
Hari ini, hari terakhir Leonel di Indonesia.
Dia sudah minta Krystal untuk antar ke bandara dan menghabiskan waktu sebelum dirinya pergi.
Cuma masalahnya...
"Krystal masih tidur, sebentar mama bangunkan dulu." kata Rayrin, lalu pergi ke kamar anaknya.
Leonel melihat jam di tangannya, pukul sembilan dan kekasihnya belum bangun.
"Aku gak nyangka, dia di rumahnya sangat lain waktu di Milan. Beda angin beda perilaku sepertinya." gumam Leonel.
"Hai, Leonel?"
Kris yang sudah rapih dengan jas putih yang ia sampirkan di lengannya menghampiri Leonel.
"Oh, paman?"
"Cari Krystal ya? Anak itu memang begitu, nanti kamu harus sabar menghadapi sifatnya yang manja, kekanakan dan malas itu." canda Kris.
"Oh ya, jam berapa pesawatmu?" tanya Kris, pada Leonel yang masih sedikit canggung.
"Pukul tujuh, malam ini, paman."
"Jangan formal begitu, panggil aku papa saja, seperti Krystal."
"Ah, tapi apa tidak papa?"
"Tidak masalah, aku suka padamu dan berharap kamu mau menerima putriku dan menjadi menantu kami, aku dan mama Krystal berharap besar padamu, Nak." ujar Kris sambil menepuk bahu Leonel.
"Aku mencintai dia apa adanya, sungguh. Jika dia juga sama, aku berharap untuk bisa menikahi nya dan pasti akan membuatnya bahagia." ucap Leonel percaya diri, Kris merasa tenang.
Ada seorang pria yang menerima masa lalu putrinya.
"Terimakasih, Nak." kata Kris tulus.
...****************...
"Mama ngantuk, ah!" keluh Krystal saat di bangunkan mamanya.
"Maa, tau gak aku baru tidur jam enam loh, jangan bangunin aku lagi." rengek Krystal.
"Leonel di bawah, bangun! Kamu lupa, dia mau pulang ke Inggris?!"
Krystal berpikir dengan kepalanya yang pening karena tidak tidur semalaman.
Entah apa yang wanita itu lakukan.
Krystal terlonjak kaget saat mengingat janjinya untuk seharian penuh dengan dengan pria itu sebelum pergi.
"Astaga? Kok mama gak bilang sih, kenapa gak bangunin aku, ish!"
"Nggak bangunin, kepalamu! Terus mama ini ngapain, hah?! Kamu aja yang kaya kebo." hardik Rayrin kesal, kemudian meninggalkan anaknya yang meringis mendengar penuturan mamanya.
"Dasar anak Kris!" omel Rayrin sambil menggerutu selama perjalanan menuruni tangga, membuat suaminya yang duduk dengan Leonel keheranan.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Anakmu itu, produk Kris ini benar-benar, hih!"
"Krystal maksudmu? Kamu lupa ya, kalau dia itu kelakuannya mirip kamu banget?"
Rayrin melotot tajam ke arah suaminya.
"Loh kok melotot gitu, kan emang iya dia duplikatnya kamu." timpal Kris lagi.
"Tck! Dah lah sana kerja, males liat mukamu!"
"Heh, ada calon mantu itu, jangan ngomel-ngomel ah, dah aku berangkat dulu." pamit Kris, kemudian menghampiri Rayrin yang masih kesal itu dan mengecup keningnya, lalu mencuri kecupan singkat di bibir istrinya.
"Kris gak malu ya? Ada orang lain disini?!" teriak Rayrin sedangkan Kris langsung berlari pergi.
Leonel hanya menggaruk tengkuknya canggung, papanya Krystal kayanya agak lain dari orangtua yang lain.
"Eh, Leonel, mama tinggal dulu ya?" ujar Rayrin yang jadi malu karena ulah suami bodohnya itu.
Huh!
Awas saja laki-laki tua itu!
"Mereka lucu dan romantis sih, tapi seharusnya aku tidak melihatnya kan?" gumam Leonel pada dirinya sendiri.
...****************...
"Aku pernah bilang kan, gak apa kalau mau ajak Jennara." ucap Leonel saat, mereka sudah dalam perjalanan.
"Masalahnya, Jennara pergi sama mamanya ke rumah neneknya yang satu lagi." sahut Krystal santai, sedangkan Leonel kebingungan, bukannya kekasihnya ini mama Jennara?
"What do you mean, Racle?!" hardik Leonel.
Disini, di saksikan oleh lautan mata hijau pria itu menagih penjelasan dari Krystal.
"Maaf." ucap Krystal duluan.
"Jelaskan, apa maksud kamu tadi?"
"Emm, sebenarnya aku cuma mau tes kamu, apa kamu bakal menerima kurangnya aku atau enggak, tapi aku memang punya anak Le, tapi bukan Jennara."
Leonel shock untuk kedua kalinya, ia tidak tahu bersama Krystal membuatnya seperti menaiki roller coaster.
"Miracle?"
Krystal tahu, pria ini sedang mempertanyakan lagi penjelasannya, dari nada bicaranya yang lain dari biasanya dan dari cara Leonel memanggilnya, berbeda saja.
"Sorry, apa aku salah? Jika aku ingin memastikan cinta seseorang untukku? Aku tidak mau bermain-main, Le. Aku tidak mau salah lagi dalam memilih."
Leonel mengusap kasar wajahnya, tindakan Krystal memang masuk akal sih, apalagi kalau di lihat dari masa lalunya, Krystal memang wajib selektif soal pasangan.
"Oke, jadi anakmu yang sebenarnya, mana?" tanya Leonel.
Tapi, Krystal hanya diam. Leonel tahu, wanitanya ini enggan menjawab.
"Aku juga mau kamu jujur, Miracle. Aku serius ingin bersama kamu, aku tidak bermain-main dan aku berhak tau, oke maaf, aku tau apa yang ada dalam pikiranmu sekarang, kita belum lama menjalin hubungan, baiklah tak apa. Aku mengalah kalau kamu tidak mau berbicara lebih jauh." oceh pria itu, Leonel tak marah kok, hanya kaget.
Iya! Kaget, cuma kaget.
__ADS_1
Dan tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.
"Racle, kamu punya masa lalu, aku juga. Aku sungguh-sungguh dengan perasaanku, aku tidak tahu bagaimana dengan kamu, tapi intinya, aku ingin kita terbuka, karena aku serius dengan hubungan ini, tapi jika pun kamu tidak benar-benar mencintaiku, maaf karena kamu sudah terlanjur masuk dalam areaku, kamu tidak akan aku lepas apapun alasannya." tegas Leonel.
Krystal yang sejak tadi tak berani melihat wajah kekasihnya, langsung mendongak menatap Leonel.
"Kamu heran? Atau kaget? Aku bukan pria bodoh dan sebercanda itu seperti yang kamu lihat selama ini, aku seperti itu untuk meluluhkanmu, jujur saja. Karena akan sulit jika es melelehkan es yang ada akan semakin beku, maka aku, es batu ini berusaha menjadi matahari agar bisa melelehkan hatimu, aku tulus Krystal, kau salah besar dengan meragukan aku." timpal pria itu lagi.
Leonel menangkup wajah cantik kekasihnya, netra hijau emeraldnya menatap dalam iris coklat terang punya kekasihnya.
"Masihkah kamu ragu? Lihat aku!" titah Leonel, Krystal menunduk lalu kembali menatap mata hijau itu dan menggeleng lirih.
Lalu keduanya, diam.
Cuma saling menatap.
Dalam keheningan yang mereka ciptakan, Krystal samar-samar mendengar suara yang ia kenali tapi tak pernah berani ia dekati.
Krystal mencari sumber suara itu, memastikan apakah ia halusinasi karena terlalu rindu atau itu nyata ?
"Leon?" panggil Krystal tiba-tiba.
"Ya?"
"Lihat ke arah belakangmu." ucap Krystal, Leonel merasa aneh awalnya tapi ia menurut.
Masih dengan, pria itu yang melihat ke arah yang di tunjuk oleh Krystal.
Krystal bilang, "Itu, anak kecil yang disana, itu anakku." ujarnya datar.
Reflek, Leonel menoleh cepat ke arah Krystal lagi dan mencari keyakinan dari wajah kekasihnya.
"Aku tidak mengada-ada, ini kebetulan tapi anak itu, milikku yang aku lepas untuk kebahagiaan orang lain di masa lalu." ujar Krystal dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?"
"Iya, maaf. Sebelum terlambat, kita akhiri saja semuanya, kamu sudah rasakan kan rasanya bersamaku? Aku akan jadi beban pikiranmu, aku akan membawa masalah buatmu, kamu adalah anak dari keluarga baik-baik dan terpandang, memiliki aku di sampingmu, akan jadi aib."
Tidak!
Tidak bisa begini!
Harusnya, Leonel tidak usah bertanya.
...****************...
Dan disisi lain, dengan di temani suara deburan ombak yang beradu dengan suara tawa anak dan istrinya.
Kaisar kembali melihat wajah itu, bersama seseorang, yang menggenggam tangan yang pernah ia genggam.
Bahkan, mata coklat jernih yang pernah menatapnya manja, kini menatapnya nyalang.
Sampai, mata nyalang itu berubah teduh saat melihat ke arah putranya, Jeno.
'Krysie, kenapa jantung ini berdebar lebih kencang setiap melihatmu lagi?' batin Kaisar, ia berniat liburan tapi sekarang ia kalut.
Ia masih hanya berusaha untuk Liora dan belum pernah sepenuhnya melupakan cinta sesaat nya itu.
__ADS_1
Miracle Krystal.