Krystal kaget, tapi keadaan hatinya tidak mendukungnya untuk kaget-kagetan dulu, ia sedang sedih, lebih baik ia menikmati kehangatan yang di berikan pria dingin itu.


Kaisar mengelus lembut punggung Krystal, "Kalau kamu nggak bisa hidup tanpa mama kamu, kenapa kabur? Dasar bocah!" ejek Kaisar sengaja, agar gadis muda di dekapannya tidak nangis terus, soalnya kaus putih yang ia kenakan sudah basah di bagian dadanya gara-gara air mata Krystal.


Berhasil !


Krystal diam, lalu mendongak melihat Kaisar dan menatap pria itu sebal.


"Kan udah di bilangin, Krystal nggak mau nikah sama Kak Darren, apalagi Disha suka sama dia!"


Kaisar tidak tahu permasalahan gadis itu, tapi ia berusaha menjadi pendengar yang baik, kasihan juga Krystal kalau harus sendiri.


"Bagaimana perasaan Disha kalau cowok yang dia suka, nikah sama aku, adiknya sendiri!" ujarnya masih sesenggukan.


"Yaudah kalau gitu tolak aja." jawab Kaisar enteng.


"Nggak semudah itu, kalau mudah aku gak perlu sembunyi tau. Terlebih lagi, aku masih muda, aku pengin jadi model kaya mama waktu muda, tapi seluruh keluarga nentang cita-cita aku." curhat Krystal tanpa canggung sedikitpun, bahkan ia masih berada di pelukan pria itu.


"Kakek bilang, aku harus nikah sama dia, mama bilang mereka sudah selalu menuruti aku dan sekarang mereka cuma mau satu permintaan dari aku, yaitu nikah sama dokter untuk memenuhi aturan keluarga. Tapi, kamu tau gak? Shine aja, gak papa gak nikah sama dokter, Bang Langit itu TNI lho." cerocos Krystal, namun Kaisar membiarkan gadis itu bercerita, karena itu pula Krystal lupa menangis, sekarang ia cuma bercerita, air matanya tak luruh lagi.


Krystal juga sudah melepaskan diri dari dekapan Kaisar.


"Oh ya? Keren dong!"


Jujur, Kaisar merasa ia seperti sedang menanggapi cerita anak berusia lima tahun!


"Hmm, keren. Shine bisa menikahi cowok impiannya." sahut Krystal yang mulai sedih lagi.


"Terus kalau kamu, cowok impian kamu siapa? Bukannya pria itu cukup keren, dia seorang dokter lho."

__ADS_1


"Keren sih, kalau aku akhirnya nggak menyakiti kakak aku sendiri." jawabnya lesu.


"Berarti kalau, kakak kamu gak suka sama dia kamu mau sama Darren itu?"


"Nggak juga! Bukan tipe aku dia nih!" sahut gadis itu tegas.


"Terus tipe kamu yang kaya gimana?"


Yang seperti kamu, boleh?" sahut Krystal dengan tidak tahu dirinya.


Kaisar menatap lekat, gadis muda di dekatnya, kemudian ia tertawa kencang.


"Bercanda kamu, hahaa.."


"Nggak! Tuan tampan, cool, pokoknya tipe aku banget, tapi tuan sudah punya pacar, sayang sekali, kalau enggak..."


"Kalau enggak?" tanya Kaisar penasaran, entah kenapa apapun tentang Krystal begitu menarik perhatiannya. Ia seolah ingin tahu.


"Ciye penasaran, hahaha...." ledek Krystal, gadis itu menertawakan Kaisar.


"Krystal awas kamu ya!" kemudian pria itu menggelitik perut Krystal membuat gadis itu menggelepar kegelian di atas sofa ruang tengah.


*


*


*


Ucapan Kaisar sehari yang lalu masih terngiang-ngiang di telinganya, serasa indah, kini ia semakin dekat dengan pria pujaannya, walau tidak jadi pemilik hatinya.


Entah bagaimana, beberapa interaksi membuat mereka semakin dekat.


Setelah kejadian, Krystal yang dengan lepas menceritakan tentang dirinya, Kaisar juga kadang bercerita tentang keluarganya yang sangat harmonis.


"Krys!" panggil Kaisar, ia menepuk pundak gadis itu, sebab sejak tadi di panggil tidak jawab juga.


"Ehh, om?!" Krystal yang tengah sibuk menggoreng telur sambil senyum-senyum itu langsung berjengit kaget.


"Bikin kaget aja sih!" protesnya.

__ADS_1


Mendengar itu, Kaisar jadi kesal, ia tahu Krystal sengaja meledeknya, semakin dekat dengan gadis itu ia semakin tahu Krystal itu usil !


"Om kepalamu!" Kaisar menjitak kening Krystal, yang mengaduh sambil mengelus bekas jitakan pria itu.


"Om nggak kerja?" tanya Krystal dengan senyum jahil.


"Krystal!" geram pria itu sambil melotot sebal.


"Iya-iya, maaf." akhirnya Krystal mengalah, "Maaf ya, aku gak seharusnya ngeledek orang tua." ucap Krystal lagi, yang tetap saja itu adalah ledekan untuk Kaisar.


Tak sabar, Kaisar mencubit dua pipi chubby Krystal, "Aww! Sakitt tauu!" protes Krystal saat pipinya sudah lepas dari cubitan Kaisar.


"Aku gak masuk kerja hari ini, kayanya aku gak enak badan." ujar pria itu, lengannya bergerak melingkar di perut Krystal yang sedang memindahkan telur kedua yang ia goreng ke atas piring.


Blush!


Pipinya merona, jantungnya berdegup kencang.


Kaisar apa-apaan sih kenapa main peluk dirinya begitu saja.


"K-kak?"


"Hmm?" sahut Kaisar, yang malah menaruh dagunya di atas bahu Krystal.


Gadis itu bisa merasakan hembus napas Kaisar di lehernya yang terbuka, sebab rambutnya ia ikat kuda.


"Kak!" panggil Krystal lebih kencang.


"Apa?" jawab Kaisar dengan suara serak di susul kecupan ringan di leher Krystal.


Seketika, Krystal mematung, jantungnya semakin berdebar kencang.


"Kak, kamu ngapain sih!" protesnya, tapi kalau di balas tawa oleh Kaisar.


"Sialan! Jadi kakak ngerjain aku ya!" tuduhnya yang sepertinya benar karena sekarang Kaisar nampak mundur darinya dan tertawa terbahak-bahak melihat pipi Krystal yang sudah semerah tomat.


"Satu sama!" kata Kaisar antusias.


Kaisar merasa ada yang berbeda dengan dirinya sejak dekat dengan Krystal, ia jadi memiliki sisi hangat dan jahil.

__ADS_1


Hidupnya yang monoton jadi lebih seru.


Di jahili dan menjahili Krystal, membuat harinya berwarna.


__ADS_2