My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 70 : Mi Amor


__ADS_3

'I miss you, amor.'


'Sleep tight, baby!'


'i'll get you, mi amor..'


'Biarkan jantung ini berdetak untukku.'


'Racle!'


'Miracle!'


'Aku mencintaimu.'


'Katakan, kamu juga mencintaiku!'


'Miracle Krystal!'


"LEONEL!" pekik Krystal, napasnya terengah-engah, ia melihat ke sekeliling, ia tertidur di kursi tunggu.


Dirinya cuma memejamkan mata sebentar, tertidur hingga semua kata-kata Leonel terngiang-ngiang dalam tidurnya.


"Are you okay?" tanya Alexa yang ikut kaget, begitu juga Claire yang masih menunggu dengan wajah cemas.


Krystal menggeleng kencang, "No! Biarkan aku melihatnya, sebentar saja!" mohon Krystal.


Krystal takut, wajah dan suara Leonel terus menerus membayang ketika matanya terpejam.


Krystal berdiri di depan pintu ruangan Leonel.


Melihat pria itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit melalui pintu yang sebagian kecilnya memiliki kaca.


"Leonel, buat mereka mengerti, aku mau bertemu kamu! Leonel, kamu bilang kamu mau jantung ini berdetak untukmu kan? Iya kan sayang?! Kalau begitu bangun dan bernapas juga untukku!"


'Miracle Krystal, kau adalah keajaiban untukku, persis seperti namamu.'


lagi, kata-kata pria itu terngiang-ngiang terus menerus.


"Leonel, bangun lihat aku disini, kamu rindu aku kan??! Aku merindukan kamu, Leon!" ujarnya histeris, hingga ia menyerah dan terduduk di lantai depan ruangan Leonel.


Ngomong-ngomong, dokter kemarin mengatakan bahwa Leonel koma, dan ini sudah hari ke tiga.


Tapi, pria itu tidak boleh dijenguk terlalu sering, di tambah setiap Krystal datang ke rumah sakit gilirannya tidak pernah dapat ia mengalah karena anggota keluarga inti Leonel lebih berhak untuk itu, daripada dirinya.


Alexa memegang kedua bahu Krystal yang bergetar dan membawa Krystal duduk kembali dengan benar.


"Alexandra, siapa wanita ini?" tanya Alexander yang baru datang, pria itu tak tahu apapun sebab ketika datang kesini selalu saat Krystal tidak ada.

__ADS_1


"Dia yang aku ceritakan, pacar Leonel." jawab Alexa yang di angguki oleh Alexander.


"Aku pergi dulu, aku akan mencari dokter terbaik untuk Leonel, kalian tenang saja. Aku dan ayah akan berusaha untuk adik kita."


ujar pria bertubuh tinggi itu, matanya tajam seolah membunuh siapapun yang mengangkat pandangan ke arahnya.


Tapi, Alexander adalah pria yang menyayangi keluarganya.


"Krystal, tenang. Aku janji, nanti akan tiba giliranmu." ujar Alexa, mau bagaimana lagi memang kondisinya, Leonel tidak boleh begitu lama atau terlalu banyak yang menjenguknya.


Krystal mengusap kasar air matanya, menatap penuh harap pada Alexa.


"Aku merindukan dia, sangat! Aku rindu senyumannya, aku rindu candaan konyolnya, aku rindu suaranya, semuanya! Lihat, kenapa dia cuma diam saja disana sekarang? Apa dia tidak merindukan aku, huh?! hiks."


Alexa bisa apa, yang sedih bukan cuma Krystal, dia terutama keluarganya juga sedih.


Disaat yang sama di belahan dunia lainnya.


Keadaan yang sama terjadi.


"Apa anda tidak mengerti tuan? Bukanya anda tau kondisi istri anda terakhir dia melahirkan? Kenapa anda membiarkan dia hamil? Jangan egois jadi laki-laki." omel dokter perempuan yang dulu pernah menangani Liora.


Dokter ini tau setiap kondisi Liora, ia juga tau Liora sering check up tanpa suaminya.


Kaisar, bingung kenapa dia tiba-tiba di marahi?


"Gagal ginjal dan lemah jantung, satu kehamilan bisa membuatnya lenyap, aku tidak bisa memastikan, tapi kemungkinan gagal jantung saat persalinan itu mungkin terjadi."


"Apa?!"


Dokter itu memutar matanya malas, apa-apaan pria di depannya ini, sangat egois dan tidak peduli istrinya.


"Saranku, angkat janinnya, saya mohon jangan egois. Ini untuk keselamatan Nyonya Liora."


"Jangan bermain-main denganku, anda tau siapa saya?!" ancam Kaisar.


Oh, ayolah dia jadi sangat panik, tadi dirinya cuma mau memberikan kejutan untuk istrinya tapi apa?


Tiba di rumah, Liora sudah dalam keadaan pingsan dengan Jeno yang menangis di sebelahnya.


"Tuan, harusnya anda yang jangan bermain-main dengan nyawa istri anda, kandungnya lemah, fisik ibunya juga lemah." jelas dokter itu dan meninggalkan Kaisar dalam keadaan tak karuan, pria itu mencengkeram erat rambut hitam legamnya.


Kaisar memasuki ruangan yang mana disana Liora terbaring lemah, matanya bahkan sulit untuk terbuka lebar saking lemasnya perempuan itu.


"Kai?" panggil Liora lirih, mata itu membuat Kaisar semakin merasa bersalah.


Ia tak bisa menjaga istrinya sama sekali, pantas Krystal meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Kaisar duduk di sisi ranjang, mengambil tangan Liora dan ia kecup lembut.


"Kenapa kamu gak bilang apa-apa?" tanya Kaisar.


"Kai, aku cuma kecapekan aku gak apa-apa sampai harus bilang bilang sama kamu."


"Kamu sakit, Li." sentak Kaisar, dokter bilang penyakitnya sudah separah itu.


"Aku cuma hamil terus kecapekan, tadi perut aku memang agak sakit, __"


"Bukannya dada kamu?" sela Kaisar, ia tau istrinya sedang berusaha menutupi kondisinya.


"Bukan lah, aku___"


"Kita gugurin aja ya? Kehamilan ini pasti buat dada kamu suka sesak ya? Apalagi nanti kalau semakin besar." sela Kaisar lagi.


"Hah?!"


"Kita gugurin aja, nyawa kamu lebih penting. Oke? Kita sudah punya, Jeno. Cukup, kok."


"Kaisar! Kamu ngomong apa sih?!" bentak Liora sekuat tenaga, ia masih lemas tapi perkataan Kaisar memaksanya untuk marah.


"Aku gak mau buat hidupmu menderita, udah cukup aku menyakiti kamu, Li. Aku gak mau jadi suami egois." kata Kaisar, sambil mengecup punggung tangan Liora berulang kali.


Akhirnya, luruh juga.


Pertahanan Liora runtuh, air mata yang menggenang di kelopak mata kini jatuh membasahi pipinya.


"Tapi, kamu mau seorang putri, Kai."


"Tapi enggak dengan mengorbankan nyawa kamu!" sentak Kaisar.


"Harusnya kamu bilang, bilang Liora!"


"Aku bisa operasi kan, bisa lahiran secara caesar?" lagi-lagi Liora mencoba meyakinkan.


"Pokoknya, aku gak mau! Kalau aku bisa pertahankan dan memperjuangkan Jeno, aku pasti bisa mempertahankan adik Jeno! Aku mohon...."


"Liora..."


"Please, Kaisar aku gak bisa membunuh darah dagingku demi sesuatu yang belum pasti, kematian itu urusan Tuhan."


Kaisar menghela napasnya pasrah, ia bingung harus bagaimana?


Ini sesuatu yang sulit di putuskan.


Makin gak keliatan bau-bau persatuan Krystal dan Kaisar ya Bun...😞

__ADS_1


__ADS_2