
"Apa?" Krystal terkejut tapi nadanya masih biasa saja.
"Leonel akan kembali ke London setelah ini." ulang Diana, malas-malasan, Diana paling malas mengulang kata.
'Apa karena aku tolak? Jadi, Tuan Anderson itu patah hati lalu pulang kampung?' Batin Krystal sambil mengedikan bahunya.
"Lalu? Bagaimana?"
"Pemotretan maksudmu?"
Diana heran, kenapa Krystal suka gak jelas sih?
Krystal mengangguk.
"Terserah, paling di hentikan." jawab Diana sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kenapa mendadak sih, tidak profesional." ejek Krystal, sepertinya ia lupa bahwa Leonel itu putra Nyonya Claire, juga sepertinya ia masih tidak sadar bahwa ia penyebab tuan muda Anderson patah hati sampai balik kampung.
"Sayang sekali dia bodoh, harusnya kan lebih lama disini bisa ikut ke pernikahan Disha terus ngelamar Krystal." oceh Diana asal.
"Sembarangan! Dia itu seorang Anderson."
"Lalu? Kau Miracle Krystal, model ternama, terkenal, Krystal! Glare & Claire bahkan butuh tubuh emasmu untuk menggandakan uang mereka!"
"Tetap saja itu tidak bisa di samakan dengan keluarga Anderson, mereka masih keturunan bangsawan, Di. Keluarga Leonel tidak main-main. Jangan salah kaprah."
"Sungguh?! Bagaimana kau tau itu?!" pekik Diana kaget, ya ampun teman bercandanya yang receh itu ternyata seorang keturunan bangsawan? Begitu?
"Kamu saja yang bodoh, Di." cibir Krystal sambil mengganti-ganti siaran televisi hotel yang sungguh membosankan.
Jujur, awalnya Krystal juga tidak tahu apa-apa, sampai ia tak sengaja berpapasan dengan Leonel saat selesai bertemu dengan direktur utama Glare & Claire.
Disana ia menemukan seorang Leonel dan ia menyaksikan bagaimana para bawahan menunduk hormat pada tuan muda Anderson yang lewat di depan mereka.
.
.
.
Ada beberapa hal yang membuat Leonel tidak suka bahwa ia adalah seorang Anderson.
Di dekati banyak gadis menyebalkan atau dijauhi gadis yang ia inginkan.
Sudah pria itu duga, bahwa pertemuannya dengan Krystal di kantor sang ibu akan jadi tidak baik.
"Bisa saja dia memang tidak mau denganmu, Bro. Dengan atau tanpa Anderson di belakang namamu." ledek Mark, sambil meminum anggur mahal di tangannya.
Pria itu, Mark Langford sahabat satu-satunya si anak pendiam keluarga Anderson.
Pendiam?
Ya, sebenarnya Leonel itu pendiam dan tidak terlalu bergaul dengan sekitar, temannya hanya Mark dari kecil hingga sekarang.
"Kurang ngajar!" desis, Leonel mengepalkan tangannya ke arah Mark tapi tidak meninju.
"Cari gadis lain saja." saran Mark.
Gadis lain? Enak sekali temannya bicara.
"Krystal itu spesial."
"Spesial darimana, dia pernah hamil di luar nikah, kan?" tebak Mark, Leonel baik dan sangat baik, ia tidak mau sahabatnya salah pilih pasangan, cukup sekali Leonel bodohnya itu tersakiti.
"Lalu?"
"Kau bertanya seolah itu hal biasa, Leon! Kau gila?!" kejut Mark, ya hal biasa sih dalam culture mereka.
Hanya saja, Leonel adalah putra keluarga Anderson, keluarga baik-baik dan terkenal.
"Kau berlebihan, terlepas dari masa lalunya Krystal perempuan yang baik." Leonel sebal mendengar Mark bicara merendahkan Krystal ia meneguk kasar anggurnya.
"Apa ini yang namanya cinta buta?"
"Mark!"
"iya-iya terserah, tapi kenyataannya Krystal itu bahkan menolakmu. Ingat siapa kau dan keluargamu, jika Tuan atau Nyonya Anderson itu tahu latar belakang Krystal, aku tidak yakin." ucap Mark yang kalau di pikir-pikir ada benarnya.
Terserah, jika Anderson hanyalah keluarga biasa, tapi dengan latar belakangnya yang seperti itu.
Mungkin keluarga besarnya akan menentang.
"Menyebalkan!" umpatnya menggenggam erat gelas anggur itu sampai pecah.
Mark hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang sedang buta akan cinta.
Besoknya, Leonel pulang ke rumah Anderson.
Mansion mungkin? Terlalu mewah kalau di sebut rumah.
__ADS_1
"Hey, baby! I Miss you!" sapa seorang gadis dengan riang, berlari memeluk Leonel.
Dia adalah Alexandra.
Kakak perempuan Leonel.
"Jangan panggil aku baby, aku sudah besar!" protes Leonel, lihatlah kakaknya itu, usianya sudah dua puluh lima tahun tapi kenapa Alexandra selalu memanggilnya baby?
Apa? Emang dia bayi?!
"Mama belum pulang dari Italia, dia masih di Milan, tapi kenapa kau ada disini, bukankah anak manis ini sangat menyukai Milan dan gadis-gadis disana?" goda Alexandra sambil mencubit pipi Leonel.
Leonel mendengus sebal dengan kelakuan kakaknya.
Kalau ada neneknya pasti beliau akan bilang, 'Alexandra jaga sikapmu, kau itu satu-satunya putri Anderson.'
Hahaha...
Tapi hal aneh dari Alexandra itu yang membuatnya nyaman dengan kakaknya, Alexandra tidak kaku seperti Alexander kakak pertamanya yang seperti penjahat berdarah dingin.
"Anak manis kepalamu!" umpat Leonel sambil berjalan meninggalkan kakaknya dan sengaja menubruk bahu kecil sang kakak.
"Heh, jangan bicara kasar bayiku..."
"Kak!!!!!" akhirnya Leonel berteriak nyaring, seluruh pelayan sudah tahu apa yang terjadi itu sudah hal biasa kalau Nyonya mereka dan Tuan muda Leon ada di mansion.
Huh!
Rasanya Leonel ingin berteriak lebih kencang dari ini.
Alexandra sangat menyebalkan!
Padahal jarak usia mereka cuma lima tahun saja.
"Makanya, menikah lalu punya bayi jadi tidak menggangu aku!"
"Hei anak kecil kenapa kau sangat kurang ajar hah?"
'Anak kecil?' gumam Leonel dalam hati, ia semakin tidak habis pikir lagi.
Bencana, pulang ke London adalah bencana kalau Alexandra ada di rumah.
Leonel pikir, mansion ini sepi biasanya papa dan Alexander akan sibuk dengan bisnis mereka, begitu juga mama nya.
Lalu, Alexandra?
Biasanya kakaknya itu bersenang-senang sendiri.
Itu sebabnya, ia suka mengganggu Leonel.
.
.
.
.
Krystal sedang menatap riasannya di cermin, sempurna!
Tapi, ia tak siap untuk mendampingi Disha menikah.
Ini sulit.
Jantungnya berdebar, apakah ia harus bertemu dengan pria itu?
Kemarin, di Bali.
Krystal melihatnya dan rasanya masih sama.
Ia meremat tangannya tepat di bagian jantungnya berdebar tak karuan.
"Tck! Dasar Leonel, kenapa kau adalah putra Anderson?! Harusnya aku segera melupakannya dan bersama mu saja agar tidak terlihat lemah dan bodoh seperti sekarang!" omelnya sendiri.
"Leonel? Siapa itu?" tanya suara lembut yang baru memasuki kamarnya.
"Mama? Itu, bukan siapa-siapa." sahut Krystal gugup sambil memandang bayangan mamanya di cermin.
Rayrin memegang kedua bahu putrinya.
"Dia sudah bahagia dengan istri dan anaknya, anak mama juga berhak, bolehkah mama tau siapa Leonel?"
"Hah? Tidak! itu gak penting mama..." Rayrin tersenyum lebar ini pertama kalinya ia mendengar putrinya merengek lagi.
Putrinya kembali.
"Kenapa tidak?"
"dia hanya cowok bodoh." sebal Krystal, "Sudah, jangan bahas itu. Kita harus segera bersiap bukan?" kata Krystal segera beranjak dari duduknya.
__ADS_1
'Semoga hatinya selalu kuat.' harap Rayrin, sambil mengikuti putrinya dari belakang.
Tangannya berkeringat dingin, ia harap-harap cemas, kalau kemarin ia cuma melihatnya.
Tapi hari ini, bisa jadi mereka bertemu saling bertatap mata dan Krystal malu kalau harus bertemu dengan Akira.
Padahal seluruh tamu undangan berdecak kagum melihat seorang Miracle Krystal lewat di depan mereka.
Mungkin raut wajahnya dingin dan angkuh, tidak ada yang tau betapa gugupnya Krystal sekarang.
Sam dan Disha sudah sah jadi suami istri, sejauh ini ia belum bertemu dengan pria itu.
Ia membuntuti mamanya yang meladeni tamu-tamu bersama Akira.
"Oh ya, apa kabar Krystal. Aku sampai lupa menyapa putri kecilmu ini." Akira ramah, masih ramah meski semua yang pernah terjadi, dia memang wanita baik.
"Tentu baik." jawabnya sopan dan enggan.
"Oh ini dia, Miracle Krystal, putri Rayrin yang luar biasa, aku melihatmu di Billboard, televisi dan peragaan busana, sangat luar biasa!"
Ini Viara yang bersuara, sahabat Akira.
Ada yang ingat?
"Bolehkah aku membawa dia jadi menantuku dia sangat cantik." puji Tina sahabat Akira yang lain menoel dagu lancip Krystal.
Akira menyenggol lengan sahabatnya dan tersenyum tak enak pada Rayrin.
Tina membalasnya dengan tatapan protes.
Sedangkan di pelaminan.
"Mas, diam!" protes Disha berbisik, tapi yang di peringati tidak peduli dan seolah tak terjadi apa-apa, bahkan mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.
Ya, istrinya.
Ah, Samudra bangga dengan fakta itu.
"Lepas, Samud! Malu!" bisik Disha lagi.
"Malu? Kan sudah resmi." ucap Sam, sambil tertawa jahil, sedangkan Disha hanya menatap tajam dengan pipinya yang memerah malu.
Apalagi sekarang, papanya sedang melihat ke arah mereka dan senyum-senyum tidak jelas.
Puk!
Disha menepuk keras tangan Sam yang ada di pinggangnya.
"Aw, sadis sekali istriku. Aku harap kamu gak akan begini nanti malam."
Disha langsung melotot saat itu juga dan Samudra hanya meringis bodoh.
Kalau kalian tanya dimana Kaisar dan keluarganya.
Belum datang dan itu membuat Akira khawatir.
Akira meninggalkan tamunya sebentar untuk menghubungi Kaisar atau Liora tapi tak ada yang menjawab.
Kemudian, ia menanyakan pada Farid.
"Mas? Kaisar sama Liora?"
"Astaga, aku lupa mereka belum datang, ini sudah lewat acara inti bisa-bisanya anak itu."
Akira sudah menebak pasti suaminya menyalahkan Kaisar karena tau sendirilah alasannya.
"Sebentar, aku hubungi Ken. Awas aja kalau anak itu masih kerja."
"Buat apa? Ken di belakang kamu ya ampun!" pekik Akira heran.
"Ken?"
"Ya, om?"
"Kaisar dimana?" tanya Farid yang membuat heran pria itu, ya mana Ken tau lah.
Kan dia tidak 24 jam juga bersama orang itu.
Ken hanya menggeleng lemah sebagai jawabnya dan itu sukses membuat kedua orang itu khawatir.
Sampai akhirnya ponsel Akira berdering.
Dan ternyata panggilan dari Kaisar.
Ia sempat bernapas lega sampai mendengar kabar yang merubah mimik wajahnya.
Terimakasih yang sudah mendukung karya ini
Aku sempetin update di sela-sela pekerjaan aku.
__ADS_1
Semoga gak membosankan yaaa