
Kalian pikir, Krystal langsung ke rumah Leonel? Tidak!
Krystal datang ke salah satu playgrup yang sudah Disha beritahu sebagai tempat Jeno bersekolah.
"Harusnya aku yang disana, anterin anak mama." gumamnya, ketika melihat Liora membuka pintu mobil dan menurunkan Jeno dari sana.
Anaknya begitu tampan dengan tas berbentuk beruang miliknya.
Selesai dengan rutinitas barunya, Krystal menjalankan mobilnya ke tempat Leonel.
Masuk tanpa mengetuk dan menyapa dengan ceria.
Morning people.
Ya, Leonel itu bukan pria pemalas, Leonel suka bangun pagi, menikmati cuaca sambil minum kopi atau bahkan masak sarapan pagi.
Leonel berjalan pelan menghampiri Krystal yang berlari kecil mendekatinya, ia kecup pipi Krystal setelah mereka benar-benar dekat.
"Morning, babe." sapa Leonel, dengan suara serak dan beratnya yang membuat British accent nya semakin indah terdengar melewati telinga Krystal.
"Morning, masak apa?" tanya Krystal yang membuat Leonel terkekeh, sekali makan masakannya sepertinya Krystal-nya ini ketagihan.
"Ikut aku." kata Leonel sambil berjalan ke dapur di ikuti oleh Krystal.
"Apa ini?" tanya Krystal saat melihat makanan yang bentuknya seperti roti isi yang Krystal tebak di dalamnya ada sayuran cincang, daging cincang dan kentang.
"Shepherd's Pie, makanan Inggris."
"Kelihatan enak, aku benar-benar lapar." ujar Krystal sambil menarik kursi dan duduk dengan nyamannya lalu bertumpu pada meja makan membiarkan Leonel menyiapkan sarapannya.
"Huh, aku kurang cepat, aku tidak bisa menonton kamu masak, padahal itu sangat keren!" cerocos Krystal sambil mengacungkan dua ibu jarinya.
"Kamu bisa melihat aku masak setiap hari jika kita menikah dan tinggal bersama." jawab Leonel, sambil menyodorkan sepiring berisi sarapan pagi ini.
Tidak lupa, pria itu mengacak gemas rambut halus kecoklatan milik Krystal.
"Jeno sangat lucu, tampan dan menggemaskan, aku rasa jika kita punya anak hasilnya akan jauh lebih tampan."
"Percaya diri sekali, tapi iya jika fisikmu menurun padanya, tapi jika mirip aku pasti __"
"Sangat cantik." potong Leonel, ia tidak mau mendengar Krystal merendahkan dirinya lagi.
"Gulung lengan bajumu, bisa kotor kalau terkena makanannya." ujar Leonel, ketika matanya tak sengaja menangkap gerak-gerik Krystal, lengan baju Krystal sangat panjang sampai ke telapak tangan.
"Pagi ini dingin jadi aku pakai baju ini." kilah Krystal, sambil menambahkan saus sambal ke piringnya.
"Menggulung sedikit tidak akan membuatmu kedinginan."
"Sudahlah, aku mau makan dulu, oke?"
Ya, Krystal menghindari pembicaraan ini, jika ia menggulung lengannya, Leonel akan tahu jika dirinya telah ingkar janji.
__ADS_1
Krystal menyakiti fisiknya lagi, dan ia tak mau Leonel tahu itu.
"Oh ya, sampai kapan kamu disini?"
"Sampai waktu yang tidak di tentukan." sahut Leonel singkat.
"Why?" tanya Krystal karena tiba-tiba suara pria itu bernada dingin.
"Krystal, kamu tahu alasanku tetap disini, jangan tanya itu, aku tidak mau mood ku hancur dan berakhir menyakitimu karena marah." jelas Leonel dengan wajah datarnya.
"Maaf, aku cuma memikirkan yang disana, maksudku keluargamu dan pekerjaan."
"Aku sudah bilang dengan, Mrs. Claire."
"Mrs. Claire? Dia ibumu, sebutlah ibu, kamu ini."
"Cuma bercanda." kilah Leonel.
"Jadi bagaimana?"
"Apa?"
"Mrs. Claire, tidak marah?"
"Untuk apa? Aku disini untuk menjaga calon menantunya."
"Hey! Berkencan baru mau satu bulan, bagaimana bisa kamu bicarakan pernikahan?" Krystal menggeplak lengan kekar kekasihnya yang kini meringis kesakitan karena geplakan maut itu.
Apa katanya barusan?
Sebelum di ambil orang?
Cepat-cepat nikah sebelum di ambil orang?
Tapi, Krystal tidak mau membahas hal-hal yang membuat Leonel emosi.
Karena yah, Krystal sedikit-sedikit paham, Leonel bukan tidak marah, ia pasti merasa terganggu dengan fakta Jeno dan Kaisar.
Tapi, pria itu malas membahas lagi, karena tidak mau membuat suasana hatinya kacau dan berimbas pada Krystal.
Itu saja.
...****************...
"Saya kasih ijin, Jeno main sama kamu bukan berarti kamu bisa bawa dia ketemu sama adik kamu ya, Sha!" tegur Liora, awalnya Liora tidak tahu apa-apa soal itu, tapi Jeno kan suka bercerita.
Suasana rumah, Farid dan Akira yang hangat tiba-tiba jadi dingin karena perseteruan dua menantu.
"Mbak, maaf. Tapi apa salahnya kalau saya ajak, Jeno main dan ketemu adik saya?"
"Ya, salah dong! Adik kamu itu duri dalam hubungan saya dengan suami saya."
__ADS_1
"Tapi itu kan dulu mbak, sudah berlalu!" balas Disha tak mau kalah.
Akira jadi bingung mau membela siapa, dua-duanya menantunya.
Tak lama, Samudra turun dari lantai dua.
"Samud, hey! Bantuin mama itu, itu ya ampun!" ujar Akira menunjuk-nunjuk ke arah dua menantunya yang sedang saling beradu tatapan maut.
Samudra memicingkan matanya, melihat dua perempuan yang sedang beradu tatapan sengit.
"Sayang, kenapa? Kak, istriku salah apa? Kenapa ribut gini?" tanya Sam, sambil berjalan mendekati keduanya.
"Mas___"
"Sam, tolong ya bilang sama istri kamu untuk gak usah ajak anak aku pergi lagi, apalagi buat ketemu perempuan itu." potong Liora sebelum Disha mengadu lebih dulu.
"Hah? Kenapa, masa ajak keponakan main gak boleh?"
"Nggak! Kalau itu buat ketemu sama Krystal! Aku gak sudi ya anak aku, ketemu sama perempuan itu!"
"Lho, mbak! Yang saya ajak itu kan, Jeno. Kecuali nih ya, mbak. Kalau saya ajak suami mbak ketemu Krystal baru, mbak bisa marah-marah sama saya!" balas Disha.
"Kurang ajar ya kamu?!" hardik Liora yang makin tak santai, lalu berlalu pergi dari sana tanpa pamit dengan mertuanya.
Liora juga masih punya batas, untuk tidak terlalu kasar, mereka masih kerabat.
"Mas!" protes Disha, setengah merengek pada suaminya.
"Iya, sayang udah, lupain. Maklumi aja, Kak Liora lagi hamil kan?" kata Sam, mengusap punggung istrinya.
"Tapi aku juga lagi hamil, gak gitu-gitu banget!"
Samudra mendesah pasrah, gak gitu banget katanya?! Lha, ini apa? Barusan kan dia kena semprot, Disha.
"Sha, maafin Liora ya, kamu kan tahu dulu gimana kacaunya antara mereka karena Krystal, jadi mungkin..."
"Iya, mama. Karena aku yang paling waras, aku ngalah." potong Disha.
"Yaudah ya, mama aku mau ke rumah papa mama aku. Aku pamit." ujarnya di ikuti oleh Samudra yang memang sudah berjanji mengantarkan Disha sebelum pergi bekerja.
Akira meringis ngeri, kedua menantunya hamil dan dua-duanya sensitif dan saling berseteru.
Ini agak sulit, sebagai yang tertua tidak mungkin ia memilih salah satu kubu!
"Tapi, setidaknya Disha lebih dewasa daripada Liora." gumam Akira sambil mengelus dada memperhatikan Disha dan Sam yang berjalan menjauhinya.
Double update nihhh
Boleh dong minta mawar dan kopi atau vote deh hehee
maaf banyak mintanya ðŸ˜ðŸ”¨
__ADS_1